
Sang ibu membuka pintu rumahnya dan kaget saat melihat Nandini datang.
"Ibu... bagaimana keadaanmu?" tanya Nandini sambil tersenyum menyapa ibunya.
"Ibu sudah sehat. Kau tidak perlu cemas. Mana suamimu? Apakah kau datang sendiri?" tanya ibunya dan meminta Nandini masuk ke dalam.
"Aku datang sendiri, dia sangat sibuk. Jadi tidak bisa datang," jawab Nandini. Padahal sebenarnya dia memang tidak mau mengajak Viktor datang menemui ibunya.
"Nandini,kau terlihat lebih gemuk sekarang. Pasti karena kau bahagia dalam pernikahan mu?" Ibunya merasa ikut bahagia melihat Nandini.
"Tidak seperti itu. Belum lama ini aku banyak makan, jadi gemuk..." ucap Nandini. Dalam hati Nandini menjadi ragu untuk mengatakan niatnya berpisah dengan Viktor. Melihat kesehatan ibunya juga wajahnya yang ceria, tidak sampai hati rasanya, jika dia jujur saat ini.
"Ibu,aku akan ke kantor. Aku hanya mampir sebentar untuk melihat keadaan mu,"
"Kau tidak mau minum dulu?"
"Lain kali aku akan kembali datang. Hari ini ada keperluan penting..."
"Ya sudah...." Ibunya lalu mengantar Nandini sampai di teras. Saat akan berjalan di halaman, Nandini mendapat pesan. Diapun segera membuka ponselnya. "Ayah...."
Ayahnya mengatakan ingin bertemu dengan Nandini sekarang juga. Ada hal penting yang akan dia bicarakan.
__ADS_1
Nandini bergegas untuk menemui ayahnya. Mereka bertemu di kantor ayahnya saat ini.
"Nandini, ayah sudah memikirkan untuk membuka rahasia masa lalu ayah pada keluarga ayah dan semua orang. Kau akan mendapatkan sebagian harta ayah karena kau juga putriku,"
Ayahnya menyodorkan berkas agar di tandatangani Nandini untuk kepemilikan beberapa properti miliknya.
"Apartemen ini akan menjadi milikmu. Setelah menjadi milikmu, ibumu tidak perlu mengontrak lagi" terang ayahnya.
Nandini kaget dan terpana. Tidak disangka dia akan di beri apartemen oleh ayahnya.
"Tanda tangan disini..." kata ayahnya dan Nandini tidak kuasa menolaknya.
"Ayah... terimakasih..." Nandini sungguh terharu dengan kebaikan ayahnya. Meski lama tak bertemu tapi ternyata ayahnya tetap sayang padanya dan peduli pada ibunya.
Braaakkk!
Wanita itu kaget dan seketika terhuyung saat melihat suaminya memeluk seorang gadis. Dia berpegangan pada handle pintu dan dadanya terasa sesak seketika.
"Pah....." mulutnya memanggil suaminya.
Bram langsung melepaskan pelukannya pada putrinya dan menoleh ke arah suara itu. Dia sangat mengenali si pemilik suara. dia adalah istrinya sendiri.
__ADS_1
"Vivi....?" Bram sangat terkejut bukan kepalang karena kehadiran Vivi yang tiba-tiba.
Bram dan Nandini saling berpandangan. Nandini menjadi cemas akan terjadi keributan di kantor ayahnya. Nandini mundur beberapa langkah dan terdiam tak bersuara.
Dalam hati, dia tidak ingin menghancurkan pernikahan ayahnya. Baginya sudah cukup jika ayahnya ingat padanya dan peduli serta memberinya kasih sayang. Dalam hati tidak ada niat sedikitpun untuk membuat ayah dan ibunya bersatu kembali. Nandini sadar, kisah ibunya adalah masa lalu dan kenyataan saat ini ayahnya adalah suaminya Bu Vivi, ibunya Virlie.
"Si....siapa dia?" Dengan gemetar Vivi bertanya dan menatap nanar gadis yang tadi dipeluk oleh suaminya.
Dengan cepat Bram menutup pintu ruang kantornya. Tidak ingin para karyawan serta stafnya tahu keributan yang mungkin terjadi karena kesalahpahaman ini.
"Jawab Pah! Siapa gadis ini!" Vivi mendekati suaminya dan berdiri tepat di hadapannya. Kepalanya tegak menatap tajam wajah suaminya.
"Dia adalah Nandini. Dia putriku sebelum aku menikah denganmu..." jawab Bram memberitahu kenyataan yang sesungguhnya meskipun akan terasa pahit dan menyakitkan di hati Vivi, istrinya yang sekarang.
Vivi terpana.
Kakinya serasa tak bertulang.
Dia menoleh ke arah Nandini lalu menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Jadi...kamu menyimpan rahasia sebesar ini dari ku Pah?" Tentu saja hatinya hancur berkeping-keping. Rasanya ingin menangis dan berteriak saat mengetahui jika suaminya pernah punya anak dengan wanita lain sebelum mereka menikah.
__ADS_1
"Mah....aku minta maaf. Aku pikir tidak akan bertemu lagi dengan mereka. Tapi takdir berkata lain. Dan aku tak bermaksud menyimpan rahasia ini darimu....," melihat istrinya menangis, Bram juga ikut sedih. Bagaimanapun, Vivi dan dia sudah berumah tangga sekian lama. Melewati suka dan duka bersama selama ini.
Namun kisah masa lalu, juga tidak bisa di hapus begitu saja seperti coretan pensil yang akan hilang dengan penghapus putih.