
Bram menenangkan istri nya dan sementara itu Nandini keluar dari ruangan ayahnya. Nandini tahu, jika butuh waktu untuk memahami keadaan ini. Diapun bergegas pulang setelah semuanya terbongkar, sementara ayahnya berusaha meyakinkan istrinya nya jika kedatangan Nandini dan ibunya tidak akan berpengaruh pada rumah tangganya.
Drttt...
"Kau dimana?"
"Di jalan..." jawab Nandini saat tahu jika Viktor yang menelponnya.
"Cepat kerumah sakit," ucap Viktor di telepon.
Nandini segera menutup teleponnya dan terdiam sejenak.
"Apakah dia benar-benar sakit gara-gara aku tendang tadi? Atau dia berpura-pura saja? Awas saja jika dia menipuku!"
Nandini lalu bergegas ke rumah sakit. Sampai disana dia langsung menuju ruangan VVIP. "Rumahku di kampung bahkan tidak semewah kamar dimana dia dirawat..." batin Nandini lagi begitu membuka pintunya.
"Heh, kau baru datang? Kau lama sekali! Darimana saja!" Baru saja datang sudah di marahi oleh Viktor membuat Nandini tertegun dan terdiam.
Bukanya menjawab dia malah mengamati wajah serta kaki Viktor dengan seksama. Dalam hati ingin memastikan apakah dia benar-benar sakit atau hanya pura-pura saja.
Melihat cara Nandini menatapnya, Viktor mendengus kesal.
"Kenapa melihat seperti itu? Dasar!"
Tiba-tiba Nandini mendekat dan memegang kaki Viktor. Sedikit meremasnya hingga Viktor berteriak kaget.
"Aaawww!" Viktor berteriak sambil menarik kakinya yang sakit. Matanya melotot menatap wajah Nandini yang bak tak berdosa setelah meremas kakinya.
__ADS_1
"Sakit ya? Aku pikir...." Nandini lalu tersenyum dan duduk di dekatnya. Viktor menatap Nandini dengan tatapan berbeda kali ini.
"Nandini, aku sudah memutuskan sekarang. Kau keluar dari pekerjaan mu atau aku akan memenjarakan dirimu," Viktor benar-benar marah karena kakinya di pencet oleh Nandini barusan.
"Pilihan macam apa itu?" Nandini kaget dan menatap tajam mata Viktor.
"Aku serius. Aku tidak main-main kali ini," Viktor berbicara dengan suara beratnya. Tatapannya lurus menatap ke depan.
Nandini hanya tersenyum meremehkan. Lalu dia menatap ke sekeliling ruangan itu.
.
Esok harinya, Nandini akhirnya akan mengundurkan diri dari kantor Nest Food. Dia akan menemui Virlie.
Begitu dia masuk, Virlie bertepuk tangan menyambutnya dan di iringi senyuman sinis. Hal itu membuat Nandini kaget dan terpaku.
"Jadi...kau sudah tahu semuanya?" Nandini mengulum senyum bahagia.
"Aku tidak sudi bersaudara dengan dirimu. Nandini! Aku tidak akan pernah memanggil mu kakak."
"Virlie...kita bersaudara karena kita memiliki ayah yang sama," ucap Nandini mendekati Virlie.
Dengan spontan Virlie menggeleng keras. Matanya menatap tajam wajah Nandini.
"Nandini! Jangan bekerja lagi di kantor ini. Dan jauhi papah. Jangan bertemu lagi dengannya!" pernyataan tegas Virlie membuat Nandini terpana.
Lama Nandini hanya menatap tanpa berkata-kata. Lalu dia menyerahkan dokumen ke meja Virlie yang tidak lain adalah CEO di kantor Nest Food.
__ADS_1
"Aku memang berniat mengundurkan diri. Itu dokumen pengunduran diriku. Dan soal ayah, aku tidak bisa menjauhi nya. Kami sudah lama tidak bertemu, sekarang kau minta aku menjauhinya. Aku tidak bisa melakukannya," tegas Nandini menjawab Virlie yang sebenarnya adalah adik tirinya.
Nandini lalu berlalu dari hadapan Virlie, namun dengan cepat kaki Virlie maju satu langkah dan membuat Nandini tersandung di antara pintu yang terbuka.
Nandini terjatuh ke lantai dan membuat semua pegawai menatapnya hingga membuat nya malu sekali.
"Jangan bermimpi untuk mengambil yang bukan milikmu!" kata Virlie menunduk sambil berlalu dari hadapan Nandini. Bahkan dia tidak menbantunya bangun. Malah sengaja menatapnya dengan hinaan.
Nandini tertunduk malu dengan kedua pipi yang merona merah. Salah satu staf mendekatinya dan mengulurkan tangannya.
"Kau tidak papa?"
"Terimakasih..." ucap Nandini setelah berdiri tegak.
Staf itu mengangguk lalu berlalu. Sementara Nandini menatap sedih punggung Virlie yang berjalan tanpa menoleh lagi. Padahal mereka bersaudara, tapi rupanya Virlie justru menganggap Nandini seperti musuh saat ini.
"Kita memiliki ayah yang sama. Pasti menyenangkan jika kau mau menerima aku. Kita bisa membuat hubungan baru sebagai adik kakak," gumam Nandini seraya menarik nafas dalam-dalam.
.
Didalam mobil, Virlie memukul kemudi dengan sangat keras. Dia marah, kesal juga kecewa karena Nandini yang dia benci ternyata adalah putri lain papahnya.
"Nandini...."
"Kenapa kau datang dan menghancurkan hidupku?"
"Jala*g ini benar-benar membuat semuanya berantakan!"
__ADS_1
Virlie lalu duduk tegak dan merapikan sebagian rambutnya. Setelah itu dia mengemudi kan mobilnya untuk melihat keadaan Viktor. Dia ingin melihat keadaannya karena dia tahu dari salah satu temannya yang seorang dokter jika Viktor sakit.