Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 11 Keduanya adalah saudara


__ADS_3

"Nandiniiiii!" panggil Viktor panjang saat dia melihat Nandini keluar dari rumahnya diam-diam.


Nandini menoleh dan wajahnya berubah masam, saat melihat Viktor mengejarnya.


"Kau mau kemana?" tanyanya setelah sedikit memaksa berlari begitu melihat bayangan Nandini keluar rumah.


"Ohh, tentu saja aku mau jalan-jalan di sekitar tempat ini. Aku bosan ada didalam terus," jawabnya setelah menoleh kearah suara itu.


"Awas jika berusaha kabur dariku!" ancam suaminya.


"Apakah kau takut aku melarikan diri?" Nandini langsung bicara menebak kecemasan Viktor yang terlihat jelas di wajahnya.


"Aku hanya tidak suka melihatmu berkeliaran di luar saja. Banyak wartawan di jalanan sana, dan lagi kau sedang menjalani hukuman di rumahku,"


"cih .." decak Nandini memalingkan sebagian wajahnya. "Aku yakin mereka tidak mengenaliku!" sahut Nandini ketus.


"Daa....!" Nandini sudah berjalan dengan cepat ke arah gerbang.


"Hei! Tunggu!" Teriak Viktor dengan kesal. Dia akan berjalan lebih cepat lagi, namun salah satu kakinya terasa ngilu. Akhirnya dia hanya menatap kepergian Nandini tanpa bisa mengejarnya.


Nandini berlari ke jalanan yang kanan kirinya sangat teduh dengan pohon pohon menjulang tinggi.


"Dasar! Dia tidak akan bisa mengejar aku berlari. Meskipun bisa berjalan dengan normal, aku dengar dokter melarangnya berlari!" Nandini bicara sendirian.


Hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Nandini sangat mengenali mobil itu.


"Nandini!" CEO Virlie keluar dari mobil mewahnya dan memanggil Nandini. Yang di panggil menoleh dan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"CEO...." Nandini tidak bisa marah pada wanita ini. Karena dia bekerja di kantor miliknya. Dan dia adalah atasannya.


"Ceritakan padaku bagaimana Viktor bisa sembuh dari lumpuhnya?" tanya CEO Virlie karena tiba-tiba bisa bertemu Nandini di luar tanpa Viktor.


"Aku juga tidak tahu. Saat berdiri mengucapkan janji pernikahan, ternyata dia tidak lumpuh," jawab Nandini jujur. Dalam hati dia memang tidak tertarik menjadi istri konglomerat yang arogan seperti Viktor. Dia melakukan semua ini karena berhutang pada CEO saja.


"Aku menyesal karena kau menggantikan posisiku di pernikahan itu. Jadi, kau lebih baik minta berpisah dari Viktor secepatnya saja. Pernikahan ini tidak berarti bagi mu juga baginya," kata CEO Virlie tanpa sungkan dan malu atas perbuatannya.


"Maaf, karena aku harus bicara jujur padamu. Kau adalah atasanku, aku menghormatimu. Tapi sebagai sesama wanita, kau sangat kejam. Kau malu menjadi istrinya karena dia lumpuh. Lalu saat kau tahu dia sehat, kau ingin kembali padanya," perkataan Nandini begitu menohok relung hati CEO hingga membuatnya menatapnya tajam.


"Karena itulah, aku meminta padamu untuk membujuk Viktor agar kembali padaku. Aku akan memperbaiki kesalahanku itu," kata Virlie yang meminta bantuan Nandini.


"Akan aku coba," jawab Nandini.


"Aku bisa pergi sekarang? Aku ingin berjalan keliling tempat ini. Mumpung aku masih punya kesempatan tinggal disini. Aku ingin menikmati suasana sejuk di sekitar rumah ini, sebelum aku di ceraikan olehnya," kata Nandini ingin segera menyudahi pembicaraan ini.


Virlie kembali kerumahnya dan ingin bertemu dengan ayahnya. Dia ingin bertanya apakah ayahnya sudah bertemu dengan Viktor pagi ini atau belum. Rasanya dia tidak sabar untuk menanyakan hal itu.


"Papah....." panggil Virlie saat melihat ayahnya duduk di ruang tamu sendirian. Sepertinya ibunya belum kembali dari luar kota menjenguk Omanya yang sedang sakit.


"Apakah papa sudah bertemu dengan Viktor? Lalu apa katanya?" Virlie benar-benar tidak sabar mendengar kabar baik dari papanya.


"Dia sudah menikah. Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Kau harus menerima kenyataan ini," sahut papanya sungguh di luar dugaan.


"Papah....lakukan sesuatu. Aku mohon...." pinta Virlie dengan sedih.


Bram lalu merangkul putrinya dan memeluknya. Dalam hati dia tidak tega melihat kesedihan putri kesayangannya ini. Namun dia juga tidak bisa menyakiti Nandini yang juga adalah putrinya di masa lalu. Dan Virlie tidak tahu jika mereka berdua adalah saudara. Istrinya juga tidak tahu hal itu, karena itulah saat ini Bram mencari waktu yang tepat untuk mengatakan kebenaran itu pada mereka berdua.

__ADS_1


.


"Aku kecewa pada papa, dia tidak berhasil membuat Viktor kembali padaku," keluh kesah Nandini pada Aji, yang tidak lain adalah ajudan ayahnya. Diam-diam Ajipun memendam rasa peduli pada anak dari atasannya ini.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Aji seraya memberikan bahunya.


Virlie tidak bicara lagi, dia hanya butuh sandaran saat ini. Seseorang yang memahami deritanya. Seseorang yang duduk disampingnya dan mau mendengarkan suara hatinya yang merana.


....


Pagi harinya.


"Aku akan kembali bekerja. Aku bosan berada di rumah terus seperti ini," kata Nandini saat hanya berdua saja di kamar bersama Viktor.


"Kau bisa bekerja. Aku tidak melarangmu. Tapi ingat. Jika kau pulang terlambat sedikit saja. Kau tahu akibatnya," kata Viktor tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku akan mandi sekarang," kata Nandini segera mengambil handuk. Dirumah ini, mereka tidur dikamar yang sama.


"Mandilah. Jika tidak jangan dekat-dekat denganku" ucap Viktor karena dia baru saja mandi.


"Cih...siapa juga yang mau dekat-dekat denganmu... benar-benar narsis sekali!" rutuknya sambil menutup pintu kamar mandi.


Saat Nandini keluar dari kamar mandi, dia melihat Viktor tengah meringis kesakitan. Nandini pikir, dia hanya berpura-pura saja, karena itulah maka dia tidak mempedulikan nya. Tapi saat Viktor wajahnya memerah dan bahkan dia tidak bisa berjalan untuk sekedar mengambil minum sendiri, maka Nandini berjalan mendekatinya.


"Kau mau air mineral ini? Biar aku ambilkan," ucap Nandini saat melihat salah satu tangan Viktor berusaha meraih gelas di atas nakas. Namun sepertinya dia kesulitan mengambilnya.


"Ya. Ambilkan untukku," perintah nya.

__ADS_1


"Nih! Apakah kau baik-baik saja?" Merasa ada yang janggal Nandinipun bertanya, membuat Viktor menatapnya lekat.


__ADS_2