Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 22 Salah menilai


__ADS_3

Satu Minggu di Desa Hulu justru membuat hubungan Nandini dan Viktor semakin dekat saja. Berbagai upaya CEO Virlie untuk merendahkan Nandini di hadapan Viktor, tetap tidak berpengaruh apapun.


Nandini diperlakukan seperti pelayan oleh CEO saat jam kerja. Kadang mengambilkan minum, kadang merapikan tempat tidur nya, kadang juga memasak untuk CEO Virlie. Namun semua itu, justru membuat sebuah perasaan lain tumbuh di hati Viktor untuk Nandini.


"Dia tidak pantas bersama dirimu. Lihatlah dia, pantasnya menjadi pelayanmu saja. Kenapa tidak lekas berpisah darinya saja?" kata CEO Virlie ketika Nandini membersihkan tempat tidur CEO. Ucapan Virlie membuat Viktor terhenyak dan menarik nafas dalam.


"Bagiku, cinta tidak menghela kasta," ucap Viktor.


"Jangan munafik. Kamu hanya sedang membuat aku cemburu saja bukan?" Sangka Virlie.


"Aku benar-benar tidak memandang jika Nandini adalah seorang pelayan," kata Viktor masih duduk dan menunggu Nandini di depan. Dalam hati, saat ini sudah tumbuh rasa sayang untuk Nandini.


"Keluargamu juga tidak suka dengan gadis kampungan itu. Seekor itik tidak akan berubah menjadi angsa," Virlie mengumpamakan Nandini seperti seekor itik.


"Ini sudah takdir. Kami tidak akan berpisah. Karena itu, jangan ungkit lagi masa lalu. Masalah orang tuaku, mereka pasti luluh di kemudian hari. Tapi aku justru cemas melihat sikapmu ini. Apakah kau masih mengharapkan aku akan kembali padamu?" Tiba-tiba saja Viktor bicara seperti ini membuat pipi Virlie memerah dengan rasa malu.


"Bu...bukan begitu. Tapi, kau dan aku lebih cocok bersama dimasa depan bukan?" Virlie tetap menduga jika Viktor masih mencintainya didalam hati.

__ADS_1


"Hmm, dulu iya. Sebelum aku tahu sifat aslimu. Sekarang, aku telah menerima takdirku akan pernikahan ini," jawaban Viktor kembali menyayat hati Virlie.


"Viktor, kau akan menyesal jika tetap bersama Nandini. Gadis itu tidak layak sama sekali untukmu..."


Viktor tersenyum kecil.


"Dia gadis yang baik. Itu sudah cukup. Dan oh ya, pulang dari sini, Nandini tidak akan lagi bekerja denganmu," Tiba-tiba saja Viktor sudah memutuskan sesuatu.


"Kenapa?"


"Karena kami akan bulan madu ke Eropa," Melihat Nandini menjadi pelampiasan amarah Virlie, Viktor tidak bisa memberinya ijin bekerja lagi.


"Kau... benar-benar sudah melupakan aku? Kenangan manis kita? Apakah kau melupakan semua kenangan indah selama bertahun-tahun hanya karena kesalahan kecil yang ku lakukan?" CEO nampak berkaca-kaca karena hatinya kembali patah.


"Maafkan aku. Kita sudah berada dijalan yang berbeda. Dan jangan ganggu Nandini lagi...." Virlie menatap Viktor dan tak percaya pada apa yang dia lihat saat ini. Viktor benar-benar telah memilih Nandini daripada dirinya. Hatinya sakit sekali melihat kenyataan ini.


CEO Virlie beranjak dengan tangis yang tertahan. Dia lalu berlari ke mobilnya. Dan terisak-isak disana.

__ADS_1


Nandini sudah selesai dengan tugas yang di berikan. Dia lalu mendekati Viktor.


"Dimana CEO? Bukankah tadi dia duduk denganmu?"


"Dia sudah pergi entah kemana. Ayo kita makan siang? Kau pasti lapar..."


Viktor melihat peluh di dahi Nandini. Karena itu, dia mengambil sapu tangannya dan memberikannya pada Nandini.


"Gunakan ini. Peluhmu itu seakan kau habis bulan madu saja," goda Viktor.


"Apa?"


"Cepat usap. Nanti malu jika di lihat orang lain..." kata Viktor lagi.


"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti...." Nandini masih terheran dengan perubahan sikapnya ini.


Nandini lalu mengusap keringat di dahinya dengan sapu tangan milik Viktor. Sementara CEO menangis terisak di dalam mobilnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mobilnya pergi meninggalkan desa hulu itu kembali ke kota.


__ADS_2