
"Nandini....." Viktor tidak akan menunggu kesempatan baik untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan selama ini selama berumah tangga dengan Nandini.
"Hmm..." masih saling tatap mereka bicara sangat serius dan hening.
"Sebenarnya aku senang kau tinggal disini. Dan aku juga mulai nyaman denganmu...." ucap Viktor membuat mulut Nandini terbuka karena tak percaya sang pria arogan yang suka memerintah dan memanfaatkan dirinya bicara seserius ini.
"Aku bicara dari hatiku. Aku tidak berpura-pura...." ucapnya lagi saat melihat ekspresi di wajah Nandini.
Nandini hanya terdiam sambil menatap tajam mata Viktor tanpa berkedip. Seakan menyelam kedalam hatinya melalui matanya. Apakah yang dia ucapkan ini serius? atau hanya ingin menunda perpisahan mereka saja dan memanfaatkan Nandini untuk merawatnya.
"Bagaimana aku percaya jika tiba-tiba kau bicara seperti ini? Sikapmu mudah sekali berubah. Aku sulit memahami apakah ini benar atau sandiwara?"
"Nandini....." Tiba-tiba Viktor menggenggam tangan Nandini dan menaruhnya di dadanya.
__ADS_1
"Lihat ini. Dan rasakan detak jantungku ini. Apakah ini tidak membuktikan jika aku senang kau tetap disini?"
"Viktor....aku... sebenarnya aku...dan Virlie memiliki ayah yang sama. Aku adalah putrinya di masa lalu. Dan aku baru tahu kebenaran nya belum lama. Jika pernikahan ibuku seperti scandal dan asal usulku akan di hina orang, apakah keluarga mu masih akan menerima ku?" Sebelum menjawab permintaan Viktor, Nandini akhirnya mengatakan rahasia hidupnya.
Penting sekali jika ingin memulai sebuah hubungan dengan lebih serius, maka jati diri harus di ketahui pasangan nya, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Nandini tertunduk dan Viktor menyentuh dagunya dengan telunjuknya lalu mengangkat wajahnya sedikit agar mereka saling bertatapan.
"Ini adalah hidupku. Kesalahanku sebelumnya adalah menerima perjodohan dengan Virlie. Dan aku tidak akan membuat kesalahan lagi sekarang. Aku akan memutuskan sendiri teman hidup ku. Dan kau adalah pilihan yang tepat untukku, jangan khawatir soal keluarga ku,"
"Nandini...apakah setelah mendengar semua ini kau masih ingin kita berpisah?" Sontak saja Nandini tertegun. Pernyataan cinta yang tiba-tiba membuatnya bimbang dan ragu.
"Aku butuh waktu untuk berpikir. Seperti yang kau bilang, jika hubungan ini untuk seumur hidup, tentu aku harus memikirkan terlebih dahulu sebelum menjawabnya bukan?"
__ADS_1
"Ohh...begitu ya...." Viktor nampak kecewa, namun dia lalu tersenyum kecil. "Tidak papa. Pikirkan dulu, lalu jawablah secepatnya,"
Setelah pembicaraan ini maka semua menjadi tak sama. Viktor yang biasanya tidur di ranjang sendirian dan Nandini di kasur di bawahnya, kini tak bisa lagi bersikap seperti itu.
"Kau tidurlah disini..." kata Viktor malam ini seraya menggeser ke pinggir memberikan tempat untuk Nandini.
Nandini hanya menatapnya tak bergeming. Dia menjadi pria yang lembut, tapi sulit untuk di pahami. Sampai berapa lama sikapnya akan bertahan seperti ini? batin Nandini.
"Ayolah. Kok malah bengong. Apa kau ingin aku tidur di bawah?"
"Ehm, tidak perlu. Kau bisa di sini juga," jawab Nandini yang satu detik kemudian dia sesali. Artinya kita akan tidur satu ranjang berdua? Ohh astaga...kenapa aku jawab seperti ini? gumamnya dalam hati.
Viktor menyembunyikan senyum kecilnya. Lalu dia menarik selimut dan memberikannya sebagian untuk Nandini.
__ADS_1
"Tidurlah. Aku janji, tidak akan melewati batasan yang sudah kau buat," kata Viktor bergurau sambil membetulkan guling yang Nandini taruh di tengah mereka.
Nandini terdiam dan hanya mendengarkan ocehannya sejak tadi. Pria arogan ini menjadi banyak bicara hari ini. Dan aku, menjadi terdiam dan bingung mengartikan sikapnya ini, batin Nandini sebelum akhirnya memejamkan matanya.