
"Heh, kenapa pulang kerja wajahmu cemberut begitu? tanya Viktor melihat Nandini pulang kerja dengan wajah di tekuk tidak jelas.
"Aku mau langsung ke kamar. Aku sedang tidak mood hari ini," jawab Nandini singkat.
"Heh...tunggu!"
Nandini tidak peduli.
Viktor terus memperhatikan dirinya yang sejak tadi terdiam.
"Aku ingin bicara hal penting padamu," kata Nandini tiba-tiba saat di kamar mereka berdua.
"Cih, hal penting. Cepat katakan!" Viktor menatapnya acuh.
"Kenapa kita tidak berpisah saja. Aku akan membayar ganti rugi karena kau kecelakaan waktu itu,"
Viktor menatap mata Nandini mendengar apa yang dia katakan barusan dengan kaget.
Tiba-tiba saja Viktor malah mendekatinya. Tanpa bicara dia memegang bahu Nandini. Lalu dengan kasar menghempaskannya di atas ranjang.
Menatap mata Viktor, membuat Nandini takut hal yang tidak di inginkan akan terjadi.
"Apa....apa yang akan kau lakukan?"tanyanya gemetar.
"Meminta hakku!" jawaban singkat namun jelas tujuannya.
"Hak apa maksudmu...?" Nampak Nandini semakin takut. Apalagi saat melihat Viktor membuka kemejanya.
"Hak suami pada istrinya...."
"Omong kosong! Kita bukan suami istri!" Nandini berangsut menjauh.
Namun dengan cepat Viktor melempar kemejanya ke lantai. Dia mendekati Nandini. Membuat Nandini semakin takut saja.
__ADS_1
"Jangan dekati aku! Pergi dari sini!" Nandini nampak putus asa jika menatap mata Viktor saat ini.
Tiba-tiba saja Viktor menarik tangan Nandini dengan kasar dan membuatnya berada di atas tubuhnya.
Kini Viktor dan Nandini bisa saling tatap dengan begitu dekat. Sangat dekat hingga membuat setiap bulu halus di wajah Viktor bisa dengan jelas terlihat oleh Nandini.
"Ini yang seharusnya aku lakukan padamu dari dulu,"
"Hentikan omong kosong ini dan lepaskan aku!" Nandini berusaha bangun tapi tidak bisa melawan kekuatan pria yang menahan badannya ini.
"Seorang suami meminta haknya pada istrinya. Dimana kesalahan ku?" Tiba-tiba saja pipi Nandini semakin merona merah.
"Kita bukan suami istri!" Teriak Nandini.
"Jika kita bukan suami istri, kenapa ada wajahmu di surat nikah kita? Lalu kenapa ada cincin di jari tanganmu. Dan kenapa kau tinggal di rumahku?" Perkataan Viktor membuat Nandini terdiam. Hanya nafasnya di dada bergerak naik turun dengan sangat cepat.
"Ini bukan pernikahan. Ini sebuah kesalahan. Aku membutuhkan uang saat itu. Dan aku terpaksa menggantikan pengantin wanitanya untuk menikah denganmu," Nandini menjelaskan semuanya karena saat ini tidak punya jawaban lain.
hiks....hiks...Nandini mulai menangis karena kehabisan kata-kata. Dan Viktor sudah tahu kebiasaannya ini.
"Cepat layani aku makan malam. Aku sangat lapar!" Tiba-tiba Viktor melepaskan Nandini. Nandini menjadi terbelalak. Jadi dia tidak akan melakukan haknya padaku? Syukurlah, batinnya.
Nandini berangsut turun dari badan Viktor dengan pelan dan berjalan keluar kamar itu. Sementara Viktor tersenyum puas, melihat wajah Nandini ketakutan seperti barusan.
"Haha, melihat wajahnya tadi, aku lupa merekamnya...." Ucapnya sambil bangun dan mengambil kemejanya.
Mereka lalu makan malam di lantai satu. Saat makan malam, Nandini diam saja dan tidak bicara sepatah katapun. Dia masih syok akan kejadian barusan.
Viktor diam-diam mencuri pandang padanya. Melihatnya diam saja, lama-lama Viktor merasa kesal.
"Cepat bicara. Jangan diam seperti patung!" ucap Viktor merasa tidak nyaman dengan aksi diam Nandini.
"Aku sedang sariawan,"
__ADS_1
"Mana? Coba lihat!" Viktor tidak percaya ucapan Nandini.
"Jika aku bilang sedang sariawan. Maka diamlah!" Nandini menjadi kesal. Karena dia malah tergigit saat mengunyah makanan.
"Aoooo!"
Viktor menoleh padanya. Memperhatikan gerakan bibirnya dan wajahnya yang meringis kesakitan.
Tiba-tiba saja Viktor beranjak bangun dan pergi ke kotak obat. Dia mengambil sesuatu dari sana.
Viktor lalu berjalan ke dekat Nandini.
"Lihat sini!" ucapnya.
Nandini lalu menoleh padanya.
"Buka mulutmu. Biar ku lihat mana yang sariawan,"
"Sudahlah! Tidak perlu pura-pura baik padaku!" jawab Nandini masih kesal dan marah padanya.
"Maaf, soal tadi. Apakah kau masih marah karena hal tadi?"
Nandini malah melotot kali ini. Menatap wajah pria aneh yang tiba-tiba minta maaf padanya.
"Cepat, sekarang buka bibirmu. Biar ku oleskan obat ini,"
Nandini di buat bingung dengan perubahan sikapnya yang tidak mudah di pahami.
Perlahan, Nandini membuka juga bibirnya. Dan tangan Viktor menyentuh bibir bawahnya lalu melihat titik darah karena tadi tergigit.
Perlahan dia mengoleskan dengan lembut obat itu pada luka di bibir Nandini. Dan saat Viktor mengoleskan obat itu, Nandini diam-diam menatap wajahnya dengan lekat. Yang saat ini sedang serius melihat luka di bibirnya.
"Sudah!" ucap Viktor dan saat itu membuat Nandini terkaget karena baru saja dia menatap lekat wajah Viktor. Merekapun saling berpandangan.
__ADS_1