
Bram, ayahnya Nandini telah kembali dari luar negeri dan saat ini akan mengadakan rapat bersama dengan perusahaan Victor. Ternyata setelah bertemu dengan ayahnya Victor di luar negeri dan pembicaraan mereka akan dilanjutkan sampai di Jakarta. Bram dan Yohan sepakat untuk bicara terkait kerja sama dua perusahaan.
"Aku akan bertemu ayah,"
"Nandini, jika sudah selesai, cepatlah pulang," kata Viktor ketika Nandini pamit padanya. Nampak dia tidak ingin ditinggal lama-lama karena dia merasa bosan jika sendirian.
Nandini diajak ketemuan oleh ayahnya di sebuah restoran. Selanjutnya akan diajak makan malam untuk membicarakan tentang proyek baru bersama Yohan. Sementara itu Yohan dan istri nya kaget saat melihat Bram datang bersama Nandini, bukannya bersama Firly.
"Silahkan masuk...." sapa Yohan dan istrinya.
"Terimakasih..."
Dengan senyum mengembang di bibir, Bram masuk sambil menggandeng tangan Nandini. Nandini dengan ragu-ragu dan cemas masuk ke rumah orang tua Victor yang tidak lain adalah mertuanya sendiri. Karena selama ini dia tidak pernah datang sendiri, dia selalu datang ke sana bersama Victor.
"Nandini yang akan menjadi CEO nya nantinya...." kata Bram pada Yohan dan istrinya.
"Apa?" Mereka berdua sangat terkejut mendengarnya jika nanti Nandini akan memegang proyek itu. Dan kelak Nandini yang akan memimpin salah satu cabang perusahaannya. Dia juga yang akan menjadi CEO sama seperti Virly di salah satu perusahaan milik Bram.
Ibunya Viktor terbelalak dan tidak menduga jika Nandini tiba-tiba akan menjadi orang penting. Kini sikapnya mulai berubah saat bicara dengan Nandini. Berbeda sekali ketika Nandini dianggap sebagai gadis kampungan yang miskin.
"Biar ayahmu pulang duluan, kau tetaplah di sini," kata ibunya Victor ketika pembicaraan itu telah selesai. Bram yang melihat sikap orang tua Viktor berubah pada Nandini, menjadi senang.
Nandini nampak ragu dan menatap pada ayahnya.
"Baiklah, saya akan pulang dulu Nandini kau bisa tetap di sini," kata Bram pada putrinya.
"iya Ayah," jawab Nandini.
Bram lalu pulang sendirian sedangkan Nandini tetap tinggal di rumah mertuanya itu. Di sana sang mertua banyak bertanya kepadanya tentang berbagai hal termasuk Ibunya dan masa lalunya. Nandini lalu bercerita bagaimana kehidupannya di kampung ketika tidak bertemu dengan ayahnya hingga bagaimana dia ke Jakarta dan bertemu dengan Virly serta Viktor.
Dari apa yang dikatakan Nandini akhirnya ibunya Victor menjadi punya sudut pandang berbeda. Kini dia sadar jika selama ini dia telah salah menilai Nandini. Ternyata Nandini adalah gadis yang baik dan bukan gadis yang mengincar harta serta kekayaannya. Ternyata Nandini adalah anak yang berbakti pada orang tua serta dia tidak menikahi Victor karena hartanya.
__ADS_1
Ibunya Viktor lalu menelpon putranya agar menjemput Nandini.
"Viktor, kau bisa jemput istrimu disini," kata ibunya menelpon putranya.
Viktor yang sejak tadi menunggu Nandini pulang, menjadi kaget karena Nandini justru ada di rumah orang tuanya. Victor menjadi cemas, takut Nandini dimarahi oleh kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian, Vitor sudah sampai di rumah orang tuanya.
"Tin-tin!" mobil Viktor masuk ke halaman rumah orang tuanya.
Namun saat sampai di rumah orang tuanya, Victor menjadi tertegun saat melihat ibunya merangkul Nandini dan membawakan oleh-oleh untuk dia bawa pulang olehnya.
"Mama? Nandini?" Viktor tertegun melihat mereka berdua.
"Mah, aku pulang dulu," kata Nandini pada ibunya Viktor.
"Iya hati-hati di jalan," kata Riana sambil tersenyum.
Viktor terdiam dan hanya menatap ibunya serta Nandini secara bergantian dengan berbagai pertanyaan didalam hatinya.
"Ayo, masuklah! Ma...kami pulang dulu..." pamit Viktor pada ibunya.
Melihat cara ibunya memperlakukan Nandini terlihat jelas jika mereka tidak bertengkar, justru ibunya Victor terlihat menyayangi Nandini.
"Kenapa senyum-senyum aja?" tanya Victor menoleh pada Nandini saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Tidak apa-apa," jawab Nandini singkat.
"Katakan, apa yang terjadi di rumahku?"
"Tidak ada," jawab Nandini membuat Viktor semakin penasaran.
__ADS_1
"Tapi kau dan mama terlihat aneh, tidak seperti sebelumnya," Victor tetap penasaran karena Nandini hanya menjawab singkat saja pertanyaannya.
Nandini lalu bercerita jika tadi dia datang bersama ayahnya. Mereka lalu bicara soal rencana ayahnya untuk mengangkat Nandini menjadi CEO di salah satu perusahaan ayahnya yang bekerjasama dengan perusahaan Victor.
"Oh, bagus dong!" Viktor nampak mengangguk-angguk sebentar.
Setelah sampai di rumah, mereka langsung masuk ke kamar dan Nandini akan mandi.
Tiba-tiba Victor mengaduh kesakitan.
"Auu.....,"
"Kenapa? Tadi kau terlihat baik-baik saja, kenapa sekarang kau terlihat sakit begitu?"
"Kakiku, Nandini tolong kakiku," kata Victor.
"Awas jika kau mengerjaiku," ancaman Nandini.
"Tidak, ini beneran sakit," kata Victor.
"Sini, sebelah sini kakiku sangat pegal," katanya saat Nandini duduk melihat kakinya dan tidak jadi mandi.
"Biarkan aku akan mandi dulu, badanku sangat lengket, rasanya tidak enak," kata Nandini.
"Ayolah, kau bisa mandi nanti, pijat dulu kakiku," kata Victor memaksanya.
Akhirnya mau tidak mau dengan perasaan yang kesal Nandini memijat kaki Victor. Kadang dia akan memijat dengan lembut namun saat dia kesal dia akan memanjat kakinya dengan keras.
"Eh yang bener dong!" erang Viktor ketika terasa sakit saat dipegang dengan keras oleh Nandini.
"Sudah ah! aku mau mandi,"
__ADS_1
"Hei tunggu!" teriak Viktor saat Nandini tiba-tiba beranjak dari duduknya.
Tapi Nandini tidak peduli dan dia segera masuk ke kamar mandi lalu mengunci pintunya dari dalam.