Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 31 Semakin sayang


__ADS_3

Nandini tetap memaksa agar ibunya di bawa ke rumah sakit. Viktor membantunya memapah ibunya.


"Mari Bu..." Tangan Viktor terulur agar ibu mertua berpegangan pada bahunya.


"Ibu tidak papa Nandini. Setelah minum obat pasti baikan,"


"Jangan begitu Bu, lebih baik ke dokter saja. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan ibu,"


"Ayo Nandini...." ajak Viktor ketika ibunya sudah siap untuk ke rumah sakit.


Mereka berjalan menuju mobil Viktor yang terparkir di halaman.


"Nak, kamu duduk saja didepan. Ibu duduk di belakang saja," kata ibunya pada Nandini.


"Ngga Bu, aku di belakang saja sama ibu,"


Viktor segera berputar dan masuk ke mobil untuk menyetir.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Nandini dan Viktor segera membawa ibunya periksa.


Saat ibunya sudah bersama dokter untuk di periksa, beberapa suster nampak menatap Viktor dan Nandini sambil berbisik-bisik.


"Beruntung sekali nasibnya ya? Pertama kali kesini, benar-benar penampilan nya itu kampung an, ngga tahunya dia anak konglomerat. Dan suaminya itu juga seorang konglomerat," kata suster dengan jepit rambut warna pink.


"Aku iri padanya," jawab temannya.


Dan saat berpapasan dengan Nandini,mereka tersenyum ramah sambil melirik wajah Viktor dan mengagumi ketampanan nya. Viktor yang biasanya bersikap dingin, kali ini entah apa sebabnya dia juga membalas senyum dua suster itu yang menyapanya.

__ADS_1


Nandini melirik Viktor sekilas dan memicingkan matanya, dia juga nampak heran dengan sikap Viktor yang berubah dari yang dia kenal dulu.


"Mereka sepertinya cukup mengenalimu...." kata Viktor ketika duduk bersama Nandini.


"Aku tiap hari datang kemari, ketika ibu di rawat," ucapnya tersenyum sedikit sambil mengenang kala pertama kali dia pergi ke kota dengan segala keterbatasannya.


"Menurutmu, apa yang mereka bicarakan ketika melihat kita bersama? Lihat dua suster itu. Mereka terus saja berbisik-bisik sambil melihat mu..." kata Viktor menoleh pada dua suster yang sejak tadi senyum-senyum sambil sesekali mencuri pandang pada mereka berdua.


"Entahlah. Aku tidak tahu," kata Nandini sambil mengangkat kedua bahunya.


"Mereka mengatakan kita pasangan serasi....." canda Viktor sambil berbisik dan membuat Nandini memicingkan matanya sembari menoleh.


.


Setelah berbincang beberapa jam dengan ibu Nandini yang di anjurkan untuk menginap semalam di rumah sakit, Viktor dan Nandini disuruh pulang oleh ibunya.


"Aku ingin menemani mu Bu..." ucap Nandini.


"Tidak perlu. Banyak suster disini. Mereka akan menjaga ibu. Kau ikut pulang saja dengan suamimu..." tegas ibunya.


Nandini tidak ngeyel lagi, akhirnya diapun pulang bersama Viktor.


Saat mereka berjalan ke parkiran beberapa wartawan berlari ke arah Nandini. Sejak wajah Nandini ada di cover majalah itu, mereka terus mengintai nya. Salah seorang melihat Nandini dan Viktor datang ke rumah sakit. Lalu mengabarkan pada temannya yang wartawan.


"Nona Nandini.... bagaimana perasaan anda menjadi putri pak Bramanta?" Nandini tertegun dan tidak mau salah berbicara. Ayahnya adalah konglomerat dan orang terpandang. Nandini tidak bisa bicara sembarangan soal ayahnya.


"Kami buru-buru, Dan disini bukan tempat yang tepat untuk sesi wawancara. Ini rumah sakit, maaf, lain kali saja...." Viktor segera menggendong Nandini agar Wartawan itu berhenti bertanya dan perhatian nya teralihkan.

__ADS_1


Para wartawan kaget dan terpana, bagaimana pun Viktor juga anak konglomerat. Dia juga bukan orang sembarangan. Banyak orang ingin mengetahui sisi kehidupan nya.


"Arahkan kamera kearah mereka, terus rekam...." kata salah seorang dari mereka pada teman satu tim nya.


"Mereka terlihat romantis, padahal setahuku, tunangan pak Viktor adalah CEO Virlie. Pernikahan mereka itu benar-benar menyimpan rahasia besar," gumam seorang wartawan pada temannya.


"Turunkan aku!" pekik Nandini saat sampai di mobil mereka. "Apa yang kau lakukan?" Nandini menatap wajah Viktor yang hanya berjarak beberapa senti saja. Kini kepala Nandini benar-benar menempel di dada bidangnya.


"Diamlah! Ini untuk mengalihkan isu soal dirimu," Viktor lalu menurunkan Nandini tepat di samping mobilnya.


Mereka segera masuk kedalam.


"Kau ini main gendong saja. Bagaimana jika tiba-tiba kakimu kambuh lalu aku jatuh?"


Saat Viktor akan mengemudi tiba-tiba dia meringis kesakitan.


"Aw...."


"Kenapa?" Nandini menoleh padanya.


"Kakiku....nyeri sekali...."


"Ck..." Nandini nampak berdecak kesal.


"Sudah ku bilang. Tidak perlu gendong aku seperti itu. Akhirnya kau....."


"Bercanda!" Viktor tertawa kecil sembari menoleh pada wajah Nandini yang panik. Sedetik kemudian wajah panik itu berubah kesal.

__ADS_1


"....!" Dengan kesal Nandini menoleh sedetik menatap Viktor dengan perasaan gemas, lalu berpaling tak mau menatap nya.


__ADS_2