Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 16 Apa hubungan kalian


__ADS_3

Nandini sedang bekerja dengan serius saat tiba-tiba seorang pria paruh baya tanpa sengaja melihatnya. Rupanya dia adalah Bram, ayah Virlie yang datang untuk bicara pada putrinya tentang proyek yang ada di luar kota. Mereka sedang merambah bisnis lain saat ini. Dan mereka merencanakan membuat pabrik baru di desa dimana Nandini tinggal bersama ibunya sebelum pindah ke kota.


Rupanya di desa itu sangatlah cocok untuk produksi makanan. Selain banyak sekali tenaga kerja yang tersedia, harga upah dan lainnya membuat harga barang menjadi lebih bersaing. Karena jumlah tenaga kerja yang memadai dan upah yang tidak terlalu tinggi, seperti di kota besar.


"Minggu depan akan segera di mulai dan kau bisa kirim beberapa orang yang tahu akan daerah itu,"


"Saya sudah mempersiapkan orangnya,"


"Siapa dia?"


"Nandini. Dia berasal dari sana. Jadi saya yakin untuk urusan para pekerja bisa di tangani sangat baik olehnya,"


"Ya. Papa setuju denganmu," sahut papanya.


Sang papa lalu keluar dari kantor putrinya. Dan dia menghampiri meja Nandini hingga membuat pegawai yang lain terkejut dan menoleh ke meja kerjanya.


"Selamat siang pak..." sapa Nandini pada ayahnya karena mereka sedang ada di kantor.


"Bagaimana kabarmu?"


"Saya baik," jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Heran. Tidak biasanya Presdir akan peduli dan menyapa pegawai baru kelas rendah seperti Nandini. Ini aneh, gumam para pegawai didalam hati.


"Sebentar lagi jam makan siang. Mau makan siang bersama?" tanya Bram pada Nandini. Nandini tentu tidak kuasa menolak ajakan ayahnya ini.


Sebenarnya aku kaget karena melihat ayah tiba-tiba ada dikantor CEO Virlie. Apakah artinya ayah bekerja sama dengan perusahaan ini. Nandini sendiri tidak tahu jika Bram adalah ayah CEO Virlie. Mereka bertemu di dalam ruangan CEO, jadi pembicaraan mereka mungkin hanya sebatas kerja sama dalam bisnis saja, batin Nandini.


Nandini akhirnya mengangguk.


Teng!


Jam makan siang kantor telah tiba. CEO Virlie keluar dari ruangan nya dan awalnya akan mengajak Nandini makan siang. Namun saat dia ke meja kerjanya, Nandini tidak ada disana. Salah seorang rekan kerja Nandini, lalu mengatakan jika Nandini makan siang bersama Presdir.


"Nandini makan siang bersama Presdir," kata salah seorang bawahannya. Dan hal itu membuat CEO Virlie terkejut.


"Iya. Saya dengar sendiri. Nandini juga bicara pada saya seperti itu,"


"Ohh..." CEO Virlie lalu berjalan ke mobilnya. Dia juga akan pergi makan siang. Tapi sampai di dekat mobilnya, CEO Virlie tidak langsung masuk. Melainkan berdiri di samping mobilnya dan kata-kata karyawan nya masih terngiang di kepalanya.


"Papa makan siang bersama Nandini? Kenapa?" batin CEO Virlie bingung akan hal ini.


"Mereka tidak saling kenal sebelumnya. Kenapa pergi makan siang bersama?" batinnya lagi.

__ADS_1


Tiba-tiba handphonenya berbunyi.


"Ya mah...."


"Oke...saya akan jemput sekarang!" jawab CEO Virlie.


Sopir mamanya mendadak sakit. Dan mamanya saat ini baru saja dari butik untuk belanja. Karena tidak ada yang menjemputnya, maka dia menelpon Virlie. Suaminya sudah dia hubungi tapi tidak di angkat. Jadi Vivi sang ibu CEO berfikir jika suaminya sedang rapat saat ini.


Saat sudah sampai didepan butik, mamanya langsung masuk kedalam mobil putrinya.


"Papahmu mungkin ada rapat. Mamah telpon tidak di angkat. Mama lalu menelpon mu," ucap sang mama karena tahu jika putrinya sangat sibuk dengan proyek baru saat ini. Tapi dia malah menyuruhnya datang.


"Tidak papa mah. Oh ya...apakah mama merasa jika papa berubah. Ehm, maksudku...sikapnya ada yang aneh gitu? Dan oh ya, papa sedang tidak ada rapat saat ini," terang CEO Virlie pada ibunya.


Vivi sang mama lalu terdiam sejenak. Dia juga merasa jika akhir-akhir ini suaminya bersikap tidak biasa. Dia sering telepon di tempat yang tersembunyi dan bicara dengan pelan. Entah siapa yang dia hubungi hingga dia bersikap demikian, batin Vivi.


"Kau juga tahu? Mama bertanya pada papahmu. Tapi dia tidak mau berterus terang," kata Vivi.


"Jadi sikap papa mulai berubah? Apakah..."


"Apakah apa!" desak sang mama.

__ADS_1


"Ohh tidak. Aku hanya berfikir jika papa sangat sibuk dengan proyek yang baru. itu saja," jawab CEO Virlie tidak yakin akan kata hatinya. Tiba-tiba saja dia menaruh curiga pada Nandini. Dalam hati dia khawatir jika Nandini akan mengganggu rumah tangga kedua orang tuanya.


__ADS_2