Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 14 Apa yang dia pikirkan sebenarnya


__ADS_3

Setelah kedua orang tua Viktor pergi, Nandini keluar dari balik dinding. Dia berjalan didekat Viktor dan berdiri disampingnya. Viktor menoleh padanya dan dalam hati menebak jika Nandini tidak pergi kekamarnya tadi. Tapi justru mendengarkan pembicaraan nya dengan kedua orang tuanya.


"Kau mendengar pembicaraan kami?" tanya Viktor.


"Maaf. Aku tadi menguping," jawab Nandini.


"Hem, sudah ku duga. Karena itu memang kebiasaan mu!" Geram Viktor.


"Bukan begitu. Aku hanya ingin tahu..dan aku bisa siap-siap untuk pergi," elak Nandini.


"Pergi kemana?" Viktor menoleh padanya.


"Setelah kita bercerai maka aku tidak akan bertemu lagi denganmu..." sahut Nandini mengeluarkan apa yang di pikirkan hatinya.


"Hahahaha. Kau ini berkhayal. Aku tidak akan menceraikan mu. Sudah ku bilang. Jalani hukumanku dengan menjadi istriku. Kau tidak mau di penjara bukan?" Kali ini Viktor tertawa kecil mendengar pengakuan Nandini. Lagian siapa yang akan bercerai? Aku senang bisa memberikan hukuman secara langsung pada pelaku kriminal ini, batin Viktor.


"Ohh, aku mohon. Jangan bawa aku ke penjara..." Nandini selalu takut dan cemas jika menyangkut penjara. Itu adalah tempat yang paling mengerikan melebihi kuburan menurutnya.


"Nah...kalau begitu..buang jauh-jauh pikiran untuk kabur dariku. Kita tidak akan bercerai..." Tegas Viktor.


"Tapi kenapa? Kau tahu kita tidak sepadan. Aku pelayan dan kau adalah pangeran. Kau kaya dan aku miskin. Bagaimana dengan kemarahan kedua orang tuamu?" Nandini benar-benar di buat bingung oleh jalan pikiran Viktor.


"Aku bisa mengatasi mereka. Jangan ikut pusing memikirkannya. Nanti rambutmu cepat beruban .." Kali ini Viktor malah menanggapinya dengan bercanda. Padahal pipinya juga masih merah akibat pukulan dari papahnya.


"Cih...aku bicara serius tapi kau malah bercanda..." Nandini kesal karena Viktor malah bercanda di saat genting seperti ini.


"Ahh, sudahlah. Cepat cuci ikannya dan masak yang enak. Awas jika tidak enak maka kau harus habiskan semuanya..." Viktor ingin mengalihkan pembicaraan pada hal lainnya.


"Aku pasti bisa memasak yang enak. Tunggu dulu, aku akan menelpon ibu..." sahut Nandini berjalan ke dapur.

__ADS_1


"Bu. bagaimana caranya memasak ikan yang enak?" Nandini menelpon ibunya dari telepon rumah Viktor.


"Begini...." Ibunya memberitahunya dan ibunya senang karena Nandini belajar masak untuk suaminya.


Viktor sedang santai di kursi sambil membaca majalah. Sambil menunggu masakannya matang tentunya.


Satu jam kemudian. Nandini keluar dengan semangkok sup ikan kuning. Dan Viktor langsung mengambil sendok untuk mencicipi kuahnya. Dalam hati tidak yakin jika masakan Nandini layak untuk di makan.


"Apa ini? Ini masakan apa? Kok seperti ini hasilnya?" ejeknya.


"Ini enak. Cobalah!" sahut Nandini mendekatkan mangkok didepan Viktor.


"Tidak! Aku tidak mau!" Tolaknya saat melihat ikan yang separo dagingnya bahkan hilang dari tubuhnya.


"Ayolah. Rasanya enak kok!" Nandini memaksanya.


"Hueeekkk!" reaksi Viktor dan segera mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.


"Ohh, astaga. Rasanya memang tidak enak. Sudahlah. Tidak usah dimakan. Nanti kau malah muntah!" Nandini nampak kecewa. Setelah dia berusaha tapi ternyata rasanya sungguh tidak enak. Dia sendiri telah mencicipinya dan rasanya tidak ke kanan juga tidak ke kiri.


"Dasar! Sudah ku duga kau tidak bisa memasak. Kau terlalu percaya diri melakukan nya...!" Viktor marah kali ini. Karena waktunya terbuang sia-sia untuk menunggu Nandini memasak.


"Maaf...aku memang tidak pernah memasak sebelumnya," Nandini nampak sedih.


"Kalau begitu kenapa kau ngeyel ingin memasak sendiri. Kau bisa berikan ikan itu pada koki di rumah. Dia pasti akan masak dengan enak," Viktor memarahinya lagi dan selalu mendapatkan kesempatan memarahi Nandini dirumahnya. Dan kadang hal itu dia lakukan untuk egonya saja.


"Aku pikir memasak itu mudah. Ternyata tidak..." Mata Nandini mulai berkaca-kaca. Susah payah dia membuatnya tapi mereka tidak bisa memakannya.


"Cih ..makanya. Kau harus sering melihat bagaimana koki itu memasak. Jadi kau baru bisa. Belajar dulu lama-lama baru bisa," Viktor menekan emosi Nandini. Rasa percaya dirinya mulai hilang di hadapan pria ini.

__ADS_1


"Aku tahu." Kali ini satu tetes airmatanya jatuh ke lantai. Dan Viktor yang melirik dan melihat Nandini akan menangis, segera bertindak.


"Bantu aku berdiri!" ucapnya.


Nandini lalu membantu Viktor berdiri. Dan saat mencicipi sekali lagi ikan yang di masak Nandini, dia tahu apa kekurangan nya. Maka dia segera mengambil beberapa bumbu dan menaburinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Nandini terheran melihat pria arogan seperti Viktor tahu akan bumbu dapur.


"Memperbaiki kesalahanmu!" jawabnya ketus.


"Cobalah!" titah Viktor menyuruh Nandini mencoba setelah di tambahkan beberapa bumbu. Sebenarnya bukanya tidak berhasil memasak. Viktor sudah tahu, jika di tambahkan beberapa bumbu lagi maka ikan itu bisa di makan. Tapi dia hanya senang mengerjai Nandini sebelum membantunya memperbaiki kesalahannya.


"Enak. Sekarang bisa dimakan," kata Nandini mulai tersenyum.


"Hmm...." Viktor tersenyum puas penuh percaya diri.


"Kenapa tidak bilang dari tadi jika kau tahu cara memasak?" Sesal Nandini.


"Karena aku mulai memahami satu hal darimu. Kau bodoh tapi tidak bertanya padaku," sahut Viktor tetap dengan sikap arogansinya.


"Aku tidak bertanya padamu karena aku pikir kau tidak akan tahu hal seperti ini...." sahut Nandini.


"Bawa piring itu dan suapi aku makan. Aku jadi lelah karena membantumu?" kata Viktor yang terus saja ingin membuat Nandini kehilangan rasa percaya dirinya di hadapannya.


"Apa? Kau hanya menaburkan bumbu tapi kau bilang lelah?" tentu saja Nandini jengkel akan sikapnya ini. Yang tidak lebih menganggapnya sebagai pelayan, dan bukan teman.


"Cepat lakukan. Aku sudah lapar .."


Terpaksa Nandini menurut dan mulai menyuapi sesuap demi sesuap nasi ke mulut Viktor. Para pelayan yang melihat Nandini perhatian pada Viktor tersenyum sambil berlalu. Mereka berbisik-bisik jika pasangan ini begitu mesra di awal pernikahan nya.

__ADS_1


__ADS_2