Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 6 Tidak sudi


__ADS_3

"Aku tidak sudi melayanimu!" Teriak Nandini dalam ketakutan ketika Viktor ternyata tidak lumpuh.


"Mendekatlah. Kau adalah istriku sekarang. Dan aku adalah suami mu..." Viktor berkata sambil menyeringai.


"Jangan mendekat! Jika kau nekat. Aku akan lompat ke jendela!" Nandini langsung membuka jendela di kamar pengantin itu.


"Kau mau melompat? Ayo! Lompat saja!" Bukannya mundur karena ancaman Nandini, Viktor malah semakin mendekat padanya.


Aku tidak mungkin benar-benar melompat kebawah. Aku bisa mati jika nekat melakukannya. Ah sial sekali. Kenapa aku tidak meneliti dulu siapa pengantin prianya. Ternyata dia adalah pria yang aku tabrak waktu itu.


"Hahahaha, kau tidak akan melompat bukan? Ayo kalau mau lompat? Cepatlah! Aku hitung mundur dari Tiga, dua, satu...lompat!"


Nandini hanya terpaku dan tak bergeming di dekat jendela. Pria ini benar-benar gila! Dia justru menyuruhnya melompat sungguhan.


"Kenapa diam? Lompat saja!"


"Takut mati ya...."


"Hua....Hua...Hua...." Nandini tidak tahu lagi harus apa. Dia akhirnya menangis dengan suara yang keras hingga justru tangisan kerasnya membuat Viktor ketakutan dan menjauh darinya, dia tidak jadi mendekat padanya.


"Ah, dia malah menangis,"


"Okey...jangan menangis. Diamlah. Nanti ada yang mendengarnya," kata Viktor sembari berjalan mundur ke belakang.


Melihat suaminya berjalan mundur, Nandini justru menggunakan tangisan nya sebagai siasat untuk menyelamatkan diri dari malam pertama ini.


"Hua...hua...hua....!"


Tangisannya semakin kencang saja hingga membuat Viktor benar-benar panik dan berlutut dari tempatnya berdiri, memohon agar Nandini Berhenti menangis.


"Aku mohon. Jangan menangis lagi. Okey...jangan menangis,"


Melihat apa yang dilakukan Viktor kini Nandini punya sebuah siasat untuk memperdayanya.


Perlahan-lahan, dia berhenti menangis dan mengusap sebagian airmatanya. Lalu matanya melihat Viktor yang berlutut memohon padanya agar tidak menangis.


Pria konyol ini tadi menyuruhnya bunuh diri. Sekarang dia memohon agar dia tidak menangis. Dia benar-benar aneh, pikir Nandini.


Melihat Nandini berhenti menangis, Viktor bangun dan akan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Stop! Jangan mendekat. Jika kau mendekat, aku akan menangis lebih keras lagi..." ancam Nandini.


Viktor hanya mengeraskan rahangnya karena kesal pada sikap gadis ini.


"Baiklah. Jangan menangis lagi. Seperti anak kecil saja!"


Kata Viktor lalu melepas sepatunya dan juga baju kemejanya didepan Nandini yang masih berdiri di dekat jendela. Melihat Viktor melepaskan sebagian bajunya, Nandini menjadi cemas.


"Hei tunggu!" Teriaknya saat melihat Viktor akan menurunkan celana panjangnya.


"Apa yang akan kau lakukan? Kenapa melepaskan pakaian mu didepanku?" Teriak Nandini menutup sebagian wajahnya.


"Memangnya kenapa? Maksudmu aku harus tidur dengan baju ketat seperti ini? kau pikir aku bisa tidur dengan pakaian rapat?"


"Bukan begitu maksudku. Jangan melepaskan semua bajumu didepanku. Aku tidak bisa melihatnya," kata Nandini jelas sekali suaranya parau karena khawatir.


"Hahahaha...jadi begitu? Kita adalah suami istri. Jadi kau bisa melihat seluruh bagian tubuh ku ini," kecemasan Nandini justru di gunakan Viktor untuk memanfaatkan dirinya. Dia akan mengerjainya karena dalam hati masih kesal akibat kecelakaan yang menimpa dirinya.


"Jangan! aku mohon..." Kini gantian Nandini yang memohon padanya.


Viktor tertawa menyeringai dan puas menikmati wajah yang di landa ketakutan itu.


Melihat Nandini yang memalingkan badannya, Viktor tertawa sendirian.


Kini Viktor berbaring di atas ranjang pengantin dan menatap Nandini yang masih memunggunginya.


Lima belas menit berlalu dan Nandini masih tidak berani membalikkan wajahnya.


Begitu dia berbalik, Viktor ternyata sudah tidur di ranjang mereka berdua.


Hal ini tentu membuat Nandini sangat kesal setengah mati. Dia menggertakkan giginya dan berjalan ke arah suaminya. Perlahan dia menatap wajah itu semakin dekat dan saat tidak ada respon dari suaminya, kini dia yakin jika suaminya itu sudah lelap dalam tidurnya.


"Jika dia tidur disini, lalu aku tidur dimana?" kata Nandini setelah menyadari jika di kamar itu hanya ada satu tempat tidur untuk mereka berdua.


"Aku tidak mau tidur satu ranjang dengannya!" kesal Nandini sembari perlahan menarik selimut dari badan Viktor.


Dia menarik perlahan-lahan agar tidak membangunkannya. Hanya ada selimut itu di kamar mereka yang bisa dia manfaatkan.


Dan selimut itu sebagian tertindih badan Viktor. Hal ini membuat Nandini kebingungan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa aku harus ada dikamar ini bersama pria ini!"


Nandini yang tidak bisa menarik selimut itu akhirnya mengeluarkan semua bajunya dari dalam koper untuk di gunakan sebagai alas tidur.


Semua baju miliknya dia keluarkan dan dia rapikan hingga sepanjang tubuhnya. Setelah itu diapun tidur di atasnya.


"Ahh, rasanya tidak nyaman," kata Nandini setelah berbaring di atas kain yang di tata mirip kasur itu.


"Ibu....aku ingin pulang saja. Dan tidur di sampingmu. Sudah jam satu malam tapi aku masih tidak bisa tidur," kata Nandini berbisik lirih sambil sesekali menoleh pada Viktor yang tidur dengan kasur empuk dan selimut tebal. Dia benar-benar terlelap dalam mimpi indahnya malam ini. Sementara Nandini, terus saja gelisah dan mengutuk dirinya sendiri karena tidak teliti dalam membuat kesepakatan.


Lama-lama Nandini tertidur juga dan pagi harinya, saat Viktor terbangun, Nandini masih lelap tertidur.


Viktor menoleh menatap wajah polosnya saat tertidur. Dia lalu tersenyum kecil apalagi saat melihat koper yang terbuka dan baju yang berserakan di lantai.


"Dasar gadis konyol ini!"


Viktor lalu bangun dan menarik selimutnya, lalu dia gunakan untuk menyelimuti Nandini.


Setelah itu dia pergi ke kamar mandi. Sedangkan Nandini, dalam mimpinya dia bermimpi jika Viktor berusaha mencium paksa dirinya hingga membuatnya berteriak.


Saat terbangun, dia melihat selimut di atas tubuhnya, dan melirik pada tempat tidur yang sudah kosong.


"Ahh, aku mimpi buruk! Benar-benar buruk," keluhnya sembari menundukkan wajahnya ke dekat lututnya.


Dan saat itu, Viktor keluar dari kamar mandi. Dia tertawa melihat Nandini memegangi kepalanya. Tadi dia juga sempat mendengar teriakannya hingga membuatnya menyelesaikan mandinya dengan cepat.


"Hua...hua....hua...!"


Nandini kembali menangis. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat Viktor ketakutan.


Dan benar saja, saat melihat Nandini menangis, Viktor langsung mendekati dan berjongkok di dekatnya.


"Kenapa menangis? Ohh, kau pasti mimpi buruk ya? Hehe..." Melihat Viktor mengejeknya, Nandini mengeraskan tangisannya.


"Hei...kenapa kau menangis semakin keras. Kau ini sudah besar. Tidak tahu malu sudah menangis dua kali dalam sehari. Kau belum puas menangis saat kecil hah!?"


Nandini menatap dengan bercucuran air mata wajah Viktor yang hanya berjarak dua puluh centimeter dengannya.


"Kenapa kau pura-pura lumpuh?!"

__ADS_1


Nandini kembali teringat saat pertama kali bertemu, pria ini duduk di kursi roda. Dan saat menikah dia justru bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Ini membuatnya kesal sekaligus bingung.


__ADS_2