
Dua bulan berlalu, hubungan Nandini dan Viktor mulai terjalin dan jurang yang tadinya sangat lebar untuk status sosial mereka kini semakin hilang saja. Sejak Nandini menjadi CEO, sikap dan cara berpikirnya mulai seiring sejalan dengan Viktor yang seorang pebisnis.
Orang tua Viktor kini tak lagi keberatan dengan Nandini sebagai menantu mereka. Karena sekarang diapun adalah orang terpandang. Seiring di terimanya Nandini sebagai menantu di keluarga Viktor, maka tuntutan mereka menjadi lain. Saat ini nyonya Riana yang merupakan ibu Viktor mulai menyinggung soal ingin menimang cucu. Diapun menyuruh Nandini dan Viktor berbulan madu dengan kapal pesiar dan menikmati pernikahan mereka sejenak diantara kesibukan mereka berdua.
"Aku tidak mengerti. Kenapa mamah menyuruh kita berbulan madu?" kata Nandini pada Viktor didalam kapal pesiar milik Viktor.
Viktor lalu menoleh dan berjalan mendekatinya. Berdiri di sampingnya dan tersenyum hangat.
"Dia ingin menimang cucu. Mari kita bekerja sama dan aku rasa lebih cepat lebih baik,"
"Apa maksudmu?" tanya Nandini bingung.
Viktor tiba-tiba menghadapkan Nandini ke dadanya, lalu dalam hitungan detik telah mencium bibirnya dengan lembut. Salah satu tanganya memeluk pinggang Nandini yang ramping dan seksi.
"Aku belum siap," kata Nandini saat ciuman itu berakhir.
"Semakin di tunda kau akan semakin tidak siap. Kau akan tenggelam dalam kesibukanmu," kata Viktor seakan dia ahli dalam membujuk Nandini soal yang satu itu.
"Tapi....."
Lagi-lagi Viktor sudah memeluk dan menggendong Nandini ke kamar bulan madu mereka. Kamar yang luas dengan cat serba putih semua. Taburan bunga mawar merah di atas sprei hingga terhias indah di lantai. Jendela yang langsung bisa melihat pemandangan di luar yang indah. Benar-benar tempat yang romantis untuk malam yang akan mereka habiskan berdua.
"Lepaskan! Apa yang akan kau lakukan?" Nandini memukul dada Viktor manja. Tentu hanya pukulan lembut saja. Sekarang didalam hatinya juga mulai menerima Viktor sebagai suaminya. Hanya saja untuk berhubungan lebih int*m lagi dia masih canggung.
__ADS_1
Viktor memahami wanita ini. Istrinya bukanlah gadis seperti Virlie yang akan menjadi liar dengan satu sentuhan saja. Butuh beberapa bujukan ekstra untuk membuatnya merasa nyaman dan tidak canggung.
"Rileks......" bisik Viktor saat merasakan tubuh Nandini menjadi kaku dan tegang setiap kali dia menyentuhnya.
"Ahh, aku belum siap...." tegas Nandini lagi.
"Lakukan seperti ini. Kau bisa memejamkan matamu lalu buang semua pekerjaan dari pikiranmu. Dan pikirkan aku saja," goda Viktor sambil membuka kancing baju atasan Nandini.
Tangan Nandini menahan tangan Viktor ketika atasannya sedikit terbuka dengan jelas. Pipinya menjadi merona merah. Namun Viktor tidak memberinya kesempatan untuk mengatakan aku belum siap terus menerus.
Dengan satu detik kecepatan tanganya dia sudah tenggelam disana. Nandini yang awalnya akan bicara malah merasakan sensasi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Hingga diapun tanpa sadar larut dalam buaian lembut bibir Viktor yang mengajarinya setahap demi setahap.
Sampai Nandini telah siap, maka Viktor melakukan tugasnya dengan baik. Akhirnya ketika dua jiwa dan tubuh menyatu dalam satu nafas yang menderu dan mencapai puncak bersama-sama.
Hasrat telah menyatu dalam desiran darah yang terus menuntut. Satu kali pun tak cukup maka Viktor mengulangi sekali lagi. Dan kini dia benar-benar tidur pulas di samping Nandini tanpa sehelai bajupun.
Nandini yang melihat suaminya telah pulas tidur, hanya bisa memandang dan bergumam didalam hati. "Aku tak percaya, kini aku benar-benar akan terikat olehnya seumur hidupku. Aku terikat oleh takdirnya sejak sekarang,"
Nandini lalu melihat sprei yang merah oleh tanda keperawanannya. Dia menatap tanda itu dan melihat lagi wajah Viktor.
"Jika sedang tidur, benar-benar seperti anak kucing yang imut," batin Nandini.
Aww....
__ADS_1
Nandini akan beranjak bangun. Tapi dia merasakan ngilu dan perih di bawah sana. Hingga dia harus sedikit tertatih untuk pergi ke kamar mandi.
.
Satu bulan kemudian,
"Dua garis merah...." kata Nandini menoleh pada Viktor yang menunggu di luar kamar mandi ketika Nandini melakukan testpack.
"Syukurlah....." Viktor terlihat sangat senang.
"Nandini hati-hati!" Teriak Viktor saat Nandini hampir terpeleset.
"Kau sedang hamil. Sebaiknya berjalanlah dengan pelan,"
"Hem, iya...." Nandini mencibirkan bibirnya, entah apa yang dia lihat lewat ekspresi Viktor tadi. Dia merasa lucu saja saat ini terjadi untuk pertama kalinya.
Mereka lalu keruang tengah. Ayah dan ibu Viktor sudah duduk disana. Menunggu mereka untuk sarapan bersama. Viktor membisikkan sesuatu ke telinga ibunya.
Dan seuntai senyuman manis terhias di bibir sang mama hingga tertahan cukup lama melihat Viktor dan Nandini terlihat bahagia. Dia menatap Nandini dan Viktor dengan lembut dan hangat.
"Kau atau aku yang akan memberitahukan kabar gembira ini?" tanya Nandini.
"Bagaimana kalau kita katakan bersama?" ajak Viktor.
__ADS_1
"Baiklah..." sahut Nandini yang merasakan hangatnya tangan Viktor yang menggandeng nya.