Menikahlah Denganku Maka Aku Akan Menjadikan Mu Janda

Menikahlah Denganku Maka Aku Akan Menjadikan Mu Janda
Masalah Yang Pelik


__ADS_3

Dhiv begitu terkejut saat menemukan secarik surat dari Sam.


"Maaf, aku tak bisa menemanimu hari ini karena harus mengantar Lala ke Bandung untuk memakamkan ibunya. Aku tidak sempat meminta izin secara langsung padamu karena kau sedang membicarakan hal penting dengan Mr. Dario,"


Pria itu kemudian menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi menuju ke Bandung. Bagaimanapun juga ia juga harus turut menghadiri pemakaman jenazah ibunda Lala. Meskipun ia tahu jika Lala masih marah padanya, namun setidaknya ia harus berada di sisinya untuk menghiburnya.


Ia mempercepat laju kendaraannya berharap masih bisa menyaksikan pemakaman Ratna.


Saat mendapati kediaman Lala kosong, Dhiv segera memutar mobilnya menuju ke tempat pemakaman umum.


*Pemakaman Umum Desa Banjaran


Melihat Sammy berhasil melumpuhkan satu persatu anak buahnya membuat Saddam merasa kesal. Ia kemudian mencabut sebuah batu nisan dan menghantamnya ke kepala Sammy dari belakang. Melihat Sam jatuh tersungkur bersimbah darah tak membuat ia berhenti. Sekali lagi ia menghantam kepala Sam dengan batu nisan itu hingga pemuda itu tak berkutik lagi.


Melihat Sam tak bergerak membuat Lala langsung menghampiri saat Saddam hendak mengeksekusinya.


"Hentikan!" seru Lala membuat Saddam langsung mengurungkan niatnya


Lelaki itu menyeringai saat melihat Lala begitu mengkhawatirkan Sammy.


"Dasar j*lang sialan, apa kau menyukai pemuda itu hingga begitu peduli dengannya??" tanya Saddam


"Terserah apa katamu, yang jelas jangan bunuh dia, karena ia tidak ada hubungannya denganku," jawab Lala


"Wah, kamu semakin menarik saat seperti ini La," sahut Saddam menyeringai


Lelaki itu langsung mendekati Lala dan menjambak rambutnya.


"Awww!!" erang Lala


"Sekarang kita lihat, apakah kau masih bisa bersikap arogan lagi setelah ini!" Saddam menyeret gadis itu menuju ke mobilnya.


Lala berusaha meronta agar bisa melepaskan diri dari lelaki itu, namun Saddam dengan mudah dapat membekuknya.


"Kau pikir bisa melawanku hanya dengan kemampuan beladiri mu itu. Bahkan kekuatan saja tidak cukup untuk mengalahkan musuh mu,"


Sammy perlahan membuka matanya, samar-samar ia melihat Saddam menyeret Lala.


Ia berusaha bangun dan mengejar Lala untuk menolongnya, namun anak buah Saddam langsung mengganjarnya hingga lelaki itu kembali tumbang ke tanah.


"Sebaiknya kau jangan ikut campur jika tidak ingin nyawamu melayang!" ancam salah seorang anak buah Saddam


Lala terus meronta saat Saddam memaksa gadis itu masuk kedalam mobilnya.


"Lepas!!" seru Lala


"Diamlah, atau aku akan berbuat kasar padamu!" seru Saddam


Lala menyeringai menatap wajah lelaki itu, ia kemudian mendengkul kemal*an Saddam.


"Arrgh!!" lelaki itu mengerang kesakitan dan melepaskan Lala


Saat Lala akan melarikan diri, anak buah saddam langsung mengepungnya.


"Sial!!"


Saddam segera menghampiri Luna dan kembali menyeretnya menuju ke mobilnya.


Kali ini Lala hanya diam sambil memikirkan siasat agar bisa melepaskan diri dari lelaki tua itu.


"Cepat masuk!" serunya mendorong tubuh gadis itu masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


Lala tetap diam tak bergerak membuat Saddam langsung naik pitam.


"Cepat masuk!!" hardik Saddam mendorong kepala gadis itu.


Lagi-lagi Lala tak bergeming meskipun Saddam sudah mendorongnya, sepertinya gadis itu lebih memilih untuk bertahan daripada melawan.


"Ternyata kau memang lebih suka kekerasan daripada kelembutan. Baiklah kita lihat saja sampai kapan kau akan terus bertahan seperti ini, Saddam segera mengambil sebuah rotan dan mencambuk punggung Lala.


Gadis itu hanya menutup matanya untuk menyembunyikan rasa sakitnya.


Melihat Lala masih belum beranjak membuat ia semakin geram. Sadam kembali mengayunkan rotan kearahnya.


*Grepp!!.


Saddam merasa ada seseorang yang menahan rotannya hingga ia tak bisa menggerakkannya.


Ia kemudian membalikkan badannya untuk melihat siapa yang sudah berani ikut campur dalam urusannya.


"Kau!!"


Saddam tak mengira jika Sam masih bisa bangun dan membantai anak buahnya.


*Buuggghhh!!


Sebuah tinju mendarat di wajah Saddam membuat lelaki itu sempoyongan.


Sam kembali melepaskan tendangannya hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur ke tanah.


Melihat kekuatan Sam yang luar biasa membuat lelaki itu segera melarikan diri meninggalkan pemakaman.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Sam menghampiri Lala


"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja," ujar Sam mencoba menenangkan gadis itu.


Tidak lama Dhiv tiba di pemakaman dan menghampiri keduanya.


Ia begitu terkejut melihat wajah Sam yang babak belur.


"Apa yang terjadi??" tanyanya penasaran


"Sebaiknya kita pulang dulu, aku akan menceritakan semuanya di rumah," sahut Sam


Dhiv kemudian mengajak Lala menuju ke mobilnya dan mengantarnya pulang.


Setibanya di rumah Lala segera mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Sam.


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa berobat ke klinik. Kamu tinggal beritahu aku dimana klinik terdekat di kampung ini," ucap Sam menepis bantuan Lala


"Di sini tidak ada klinik, hanya ada rumah seorang mantri yang bertugas di puskesmas di depan pasar. Kalau kau mau aku bisa mengantarmu ke sana," jawab Lala


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," jawab Sam kemudian bergegas pergi


"Apa aku harus mengantarmu?" tanya Dhiv menyusulnya


"Tidak perlu, sebaiknya kau hibur saja Lala, kasian dia harus melewati hari-hari yang berat mulai sekarang," sahut Sammy


Dhiv kemudian mendekati Lala dan membantu mengobati lukanya.


"Apa kau mau ke klinik juga?" tanyanya lirih


"Tidak perlu, lagipula hanya luka ringan jadi tidak memerlukan perawatan medis," jawab gadis itu

__ADS_1


"Maafkan aku baru sempat kesini dan tidak bisa menyaksikan pemakaman ibumu," ucap Dhiv


"Tidak apa-apa, lagipula aku tahu kamu pasti sangat sibuk sekarang," jawab Luna datar


"Apa kau masih marah padaku?" tanyanya lagi


"Tidak, hanya saja sepertinya aku tidak bisa melanjutkan kontrak pernikahan kita," sahut Lala membuat Dhiv membelakakan matanya


"Kenapa??, apa karena aku yang membuat ibumu meninggal??" tanya Dhiv penasaran


Lala hanya menggelengkan kepalanya membuat lelaki itu semakin penasaran.


"Lalu apa yang membuat membatalkan pernikahan kontrak kita??" desak Dhiv


"Itu karena pernikahan kontrak kita terlalu beresiko tinggi, aku takut akan terjadi hal-hal yang lebih mengerikan jika aku tetap melanjutkan rencana kita. Sudah cukup ibuku yang menjadi korban, aku masih muda dan belum siap untuk menjadi korban selanjutnya," jawab Lala sontak membuat Dhiv semakin panik


"Mengenai uang yang sudah kau berikan padaku, aku berjanji akan mengembalikannya meskipun memerlukan waktu yang lama. Tapi aku bisa pastikan jika aku akan melunasinya meskipun dengan darahku," imbuh Lala


"Aku tahu sekarang kamu masih terpukul dengan kematian ibumu, tapi kau juga harus berpikir jernih dan menyelesaikan semua permasalahan yang menimpamu dengan kepala dingin bukan dengan cara seperti ini," tutur Dhiv


"Kau tahu kan alasan aku menikah kontrak denganmu??" tanya Dhiv penuh penekanan


Lala mengangguk.


Dhiv kemudian menunjukkan foto kondisi ibunya yang sedang melakukan cuci darah.


"Jika kau memutuskan perjanjian kita maka kamu juga secara tidak langsung sudah membunuh ibuku," jawab Dhiv


"Cuci darah memerlukan uang yang sangat besar itulah sebabnya aku terpaksa memenuhi keinginan ayahku untuk menikah agar aku bisa mendapatkan kembali semua milikku untuk mengobati penyakit ibuku. Tapi jika kau mengakhiri kontrak kita maka aku akan kembali menjadi pengangguran dan tak bisa membiayai pengobatan ibuku lagi. Kau tahukan jika penderita gagal ginjal tidak bisa bertahan hidup tanpa cuci darah, jadi kau bisa menebak apa yang akan terjadi pada ibuku saat aku menjadi pengangguran," imbuh Dhiv


"Kenapa kau tidak menikah saja dengan wanita yang dipilih ayahmu??" tanya Lala Lala


"Apa kau melihat pernikahan yang dijalani kakakku Ben dengan Ratih?"jawab Dhiv balik tanya


"Hmm," jawab Lala mengangguk


"Apa kau lihat keduanya hidup bahagia??" tanya Dhiv lagi, membuat Lala menggelengkan kepalanya.


"Menikah dengan wanita pilihan ayahku sama saja memasukan diriku kedalam bui. Hanya bedanya aku bukan di bui karena melakukan kejahatan tapi aku dipenjara dalam sebuah ikatan pernikahan untuk mendapatkan keuntungan dari pernikahan tersebut. Aku tidak mau membuat seorang wanita menderita karena harus hidup bersama lelaki yang tidak akan pernah mencintainya seumur hidupnya. Apalagi aku tahu ayahku menikahkan aku untuk mendapatkan keuntungan dari wanita yang akan menjadi istriku, dan ia akan mencampakkannya setelah wanita itu tak lagi menguntungkan bagi keluarga kami. Dan aku tidak mau melakukan semua itu, cukuplah ibuku yang sudah menjadi korban ayahku dan aku tidak mau menjadi seperti dirinya yang terus memanfaatkan wanita hanya untuk kepentingan pribadinya," terang Dhiv


"Aku sadar jika pernikahan adalah hal yang sakral dan jika perlu hanya dilakukan sekali seumur hidup, itulah alasan ku memilih menikah kontrak denganmu, lagipula karena kita berdua sama-sama sadar melakukannya jadi aku rasa tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, tapi aku juga tidak memaksa jika kau ingin mengakhiri kontrak ini," sambungnya pasrah


Lala sejenak terdiam mendengar penjelasan Dhiv. Sebenarnya ia bersimpati kepada lelaki itu namun bagaimanapun juga ia masih tak bisa menerima kematian ibunya dan menganggap Dhiv sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas semua itu.


*Dret, dret, dret!!


Dhiv segera mengangkat ponselnya yang bergetar.


"Halo??" lelaki itu beranjak keluar agar bisa berbicara lebih santai.


Cukup lama Dhiv berbincang dan kemudian terburu-buru mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja tamu.


"Maaf sepertinya aku harus ke rumah sakit, ibuku sedang drop jadi aku harus menemaninya," ucap Dhiv dengan wajah gusar


Ia segera bergegas menuju ke mobilnya.


*Tok, tok, tok!!


Dhiv membuka kaca mobilnya saat Lala mengetuknya.


"Biarkan aku ikut denganmu?" ucap Lala membuat Dhiv ternganga mendengarnya

__ADS_1


__ADS_2