
"Mau tahu banget apa mau tahu aja?" tanya Rani
"Banget!" seru mereka bersamaan
Rani kemudian membisikkan sesuatu, hingga membuat teman-temannya mendekat agar lebih jelas mendengarnya.
"Wah bener-bener berlian ide lo Ran," celetuk salah seorang sahabatnya
Lala terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Gadis itu berpikir untuk memberitahukan kepada Dhiv tentang keadaan Rani yang sebenarnya sudah pulih.
Ia berinisiatif untuk merekam video yang menunjukkan jika Rani sudah bisa berjalan dan bersenang-senang dengan teman-temannya.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan merekam Rani diam-diam, namun saat akan mengirimnya tiba-tiba Rani yang curiga kerena merasa diawasi langsung merebut ponselnya.
"Wah ternyata kau lebih berbahaya dari yang ku duga," ucap Rani kemudian segera membuka ponsel Lala dan menghapus videonya.
"Sayang sekali kamu tak bisa memberitahu Dhiv karena sekarang aku sudah melenyapkan barang buktinya," ucap Rani kemudian memasukkan ponsel Lala kedalam aquarium
Lala berusaha mencegahnya saat gadis itu akan memasukkan ponselnya kedalam aquarium, namun sahabat-sahabat Rani langsung menjegalnya.
Lala berusaha melawan mereka namun Rani yang licik langsung memukul kepala gadis itu dengan benda tumpul hingga Lala jatuh pingsan.
"Yah dia pingsan, apa yang harus kita lakukan sekarang Ran?" tanya teman-temannya panik
Rani segera menelpon dokter keluarga untuk memeriksa Lala.
Tidak lama kemudian Lala mulai membuka matanya dan menatap sekelilingnya.
"Akhirnya sadar juga lo, upik abu?" Rani mendekati gadis itu dan duduk di bibir ranjangnya.
"Denger ya Lala, kalau lo sampai mengatakan semuanya kepada Dhiv maka aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihatnya lagi. jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tidak. Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku, jadi camkan itu!" ancam Rani kemudian beranjak meninggalkan Lala
Sepertinya dia tidak main-main, lalu apa yang harus aku lakukan untuk mengatakan semuanya pada Dhiv??.
Aku yakin dia pasti tersiksa menjalani pernikahan ini??.
***********
Siang itu Dario mendatangi Shelomita di penjara, ia sengaja mengunjunginya untuk memberitahukan apa yang dilakukan oleh Edwin terhadap DC Group.
"Jadi kau baru sadar wajah asli sahabatmu itu?" tanya Mitha tersenyum meledeknya
__ADS_1
"Apa maksudmu??" tanya Dario yang terkejut dengan ekspresi datar Mitha saat mendengar semua ceritanya
"Aku sudah lebih lama mengenal Edwin daripada dirimu, aku tahu bagaimana perangainya karena dia adalah lelaki yang dipilih ayah untuk dijodohkan denganku, tapi ia membatalkannya saat tahu jika aku bukanlah pewaris utama DC Group. Ia mencoba mendekati kakakku agar bisa menikahinya. Tapi sayangnya kakak ku menolaknya," kenang Mitha
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku sebelumnya??" sesal Dario
"Untuk apa, lagipula kau tidak akan pernah mendengarkan aku bukan?. Selama ini kau tidak pernah mendengarkan semua yang aku katakan padamu. Bagimu ucapan ku seperti angin lalu yang hanya di dengar tapi setelah itu diabaikan," jawab Mitha sinis
"Maafkan aku jika selama ini aku tidak pernah memperhatikan dirimu apalagi menghargai mu," ucap Dario
"Kalau aku tidak memaafkan mu untuk apa aku bertahan hidup denganmu hingga tiga puluh tahun lamanya," tegas Mitha
Dario kembali meminta maaf kepada wanita itu berharap Shelomita akan kembali luluh dan membantunya menyingkirkan Edwin.
"Maaf aku tidak bisa membantu banyak, kau tahu kan dia sengaja menjebak dan menjebloskan ku ke penjara agar aku tidak menghalangi jalannya mendapatkan DC Group,"
"Lalu apa yang harus aku lakukan??" tanya Dario
"Bagaimana kalau kita gabungkan saham kita di DC Group dengan begitu kita bisa mengambil kembali DC Group darinya, imbuh Dario
"Kau ini apa apa benar-benar lupa atau pura-pura lupa?" sahut Mitha menertawakannya
"Sebaiknya kau temui Dhiv dan beritahu dia semuanya, kasihan dia jika harus menjadi boneka Edwin selamanya," sahut Shelomita kemudian meninggalkannya.
*********
Gedung Mega Group
Dhiv tampak memandangi gelang pemberian Ratna waktu itu. Entah kenapa wanita itu sering muncul di mimpinya akhir-akhir ini.
"Apa karena aku belum bisa menjalankan amanahnya jadi Bu Ratna selalu mendatangiku atau sebaliknya?" tanya Dhiv
"Maafkan aku Bu Ratna karena aku belum bisa membahagiakan Lala apalagi menjadikannya sebagai istri sah ku,"
*Tok, tok, tok!!
Dhiv segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu ruangannya.
"Ayah," ucapnya begitu kaget saat melihat Dario mengunjunginya
Dario segera masuk dan duduk di Sofa.
__ADS_1
Lelaki itu terlihat memandangi setiap sudut ruangan itu.
"Aku kira Mega Group lebih mewah dari DC Group, tapi ternyata jauh lebih miskin," ucap Dario
Pandangannya kini tertuju pada gelang yang tergeletak di atas meja kerja Dhiv. Lelaki itu segera bangun dan mengambil gelang itu.
"Darimana kau mendapatkan gelang ini?" tanya Dario
"Itu... itu aku mendapatkannya dari almarhum Ibu Lala," jawab Dhiv membuat Dario membelakakan matanya
"Ibunya Lala??" tanyanya terkesiap
"Benar, saat itu dia merasa senang saat aku datang untuk melamar putrinya, beliau tidak tahu jika sebenarnya aku hanya akan menjadikan Lala sebagai istri kontrak saja. Karena ia begitu bahagia maka ia memberikan gelang ini padaku dan berpesan untuk menjaga dan melindungi Lala," terang Dhiv
"Apa kau tahu dimana Lala sekarang?" tanya Dario
"Saat ini ayah Edwin menjadikan ia sebagai asisten pribadi Rani. Dia tahu jika Lala adalah orang yang telaten hingga memintanya merawat Rani selama dia sakit," sahut Dario
"Bajing*n itu bahkan sudah mencuri star lebih dulu, bagaimana ia bisa tahu??" Dario segera bergegas meninggalkan ruang kerja Dhiv hingga membuat pemuda itu kebingungan
"Ayah ada apa sebenarnya ayah!" seru Dhiv mencoba mengejarnya
Namun Dario terus mempercepat langkahnya hingga Dhiv kesulitan mengejarnya.
"Sebenarnya ada apa dengan ayah, kenapa ia begitu marah saat tahu Lala bekerja sebagai asisten pribadi Rani??" berbagai pertanyaan muncul di benak Dhiv membuatnya benar-benar gelisah memikirkan Lala.
"Aku yakin ayah tahu sesuatu tentang, jika tidak, mana mungkin reaksinya seperti itu, apa dia sudah tahu tentang Om Edwin??"
********
Kediaman Edwin
Setelah memberikan ancaman kepada Lala, Rani terus berusaha menekan gadis. Ia merasa bahagia karena bisa membuat Lala menderita sekarang. Baginya tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain melihat rivalnya menderita dan sengsara.
"Aku pastikan kau akan menyesal karena sudah menyukai suamiku, dan aku juga akan membuat semakin menderita jika kau tetap menyukainya apalagi berusaha mendekatinya. Ingat Lala Dhiv itu hanya milikku dan aku akan melakukan apapun demi mendapatkan hatinya," ucap Rani sambil menjambak rambut gadis itu
"Lepaskan dia Rani!" seru seorang lelaki paruh baya membuat Rani langsung melepaskan Lala
Lelaki itu berjalan mendekati Rani dengan wajah bengisnya membuat Rani ketakutan.
"Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi!" seru Rani saat lelaki itu hendak mengayunkan tangannya
__ADS_1