
"Mas Ben ayo pulang, istri anda meninggal," ucap seorang assisten Mitha mengajak Ben pulang, namun pemuda itu terus menolaknya hingga ia harus menggunakan kekerasan untuk membawanya pulang.
Setibanya di Wastu Kencana Ungu, sang assisten sengaja membawa Ben melalui pintu rahasia agar tidak seorangpun melihatnya.
"Maaf Bu Mitha saya terpaksa membuatnya tak sadarkan diri karena ia terus melawan saat aku ajak pulang baik-baik,"
"Ya saya tahu, sekarang lebih baik buat ia seolah-olah terkena kecelakaan, hubungi aku bila sudah selesai," jawab Shelomita
"Baik Ibu,"
Shelomita segera kembali menemani besannya dan menyalami tamu-tamunya
Dhiv dan Raffa mendatangi Wastu Kencana Ungu bersama dengan Bram serta Dario.
Dario segera mengambil perannya sebagai ayah mertua dengan begitu apik.
Raffa hanya tersenyum tipis melihat akting kedua orang tuanya itu.
"Dasar munafik, kenapa aku begitu membenci mereka hingga rasanya muak melihatnya," ucap Raffa kemudian meninggalkan rumah duka.
Sedangkan Dhiv lebih memilih membantu Lala memberikan minuman dan hidangan untuk para tamu. Keduanya terlihat begitu malu-malu menunjukkan kedekatan mereka di hadapan umum.
Sementara itu Shelomita tiba-tiba berteriak histeris saat melihat assisten pribadinya memapah Ben masuk kedalam Wastu Kencana Ungu dengan penuh luka.
"Apa yang terjadi dengan putraku, hingga ia seperti ini!" serunya dengan suara lantang
"Ia mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang Bu,"
"Oh malangnya putraku, aku yakin ia merasa bersalah hingga melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan mengalami kecelakaan. Kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit?" tanya Mitha
"Mas Ben menolak, dia bersikeras ingin pulang agar bisa menemui istrinya untuk terakhir kalinya,"
"Kalau begitu cepat bawa ia melihat jenazah istrinya kemudian bawalah dia ke rumah sakit," ucap Ibu Ratih menyela pembicaraan mereka
Sang assisten langsung mengangguk dan membawa Ben untuk melihat Ratih istrinya, setelah selesai ia langsung membawanya pergi ke rumah sakit.
Keesokan harinya Ibu Ratih menjenguk Ben di rumah sakit.
"Bagaimana lukamu, apa kau sudah baikan?" tanya Ibu Ratih
"Sudah Ibu, maaf aku tidak bisa mengikuti pemakaman Ratih," jawab Ben gusar
"Tidak apa-apa Ben, lagipula yang diperlukan Ratih sekarang bukan kau yang selalu ada disisinya lagi tapi doa mu, dia pasti sangat bahagia jika mendengar kau mendoakannya, apalagi jika kau melakukannya setiap hari,"
Ben sedikit tertegun dengan ucapan mertuanya itu, bagaimana tidak bukannya merasa sedih karena kehilangan istrinya Ben justru merasa lega karena terbebas dari wanita yang selama ini selalu dianggap sebagai beban olehnya.
__ADS_1
"Baik Bu, aku akan mendoakannya selesai aku sholat," sahut Ben mencoba menenangkan hati mertuanya
"Terimakasih Ben, kamu memang suami yang baik, tidak salah putriku memilih mu," ucap wanita itu menitikkan air mata
"Sesuai permintaan Ratih, hari ini aku akan membacakan wasiatnya kepadamu,"
Shelomita langsung mendekat dan mendengarkan dengan seksama saat Ibunda Ratih membacakan wasiat terakhir Ratih bersama pengacaranya.
Bukan hanya Mitha yang sangat antusias mendengarkan wasiat tersebut tapi juga Dario.
"Sebagai tanda cinta Ratih kepada Ben satu-satunya lelaki yang sangat ia cintai, ia memberikan lima puluh persen kekayaannya untuk suaminya Ben, sedangkan lima puluh persen lagi akan disumbangkan untuk kegiatan amal dan kemanusiaan. Sedangkan sahamnya di DC Group ia akan menyerahkan 10 persen untuk suaminya dan 25 persen untuk Lala. Semoga dengan saham itu Lala bisa menikah dengan lelaki yang ia cintai yaitu Dhiv. Semoga keluarga Dario mau menerimanya kali ini. Maaf adikku jika Kaka tak memberikan sesuatu untuk mu. Terimakasih sudah selalu ada di sisiku dan menjagaku selama ini, semoga kau bahagia," ucap Ibu Ratih membacakan wasiat Ratih
Mitha begitu terkejut mendengar wasiat Ratih. Ia begitu berang saat Ratih memberikan 25 persen saham di DC Group untuk Lala.
"Bukannya memberikan saham itu untuk ku kau malah memberikannya kepada Lala!" gerutu Shelomita
"Semuanya sudah sesuai keinginan putriku, jadi maaf saya tidak bisa mengubahnya lagi," jawab Ibu Ratih
Mitha benar-benar kesal dengan almarhum menantunya itu hingga ia terus mengumpat dan menyumpahinya.
Dario semakin berada di atas angin saat tahu jika istrinya tidak bisa mengganggu kedudukannya lagi.
"Syukurlah semuanya berjalan sesuai keinginan ku, artinya tidak seorangpun yang bisa menggoyang singgasana ku,"
Mitha tak tinggal diam saat Dario mengambil alih DC Group kembali, wanita itu kemudian berpikir untuk menceraikan lelaki itu agar ia mendapatkan kembali sahamnya yang diberikan kepada Dario.
"Jika kau yang mencampakkan aku maka seperti perjanjian kita perusahaan ini akan menjadi milikku sepenuhnya," ucap Dario menyeringai.
Siang itu Dhiv bertemu dengan Rani di sidang pertama perceraian mereka. Rani terlihat begitu kesal hingga tak mau menatap mantan suaminya itu.
Rani bahkan sengaja membuat ulah agar hakim menolak gugatan cerai yang dilayangkan oleh Dhiv.
Lelaki itu terpaksa memberikan surat perjanjian pra nikahnya dengan Rani, saat mantan istrinya terus berulah dan bersikeras tidak mau bercerai darinya.
Akhirnya permohonan cerai Dhiv dikabulkan setelah sang hakim melihat isi surat perjanjian pra nikah mereka.
Rani mencoba bunuh diri saat hakim mengabulkan permohonan cerai Dhiv hingga membuat suasana sidang menjadi begitu kacau.
"Maafkan aku Rani, bukan maksud aku menyakiti dirimu, tapi ini sudah menjadi kesepakatan kita jadi jangan salahkan aku jika harus menceraikan dirimu. Aku menikahi mu untuk memperbaiki nama baikmu yang tercemar bukan sebaliknya, jadi jangan rusak nama baikmu sendiri dengan sikap arogan mu itu. Jadilah dewasa dan carilah lelaki yang mencintaimu apa adanya agar kau bisa hidup bahagia," ucap Dhiv saat mengantar gadis itu ke rumah sakit.
"Tapi aku maunya kamu Dhiv," ucap Rani menarik lengan Dhiv
"Cinta tidak bisa dipaksakan Rani, percuma saja jika kau menikah denganku karena aku tidak bisa mencintaimu, apa kau mau hidup itu?" tanya Dhiv
"Aku yakin ada seseorang yang sudah menunggumu di luar sana, jadi jangan terpaku hanya dengan sesuatu yang tidak mungkin kau miliki. Aku yakin itu bukan cinta tapi obsesi," imbuh Dhiv
__ADS_1
Setelah berhasil meyakinkan Rani Dhiv kemudian meninggalkan gadis itu.
Ia kemudian menjemput Lala di kampusnya.
Lala tersenyum simpul saat melihat Dhiv didepan gerbang.
Melihat Lala keluar Dhiv langsung berlari menghampirinya.
Ia segera mengandeng lengan gadis itu, "Bagaimana kuliahnya?" tanya Dhiv
"Seperti biasa boring," jawab Lala
"Itu pasti karena gak ada aku ya," jawab Dhiv
"Kok tahu,"
"Tahulah, apa sih yang gak Dhiv tahu,"
"Dih sombong," ucap Lala mencubitnya
Keduanya terlihat begitu bahagia hari itu, Dhiv sengaja mengajak Lala menghabiskan waktu berdua.
Keduanya sengaja berboncengan naik motor, mengelilingi taman kota.
Karena itu kali pertama Dhiv mengendarai sepeda motor membuatnya begitu bersemangat.
Tiba-tiba Dhiv kaget saat tak melihat Lala dibelakangnya, ia kemudian menghentikan motornya dan mencari gadis itu.
Tidak lama Lala berjalan menyusulnya sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit setelah terjatuh dari motor.
"Kamu jatuh La?" tanya Dhiv Langsung menghampirinya
"Iya, kamu tega banget sih masa gak berasa kalau aku jatuh," keluh Lala
"Makanya kalau boncengan pegangan dong biar aku tahu kalau kamu jatuh,"
"Dih dasar gak peka!" ucap Lala kesal
Dhiv kemudian membujuk gadis itu agar tidak marah lagi.
Ia terpaksa mengikuti kemauan Lala untuk makan mie ayam dengan ekstra pedas. Melihat wajah Dhiv yang memerah karena kepedesan membuat Lala tak tega dan menghentikan hukumannya.
"Thanks sayang atas pengertiannya," ucap Dhiv sambil menahan pedas
"Maaf ya sudah membuat mu kepedesan, semoga lain kali kamu lebih peduli lagi padaku,"
__ADS_1
"Tentu dong sayang, bagaimanapun juga tak ada wanita lain dihatiku selain kamu," ucap Dhiv membuat Lala tersipu-sipu