
*Deg
Dhiv dan Lala saling beradu pandang saat Pemuda itu mencoba memasangkan sabuk pengamannya. Debaran jantung keduanya membuat mereka menyadari jika masih ada rasa sayang diantara keduanya meskipun mereka berusaha menutupinya.
"Terimakasih," ucap Lala
"Sama-sama," sahut Dhiv
Keduanya reflek memalingkan wajahnya untuk menghilangkan rasa nervous yang mulai menyerang mereka.
Dhiv segera melesatkan mobilnya meninggalkan gedung Mega Group.
Ia sengaja melajukan mobilnya begitu pelan agar bisa berlama-lama dengan gadis pujaan hatinya. Ia bahkan menghentikan mobilnya di depan sebuah warung tenda dan mengajak Lala makan malam.
"Nasi liwet pecak ikan mas," ucap Lala membuat Dhiv langsung menoleh kearahnya
"Kenapa??" tanya Lala menatapnya curiga
"Bagaimana kau bisa tahu makanan favorit ku?" tanya Dhiv
"Jangankan makanan favorit bahkan ukuran baju, ukuran sepatu hingga size dalaman mu pun aku tahu," jawab Lala menggodanya
"Ah aku lupa kalau kau pernah menjadi istri ku," jawab Dhiv tersipu malu
Tidak lama seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka.
"Aku turut prihatin atas kegagalan pernikahan mu dengan Rani, kau pasti sangat sedih karena hal itu,"
"Thanks La," jawab Dhiv kemudian mencuci tangannya dan mulai menyantap makanannya
"Bagaimana kabar Rani sekarang?" tanya Lala lagi
"Dia masih dirawat di rumah sakit, Alhamdulillah ia sudah siuman sekarang setelah sebelumnya koma," sahut Dhiv
"Syukurlah, semoga saja dia bisa melalui hari-harinya yang berat,"
"Terimakasih atas kepeduliannya, btw kenapa kamu gak makan?" tanya Dhiv
Lala segera menyantap hidangan do hadapannya dengan menggunakan tangannya.
Dhiv yang melihat Lala yang begitu lahap menyantap makanannya, kemudian mengikuti cara makan Lala. Ia sengaja meletakkan sendoknya dan makan menggunakan tangannya.
"Ternyata makan menggunakan tangan lebih nikmat ya?" ucap Dhiv sumringah
Meskipun ia terlihat kikuk dan belum terbiasa namun Dhiv merasa senang karena Lala begitu perhatian padanya.
"Iya, memang akan lebih nikmat saat makan makanan seperti ini menggunakan jari tangan, kalau kau baru pertama makan menggunakan tangan jangan kaget nanti jika tanganmu akan terasa panas karena menyentuh cabe," sahut Lala
Selesai makan, Lala langsung membantu Dhiv mencuci tangannya. Ia tahu jika Dhiv belum pernah makan menggunakan jari tangannya hingga ia takut tangan pemuda itu akan terasa panas setelah makan apalagi setelah mereka menikmati sambal yang begitu pedas.
Ia sengaja menyuruh pria itu mencuci tangannya di kran yang mengalir.
"Kalau nanti tanganmu terasa panas kipasi aja, atau rendam di air dingin," ucap Lala memberikan tisu padanya
"Thanks La,"
Keduanya kemudian kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanannya.
Kali ini Lala segera memasang sabuk pengamannya sebelum Dhiv memasangkan sabuknya.
"Jadi kamu tinggal di sini sekarang," ucap Dhiv saat tiba disebuah kos-kosan kecil di depan jalan
__ADS_1
"Iya," jawab Lala kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil.
"Thanks tumpangan dan makan malamnya," ucap Lala kemudian bergegas meninggalkan Dhiv
Lelaki itu terus menatap kepergian Lala hingga gadis itu tak terlihat lagi.
************
Keesokan harinya, Lala kembali melanjutkan perjalanannya di ruang kerja Edwin. Pukul sepuluh pagi Edwin datang menemuinya tepat setelah Lala selesai mengerjakan tugas darinya.
Edwin begitu senang dengan kinerja Lala yang begitu cepat dan rapi. Ia kemudian memeriksa CV gadis itu dan memeriksa latar belakangnya.
"Jadi kau ini seorang mahasiswa?" Selidik Edwin
"Iya pak, tapi aku janji akan bekerja keras dan kuliahku tidak akan menganggu pekerjaanku," jawab Lala
"Karena aku pikir kau adalah orang yang bisa dipercaya, apa boleh aku meminta bantuan mu lagi?" tanya Edwin
"Tentu saja, katakan saja apa yang bisa aku harus aku lakukan?" sahut Lala
"Aku ingin kau menjadi membantuku mempersiapkan pernikahan putriku," jawab Edwin
Lala seketika tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Edwin.
"Bagaimana apa kau bersedia??" tanya lelaki itu
"Dari sekian banyak karyawan Mega Group kenapa bapak memilih ku," jawab Lala balik bertanya
"Karena aku hanya percaya padamu," jawab Edwin
Lala terdiam sejenak memikirkan penawaran atasannya itu.
"Ok, sekarang tugas pertama mu adalah membantuku menyeleksi wedding organizer yang akan menyelenggarakan pesta pernikahan putriku," jawab Edwin
Lelaki itu kemudian mengajak gadis itu untuk melihat beberapa wedding organizer yang ia rekomendasikan.
Ia juga memberikan beberapa nama-nama WO kepada gadis itu untuk di seleksinya.
Hari itu Lala begitu sibuk mengikuti Edwin mempersiapkan pernikahan putrinya. Sedangkan Dhiv juga sibuk melakukan konferensi pers untuk memberikan penjelasan kepada awak media mengenai kelanjutan pernikahannya dengan Rani.
Hari itu Lala menunggu kedatangan putri Edwin dan calon suaminya di sebuah butik.
Ia menjadwalkan keduanya untuk melakukan fitting baju dan melakukan sesi pemotretan.
Lala hanya menunggu di ruang tamu tanpa melihat pasangan pengantin itu.
Tidak lama seorang karyawan butik memberikan foto-foto kedua mempelai kepadanya.
Rasnya jantung Lala seperti meloncat ke luar saat melihat calon mempelai pria.
"Ternyata Dhiv tetap melanjutkan pernikahannya, kenapa dadaku begitu sesak melihat foto-foto ini," ucap Lala tersenyum pahit
Ia kemudian segera meninggalkan tempat itu setelah sesi pemotretan selesai.
Gadis itu sengaja tidak menemui kedua mempelai karena tak ingin terlihat gusar didepan Dhiv.
Siang itu Lala kembali melakukan aktivitasnya sebagai office girl. Ia terlihat sedang membersihkan lobby gedung seorang diri.
Dhiv menatapnya dari kejauhan.
"Kau pasti bekerja keras agar bisa bertahan hidup di kota metropolitan ini. Maafkan aku La yang tidak bisa memberikan apapun padamu,"
__ADS_1
Selesai melakukan pekerjaannya, Lala segera bergegas pulang karena shift kerjanya sudah selesai.
Gadis itu langsung berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Ia terpaksa berlari menuju halte bus agar tidak ketinggalan busway yang menuju ke kampusnya.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya dan membuka kaca mobilnya.
"Naiklah," ucap seorang lelaki kemudian turun dan membukakan pintu untuknya
"Raffa???" ucap Lala terkejut melihat pemuda itu
Lala segera masuk kedalam mobil dan duduk disampingnya. Sepanjang perjalanan Raffa yang biasanya paling gak bisa diam, tiba-tiba diam seribu bahasa. Tentu saja hal itu membuat Lala merasa tak enak hati padanya.
"Maaf Raff, kalau aku sudah bikin kamu marah," ucap Lala membantu Raffa langsung menghentikan mobilnya.
*Ciiiitt!!
"Awww!!"
Lala langsung mengusap keningnya yang terbentur dashboard. Mendengar pekikan Lala membuat Raffa langsung menoleh kearah gadis itu.
Ia segera memeriksa wajah Lala dengan begitu seksama membuat Lala merasa sedikit canggung dibuatnya.
Raffa kemudian mengoleskan minyak herbal untuk mengobati memar di pelipis gadis itu.
"Maafkan aku," ucapnya lirih
"Tidak apa-apa, hanya luka ringan sebentar juga sembuh," sahut Lala dengan entengnya
"Jangan pernah meremehkan luka ringan, karena jika dibiarkan dia juga bisa semakin parah dan bisa menyebabkan kematian. Sebaiknya kau obati luka itu sebelum ia bertambah parah dan bisa menyiksamu," jawab Raffa
"Iya Raff, sekali lagi aku minta maaf jika sudah membuat mu marah," ucap gadis itu
Raffa menarik napas panjang sebelum ia menyampaikan semua unek-uneknya kepada gadis itu.
"Kenapa kamu minta maaf padaku, memangnya kau tahu aku sedang marah padamu?" sahut Raffa
"Habis dari tadi kamu diem terus, jadi aku pikir kamu marah gara-gara aku bilang pulang kampung tapi masih ada di Jakarta," terang Lala
"Andai saja kau tahu betapa khawatirnya aku saat tidak menemukan mu di rumahmu. Kau tahu aku berpikir sesuatu terjadi padamu hingga aku seperti orang gila mencari mu di semua tempat. Tapi yang membuat aku lebih merasa kecewa adalah saat kau tetap berada di dekat Dhiv. Kau tahu kan jika dia akan tetap menikahi Rani, lalu kenapa kau masih mendekatinya. Ingat La, hubungan kalian sudah berakhir. Kalian tidak akan pernah bersama selama Dhiv masih belum bisa menentukan kehidupannya sendiri. Selama ia masih tergantung pada ayah maka ia akan harus menuruti semua keinginannya dan kau tahu kan jika ayahku pasti akan berusaha menjauhkan mu dengan Dhiv. Kau tahu alasannya kenapa?" tanya Raffa
"Karena aku orang miskin," jawab Lala lirih
"Kalau kau sudah tahu jawabannya lalu kenapa kau masih dekat dengannya. Kau hanya akan merasakan sakit karena perasaan mu tak berbalas." terang Raffa begitu emosional
"Aku tidak berusaha mendekatinya Raff, aku hanya kebetulan bertemu dengannya di sini. Aku tidak menyangka jika Mega Group adalah perusahaan milik ayah Rani," jawab Lala
Melihat raut wajah gusar Lala membuat Raffa langsung memeluk erat gadis itu.
"Maaf aku sudah salah sangka padamu La, kau tahu kan aku begitu khawatir padamu aku takut terjadi sesuatu denganmu. Aku juga takut jika kau dekat dengan Dhiv karena itu bisa menumbuhkan lagi benih-benih cinta di hatimu," ucap Raffa melepaskan pelukannya
Lala tersenyum menatap lekat lelaki tampan di depannya. Rasanya ia tidak percaya melihat pemuda itu terlihat begitu gusar.
Ia berusaha memberikan semangat padanya, namun semakin ia meyakinkan Pemuda itu, Raffa justru semakin frustasi dibuatnya.
"Apa kau masih tak percaya jika aku benar-benar menyukai mu?" tanya Raffa menatapnya intens
"Bukan begitu Raff, hanya saja aku...." belum selesai Lala menyelesaikan ucapannya Raffa langsung mengecup bibir tipis gadis itu membuat Lala tak berkutik dibuatnya
"Mungkin banyak orang yang tak percaya padaku saat mengucapkan cinta karena aku seorang Cassanova. Jujur selama ini aku belum pernah merasakan jatuh cinta yang begitu membuatku tersiksa seperti ini. Kau adalah wanita pertama yang membuat hidupku ambyar karena aku terus menahan rasa cemburu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Kau adalah satu-satunya wanita yang membuat jantungku berdegup kencang saat berada di dekatmu, terserah kau percaya atau tidak. Aku juga ingin membuang perasaan ini karena membuat ku tersiksa, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Semakin aku mencoba melupakan mu maka semakin besar rasa cintaku padamu. Sekarang katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau bisa menerima perasaan ku," tutur Raffa membuat Lala tercengang
__ADS_1