
Pagi Itu Dario bersiap menuju ke Gedung DC Group.
"Sekarang saatnya bagiku untuk kembali mengambil singgasanaku yang sudah lama ku tinggalkan," ucapnya saat tiba di depan ruang kerjanya
Namun betapa terkejutnya dia, saat membuka ruangan itu.
Ia melihat Edwin tengah duduk di kursi kerjanya.
"Kau... bagaimana kau bisa duduk di sini?" tanyanya dengan raut wajah gusar
"Sekarang akulah pemilik saham terbesar di DC Group, so aku bebas menempati posisi CEO DC Group bukan??" ucapnya menyeringai
"Dasar bajing*n, jadi ini maksudmu menjebak istriku dan juga Dhiv putraku. Bukan hanya mendapatkan menantu untuk menikahi putrimu yang sudah berbadan dua, ternyata kau juga mengincar posisi CEO!" maki Dario
"Semuanya halal dalam dunia bisnis Rio?" jawab Edwin enteng
"Tapi... bukankah kau sudah memberikan saham ity untuk Dhiv?, lalu kenapa kau malah mengambilnya lagi??" tanya Dario
"Aku pikir Dhiv adalah pemuda yang cerdas, tapi ternyata dia sangat bodoh dan mudah dikendalikan. Beruntungnya aku bisa memiliki boneka seperti dia," sahut Edwin
"Kau benar-benar licik!" gerutu Dario
"Dari awal aku sudah tahu rencana Rio, aku tahu kau hanya ingin memanfaatkan kami untuk menguasai DC Group, Itulah alasannya kenapa aku meminta Dhiv untuk memimpin Mega Group," imbuh Edwin
Dario terlihat begitu geram hingga mengepalkan tangannya.
"Dasar bajing*n, kau benar-benar serigala berbulu domba. Baiklah aku akan mengikuti permainan mu dan kita lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya,"
Dario kemudian membalikkan badannya meninggalkan ruang kerja Edwin.
***********
Hari itu Dhiv memanfaatkan waktunya kerjanya untuk mencari barang bukti di ruang kerja Edwin.
Karena Edwin sudah menyerahkan jabatannya kepadanya Dhiv bisa leluasa menggeledah ruangan itu.
Lelaki itu kemudian menemukan sebuah dokumen perjanjian pra nikah dirinya dengan Rani.
Ia kemudian membaca lembar demi lembar dengan seksama.
Matanya membulat ketika melihat sebuah pasal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kenapa kata-katanya berbeda dengan surat perjanjian pra nikah milikku??" Dhiv terlihat menggaruk-garuk kepalanya
Ia kemudian menelpon Sam untuk membawakan dokumen perjanjian pra nikah miliknya.
__ADS_1
Hanya butuh waktu tiga puluh menit Sam sudah tiba di ruang kerja Dhiv dan membawa dokumen yang diminta Dhiv.
Keduanya langsung mencocokkan dokumen milik Dhiv dengan milik Rani yang disimpan oleh Edwin.
"Benar ada perbedaan di pasal tiga," ucap Dhiv sembari mencari tahu apa yang diinginkan Edwin dengan membedakan isi pasal dalam perjanjian tersebut.
"Sepertinya kita harus menanyakan hal ini kepada pengacara, karena hanya mereka yang lebih tahu tentang ini. Aku yakin ini berkaitan dengan pemberian saham untukmu," jawab Sam
"Kau benar Sam, aku juga sedikit curiga saat ia dengan mudahnya memberikan sahamnya di DC Group, dan menjadikan aku sebagai CEO Mega Group."
"Sebaiknya aku segera menghubungi Rendra sebelum Edwin sadar dan mengambil dokumen ini,"
Sam segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rendra pengacara Dhiv.
**********
Kediaman Edwin.
Rani tampak asyik bermain sosial media bersama teman-temannya.
"Mana nih makanannya Ran, gue udah laper nih!" celetuk salah seorang sahabat Rani
"Wait ya guys, gue cek dulu ke belakang, maklum pembantu gue yang sekarang itu bener-bener lemot!" sahut Rani kemudian beranjak dari duduknya
Wanita itu langsung memaki-maki Lala yang dinilai lamban dalam memasak.
"Kalau menurutmu aku lamban, kenapa kau tidak meminta juru masak keluarga ini saja," jawab Lala dengan santai
"Dasar jal*ng beraninya kau menimpali ucapan ku!" pekik Rani kemudian menghampiri Lala dan menjambak rambutnya.
Lala tidak diam saja saat wanita itu berusaha menyakitinya. Ia langsung mendengkul perut Rani hingga gadis itu mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Aww, jahitan ku!" ucapnya kemudian jatuh terkulai di lantai
Melihat Rani terus memegangi perutnya membuat Lala langsung mendekatinya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lala sedikit khawatir
Rani menyeringai mendengar suara kekhawatiran Lala, Ia langsung mendorong gadis itu hingga terhempas membentur meja makan.
"Maaf aku tidak butuh belas kasih dari pembantu seperti dirimu, sebaiknya cepat kau bawa makanan itu keluar atau aku akan mengadukan kepada ayah dan juga suamiku tentang tindakan kasar mu padaku??" ujar Rani menunjuk kamera CCTV di ruangan itu.
Ia kemudian bergegas pergi dengan tawa kemenangan.
"Dasar wanita licik, aku harus memberitahu Dhiv, aku yakin dia tidak tahu jika istrinya adalah seekor ular, ia pasti mengira jika istrinya adalah wanita baik-baik,"
__ADS_1
Lala segera membawakan camilan untuk Rani dan teman-temannya di ruang tengah.
"Wah kau punya pembantu baru Ran?"
"Tentu, apa kalian tidak familiar dengan wajahnya," sahut Rani
Mereka kemudian menetap lekat Lala.
"Sepertinya aku kenal, kalau tidak salah dia istri kontrak suamimu yang pernah viral karena menikah dengan waktu sangat singkat kemudian diceraikan karena ketahuan keluarga suaminya??" jawab salah seorang sahabat Rani
"That's right baby, lebih tepatnya bukan ketahuan tapi emang mereka sengaja mempermalukannya di hari pernikahannya agar wanita miskin itu tahu gimana rasanya di ceraikan setelah akad pernikahan," jawab Rani
"Wah sadis sekali Dhiv, beruntungnya kau tidak mengalami hal serupa, padahal kalau dia tahu yang sebenarnya mungkin kau juga akan mengalami hal serupa, diceraikan setelah akad nikah," celetuk yang lainnya
"Aku memang membuat perjanjian seperti itu dengannya, tapi dengan kecerdasan otakku maka dia tidak bisa menceraikan aku dan mungkin akan terus menjadi suamiku untuk selamanya," ucap Rani menyombongkan diri
"Wah bagaimana caranya??"
"Ada deh,"
"Kasih tahu dong Ran,"
"Iya Ran, kasih tahu kita biar bisa dapetin suami ganteng dan kaya seperti Dhiv,"
"Mau tahu banget apa mau tahu aja?" tanya Rani
"Banget!" seru mereka bersamaan
Rani kemudian membisikkan sesuatu, hingga membuat teman-temannya mendekat agar lebih jelas mendengarnya.
"Wah bener-bener berlian ide lo Ran," celetuk salah seorang sahabatnya
Lala terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Gadis itu berpikir untuk memberitahukan kepada Dhiv tentang keadaan Rani yang sebenarnya sudah pulih.
Ia berinisiatif untuk merekam video yang menunjukkan jika Rani sudah bisa berjalan dan bersenang-senang dengan teman-temannya.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan merekam Rani diam-diam, namun saat akan mengirimnya tiba-tiba Rani yang curiga kerena merasa diawasi langsung merebut ponselnya.
"Wah ternyata kau lebih berbahaya dari yang ku duga," ucap Rani kemudian segera membuka ponsel Lala dan menghapus videonya.
"Sayang sekali kamu tak bisa memberitahu Dhiv karena sekarang aku sudah melenyapkan barang buktinya," ucap Rani kemudian memasukkan ponsel Lala kedalam aquarium
Lala berusaha mencegahnya saat gadis itu akan memasukkan ponselnya kedalam aquarium, namun sahabat-sahabat Rani langsung menjegalnya.
Lala berusaha melawan mereka namun Rani yang licik langsung memukul kepala gadis itu dengan benda tumpul hingga Lala jatuh pingsan.
__ADS_1