
Lala segera masuk kedalam lemari ketika mendengar suara langkah mendekati kamarnya. Ia takut Edwin akan menyusup masuk lagi ke kamarnya, sehingga ia harus bersiap menyelamatkan diri dari psikopat itu.
"Dhiv??" gadis itu begitu terkejut saat tahu yang memasuki kamarnya bukan Edwin tapi Dhiv
Mau apa dia datang kemari??
*Tak, tak, tak!!
"Apa ada yang datang lagi ke kamar ini?" Dhiv berjalan mendekati pintu masuk.
"Ayah??, apa yang akan dia lakukan di sini??" tiba-tiba Dhiv teringat dengan pakaian yang dipakai Lala sebelumnya. Ia sejenak berpikir jika Edwin dan Lala memiliki hubungan khusus namun ia segera menepis dugaannya.
"Tidak mungkin, aku tahu Lala bukan gadis seperti itu, tapi kalau dia datang bukan untuk itu lalu mau apa ayah datang kesini??"
Lala segera keluar dari dalam lemari dan menarik Pemuda itu masuk kedalam lemari saat mendengar suara derap langkah mendekati kamarnya.
"Lala?"
Gadis itu langsung membekap mulut Dhiv, dan memberikan isyarat padanya agar tidak bersuara.
"Sembunyi dimana kamu Lala, awas saja jika aku menemukan mu, aku pasti akan membuatmu menyesal telah berurusan denganku," ucap Edwin mengeledah kamar itu.
Dhiv langsung memeluk Lala dan menutupi dirinya dengan pakaian yang tergantung di almari tersebut saat Edwin membuka lemari itu.
Lala segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Mendengar suara bising ponsel berdering membuat Rani terbangun, ia langsung mengambil ponsel itu.
"Siapa sih yang nelpon malam-malam begini!" serunya ketus
"Lala??" ia langsung mengernyit saat mengetahui Lala yang menghubungi Dhiv.
Apa sebenarnya yang dilakukan mereka dibelakang ku,
Saat tidak mendapati Dhiv di ranjangnya Rani langsung berpikir jika ia sedang menemui Lala. Ia segera bergegas keluar menuju kamar Lala.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bersama lagi, Dhiv hanya untukku seorang dan tidak ada seorangpun yang boleh mendekatinya," ucap Rani bergegas menuju kamar Lala
Edwin segera mengurungkan ada niatnya saat mendengar suara celoteh Rani mendekati kamar itu.
Ia segera bergegas keluar agar Rani tak melihatnya.
Rani langsung menggeledah kamar Lala, namun ia tak menemukan apapun di sana. Dengan wajah kesal ia akhirnya meninggalkan tempat itu.
Lala dan Dhiv akhirnya keluar dari dalam lemari dan bernafas dengan lega.
"Syukurlah, akhirnya mereka pergi dan kita selamat," ucap Lala kemudian duduk di tepi ranjangnya
__ADS_1
"Kenapa ia mengejar mu?" tanya Dhiv
"Apa Pak Edwin maksudmu?" sahut Lala balik bertanya
"Hmm," jawab Dhiv mengangguk
"Apa kau belum menyadarinya juga setelah melihat kejadian barusan?"
Dhiv menatap gadis itu, "Maafkan aku yang tidak menyadari semuanya dengan cepat," ucap Dhiv
"Sebaiknya kau akhiri semuanya sebelum kau menyesal, kau tidak boleh mengulurnya lagi,"
"Tapi dia belum pulih, aku akan menunggunya sampai ia benar-benar pulih dan mengakhiri semuanya," jawab Dhiv
"Dia sudah pulih seutuhnya tapi ia menutupinya demi tetap bersamamu,"
"Kalau begitu buktikan padaku jika ucapan mu benar maka aku akan mengakhirinya hari itu juga,"
Lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Lala.
"Sebaiknya kau mencari alasan yang tepat sebelum menemui istrimu agar dia tidak berprasangka buruk padamu,"
"Tentu saja, aku sudah menemukan alasan yang tepat kenapa aku meninggalkannya malam-malam begini," jawab Dhiv tersenyum menatapnya
"Apa yang ingin kau katakan padanya, jangan bilang kalau kau menemui ku malam ini," sahut Lala gusar
Pagi itu Edwin sengaja mengajak Dhiv dan Rani untuk sarapan bersama. Lelaki itu sengaja mengumpulkan mereka untuk membicarakan tentang perusahaan.
"Hari ini aku akan mengantarmu secara resmi sebagai CEO Mega Group, aku ingin kau bertanggung jawab penuh atas perusahaan itu mulai sekarang. Aku juga berharap kau bisa membuat perusahaan ku semakin maju kedepannya," tutur Edwin
"Baik aya, kapan pelantikan itu dilaksanakan?" tanya Dhiv
"Selesai makan siang, aku harap kau hadir tepat waktu. Bawa Rani bersama mu aku akan menunggumu di kantor," ucap Edwin
"Baik ayah,"
Sementara itu Rani terlihat begitu lahap menikmati sarapannya.
Dhiv segera mengambilkan obat untuknya setelah melihat wanita itu menyudahi sarapannya.
"Sekarang minumlah obatnya," ucap Dhiv memberikan beberapa butir obat kepadanya
"Terimakasih sayang," Rani segera mengambil beberapa butir obat dN memberikannya kepada gadis itu.
Dhiv kemudian berpamitan untuk berangkat kerja. melihat suaminya harus segera berangkat kerja Candi boro-boro menghabiskan obatnya dan segera menyusul Dhiv.
Namun baru saja ia akan menggerakkan kursi rodanya tiba-tiba Rsnimerasakan perutnya begitu sakit dan mules.
__ADS_1
Karena tidak tahan Rani akhirnya turun dari kursi rodanya dan berlari menuju toilet. Rani begitu terkejut saat ia keluar dari toilet di berdiri di depan kursi rodanya.
"Sejak kapan kau bisa jalan lagi" tanya Dhiv
Rani terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Dhiv. Bagaimanapun ia selama ini memang sudah berusaha menyembunyikan kepada pria itu kalau dia sebenarnya sudah bisa jalan. Ia terpaksa menyembunyikannya karena dia tidak mau Djiv nmeninggalkannya setelah tahu ya sudah sehat dan boleh.
"Aku ..aku minta maaf untuk hal itu , tapi percayalah aku melakukannya demi untuk kamu," ucap Rani
"Iya aku tahu, tips segera membawa ñ-barang yang masuk dalam mobil. Dhiv kemudian mengantarkan Rani ke rumah sakit.
***********
*gedung Mega group.
Semua karyawan dan para direksi sudah berkumpul di ruang aulaf untuk menyaksikan pelantikan CEO baru perusahaan tersebut.
Dhiv terlihat begitu tampan dengan setelah jas navy dengan dasi senanda.
Sam segera bergegas memcari dokumen yang akan ditandatangani oleh Dhiv dan Edwin. Pria itu sengaja masuk ke ruang kerja Edwin untuk mencarinya.
Setelah berhasil menemukannya, Sam langsung menukar dokumen itu dan pergi.
Sam terus mengawasi gerak-gerik Dhiv dan Edwin dari kejauhan.
Setelah acara selesai Sam buru-buru menghampiri Dhiv dan membisikkan sesuatu padanya,
"Sekarang saatnya bagi kita untuk mengambil alih semuanya," bisik Sam
"Apa kau sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama seperti yang aku perintahkan?" tanya Dhiv
"Semuanya sudah beres, hari ini kita tinggal eksekusi di sini dan kemudian mengusir Edwin dari DC Group," ujar Sam
"Baiklah, kita mulai sekarang," jawab Dhiv
Pemuda itu segera masuk kedalam ruang rapat dan meminta para direksi untuk duduk kembali di ruang rapat.
Lelaki itu kemudian menyampaikan visi misinya didepan para direksi dan pemegang saham. Selesai berorasi ia kemudian meminta tanda tangan dari para direksi.
Pemuda itu tersenyum puas saat melihat semua direksi memberikan tanda tangan untuk mendukungnya.
"Kita lihat saja siapa yang lebih cerdik Ayah,"
Selesai mendapatkan dukungan dari para direksi Dhiv langsung menuju gedung DC Group.
Edwin terkejut saat melihat kedatangan Dhiv di ruang kerjanya.
"Ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Edwin
__ADS_1
"Bukan aku yang punya perlu dengan ayah, tapi mereka," jawab Dhiv menunjuk kearah dua orang polisi yang langsung memborgolnya