
"Apa ada informasi tentang Mitha?" tanya Dario kepada assisten pribadi Mitha yang merupakan mata-matanya.
Randa langsung memberitahukan rencana Mitha yang akan mengungkap jati diri Rani yang sedang hamil kepada Dhiv.
"Jadi ia berusaha mengambil kembali posisi CEO dengan mempengaruhi Dhiv, dasar wanita culas,"
Dario kemudian memerintahkan Randa untuk merusak rem mobil Mitha agar wanita itu tak bisa memberitahukan Dhiv tentang kehamilan Rani.
Randa buru-buru keluar dari bawah mobil Mitha saat melihat sopir pribadi wanita itu berjalan menuju ke parkiran.
Ia segera menutupi wajahnya dengan menurunkan topinya agar sopir Shelomita tak mengenalinya.
Setelah memastikan Shelomita naik kedalam mobilnya, barulah lelaki itu melapor kepada Dario.
"Good job Randa, thanks sudah bekerja keras hari ini," ucap Dario menutup teleponnya
Saat melaju menuju jalan tol tiba-tiba mobil Mitha kehilangan kendali, sang sopir berusaha menghentikan mobilnya namun karena remnya blong ia tidak bisa memberhentikan laju kendaraannya hingga akhirnya menabrak pembatas jalan.
Petugas medis kebingungan mencari keluarga Mitha saat ia berada di rumah sakit. Karena mereka melihat.Dhiv yang terakhir menghubungi wanita itu maka mereka pun menghubungi Dhiv dan memintanya segera ke rumah sakit untuk mengurus administrasi Shelomita.
Dhiv segera bergegas menuju ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari pihak rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, dokter langsung memanggil pemuda itu dan memerintahkannya untuk segera mencari donor darah untuk Shelomita.
Wanita itu kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan transfusi darah secepatnya. Karena golongan darah Dhiv tidak sama maka mau tidak mau ia menghubungi Ben untuk memberitahukan kondisi ibunya.
Tidak lama Ben tiba di rumah sakit, namun karena golongan darah Ben tidak sama dengan ibunya, maka ia dan Dhiv terpaksa harus pergi ke kantor PMI untuk meminta stok darah di sana.
Karena golongan darah Shelomita adalah jenis langka maka sangat susah mencari darah dengan golongan tersebut.
Ben begitu sedih saat melihat ibunya terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU.
Ratih berusaha menenangkan suaminya. Malam itu Lala menjenguk Shelomita setelah Ratih memberitahukan keadaan wanita itu padanya.
"Apa kau berhasil mendapatkan darah untuk ibuku?" tanya Ben saat melihat Dhiv kembali
"Aku hanya berhasil mendapatkan satu kantong saja, besok aku coba cari lagi," jawab Dhiv sedikit kecewa
"Memangnya apa golongan darahnya?" tanya Lala saat memasuki bangsal perawatan Shelomita
"AB," jawab Dhiv dan Ben bersamaan
"Kebetulan golongan darah ku juga AB, apa boleh aku mendonorkan darah ku untuk ibu kalian?" tanya Lala
"Tentu saja," jawab Ben berbinar-binar
"Apa kau serius akan mendonorkan darahmu untuk bunda ratu?" tanya Raffa ragu
"Tentu saja, aku ikhlas mendonorkan darahku untuk Ibu tanpa mengharapkan imbalan apapun juga darinya," jawab Lala
__ADS_1
"Thanks La, ternyata kamu begitu baik meskipun ibuku selalu berusaha menyusahkan dirimu," ucap Ben
"Sama-sama Ka Ben,"
Ben kemudian mengantar Lala menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan sebelum transfusi darah.
Sementara itu Dhiv dan Raffa membawakan banyak makanan untuk Lala. Keduanya saling berebut perhatian gadis itu dengan memberikan banyak makanan pasca transfusi.
"Sebaiknya lo pulang Dhiv, inget Tunangan lo, inget sebentar lagi lo nikah, jangan bermain api kalau lo gak bisa debus," ucap Raffa memperingatkan Dhiv dengan raut wajah kesalnya
"Terserah gue dong, sebelum janur kuning melengkung, aku masih bebas kan. Jangan kan baru tunangan udah nikah aja boleh kok nikah lagi asal adil," jawab Dhiv sengaja menggoda Raffa yang sudah kesal padanya
"Dasar buaya!" seru Raffa
"Gak kebalik Bro?" jawab Dhiv balik bertanya
Melihat dua kakak beradik berseteru membuat Lala langsung menengahinya.
"Kalian kenapa sih, inget ini rumah sakit dilarang berisik banyak orang sakit," ucap Lala
"Bener tuh kata Lala, biar adil makanan dari Raffa buat gue, makanan dari Dhiv buat istriku yang sedang hamil. Nah buat Lala dari aku saja, biar adil," ucap Ben kemudian mengambil makanan dari Dhiv dan Raffa, namun keduanya dengan kompak langsung menolaknya.
"No!" jawab keduanya serempak
Lala tersenyum melihat tingkah konyol keduanya, ia kemudian menghampiri kedua.
Ratih kemudian memberikan tas belanjaannya kepada Lala.
"Semoga cepat pulih ya La," ucap Ratih
"Terimakasih kak," jawab Lala
"Apa benar kamu sedang mengandung Ra?" tanya Raffa memandangi perut ratih yang mulai membesar
Ratih tersebut kecut mendengar pertanyaan Raffa. Ben yang mengira istrinya hamil langsung memeluknya dan mengiyakan pertanyaan Raffa.
Ratih menatap sendu kearah Lala saat Dhiv dan Raffa memberikan ucapan selamat kepadanya.
"Selamat ya kakak semoga dilancarkan semuanya sampai persalinan nanti," ucap Lala kemudian memeluknya erat
"Thanks La," ucap Ratih menitikkan air mata di pelukannya
Hanya Lala yang tahu kondisi Ratih saat ini, hingga membuat wanita itu hanya bisa menumpahkan kesedihannya kepadanya.
Selesai melakukan transfusi Lala kemudian pamit pulang.
Dhiv merasa sedikit cemburu saat melihat Raffa dan Lala yang pulang bersama.
"Ternyata ucapan Raffa bukan hanya sekedar gertak sambal, sepertinya ia benar-benar ingin merebut Lala dariku," kenang Dhiv
__ADS_1
"Sebaiknya jaga ucapan mu mulai sekarang. Orang akan salah paham jika mendengarnya, ingat banyak paparazi yang selalu mengintai mu jadi waspadalah," ucap Sam memperingatkan Dhiv untuk lebih hati-hati
"Aku ingin kau menyelidiki hubungan Raffa dan Lala, aku tidak mau Lala hanya rumah singgah bagi Raffa seperti gadis-gadis lainnya," imbuhnya
"Baik Mas,"
************
Siang itu Rani sengaja menemui Dhiv di ruang kerjanya. Gadis itu mengajak calon suaminya tersebut untuk melakukan fitting baju pengantin.
Dhiv langsung bergegas menuju kesebuah butik langganan keluarga Rani untuk menemani gadis itu melakukan fitting baju.
Setibanya di butik, Edwin dan Dario sudah menunggu keduanya. Ternyata kedua orang tua mereka juga melakukan fitting baju bersama hari itu.
Dario memuji Dhiv saat melihat lelaki itu mencoba setelan jas pengantinnya.
"Keren sekali, kau terlihat begitu tampan seperti aku saat masih muda," puji Dario
Tidak lama seorang karyawan butik datang untuk memasangkan aksesoris pelengkap untuk Dhiv.
Dhiv tercengang saat melihat karyawan tersebut.
"Lala??"
Ia buru-buru membalikkan badannya untuk menutupi wajah Lala agar Dario tak melihatnya. Dhiv kemudian menarik gadis itu masuk ke ruang ganti agar Dario tak curiga dengannya.
Dhiv tidak mau Dario melihatnya, karena ia yakin lelaki itu akan melakukan sesuatu padanya.
"Bukankah kau sedang kuliah, lalu kenapa ada di sini?" tanya Dhiv penasaran
"Oh... kebetulan aku sedang magang di sini, aku hanya perlu mendapatkan nilai magang agat bisa menyusun skripsi," jawab Lala enteng
"Syukurlah, tapi sebaiknya kamu jangan keluar dulu, aku takut ayah akan berpikir negatif jika melihat mu disini. Aku takut dia menyakitimu lagi, jadi tetaplah disini sampai ia pergi," ucap Dhiv menatapnya lekat
"Tapi...."
Dhiv langsung menutup bibir Lala dengan telunjuknya saat mendengar Ratih mencarinya.
"Sayang!" seru Rani memanggilnya
Dario kemudian memberitahukan Rani jika Dhiv sedang ada di ruang ganti.
Rani terlihat pucat hingga membuat Dario khawatir.
"Ada apa denganmu, kenapa kau terlihat begitu cemas?" tanya Dario
"Aku...." ucapnya terbata-bata
Dario kemudian melihat darah segar mengalir di kaki gadis itu. Tentu saja melihat hal itu membuat Dario langsung membawa pergi gadis itu meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1