
Lala melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Kenapa Pak Edwin belum datang juga. Harusnya aku sudah pulang jika tidak mengerjakan laporan keuangan ini." ucap Lala menatap tumpukan berkas didepannya
Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dan memindahkan satu persatu dokumen itu kedalam laptop Edwin.
*Tak, tak, tak....
Dhiv yang berjalan terburu-buru tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat ruangan Edwin terbuka.
"Bukankah ayah sedang berada di rumah sakit, tapi kenapa ada orang di ruang kerjanya??. Kalau benar ada seseorang di ruangannya lalu siapa dia??" Dhiv mengendap-endap menuju ruang kerja Edwin untuk melihat siapa yang ada di ruangan tersebut
Seketika matanya membelalak saat melihat sosok wanita yang dirindukannya ada di hadapannya.
"Lala!!" Pria itu benar-benar tak menduga jika berada di ruangan Edwin adalah Lala.
Kenapa dia ada di sana, bukankah ia seharusnya ada di kampung??. Apa jangan-jangan ia sengaja mengatakan itu untuk menjauhi Raffa.
Gurat kebahagiaan terlihat jelas pada wajah pemuda itu, bagaimanapun juga Dhiv merasa lega jika Lala menjauhi Raffa.
Ia kemudian meninggalkan tempat itu saat Edwin kembali menelponnya.
Ia segera meluncur meninggalkan gedung Mega Group menuju rumah sakit. Dhiv sengaja melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke tempat tujuan.
Setibanya di rumah sakit ia langsung berlari menyambangi bangsal perawatan Rani.
"Maaf aku sedikit terlambat ayah," ucap Dhiv terengah-engah
"Tidak apa Dhiv, aku hanya khawatir kenapa kau tidak kunjung tiba makanya aku menelpon mu lagi. aku takut terjadi sesuatu padamu di jalan," jawab Edwin
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, maaf aku sedikit terlambat karena tidak sengaja bertemu dengan teman lama di jalan,"
"Oh begitu rupanya, sebaiknya kau segera temui Rani, dia begitu ingin bertemu denganmu," Edwin kemudian mempersilakan Dhiv masuk dan meninggalkan keduanya agar lebih leluasa untuk berbincang
Rani berbinar-binar saat melihat sosok Dhiv menghampirinya. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat menatap wajah Dhiv.
"Syukurlah kau sudah sadar," ucap Dhiv kemudian duduk di sampingnya.
"Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk selalu menjagaku, meskipun kau sudah mengetahui semuanya," ucap Rani begitu terharu
Gadis itu tidak mampu melanjutkan kata-katanya dan kemudian terisak di depan Dhiv. Melihat gadis itu tersedu-sedu membuat Dhiv langsung memeluknya.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi padamu itu adalah masa lalu mu. Aku tidak peduli dengan masa lalu mu dan akan tetap melanjutkan pernikahan kita apapun yang terjadi," ucap Dhiv mengusap air mata gadis itu
"Tapi bukankah kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku," ucap Rani
"Baik dan tidaknya seorang wanita tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang dalam menjalani suatu hubungan, tapi rasa nyaman dan kepercayaan adalah kunci utama untuk membangun sebuah hubungan," jawab Dhiv
"Tapi tetap saja aku merasa egois jika tetap memaksa untuk melanjutkan hubungan kita. Aku sudah memikirkan masak-masak apa yang harus aku lakukan setelah keluar dari rumah sakit nanti," jawab Rani menerawang
"Kenapa aku merasa kau akan pergi meninggalkan aku," ucap Dhiv getir
Ia seperti dapat menangkap apa yang akan disampaikan oleh Rani padanya.
"Aku memang sangat ingin kau menjadi pendamping hidupku, tapi aku juga tidak boleh egois karena aku hanya akan menjadi kerikil yang menjadi penghambat bagimu dalam meraih impian mu. Jadi mari akhiri semuanya," ucap Rani
"Lalu bagaimana dengan dirimu, aku juga tidak bisa membiarkan mu menanggung malu seorang diri hanya karena batal menikah. Aku tidak mau orang-orang menilaimu negatif hanya karena masa lalu mu. Aku sudah berjanji pada ayahmu akan membereskan semuanya, dan mengembalikan nama baikmu. Jadi ijinkan aku tetap menikahi mu agar orang-orang tidak memandang rendah dirimu. Aku berjanji akan segera menceraikan mu setelah semuanya selesai," jawab Dhiv membuat Rani benar-benar terharu mendengarnya
Ia tidak menyangka jika Dhiv benar-benar begitu peduli dengannya.
"Thanks sayang atas perhatianmu, aku tidak mengira kau benar-benar tulus padaku," ucap Rani menangis di pelukan Dhiv
Tiba-tiba Edwin memasuki ruangan itu hingga keduanya buru-buru melepaskan pelukannya.
"Oh maaf, ayah lupa mengetuk pintu lebih dulu," ucap Edwin kemudian membalikkan badannya
"Oh begitu ya, aku hanya mau minta tolong pada Dhiv untuk mengecek karyawan baru yang sedang membantu ayah mengerjakan laporan keuangan. Aku takut ia masih di kantor mengerjakan laporan yang ayah perintahkan. Ia pasti belum berani pulang karena aku belum kembali ke sana," ucap Edwin merasa bersalah
"Baik ayah aku akan mengeceknya," jawab Dhiv
"Katakan padanya untuk melanjutkan pekerjaannya besok pagi saja," imbuh Edwin
"Baik ayah."
Dhiv kemudian beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Rani.
" Kalau begitu aku pamit dulu ya. Jangan lupa minum obatnya dan istirahat yang cukup, jangan berpikir macam-macam dulu ok," ucap Dhiv mengusap lembut rambutnya
Rani mengangguk pelan dan melambaikan tangannya saat Dhiv meninggalkannya.
*Gedung Mega Group
Lala masih mengerakkan jari-jarinya di atas keyboard. Gadis itu masih mengerjakan tugas yang diberikan Edwin kepadanya meskipun matanya sudah lelah menatap layar monitor laptopnya.
__ADS_1
"Sudah jam sembilan malam tapi Pak Edwin belum kembali juga, aku mau pulang tapi takut dia datang kembali, hadeeh...benar-benar dilema," ucap Lala menyandarkan kepalanya di meja
Tiba-tiba gadis itu merasakan seseorang mengusap kepalanya hingga membuatnya segera bangun dan menoleh kearahnya.
"Dhiv???" ucapnya mengernyitkan dahinya
Lelaki itu tersenyum menetapkannya, "Syukurlah kau masih mengingatku, aku kira kau sudah melupakan aku," jawab Dhiv kemudian duduk disampingnya
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan orang yang sudah membuat ku menjadi janda," jawab Lala membuat Dhiv seketika tertawa mendengarnya
"Apa kau dendam padaku, karena sudah membuat mu menjadi Janda?" tanya Dhiv menggodanya
"Bukan hanya dendam tapi aku juga sangat membencimu," sahut Lala
"Benci benar-benar cinta?" tanya Dhiv menatapnya intens membuat Lala langsung memalingkan wajahnya
"Bagaimana aku bisa benar-benar mencintai mu jika mendekatimu saja aku tak mampu," jawab Lala
"Bukankah sekarang kita sudah sangat dekat jadi lakukan saja apa yang kau inginkan agar kau bisa benar-benar mencintai ku," goda Dhiv
"Yang benar saja, sebaiknya kau segera pergi dari sini karena sebentar lagi atasan ku akan segera kembali. Ia bisa salah paham jika melihat kita berdua disini," jawab Lala mencoba mengalihkan pembicaraannya
"Tidak masalah, justru itulah yang aku harapkan," jawab Dhiv membuat Lala langsung menarik ujung bibirnya
Gadis itu berusaha menggeser posisi duduknya, namun Dhiv sengaja terus mendekat kearahnya.
"Maaf aku harus menyelesaikan pekerjaan ini sebelum atasanku kembali, jadi tolong jangan ganggu aku," ucap Lala saat ia tak bisa bergeser lagi.
Dhiv kemudian meminta gadis itu untuk melanjutkan pekerjaannya besok pagi. Karena hari sudah malam Dhiv juga sengaja menawarkan tumpangan kepada gadis itu. Ia terus memaksanya meskipun Lala beberapa kali menolaknya.
"Sebaiknya aku mengantar mu pulang, sekarang sudah malam dan bahaya jika kau pulang sendirian malam-malam begini, aku khawatir terjadi sesuatu padamu," ucap Dhiv
Dhiv kemudian membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan gadis itu masuk.
Lala terpaksa masuk karena kehabisan kata-kata untuk menolak pemuda itu.
Melihat Lala langsung duduk tanpa memasang sabuk pengamannya, membuat Dhiv berinisiatif memasangkan sabuk pengamannya.
*Deg
Tiba-tiba jantung lala berdegup kencang saat menatap wajah Dhiv yang begitu dekat.
__ADS_1
Bukan hanya Lala yang berdebar-debar saat beradu pandang dengan pemuda itu, namun Dhiv juga merasakan hal yang sama saat netranya saling beradu pandang dengan Lala.