Menikahlah Denganku Maka Aku Akan Menjadikan Mu Janda

Menikahlah Denganku Maka Aku Akan Menjadikan Mu Janda
Drama Mitha


__ADS_3

Siang itu Rani sengaja menemui Dhiv di ruang kerjanya. Gadis itu mengajak calon suaminya tersebut untuk melakukan fitting baju pengantin.


Dhiv langsung bergegas menuju kesebuah butik langganan keluarga Rani untuk menemani gadis itu melakukan fitting baju.


Setibanya di butik, Edwin dan Dario sudah menunggu keduanya. Ternyata kedua orang tua mereka juga melakukan fitting baju bersama hari itu.


Dhiv kemudian menemani Rani memilih gaun yang sesuai. Ia juga bahkan memberikan penilaian saat gadis itu mencobanya dihadapannya.


"Nice!" seru Dhiv


"Apa kau suka yang ini?" tanya Rani


Dhiv langsung mengangguk tanda setuju.


"Ok sayang, kalau gitu sekarang giliran kamu mencoba jas pengantinnya. Aku akan menyusul mu setelah ini," ujar Rani kemudian kembali masuk ke ruang ganti


Dhiv kemudian segera memilih beberapa jas pengantin yang sudah dipersiapkan untuknya.


Ia kemudian mencoba salah satunya.


Dario menghampiri Dhiv dan memujinya saat pria itu mencoba setelan jas pengantinnya.


"Keren sekali, kau terlihat begitu tampan seperti aku saat masih muda," puji Dario


"Thanks ayah," sahut Dhiv


"Ngomong-ngomong dimana Rani, kenapa dia tidak bersamamu?" tanya Dario


"Dia sedang ganti pakaian, nanti juga dia akan kesini," ucap Dhiv sambil merapikan penampilannya


Rani bergegas menuju ke toilet sebelum menemui Dhiv. Gadis itu sengaja ingin merapikan penampilannya agar terlihat cantik di depan calon suaminya.


Ia sengaja menebalkan lipstiknya, dan memoles bedak di wajahnya yang mulai memudar.


Setelah memastikan penampilan sempurna ia bergegas keluar dari toilet, saat ia akan melangkahkan kakinya keluar tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh.


"Awww!!" pekiknya sambil memegangi pinggangnya yang terasa nyeri


Ia kemudian segera bangun, saat melihat Dhiv menghubunginya.


"Iya sayang, sebentar lagi aku akan menyusul mu," Rani buru-buru keluar dari toilet untuk menemui Dhiv


**********


Dhiv segera memasukkan ponselnya dan memberitahu Dario jika Rani akan segera datang. Ia kemudian meminta karyawan butik untuk mengambilkan beberapa aksesoris untuk melengkapi penampilannya.


Tidak lama seorang karyawan butik datang untuk memasangkan aksesoris pelengkap untuk Dhiv.


Dhiv tercengang saat melihat karyawan tersebut.


"Lala??"


Ia buru-buru membalikkan badannya untuk menutupi wajah Lala agar Dario tak melihatnya. Dhiv kemudian menarik gadis itu masuk ke ruang ganti agar Dario tak curiga dengannya.


Dhiv tidak mau Dario melihatnya, karena ia yakin lelaki itu akan melakukan sesuatu padanya.


"Bukankah kau sedang kuliah, lalu kenapa ada di sini?" tanya Dhiv penasaran


"Oh... kebetulan aku sedang magang di sini, aku hanya perlu mendapatkan nilai magang agat bisa menyusun skripsi," jawab Lala enteng


"Syukurlah, tapi sebaiknya kamu jangan keluar dulu, aku takut ayah akan berpikir negatif jika melihat mu disini. Aku takut dia menyakitimu lagi, jadi tetaplah disini sampai ia pergi," ucap Dhiv menatapnya lekat


"Tapi...."


Dhiv langsung menutup bibir Lala dengan telunjuknya saat mendengar Rani mencarinya.


"Sayang!" seru Rani memanggilnya


Dario kemudian memberitahukan Rani jika Dhiv sedang ada di ruang ganti.


"Dhiv sedang di kamar ganti, sebaiknya kau tunggu saja disini bersamaku," ucap Dario


Rani terlihat pucat hingga membuat Dario khawatir.


"Apa kau sakit, kenapa kau terlihat sangat pucat?" tanya Dario


"Aku tidak sakit hanya saja aku...." sahut Rani tidak melanjutkan kata-katanya


"Ada apa denganmu, kenapa kau terlihat begitu cemas?" tanya Dario

__ADS_1


"Aku...." ucapnya terbata-bata


"Katakan saja pada ayah, jangan takut, aku akan selalu mendukungmu apapun yang terjadi," jawab Dario


"Perutku sakit sekali ayah, rasanya seperti diremas-remas," ucap gadis itu meringis kesakitan


"Memangnya apa yang terjadi denganmu?" tanya Dario lagi


"Aku terjatuh di toilet," jawab Rani


Dario terbelalak mendengar pengakuan Rani.


Dario berpikir jika Rani mengalami masalah dengan kandungannya. Benar saja tidak lama ia kemudian melihat darah segar mengalir di kaki gadis itu. Tentu saja melihat hal itu membuat Dario langsung membawa pergi gadis itu meninggalkan ruangan tersebut.


Ia kemudian memerintahkan seorang karyawan butik untuk segera membersihkan darah yang tercecer di lantai agar Dhiv tidak melihatnya.


Ia segera memerintahkan Edwin untuk membawa putrinya ke rumah sakit.


Dhiv segera keluar setelah mendengar Dario meninggalkan ruangan itu.


Ia kemudian mengajak Lala keluar.


"Sekarang sudah aman," ucap Dhiv tanpa sengaja terys menggandeng Lala


"Maaf," ucap Dhiv kemudian melepaskan lengan Lala


"Ini aksesorisnya, tinggal pilih saja yang mana yg kamu suka,"


"Kalau menurut kamu yang sesuai untukku yang mana?" jawab Dhiv balik bertanya


Lala kemudian memilihkan aksesoris untuk lelaki itu.


"Thanks La,"


"Sama-sama," jawab Lala kemudian berlalu pergi


Dhiv kembali menghubungi Rani karena tak melihat wanita itu.


"Halo Ran, kamu dimana?" tanya Dhiv


Rani kemudian mengatakan kepada Dhiv jika ia terpaksa pulang lebih dulu karena ada urusan penting yang harus diselesaikan.


***********


Mitha akhirnya berangsur membaik setelah mendapatkan transfusi darah. Ben begitu bahagia saat mengetahui ibunya sudah siuman dan segera menjenguknya di rumah sakit.


"Alhamdulillah akhirnya ibu sadar juga," ucap Ben kemudian memeluk ibunya.


*Tok, tok, tok!!


Ratih segera membuka pintu, saat mendengar seseorang mengetuknya.


"Ayah!" seru Ratih begitu terkejut saat melihat Dario mendatangi ruangan itu.


"Bagaimana keadaan ibu kamu?" tanya Dario


" Ibu baru saja siuman," jawabnya kemudian mempersilakan pria itu masuk


Dario kemudian berjalan mendekati Mitha. Wanita itu tak bereaksi apapun saat melihatnya.


"Bagaimana keadaan mu?" sapa Dario menatap istrinya


Mitha kemudian memanggil Ben dan bertanya pada putranya itu siapa pria dihadapannya.


"Dia ayah ibu, dia suami ibu," jawab Ben


"Apa aku masih punya suami?" tanya Mitha seperti seorang yang linglung


Ia bahkan tidak mengenali siapapun selain Ben. Melihat kondisi Mitha tentu saja membuat Ben begitu gusar hingga ia menemui dokter untuk menanyakan kondisi ibunya.


"Sepertinya ibumu mengalami hilang ingatan karena kepalanya terbentur. Tapi tidak perlu khawatir karena ini bersifat sementara, ia akan sembuh dan kembali mengingat semuanya jika ia sudah pulih dan tenang. Untuk itulah ia memerlukan kondisi yang tenang agar bisa mengembalikan ingatannya," terang sang Dokter


"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya." Ben segera pamit dan kembali menemui Shelomita


Dario merasa senang setelah mendengar penjelasan dokter, bagaimanapun juga ia begitu bersyukur dengan kejadian tersebut. Setidaknya istrinya tidak akan membuka mulut sampai Dhiv dan Rani menikah.


Sepertinya aku harus mengajak ia kembali ke Wastu Kencana Ungu agar ingatannya tidak segera kembali. Aku yakin ia akan merasa tertekan bila bersamaku,


Setelah diperbolehkan pulang Dario menyuruh Ben untuk memindahkan kembali Shelomita ke Wastu Kencana Ungu.

__ADS_1


Ben sempat menolaknya karena ia tahu di rumah itu ibunya selalu merasa tertekan. Ia takut jika wanita itu akan sulit mengembalikan ingatannya.


Namun Dario berpendapat Berbeda, ia menyatakan jika ingatan Mitha akan cepat kembali saat ia berkumpul bersama keluarganya. Ia yakin orang-orang terdekatnya akan mempercepat proses pengembalian ingatannya.


Mendengarkan penjelasan Dario membuat Ben akhirnya percaya dan setuju untuk memindahkan barang-barang shelomitha dari apartemennya ke Wastu Kencana Ungu.


***********


Sore itu seperti biasanya Lala mengunjungi Wastu Kencana Ungu sepulang kuliah untuk mengajari Ratih make up.


Ia terkejut saat melihat Shelomita ada di rumah itu.


Wanita itu menatapnya intens saat melihat kedatangannya hingga membuat Lala sedikit merasa tak enak.


"Tidak usah khawatir Ibu sedang mengalami amnesia jadi ia pasti tidak mengenalimu," ucap Ratih menghampiri Lala dan mengajaknya masuk


"Tapi bagaimana jika mengenaliku??" tanya Lala


"Tidak mungkin, jika ia mengenalimu ia pasti akan mengusir mu dari sini bukan?" jawab Ratih


"Benar," jawab Lala kemudian mengikuti wanita itu masuk ke kamarnya.


Lala kemudian segera merias wajah Ratih dan merapikan rambutnya.


Selesai mengubah penampilannya ia kemudian membantu wanita itu mempersiapkan makan malam untuk keluarga Dario


"Kenapa kau tidak meminta pelayan saja untuk memasak makanan kesukaan Ibu?" ucap Lala saat membantu Ratih memasak makanan kesukaan Shelomita


"Kau tahu kan ibu sangat rewel, ia tidak mau makan sembarangan, ia hanya mau makan makanan yang aku masak saja," terang Ratih


"Tapi bukannya dia sedang hilang ingatan?"


"Tetap saja La, yang hilang kan ingatannya saja, tapi perilakunya masih sama," Jawab Ratih menyunggingkan senyumnya


Tiba-tiba saat ratih mengalami kram saat sedang menggoreng bumbu masakan. Spatula yang ia pegang jatuh, ia berusaha mengambilnya tapi pandangannya kabur sehingga tak bisa melihatnya.


"Ada apa denganku," ucap Ratih gemetaran.


Keringat dingin seketika membasahi wajahnya, Lala langsung menghampirinya dan membantunya berdiri.


"Kaka kenapa?" tanya Lala khawatir


"Entahlah, tiba-tiba tanganku tidak bisa digerakkan seperti mati rasa, dan pandangan ku juga kabur," sahut Ratih gusar


Tanpa berpikir panjang Lala segera mengajaknya untuk berobat ke dokter. Melihat menantunya pergi membuat Shelomita mengikutinya.


Mau tidak mau Lala akhirnya mengajaknya ke rumah sakit karena wanita itu terus merengek minta ikut.


"Tolong jangan beritahukan hal ini kepada Ben," pinta Ratih memegang erat tangan Lala


Lala mengangguk, dan mencoba menenangkan Ratih yang terlihat begitu gusar.


Setibanya di rumah sakit dokter yang memeriksa Ratih menyarankan kepadanya untuk menjalani rawat inap, namun Ratih menolaknya.


"Kondisimu sudah sangat kritis, jadi sebaiknya harus segera dirawat. Setidaknya dengan begitu kau bisa bertahan hidup lebih lama dari waktu mu yang tersisa,"


"Aku tidak mau dok, aku tidak mau menghabiskan sisa waktuku dengan berbaring di brangkar rumah sakit. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang aku cintai dan membahagiakannya. Aku tidak peduli jika itu akan mengurangi sisa umurku," jawab Ratih pasrah


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya anda jangan bangun dulu. Tunggu satu jam lagi baru boleh pulang setelah obatnya bereaksi." ucap sang Dokter kemudian meninggalkan Ratih


Ternyata dia sedang sekarat, sepertinya Ben akan mendapatkan banyak keuntungan jika Ratih meninggal.


Mitha kemudian masuk ke ruang perawatan Ratih. Seorang suster masuk dan memperingatkannya untuk membangunkan Ratih setelah satu jam untuk kembali meminum obatnya.


"Apa dia sedang tidur?" tanya Mitha


"Iya, dia sedang tidur karena reaksi obat," jawab sang perawat kemudian meninggalkan ruangan itu setelah memberikan obat-obatan untuk Ratih.


"Kasihan sekali kamu Ratih, bahkan di sisa hidupmu kau belum juga mendapatkan cinta suamimu. Kau terlalu baik hingga tak bisa membahagiakan dirimu sendiri. Seandainya saja kau bisa sedikit lebih egois aku yakin kau bisa sedikit menikmati hidupmu." ucap Shelomita mengusap lembut wajah menantunya itu


"Beruntung Raffa yang memiliki istri setia seperti dirimu, maafkan aku yang kadang suka memperlakukan mu seperti seorang pembantu bukan sebagai menantu. Aku memang lebih banyak memanfaatkan dirimu daripada menyayangimu sebagai menantuku," kenang Mitha begitu gusar menatap wajah pucat Ratih


Mitha kemudian beranjak dari duduknya saat ponselnya berdering.


"Kenapa menghubungi ku?"


Shelomita begitu antusias saat mendengarkan laporan dari anak buahnya.


"Jadi sekarang Rani mengalami keguguran dan dirawat di luar kota, benar-benar gadis yang culas. Ia sengaja pergi ke luar kota agar Dhiv tidak tahu tentang kehamilannya. Tunggu saja Rani aku pasti akan membongkar rahasia mu di hari spesial mu,"

__ADS_1


Ratih begitu terkejut saat mendengar ucapan Shelomita, ia kembali memejamkan matanya saat melihat Shelomita hendak menghampirinya.


__ADS_2