
Mitha mencoba menyelidiki gelang almarhum kakaknya yang dipegang oleh Dario.
"Darimana dia mendapatkan gelang itu, aku harus mencari tahu sendiri,"
Diam-diam Mitha masuk ke ruang kerja Dario dan mencari benda itu di setiap sudut ruangan itu.
Saat mendengar suara Dario, ia segera bersembunyi.
Dario memasuki ruangan itu bersama Dhiv. Lelaki itu kemudian mengambil sesuatu di brangkasnya dan memberikan kepada Dhiv.
"Sebaiknya mulai sekarang kau menetap lagi di Bandung dan rawatlah ibumu dengan baik. Ku dengar kondisinya semakin memburuk jadi ia butuh perhatian lebih darimu. Sebaiknya kau juga segera menikahi Lala dan aku akan memberikan hadiah DC Garment untukmu," ucap Dario
"Terimakasih ayah, aku juga ingin menyampaikan hal itu, tapi kau lebih dulu mengutarakannya," jawab Dhiv
Dario tidak lupa mengembalikan gelang milik Lala kepada Dhiv.
"Jaga dan bahagiakan Lala seperti amanah ibunya," ujar Dario memberikan gelang milik Lala
"Tentu saja ayah, terimakasih atas dukungannya," jawab Dhiv kemudian pergi meninggalkan tempat itu
Dario tersenyum sinis saat menatap kepergian Dhiv.
Jadi gelang itu milik Lala??, apa dia benar-benar putri Rachel kakakku??
Tiba-tiba Mitha teringat saat Lala mendonorkan darah untuknya.
Dia memang begitu mirip dengannya, kenapa aku tidak mengenalinya lebih cepat,
Shelomita segera menghubungi assisten pribadinya untuk menyelidiki Lala.
********
Dhiv kemudian memberitahu Lala untuk segera bersiap-siap karena ia akan mengajaknya kembali ke Bandung.
Sammy bertanya kepada Dhiv kenapa ia tiba-tiba ingin kembali ke Bandung. Dhiv menceritakan semuanya kepada Sam.
"Sepertinya Pak Dario sengaja ingin menyingkirkan anda agar tidak mengusik posisinya di DC Group, apa anda akan diam saja?" ucap Sam
"Biarlah, lagipula aku juga sudah mendapatkan DC Garment secara penuh jadi untuk apa lagi berdebat dengannya," jawab Dhiv
"Tapi jika saham Mas Dhiv digabungkan dengan punya Lala maka kalianlah pemilik saham terbesar di DC Group, apa kau tidak tertarik untuk menjadi CEO DC Group, bukankah kau bisa memindahkan ibumu ke Jakarta dan merawatnya di sini?" terang Sam
"Selama ini kau sudah berjuang untuk DC Group apa kau akan perusahaan ini begitu saja, lalu bagaimana nasib Mega Group?. Ingat kau juga harus memimpin perusahaan itu," imbuh Sam
"Kau benar Sam, lalu apa yang harus aku lakukan??" tanya Dhiv
"Tetaplah di sini, aku akan mengurus ibumu dan memindahkannya ke sini," jawab Sammy
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku akan tetap di sini. Thanks Sam sudah mengingatkan aku,"
***********
Wastu Kencana Ungu,
Mitha benar-benar tidak menduga. jika Lala benar-benar keponakannya.
"Jadi selama ini Rachel bersembunyi di Bandung, kenapa aku tidak menyangka dia adalah keponakan ku. Jadi ini alasannya kenapa Dario mengusir Dhiv dari DC Group dan memindahkannya ke DC Garment. Jika Ben tidak bisa menjadi CEO DC Group maka Dario pun tidak. Aku akan menggunakan Lala untuk menggiling Dario. Bukankah lebih baik jika Lala yang memimpin DC Group, lagipula perusahaan itu memang miliknya,"
Mitha kemudian menghubungi Dhiv dan memintanya untuk datang ke Wastu Kencana Ungu bersama Lala.
Malam itu juga Dhiv berkunjung ke Wastu Kencana Ungu sesuai undangan Mitha.
"Kenapa kau belum berangkat ke Bandung Dhiv?" tanya Dario
"Itu... itu karena Ibu yang memintaku menundanya," jawab Dhiv
Dario kemudian melirik kearah Shelomita.
Sebenarnya apa lagi yang direncanakan oleh nenek sihir itu??
"Benar sekali aku memang yang melarang Dhiv kembali ke Bandung. Lagipula dia akan menikah dengan keponakan ku jadi aku harus menyiapkan pesta yang meriah untuknya bukan?" jawab Shelomita membuat Dario tercengang
Bagaimana ia tahu jika Lala adalah keponakannya??
Shelomita mendekati Lala yang duduk diam di samping Dhiv.
"Apa maksudmu??" tanya Lala
Melihat kebingungan di wajah Lala membuat Shelomita langsung memperlihatkan sebuah foto keluarga kepada gadis itu.
"Lihatlah baik-baik foto itu," ucap Mitha
Lala mengerutkan keningnya saat melihat sosok ibunya ada di foto tersebut.
"Kenapa Ibuku ada di foto ini!?"
"Karena ibumu adalah kakakku sekaligus pewaris sah DC Group," jawab Shelomita
"Tidak mungkin," sanggah Lala
Shelomita kemudian memperlihatkan sebuah foto lagi dan memberikannya kepada Lala.
"Ini adalah wajah ibumu saat masih remaja, dia begitu mirip denganmu bukan?" ucap Mitha meyakinkan gadis itu
Ia juga mengeluarkan sebuah gelang dan memperlihatkannya kepada Lala.
__ADS_1
"Dulu almarhum ayahku sengaja membuat gelang ini agar mudah melacak kami jika hilang, karena di gelang ini ada nama kami, aku yakin ibumu juga memiliki gelang yang sa dengan ku,"
Dhiv langsung mengeluarkan gelang pemberian almarhum ibu Lala.
"Benar, gelangnya sama dan ada namanya juga," ujar Dhiv
"Lalu apa maksud mu menyampaikan semua ini sekarang, kenapa tidak dari dulu, apa kau sengaja merahasiakannya selama ini?" tanya Dario
"Bukan aku yang menyembunyikan fakta jika Lala adalah keponakan ku, tapi kau yang berusaha menutupinya karena kau takut ia akan mengambil posisi CEO mu bukan??" sahut Mitha membuat Dario terkejut dan mendadak terkena serangan jantung
"Dasar kau wanita ja...." belum selesai Dario mengucapkan kata-katanya ia langsung jatuh pingsan di lantai sembari memegangi dadanya.
Suara sirine ambulance memecah keheningan malam.
Ketiga putra Dario terlihat cemas menunggu di depan ruang UGD.
Shelomita terlihat duduk sambil memainkan ponselnya. Meskipun wanita itu mencoba bersikap biasa namun gurat kekhawatiran terlihat jelas di matanya.
Seorang dokter keluar dari ruangan UGD dan memberitahukan kondisi Dario yang kritis dan memerlukan perawatan intensif di ruang ICU.
Malam itu sengaja Mitha menyuruh anak-anaknya untuk pulang, ia sendiri yang akan menjaga suaminya.
"Tapi sepertinya ibu juga kurang sehat, biar Dhiv saja yang menjaga ayah," ucap Dhiv
"Tidak perlu, aku baik-baik saja jadi biarkan ibu saja yang menjaga ayahmu," sahut Mitha
"Baiklah kalau begitu, aku pamit Bu," ucap Dhiv
Mitha terlihat menatap nanar sosok suaminya yang terbujur tak berdaya dihadapannya.
"Maafkan aku sayang, meskipun aku begitu membencimu tapi tetap saja aku takut kehilangan dirimu. Aku harap kau segera bangun agar kita bisa bertengkar lagi, maafkan aku," ucap wanita itu terisak
Semalaman terjaga membuat Mitha begitu mengantuk. Wanita itu perlahan memejamkan matanya saat suara kicau burung mulai terdengar.
Dario perlahan menggerakkan tangannya, dan mencoba meraih sesuatu.
"Mi...mi...tha...." panggilannya dengan suara lirih
Samar-samar Mitha membuka matanya saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Astagfirullah!!" Mitha segera menghubungi dokter saat melihat suaminya tiba-tiba kejang
Mitha terlihat begitu cemas menunggu kabar tentang keadaan suaminya. Wajahnya terlihat pucat dengan lingkar mata panda yang menandakan kelelahan jiwanya.
Ia segera berlari menghampiri sang dokter saat keluar dari bangsal perawatan suaminya.
"Bagaimana keadaan suamiku dok?" tanyanya cemas
__ADS_1
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sepertinya Tuhan lebih menyayanginya,"
Tiba-tiba Mitha merasakan seisi ruangan itu menjadi gelap.