
"Aww!!" Lala menjerit kesakitan saat Rani menjambak rambutnya
"Aku pastikan kau akan menyesal karena sudah menyukai suamiku, dan aku juga akan membuat semakin menderita jika kau tetap menyukainya apalagi berusaha mendekatinya. Ingat Lala Dhiv itu hanya milikku dan aku akan melakukan apapun demi mendapatkan hatinya," ucap Rani sambil menjambak rambut gadis itu
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, karena semakin kau menyiksaku maka kebusukan mu akan semakin terkuak," jawab Lala menyeringai
"Dasar jal*ng beraninya kau melawanku!" seru Rani berusaha menampar wajah Lala
Namun gadis itu langsung menahannya dan menendangnya hingga ia terhempas menghantam furniture.
"Aww!!" Rani langsung mengambil benda apapun di depannya dan melamparnya kearah Lala
Sebuah vas bunga berhasil menghantam kening Lala hingga darah segar mengucur di pelipisnya.
Melihat Lala mulai pusing membuat Rani langsung mendekatinya. Ia langsung mendorong gadis itu dan bersiap melayangkan pukulannya.
"Lepaskan dia Rani!" seru seorang lelaki paruh baya membuat Rani langsung melepaskan Lala
Lelaki itu berjalan mendekati Rani dengan wajah bengisnya membuat Rani ketakutan.
Rani begitu ketakutan melihat wajah bengis Edwin. Ia paham betul bagaimana murkanya sang ayah jika ia melakukan hal yang dilarang olehnya. Ia segera melepaskan Lala dan mundur menjauhi Edwin yang mendekat kearahnya.
"Maafkan aku ayah, aku tidak akan melakukannya lagi!" seru Rani saat lelaki itu hendak mengayunkan tangannya
"Ampun!" serunya saat Edwin terus memukulinya.
Ia kemudian memberikan sebuah pisau kepadanya, "Ambil pisau ini dan iris lenganmu!" seru Edwin
"Aku tidak mau ayah, aku tidak mau terluka lagi. Luka di perutku belum sembuh, aku mohon ayah jangan siksa aku lagi. Aku janji akan tidak akan menyakiti Lala lagi, aku janji!" ucap Rani bersimpuh memohon kepada Edwin
"Kalau kau ingin tetap bersama Dhiv maka kau harus melakukannya, karena jika tidak Dhiv pasti akan percaya kepada gadis itu dan meninggalkan dirimu karena telah menyakiti wanita yang ia cintai," ucap Edwin mengusap lembut rambut Rani
Rani terisak menatap belati di tangan Edwin.
"Aku melakukan semua ini karena ayah sayang sama kamu, aku ingin kau hidup bahagia bersama lelaki yang baik dan mencintaimu, sekarang lakukanlah sayang," ucap Edwin memberikan pisau itu padanya
__ADS_1
Dasar psikopat, aku baru tahu ada ayah yang tega melukai putrinya seperti itu.
Rani gemetaran mengambil pisau itu, ia terlihat lebih ketakutan saat melihat ayahnya tersenyum. Baginya senyum Edwin adalah sebuah senjata yang lebih mematikan daripada belati.
Kasian sekali Rani, ia juga terpaksa menusuk perutnya sendiri hanya karena perintah ayahnya,
Lala benar-benar tidak menduga jika Edwin yang terlihat begitu baik ternyata seorang psikopat.
"Tidak usah menyakiti dirimu Ran, aku tidak akan mengatakan apapun kepada Dhiv tentang kejadian hari ini," ucap Lala
Entah Kenapa gadis itu tiba-tiba merasa iba melihat Rani yang sudah babak belur dihajar oleh ayahnya sendiri.
"Sebaiknya kau jangan ikut campur jika tidak mau mengalami hal yang sama dengan putriku. Aku bisa saja menyingkirkan dirimu saat ini juga, tapi belum saatnya. Aku masih membutuhkan dirimu untuk tetap disini agar aku bisa mengendalikan Dhiv," ucap Edwin penuh penekanan
"Cepat lakukan Rani, atau aku yang akan melakukannya!" hardik Edwin membuat Rani langsung menyayat tangannya hingga darah segar langsung mengucur di lantai.
Suara bel membuat Edwin langsung melepaskan Lala, ia segera membisikkan sesuatu kepada Rani sebelum bergegas membukakan pintu rumahnya.
Senyumnya mengembang saat melihat Dhiv berdiri di depan pintu.
"Memangnya ada apa ayah?" tanya Dhiv
"Lihatlah sendiri di ruang tengah, aku juga terlambat tiba di rumah," ucap Dario dengan wajah gusar
Dhiv segera masuk ke ruangan tengah untuk melihat apa yang terjadi.
Ia terkejut saat melihat Lala dan Rani terlihat kacau. Rani terlihat terisak sambil memegangi tangannya yang terluka.
"Apa yang terjadi?" tanya Dhiv penasaran
"Lala menyerang ku, dia berusaha melukaiku karena mengira aku sudah menjebak mu," jawab Rani tersedu-sedu
Dhiv langsung menatap Lala, ia tahu pasti jika Lala tidak aka pernah membuat keributan jika tidak ada yang memulainya.
"Kalau memang Lala sudah menyakiti mu, kenapa kau tidak memecatnya saja, atau kalau tidak laporkan saja ke polisi agar ia tahu bagaimana rasanya mendekam dalam bui," ucap Dhiv sambil mengusap air mata Rani
__ADS_1
"Sudahlah masalah seperti ini jangan di besarkan lagi, aku yakin Lala tidak sengaja mengucapkannya. Lagipula kau juga terlalu emosi ingat perutmu bisa terluka lagi kalau kau sering berbicara lantang," ucap Edwin mencoba berakting di depan Dhiv
"Sekarang sebaiknya kau ganti baju, aku akan mengantarmu ke klinik," ucap Edwin menghampiri Lala
"Tidak perlu, biar aku saja yang akan mengurusnya!" seru Dario tiba-tiba memasuki ruangan itu
"Biar aku yang akan memberi pelajaran kepada jal*ng itu agar ia tidak menyakiti memantu ku lagi. Kau jangan terlalu baik dengan dia Ed karena kau tidak tahu siapa dia, dibalik wajah polosnya dia adalah gadis yang licik dan penuh tipu muslihat jadi sebaiknya kau tidak membiarkan dia mendekati Rani. Kalau kau mau aku bisa mencarikan assisten pribadi yang lebih cekatan dan dapat diandalkan tentunya dia lebih baik dari Lala," ucap Dario
Ia kemudian menghampiri Lala dan menatapnya tajam.
Kenapa aku baru sadar jika dia memang begitu mirip dengannya, andai saja aku tahu lebih awal mungkin semuanya tidak akan seperti ini,
Dario kemudian menarik lengan Lala membuat gadis itu mengepalkan tangannya.
"Tidak usah repot-repot Rio, aku bisa menyelesaikannya sendiri, lagipula ini masalah keluargaku jadi aku tidak mau melibatkan orang lain ikut campur dalam urusan keluarga kami," tolak Edwin
"Kenapa kau menganggap ku orang lain, bukankah kita sudah menjadi keluarga sejak Dhiv menikah dengan Rani, jadi masalah ini adalah masalah aku juga, apalagi ini menyangkut kelangsungan pernikahan mereka. Aku tidak akan membiarkan jal*ng ini merusak kebahagiaan rumah tangga putraku," ucap Dario kemudian membawa Lala pergi meskipun Edwin tak mengizinkannya.
Sial, apalagi yang kau rencanakan Rio!
Edwin tidak bisa berbuat apa-apa saat Dario membawa pergi Lala dari tempat itu.
Dario melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah klinik.
"Sekarang ceritakan semua padaku apa yang mereka lakukan padamu. Tidak usah takut aku ada di pihak mu sekarang," ucap Dario menatapnya sendu
Lala menatap malas kearah Dario, ia tahu betul lelaki licik sepertinya pasti punya motiv tertentu hingga tiba-tiba baik padanya.
"Kalau kau sudah melihat semuanya yang terjadi kenapa masih bertanya padaku?" jawab Lala sinis
"Jadi kau melihat ku rupanya," sahut Dario tersenyum kecut
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan kenapa masih membawa ku pergi dari rumah itu, jangan bilang kau juga akan memanfaatkan aku seperti Pak Edwin,"
"Aku hanya ingin membantumu mengobati luka-luka mu saja dan kali ini aku benar-benar tidak punya niat jahat padamu La," jawab Dario
__ADS_1
"Kalau cuma luka ini aku bisa mengobatinya sendiri, kalau kau ingin membantuku maka bantulah putramu keluar dari Neraka itu,"