
"Sebaiknya kau tinggal di Wastu Kencana Ungu menemaninya, bukankah berbahaya jika kau membiarkan dia jauh darimu. Aku yakin situasi akan semakin memanas saat Direktur mengumumkan siapa ahli waris yang akan menggantinya,"
Sam berusaha membujuk Dhiv agar mau tinggal di kediaman keluarga besar Dario. Meskipun ia tahu Dhiv tidak akan pernah mau mendengarkannya namun ia yakin hanya itu satu-satunya cara agar semua orang tidak mencurigai Pernikahannya kelak.
Dhiv masih belum bisa memutuskan, lelaki itu masih enggan untuk tinggal di Wastu Kencana Ungu mengingat apa yang dilakukan oleh keluarga itu kepada ibunya.
"Maaf Sam, aku tidak bisa!" jawab Dhiv
lelaki itu kemudian bersiap-siap untuk menghadiri undangan sarapan pagi dari ayahnya.
"Ayah ingin mengumumkan sesuatu, jadi datanglah ke Wastu Kencana Ungu pagi ini,"
Di tempat berbeda Raffael juga bersiap-siap menuju Wastu Kencana Ungu setelah menerima pesan singkat dari ayahnya.
Sebenarnya apa yang akan diumumkan oleh orang tua itu sehingga harus pagi-pagi buta seperti ini.
"Bagaimana penampilan ku?" tanya Raffa kepada assisten pribadinya
"Perfetto!" jawab wanita itu mengacungkan jempolnya
"Grazie, Shopia," sahut Rafael kemudian bergegas meninggalkan kamarnya
Shopia segera membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan lelaki itu masuk kedalamnya.
"Terimakasih Shopia," Raffael kemudian memasang sabuk pengamannya dan melesat menuju Wastu Kencana Ungu.
Setibanya di tempat itu Shelomita begitu tercengang melihat kedatangannya.
Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Dario, hingga ia juga mengundang berandal itu!
"Selamat pagi Ibu," sapa Raffa saat melihat Shelomita sedang melakukan yoga di halaman rumahnya.
"Selamat pagi Raffa. Wah ... angin apa yang membawa seorang berandal pembangkang seperti mu kembali ke Wastu Kencana Ungu?" sindir Shelomita
Raffa hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan wanita itu.
"Apa Ibu tidak tahu kalau ayah akan menjadikan aku seorang CEO untuk membantunya mengurus DC Group,"
"Jangan terlalu percaya diri, sebaiknya kau urus dulu hidupmu sendiri sebelum mengurus perusahaan," sahut Shelomita
"Sepertinya ayah begitu frustasi saat aku selalu menolaknya sehingga ia sampai meminta anak gundik itu kembali kesini. Sebaiknya ibu harus hati-hati jangan sampai posisi CEO jatuh kepada anak gundik itu!" cibir Raffa menatap lekat kedatangan
Dhiv kemudian menghampiri keduanya dan menyapanya.
"Pagi Ibu, pagi kak Raffa??"
__ADS_1
"Pagi Dhiv, lama tak bertemu, sepertinya kau terlihat makin tua dari usiamu!" sahut Raffa mengejeknya
"Benar, terimakasih atas perhatiannya," jawab Dhiv kemudian berlalu pergi
Lelaki itu segera mencari Lala setibanya di dalam rumah.
Dimana dia, kenapa tidak ada di kamarnya??
Dhiv begitu terkejut saat tahu Lala tidak ada di kamarnya.
Ia kembali mencari gadis itu di taman, namun ia tetap tak menemukannya juga.
"Hmm, wangi sekali pasti sangat enak rasanya," Raffa segera mengambil mencicipi hidangan yang ada dihadapannya
"Plakkkk!!
"Awww!!" lelaki itu berteriak kesakitan saat Lala memukul tangannya dengan keras
"Dasar tidak sopan, siapa yang menyuruhmu menyentuh makanan itu!" hardik Lala
"Apa kau tidak mengenalku?" tanya Raffa
"Siapapun dirimu aku tidak peduli, yang jelas kau dilarang menyentuh makanan itu sebelum kepala keluarga ini mencicipinya, apa kau mengerti," sahut Lala bertolak pinggang
"Cih kuno sekali, baiklah kali ini aku memaafkan mu, aku yakin kau pasti art baru sehingga tidak tahu siapa aku,"
"Kau... berani sekali kau menyentuh ku!" seru Raffa begitu geram
Melihat Raffa marah tak membuat Lala takut ia justru semakin membuat Lelaki itu geram dengan terus menentang ucapannya hingga keduanya saling adu mulut.
Mendengar kegaduhan di dapur membuat Shelomita langsung turun tangan untuk mendamaikan keduanya.
"Sebaiknya kau minta maaf pada Raffa, lagipula dia calon kaka ipar mu jadi tidak seharusnya kalian bertengkar," tukas Shelomita
"Kaka ipar??" tanya Lala begitu terkejut mendengarnya
"Benar, dia adalah putra pertama keluarga Dario Caffaso, Raffael Caffaso," jawab Shelomita memperkenalkan Raffa kepadanya
"Kalau aku adalah calon kakak iparnya, apakah dia calon istri Dhiv??" Raffa terlihat mengerutkan keningnya saat menatap lekat wanita didepannya
"Benar, dia calon istri adikmu, jadi bersikaplah yang sopan padanya," sahut Shelomita
"Wah aku tidak percaya, benarkah kau adalah calon istri Dhiv??" lelaki itu tak percaya saat melihat penampilan Lala
Ia tahu betul jika Lala bukanlah type gadis yang disuka oleh adiknya.
__ADS_1
"Tidak mungkin kau calon istri Dhiv, aku tahu betul bagaimana selera adikku," lelaki itu kemudian mendekati Lala
Pria itu sengaja mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu padanya.
"Sebaiknya kau harus hati-hati jika tidak ingin semua orang tahu kalau kalian bukanlah pasangan kekasih," bisiknya
"Ehemm!!"
Raffa segera melepaskan Lala saat mendengar suara Dhiv.
"Apa kekasih ku begitu cantik hingga membuat mu begitu terpukau dengannya?" sindir Dhiv
"Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengannya tapi tiba-tiba aku tertarik saat tahu dia adalah kekasih mu, jadi sebaiknya kau jaga kekasih mu agar tidak terpikat denganku," sahut Raffa mengerlingkan matanya
Ia kemudian meninggalkan keduanya.
Dhiv segera mendekati Lala dan mencoba menyemangatinya.
"Jangan dengarkan ucapannya, dia adalah seorang Casanova jadi kau perlu hati-hati dengannya, jangan terlalu dekat apalagi akrab dengannya. Karena berbeda dengan yang lainnya ia lebih peka dengan masalah seperti ini. Jadi waspadalah!" ucap Dhiv menepuk pundaknya
"Tentu saja aku tahu, tapi kau tidak usah khawatir, kau dengar sendiri kan jika ia sama sekali tidak tertarik denganku, so jangan cemas, aku bisa menahan diri untuk tidak tertarik padanya meskipun sebenarnya dia adalah type ku," jawab Lala kemudian segera berlalu
Dhiv menyusul gadis itu menuju beranda rumah.
Dario baru selesai jogging menghampiri keduanya dan mengajak mereka untuk segera menuju ke ruang makan.
Semuanya anggota keluarga terlihat sudah duduk di kursi masing-masing. Dario kemudian memperkenalkan Lala secara resmi kepada keluarganya.
Tidak lupa Dario juga memperkenalkan saty persatu anggota keluarganya kepàda Lala.
Ia kemudian mempersilakan wanita itu duduk, dan mempersilakan semuanya untuk menikmati sarapan pagi mereka.
Setelah selesai makan Dario menepati janjinya dengan memberitahukan alasan dia mengumpulkan keluarganya pagi itu.
"Seperti yang kalian dengar, aku akan segera menunjuk salah satu dari kalian untuk menjadi tangan kananku sekaligus pengganti ku saat aku pensiun nanti. Aku sudah terlalu tua untuk mengurus DC Group jadi sudah saatnya aku harus mempersiapkan salah satu dari kalian untuk menjadi pimpinan DC Group."
"Apa ayah akan mengadakan kompetisi untuk kami bertiga?" tanya Ben begitu penasaran
"Tentu saja tidak, selama ini aku sudah mengamati kalian jadi aku tak perlu lagi mengetes skill manajemen kalian. Aku sudah menentukan seseorang yang akan menjadi penerus ki, namun aku tidak akan egois karena bukan hanya aku yang akan memilih kalian namun semua direksi dan pemegang saham. Jadi tugasku hanyalah mengajukan calon kepada mereka dan keputusan selanjutnya ada ditangan mereka," terang Dario
"Lalu siapa yang ayah pilih??" tanya Raffa melirik kearah Dhiv
"Karena Ben akan mewarisi perusahaan istrinya maka aku menetapkan Dhiv untuk menjadi tangan kananku, aku yakin dengan kemampuan bisnisnya dia akan bisa mengembangkan DC Group,"
Semua tercengang ucapan Dario.
__ADS_1
Jadi itukah alasannya kenapa Dhiv buru-buru menikah,