
"Kau juga wanita yang baik, aku yakin lama kelamaan hati Dhiv akan luluh, dan dia juga akan mencintaimu," jawab Lala
"Semoga saja begitu, aku juga sangat mengharap hal tersebut terjadi. Tapi aku tidak bisa banyak berharap karena sepertinya Dhiv juga sangat mencintai wanita itu dan tidak bisa melupakannya," sahut Rani
"Jika yang dimaksud adalah Clarissa, maka kamu salah. Dhiv sudah melupakan gadis itu,"
"Bukan Cla, tapi kamu?" jawab Rani membuat Lala tercengang mendengarnya.
"Janga berlebihan, kami hanya sebatas menikah kontrak dan kami juga tidak melakukan hal apapun selama kami menjadi pasangan suami istri. Hubungan yang begitu singkat mana mungkin akan menumbuhkan cinta yang begitu dalam," jawab Lala
Rani hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Lala.
Dasar munafik, aku juga tahu jik kau mulai menyukai Dhiv, hingga kau mengurungkan niatmu kembali ke kampung halaman mu bukan??
*******
Hari itu Dario keluar dari rumah sakit, seorang assistennya langsung membereskan barang-barangnya dan mengantarnya pulang.
"Hari ini aku ingin menjenguk istriku, aku ingin tahu bagaimana keadaannya di rumah barunya," tutur Dario sinis
"Baik Pak," jawab sang Sopir segera melesatkan mobilnya menuju rumah tahanan tempat Shelomita mendekam.
Lelaki itu tersenyum saat melihat sosok sang istri berjalan menghampirinya dengan menggunakan seragam khas seorang narapidana.
"Bagaimana rumah barumu, apa kau sangat nyaman tinggal di sana Atau kau begitu tersiksa hingga garis hitam di bawah matamu begitu terlihat," tanya Dario menyindirnya
"Aku kira kau sudah mati karena serangan jantung, tidak ku sangka kau masih hidup. Sebaiknya kau harus banyak-banyak beribadah, karena usia tidak ada yang tahu," sindir Shelomita membalas perkataan Dario
"Ternyata kau belum berubah juga Mitha, bahkan teralis besi tidak mau meluluhkan hati iblis mu,"
"Tentu saja para Iblis tidak berani mendekati aku karena aku istri dari raja iblis," jawab wanita itu menyeringai
Dario terkekeh mendengar jawaban istrinya itu. Ia kemudian menawarkan sebuah kesepakatan dengan wanita itu. Meskipun Dario berusaha membujuk istrinya agar ia mau menerima penawaran yang diajukan olehnya. Namun Mitha tetap teguh tah menerima tawaran lelaki itu.
"Apa kau tidak mau keluar dari sini?" tanya Dario
"Tentu saja aku sangat ingin keluar dari Neraka ini, tapi aku juga tidak mengharapkan bantuan darimu, aku bisa mengurusnya sendiri,"
"Jangan sombong Mitha, aku yakin kali ini kau akan kesulitan menghadapi Edwin. Kau belum mengenalnya, jadi suatu saat kau juga pasti akan membutuhkan bantuan ku," Terang Dario
Ia kemudian segera meninggalkan Dario dan kembali ke sellnya.
"Sekarang kau boleh mengacuhkan aku, tapi lihat saja nanti aku yakin kau pasti akan mencari ku," ucap Dario
__ADS_1
Lelaki itu kemudian bergegas meninggalkan rumah tahanan. Ia menyempatkan diri untuk melihat perkembangan kasus Shelomita sebelum meninggalkan tempat itu.
Dario tersenyum simpul saat melihat kasus itu akan segera disidangkan.
"Aku tidak peduli siapapun yang benar dalam kasus ini. Yang jelas aku bisa mengambil keuntungan dari kasus ini dan mengambil kembali perusahaan ku,"
*********
"Bagaimana, apa ada perkembangannya?" tanya Dhiv saat mengunjungi Jonas
"Belum ada perkembangan apapun hari ini, tapi aku akan segera memberitahukan semuanya jika ada kabar terbaru tentang Jonas," jawab Sam
Melihat Jonas yang belum sadarkan diri membuat Dhiv akhirnya memilih untuk pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah ia terkejut saat melihat Rani sudah pulang ke rumah.
"Bukankah kau harusnya masih harus dirawat di rumah sakit, lalu kenapa kau sudah pulang ke rumah?" tanya Dhiv
"Aku sengaja meminta pulang cepat karena aku tidak tahan lama-lama tinggal di rumah sakit. Aku bahkan bersedia untuk menggunakan kursi roda karena luka kakiku," sahut Rani
"Ya sudah terserah padamu saja aja, lakukan saja apa yang membuatmu senang," sahut Dhiv kemudian segera masuk ke kamarnya
Lala segera keluar dari kamar Dhiv setelah ia membereskan tempat itu.
Rani sengaja meminta Lala untuk mengantarkan minuman ke ruang kerja Dhiv.
"Thanks La," ucap Dhiv berterima kasih
"Sama-sama,"
Dhiv kemudian meminta Lala untuk merapikan buku-buku di ruangan itu. Lelaki itu terlihat begitu sibuk mencoba memasukan password yang diberikan oleh Sammy.
"Sial, kenapa tidak ada satupun yang cocok!" gerutu Dhiv
Melihat Dhiv terlihat putus asa membuat Lala menghampiri pemuda itu.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya Lala menawarkan bantuan kepadanya
"Coba masukan password ini ke email ini satu-persatu," jawab Dhiv memberikan selembar kertas berisi email.
Lala memperhatikan email-email tersebut satu persatu.
"Sepertinya ini bukan password email," ucap Lala memberikan kertas itu kepada Dhiv.
__ADS_1
"Kalau bukan password email lalu apa?" tanya Dhiv semakin penasaran
"Ini adalah password masuk laptop milik Pak Edwin," ucap Lala membuat Dhiv langsung membelalak.
"Darimana kau bisa tahu itu adalah password masuk laptop Ayah Edwin?" tanya Dhiv
Lala kemudian memberitahu Dhiv jika ia pernah mengerjakan laporan keuangan milik Dario menggunakan laptopnya.
"Apa kau yakin?" tanya Dhiv meyakinkan Lala
Lala kemudian memberitahukan Dhiv jika angka itu adalah tanggal pernikahan Edwin. Ia juga menyarankan kepadanya untuk mencobanya langsung di laptop Edwin yang ada di Mega Group.
Malam itu juga Dhiv langsung menuju ke Mega Group. Setibanya di sana ia segera menuju ke ruang kerja Edwin untuk memastikan jika kebenaran ucapan Lala.
"Syukurlah, tidak ada orang," ucap Dhiv langsung membuka laptop Edwin dan membukanya.
Seperti kata Lala ia memasukkan password itu untuk membuka laptop tersebut.
"Benar, ini adalah password milik ayah, tapi kenapa password ini ada di TKP hotel. Ia kemudian segera memasukkan laptop tersebut saat mendengar suara seseorang berjalan mendekati ruangan tersebut.
Edwin terlihat memasuki ruang kerjanya dan meletakan sebuah belati di laci meja kerjanya.
Lelaki itu segera keluar dari ruang kerjanya setelah menerima telepon dari seseorang.
Dhiv segera keluar dari tempat persembunyiannya dan membuka laci meja Edwin. Ia benar-benar shock saat melihat belllllllllkdi laci tersebut.
"Jadi beneran Ibu tidak menikamnya. Jika barang bukti ini ada di sini, bukankah seharusnya ada di kantor polisi??"
Ia kemudian mencocokkan photo belati milik dario dengan foto belati yang ada di ponselnya.
"Benar-benar sama,"
Dhiv berniat untuk mendatangi kantor polisi untuk memastikan apa barang bukti tersebut ada di sana atau tidak. Namun ia tiba-tiba mengurungkan niatnya saat melihat kode yang tertera pada pisau tersebut.
"Angkanya sama, tapi pisau yang ada di kantor polisi tidak memiliki nomor tersebut, dengan kata lain pisau di kantor polisi itu adalah palsu,"
Dhiv buru-buru meninggalkan tempat itu dan menghubungi Sam.
"Apa kau memiliki teman yang bekerja di bagian forensik??" tanya Dhiv
"Memangnya Kenapa?" jawab Sam balik bertanya
Dhiv kemudian menceritakan tentang penemuan pisau di ruangan Edwin.
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku saja yang membawanya ke sana," ucap Sam mengakhiri obrolannya.