Menikahlah Denganku Maka Aku Akan Menjadikan Mu Janda

Menikahlah Denganku Maka Aku Akan Menjadikan Mu Janda
Bersabar


__ADS_3

Shelomita begitu tercengang saat Edwin datang ke DC Group siang itu. Ia lebih terkejut lagi saat pria itu mengalihkan semua sahamnya atas nama Dhiv.


Ternyata ini alasannya kenapa Dhiv menikahi Rani. Ternyata dia mengikuti jejak ayahnya. Ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jika ayahnya adalah seorang adalah seorang bajing*n maka anaknya adalah seorang berandalan. Aki tidak akan membiarkan semua ini. Aku harus bertindak agar berandalan itu tidak bertingkah di depanku.


Malam itu juga Shelomita bergegas menuju Sahid Hotel tempat dimana Rani menginap.


Sementara itu Dhiv tengah mencari surat perjanjian cerai.


Dimana surat itu, aku yakin sudah menyimpannya di tasku, tapi kenapa tidak ada. Masa iya sih ada yang mencuri kertas itu??


Setibanya di hotel, Mitha segera menemui Rani. Wanita itu memang berniat mencari informasi dari gadis cantik mengenai pernikahannya dengan Dhiv.


"Eh tante, silakan masuk tan," ucap Rani segera mempersilakan Shelomita masuk


"Maaf aku tidak sempat datang ke pernikahan mu karena Om Dario sedang di rawat di rumah sakit," ucap Mitha kemudian menyerahkan hadiah untuk gadis itu


"Maaf aku juga tidak bisa memberikan hadiah yang sesuai keinginan mu," imbuhnya


"Tidak apa Tante, terima kasih sudah menyempatkan datang dan juga makasih kadonya," jawab Rani begitu sumringah


"Aku harap kau kau dan Dhiv bisa hidup bahagia selamanya. Meskipun dia bukan pitra kandungku tapi aku tahu jika Dhiv begitu baik hingga ia tetap memaksa menikahi mu meskipun pihak keluarga sudah melarangnya. Awalnya aku tidak suka jika Dhiv menikah denganmu karena aku pikir kau sudah menipunya dengan menyembunyikan kehamilan mu padanya. Bukankah suatu hubungan tidak akan berjalan dengan baik jika dimulai dengan kebohongan??. Itulah kenapa aku membongkar rahasia mu saat pesta pernikahan mu. Aku tidak mau Dhiv mengalami hal yang sama dengan ibunya. Aku ingin dia hidup bahagia dan menikah dengan wanita yang dicintainya," terang Shelomita


"Iya Tante aku mengerti," jawab Rani terlihat minder


"Jangan khawatir, Dhiv sudah menceritakan semuanya kepadaku, dan sekarang aku sudah merestui hubungan kalian. Bagaimanapun juga alasan Dhiv menikahi mu begitu mulia dan aku sangat terharu mendengarnya. Jadi aku mohon tolong bahagiakan putraku Dhiv," ucap Mitha menggenggam jemari Rani


Wanita itu seakan menangkap gelagat mencurigakan dari wanita itu.


Semoga saja Tante Mitha tidak datang untuk mengacaukan pernikahan ku lagi,


Rani kemudian meninggalkan Mitha sejenak untuk memesan makanan untuk ibu mertuanya itu.


Mitha kemudian mengambil selembar kertas yang terselip dalam sebuah Novel. Ia kemudian mengambil kertas itu dan membacanya.


Benar-benar gila, aku tidak menyangka Dhiv ternyata lebih gila dari ayahnya. Dia hanya menikahi Rani setelah itu menceraikannya. Wah benar-benar tidak punya harga diri, dia melakukan semua ini hanya demi mendapatkan saham keluarga Edwin. Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus memberitahu Edwin, aku harus mencegahnya agar ia tidak mengusik posisi Ben sebagai CEO DC Group,


"Tante mau kemana??" tanya Rani segera menahannya


Mitha langsung menghentikan langkahnya, Ia kemudian memberikan kertas ditangannya kepada Rani.


"Sekarang aku tahu kenapa Dhiv tetap ingin menikah denganmu," ucap wanita itu kemudian memberikan kertas itu kepada Rani


"Jangan bodoh Rani, meskipun kau begitu frustasi karena gagal menikah tetap saja kau tidak boleh melakukan hal konyol seperti ini. Apa dengan tetap menikah dengannya semua orang akan melupakan kehamilan mu???. Tidak Rani, mereka akan tetap mengecap mu sebagai wanita murahan karena memiliki anak diluar pernikahan. Kalau kau ingin membersihkan nama baikmu maka menikahlah dengan lelaki yang menghamili mu. Bukankah kalian saling mencintai??" ucap Mitha


"Stop menghakimi ku Tante, Dhiv melakukan semua ini karena Tante yang berusaha menggagalkan pernikahan kami. Memangnya apa salah jika aku mendapatkan lelaki yang lebih baik dan mau menerima ku apa adanya. Apa Tante memang tidak suka melihat pernikahan kami karena merasa Dhiv akan menjadi kompetitor yang akan mengusik kedudukan putra kandung Tante di DC Group??" sahut Rani


"Tolong kali ini tante jangan ikut campur, jangan pernah berpikir untuk memisahkan kami lagi karena kali ini, aku tidak akan membiarkan Tante melakukan hal itu lagi," ucap Rani mencoba merebut kembali kertas yang ada ditangan Rani


Keduanya kemudian terlibat pertengkaran sengit.


Sementara itu Dhiv terlihat berbinar-binar saat menemukan surat perjanjian pra nikahnya.


"Akhirnya ketemu juga, semoga setelah ini aku bisa memulai kehidupan baru dan merajut kebahagiaan yang tertunda bersama Lala. Tunggu aku sebentar lagi La," ucap Dhiv segera bergegas meninggalkan kamarnya


Ia segera bergegas menemui Rani di kamarnya. Ia tidak lupa membawa surat perjanjian pra nikahnya.

__ADS_1


Sementara itu Shelomita segera berlari keluar meninggalkan kamar Rani.


Sejenak Dhiv menghentikan langkahnya saat melihat bayangan seseorang berlari meninggalkan kamar Rani. Saat itu ia mengabaikannya karena ia mengira jika itu adalah pengunjung hotel.


Shelomita segera menuju rest room dan membersihkan darah yang menempel di bajunya.


Dasar gadis gila, tidak aku sangka dia akan nekad seperti itu. Semoga saja tidak ada yang melihat ku,


Mitha kemudian merapikan penampilannya dan buru-buru pergi meninggalkan toilet.


Kenapa pintunya tidak terkunci??


Dhiv segera masuk, betapa terkejutnya ia saat melihat Rani tergeletak bersimbah darah di kamar mandi.


"Tolong!" seru gadis itu melambaikan tangannya kepada Dhiv


*Tap, tap, tap!!


Shelomita berjalan mengendap-endap memastikan tidak ada seorangpun di kamar Rani. Namun wanita itu segera berlari keluar saat melihat Dhiv ada di tempat itu.


Sial, kenapa dia ada di sana, semoga saja dia tidak melihat ku,


Mitha segera menutupi wajahnya dengan Syall dan melesat meninggalkan hotel.


Dhiv segera menoleh kebelakang saat mendengar suara derap langkah kaki berlari meninggalkan kamar Rani. Saat ia berusaha mengejarnya, Rani melambaikan tangannya kepadanya.


"Tolong aku Dhiv!" ucap Rani dengan suaranya yang mulai melemah


Mendengar suara Rani membuat Dhiv mengurungkan niatnya dan menghampiri gadis itu.


"Siapa yang melakukan ini padamu??" tanya Dhiv


Melihat luka yang begitu serius dialami gadis itu membuat Dhiv segera menggendong gadis itu dan membawanya menuju ke rumah sakit.


*************


Sudah hampir dua jam Dhiv menemani Rani di bangsal perawatannya namun gadis itu beluk siuman juga.


Ia kemudian menghubungi Sam dan meminta bantuan pemuda itu untuk memeriksa kamar hotel tempat Rani menginap.


"Tolong cari bukti apapun di kamar itu, aku yakin pasti ada petunjuk untuk menemukan siapa pelaku penikaman Rani," ucap Dhiv


"Baik Mas, aku akan segera meluncur ke sana," sahut Sammy kemudian mematikan ponselnya.


Saat Sammy masuki kamar hotel lelaki itu terkejut karena kamar itu sudah di tempati oleh tami hotel.


Sepertinya ada yang tidak beres, aku yakin pelakunya pasti memiliki hubungan baik dengan pihak hotel hingga mereka bisa membuat pihak hotel langsung membersihkan jejak mereka.


Setelah berhasil bernegosiasi dengan penghuni kamar tersebut, Sammy akhirnya mendapatkan ijin untuk masuk dan memeriksa kamar tersebut.


Ia segera memeriksa kamar mandi tempat ditemukan Rani bersimbah darah, sammy tidak menemukan apapun kecuali kertas kecil bertuliskan angka-angka seperti sebuah password.


Ia tidak bisa memeriksa tempat tidur karena semua peralatan sudah di ganti oleh pihak hotel.


Ia kemudian mencoba menemui pihak hotel dan meminta ijin untuk melakukan pemeriksaan di ruang dry cleaning.

__ADS_1


Sammy mencoba mengaduk-aduk tumpukan sprei kotor. Namun ia tidak menemukan sprei dari kamar Rani.


"Sial!" pekik lelaki itu menendang gunungan tumpukan sprei di depannya.


*********


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Dhiv sudah tak bisa menahan kantuknya. Ia kemudian terlelap di samping brankar Rani.


Tiba-tiba Rani membuka matanya, "Haus," ucap gadis itu menggerakkan tangannya mencoba menggapai lengan Dhiv


"Haus," ucapnya lagi


Dhiv kemudian terbangun saat mendengar suara Rani. Ia terkejut saat melihat gadis itu sudah sadar.


"Maaf aku terlelap sekejap, apa kau sudah lama bangun?" tanya Dhiv


Rani menggelengkan kepalanya, gadis itu kemudian menunjuk botol air mineral di atas meja.


"Kamu pasti kehausan ya, tunggu sebentar," ucap pemuda itu kemudian menuangkan segala air mineral ke gelas dan memberikannya kepada Rani.


Ia membantu gadis itu bangun dan meminum air itu perlahan-lahan.


Dhiv segera menghubungi perawat dan memberitahukan jika Rani telah siuman.


Tidak lama seorang dokter memasuki ruangan itu bersama seorang perawat. Ia kemudian memeriksa kondisi bekas jahitan Rani.


"Setelah ini kamu sudah boleh makan, dan bisa mulai berlatih berjalan ya. Pelan-pelan saja jalannya agar jahitannya tidak terbuka lagi," pesan sang dokter


"Baik dok, Terimakasih,"


Dokter kemudian meninggalkan ruangan itu, dan seorang perawat masuk membawakan makanan untuk Rani.


"Sekarang ayo makan," ucap Dhiv


Rani menggelengkan kepalanya, namun dengan lembut Dhiv merayu gadis itu agar mau makan.


"Makanlah walaupun hanya satu suap, itu hanya untuk syarat agar perutmu kembali terisi. Kasian loh cacing-cacing diperut kamu sudah kelaparan berjam-jam," bujuk Dhiv


Ia kemudian menyuapi gadis itu pelan-pelan. Entah kenapa tiba-tiba Rani menangis, gadis itu benar-benar terharu dengan perlakuan lembut Dhiv hingga air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.


"Awww!!" ia seketika meringis kesakitan sambil memegangi perutnya


"Makanya jangan menangis dulu, pasti jahitan mu masih basah hingga akan sakit saat kau tertawa, menangis batuk dan bersin," ucap Dhiv memperingatkannya


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Rani


"Karena aku pernah merawat ibuku yang juga pernah mendapatkan jahitan di perut saat ia keguguran," jawab Dhiv


Selesai menyuapi Rani Dhiv kemudian membantu gadis itu belajar berjalan.


Melihat Rani yang begitu lemah dan tidak mau melanjutkan latihan berjalan membuat Dhiv harus sabar untuk membujuknya. Karena bagaimanapun juga tidak mungkin baginya untuk meninggalkan gadis itu saat ia dalam keadaan lemah dan terluka.


Sabar Dhiv, percayalah badai pasti berlalu.


Dhiv berusaha menyemangati dirinya agar sabar menghadapi sikap manja dan lemah Rani yang mudah menyerah.

__ADS_1


Sementara itu Sammy berhasil menemukan petunjuk dari angka yang ditemukan di kamar mandi hotel tempat Rani menginap.


"Aku yakin ini adalah sandi sebuah email, lalu email siapa??, apa email Rani atau email si pembunuh?" ucap Sammy


__ADS_2