
Mengetahui Rani sudah siuman membuat Edwin Langsung menemuinya. Lelaki itu segera menjenguknya dan menginterogasi gadis itu.
"Katakan pada ayah, siapa yang melakukan semua ini padamu?" desak Edwin
Rani terlihat menerawang, gadis itu ingin memberitahu sesuatu kepada ayahnya namun ia begitu takut untuk mengatakannya.
"Jangan takut sayang, ayah akan melindungi mu. Sekarang ayah sudah menempatkan dua orang bodyguard untuk menjagamu. Jadi jangan takut lagi, ayah pasti akan melindungi mu," ucap Edwin menambahkan
Rani kemudian membisikkan sesuatu kepada lelaki itu. Edwin membelalak saat mendengar Rani mengucapkan sebuah nama yang sangat familiar di telinganya.
"Tidak mungkin," ucap Edwin tidak mempercayainya
Namun Rani kemudian menjelaskan detail peristiwa yang ia alami petang itu.
Edwin yang sudah tak bisa menahan emosinya segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Rani yang ketakutan ayahnya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, ia kemudian meminta Dhiv untuk mencegah sang ayah.
Dhiv yang tidak tahu apa-apa bertanya kepadanya, apa yang sudah membuat Edwin begitu murka.
Mau tidak mau Rani juga memberitahukan Dhiv siapa yang berusaha membunuhnya.
Seperti Edwin, Dhiv juga tidak percaya dengan ucapan Rani. Ia kemudian segera meninggalkan Rani dan menyusul Edwin.
*Wastu Kencana Ungu
Shelomita begitu tercengang saat melihat polisi menyambangi kediamannya. Ia lebih terkejut lagi saat mereka memberikan surat penangkapan kepadanya.
"Saudari Shelomita kami anda tahan atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap Saudari Rani Shareena Edwin," ucap salah seorang polisi dan langsung memborgolnya
"Ini tidak benar, ini semua fitnah Pak!" seru Shelomita meronta mencoba melepaskan diri
"Anda sebaiknya menghubungi pengacara untuk membela anda, tolong bersikaplah cooperative agar kami juga bisa berlaku santun kepada anda," ujar sang Polisi
Mitha kemudian meminta diberikan kesempatan untuk menghubungi pengacaranya sebelum dibawa ke kantor polisi.
Setelah menghubungi pengacaranya, Shelomita dibawa ke kantor polisi untuk di interogasi.
Ratih yang melihat kejadian itu segera menghubungi suaminya untuk memberitahukan apa yang terjadi kepada Ibu mertuanya itu.
Dhiv sedikit kecewa saat mendapati Polisi sudah membawa Mitha keluar dari Wastu Kencana Ungu.
Ia kemudian menyusul wanita itu ke kantor polisi.
__ADS_1
"Percayalah padaku Dhiv, aku tidak pernah melakukan hal itu kepada Rani. Semuanya adalah fitnah. Meskipun aku begitu kesal dengan gadis itu tapi aku masih waras untuk melakukan hal-hal kriminal yang justru akan merugikan diriku sendiri. Kau tahu benar siapa ibumu ini, jadi tolong percaya padaku dan bantu aku keluar dari sini," tutur Shelomita memohon bantuan Dhiv
"Aku juga sudah memerintahkan Sam untuk menyelidiki kasus ini, tapi Sam bilang dia tidak menemukan apapun di TKP," sahut Dhiv
"Tentu saja, itu karena dia sengaja menghapus semua barang buktinya," jawab Mitha
"Dia siapa Bu?" tanya Dhiv
"Tentu saja Rani lah, memangnya siapa lagi wanita gila yang rela menyakiti dirinya hanya untuk bisa tetap menjadi istrimu," ucap Mitha membuat Dhiv ternganga
"Maksud Ibu ia sengaja melukai dirinya??" tanya Dhiv tak percaya
"Benar, kamu mungkin tak percaya karena aku tidak punya buktinya," sahut Mitha
"Tidak mungkin, dia sudah berjanji padaku akan pergi ke luar negeri setelah kami bercerai untuk melanjutkan kuliahnya," pungkas Dhiv
"Bohong, itu hanya alasannya saja agar kamu bersimpati padanya," ucap Mitha
"Sebaiknya kau temui saja Jonas mantan kekasih Rani, aku yakin dia akan memberikan banyak informasi mengenai gadis itu padamu," ucap Rani memberikan kartu nama Jonas pada Dhiv
Lelaki itu kemudian meninggalkan Mitha.
Ia kemudian menemui Sammy di apartemennya.
Tentu saja reaksi Sammy membuat Dhiv penasaran. Ia kemudian menanyakan hasil investigasi yang dilakukan oleh Sam, pemuda yang itu kemudian memberitahukan Dhiv jika ia tidak menemukan apapun di sana kecuali sebuah password email.
Dhiv kemudian memberikan menanyakan email Shelomita kepada Ben untuk memastikan apa benar itu password email wanita itu atau bukan.
Ben begitu cooperative memberikan alamat email ibunya kepada Dhiv.
Sammy berkali-kali memasukkan password itu ke semua email Mitha namun tidak ada satupun yang berhasil ia buka.
"Sepertinya itu bukan password email Bu Mitha," tutur Sammy
"Apa yang dikatakan Ibu benar?" ucap Dhiv mengingat perkataan Mitha saat di kantor polisi
"Apa yang dikatakan oleh Bu Mitha?" tanya Sammy
"Dia bilang bukan dia pelakunya, tapi Rani sendiri yang berusaha mencelakai dirinya," jawab Dhiv
Sammy terdiam sejenak sambil memikirkan ucapan Dhiv. Lelaki itu kemudian memikirkan tentang TKP yang sengaja di hilangkan hingga menghilangkan barang bukti juga.
"Entahlah, yang jelas pelakunya adalah orang yang berkuasa dan ia memiliki pengaruh yang kuat di hotel tempat pernikahan kalian diadakan," jawab Sammy
__ADS_1
Tidak lama ponsel Dhiv berdering. Rupanya Edwin menghubunginya memberitahukan jika polisi berhasil menemukan barang bukti berupa pisau yang digunakan untuk menikam Rani.
Pihak kepolisian akan menyelidiki sidik jari yang ada pada pisau tersebut dengan mengirimkan benda tersebut ke badan forensik mabes polri.
Sammy tersenyum sinis saat Dhiv memberitahukan jika ayah mertuanya berhasil menemukan barang bukti yang digunakan untuk menikam Rani.
"Memangnya ada orang lain yang lebih dulu datang ke kamar itu sebelum aku???" ucap Sammy bermonolog
Ia kemudian pamit untuk menemui penghuni kamar hotel tempat Rani menginap sebelumnya.
Ia berencana menanyakan kepada mereka siapa orangnya yang sudah menggeledah kamar itu sebelum kedatangannya.
Penghuni kamar begitu bijak dan menjawab semua pertanyaan Sammy.
"Apa ada orang yang lebih dulu datang ke kamar ini sebelum saya datang menggeledah kamar ini?" tanya Sammy
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, hanya ada satu-satunya orang yang saya ijinkan masuk untuk mengecek tempat ini," jawab penghuni kamar tersebut
"Kalau anda ingin tahu siapa yang masuk kamar ini pertama kali sebelum saya datang, jawabannya adalah office boy atau office girl hotel ini. Karena merekalah yang bertugas membersihkan kamar hotel setelah pelanggan melakukan check out. Coba saja tanyakan kepada pihak hotel, aku yakin mereka tahu siapa yang bertugas membersihkan kamar ini setelah penghuni sebelumnya meninggalkan kamar ini," terang penghuni kamar hotel
"Baiklah, terimaksih atas informasinya," jawab Sammy
Ia kemudian pamit dan segera meninggalkan tempat itu.
"Kalau aku menanyakan pihak hotel, pasti mereka tidak akan memberitahukan aku siapa yang bertugas membersihkan kamar Rani hari itu, sebaiknya aku bertanya kepada office boy saja itu jauh lebih aman," Sammy kemudian menemui seorang office boy dan mengajaknya berbincang-bincang di tempat yang aman.
"Kalau kamar nomor 345 itu hanya diperuntukkan bagi tamu-tamu spesial hotel saja Pak, jadi tidak semua orang bisa menyewa kamar tersebut,"
"Jadi maksudnya kamar no 345 itu tidak untuk dikomersilkan??" tanya Sammy
"Benar, kalau tidak salah yang bertugas membersihkan kamar itu setelah ada kejadian pembunuhan adalah teman saya Jiman, seharusnya aku yang bertugas membersihkan kamar itu tapi karena shift kerjaku sudah selesai maka yang menggantikan adalah karyawan shift berikutnya,"
"Apa boleh aku meminta nomor telepon dan alamat Jiman?" tanya Sam
Pemuda itu kemudian memberikan nomor ponsel Jiman dan juga alamat rumahnya.
Seusai menginterogasinya office boy tersebut Sammy kemudian menuju alamat yang diberikan oleh sang Office boy.
"Apa benar ini alamatnya?" Sammy tampak ragu saat hendak mengetuk pintu bangun tua yang terlihat seperti gudang itu
Ia sedikit curiga saat mendapati kediaman sang Office boy yang begitu terpencil dan sangat jauh dari pemukiman.
*Bugghhh!!!
__ADS_1
Sammy jatuh tersungkur saat seseorang berhasil memukul tengkuknya dengan sebuah benda tumpul.