
flashback on
Tujuh tahun yang lalu..
" Buk..tolong. tolong berikan nomor telpon Sarah yang baru buk...". Satrio memohon pada mertuanya.
"maaf mas.. ibuk tidak tahu. mana tahu ibuk dengan hal begituan..?" jawab Riyati mertuanya.
" Saya sudah berusaha terus menelpon. kirim pesan, bahkan surat juga saya kirim buk. Tapi Dik Sarah tidak merespon saya buk.."
"mas..., ibuk tidak tahu masalah diantara kalian apa, tapi ibu mengenal putri ibuk dengan baik. dia tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan."
Dari nada bicaranya terasa ada sindiran untuk Satrio.
Tapi apa salahnya..? pikir Satrio. dia sungguh tak sampai memikirkannya.
" Seandainya saya bersalahtolong beri tahu saya, kesalahan apa yang sudah saya perbuat buk.."
" Saya mohon jangan begini buk.. Saya sangat menyayangi Sarah buk.." Satrio memelas. Sungguh dia sudah menurunkan harga dirinya.
"lebih baik mas Satrio beri ruang untuk Sarah berfikir. Mungkin juga kami orang tua yang terlalu memaksa hubungan perjodohan kalian. Harusnya kalian harus saling memahami satu sama lain."
Flash back off.
****
China Airlines mendarat cantik di bandara Chiang Kai Sek. Waktu menunjukkan pukul 20.00 waktu Taipei. Udara cukup dingin, karena musim gugur sudah datang. Daun-daun mulai berguguran di sepanjang jalan menuju kota Taipei.
Satrio berhasil mendapatkan beasiswa S3 di Taipe Nasional University. Semua Fasilitas diperolehnya. Asrama dan biaya hidup selama dua tahun.. Dia membulatkan tekadnya memilih Taipei sebagai kota tujuannya. Niatnya untuk mendapat gelar doktor juga sekaligus untuk mencari Sarah. Istrinya.
Satrio belum tahu jika ada Summer dalam hidup mereka.
Tujuh tahun berusaha ditahan olehnya segala rindu dan hasrat. Sarah menghilang dari hidupnya tanpa memberi alasan ataupun perpisahan.
Keluarganya juga seperti menutupi semua informasi tentang Sarah.
Tidak ada celah sedikitpun untuk berkomunikasi dengannya.
Satrio terus berusaha mencari tahu mengapa Sarah bersikap seperti itu. Tidak ada kata-kata putus atau pisah. Tidak pula ada perdebatan atau pertengkaran. Tiba-tiba akses komunikasi diputus, telepon dialihkan. Nomor Wa diblokir, surat dikembalikan karena sudah pindah alamat.
Mencari tahu ke keluarga dan kerabatnya nihil semua.
__ADS_1
Akhirnya Satrio menyerah. Benar kata mertuanya, mungkin Sarah perlu waktu untuk sendiri.
Yang satrio tidak habis pikir, apa kesalahannya hingga Sarah memutus hubungan dengannya tanpa aba-aba..
Satrio bukan seorang Sultan yang bisa menunjuk seseorang untuk mencari jejak istrinya dengan begitu gampang. Dia juga bukan milyarder yang bisa langsung terbang dengan jet pribadi menuju tempat istrinya berada. Dia harus menahan diri, mengumpulkan pundi-pundi untuk bisa mencari kekasih hatinya.
Satrio membunuh waktu dengan terus bekerja. Tidak ada sedikitpun waktu untuk bersantai ataupun berhura-hura.
Menulis artikel untuk surat kabar, menulis buku, mengisi seminar dan workshop menjadi kesibukannya selain mengajar.
Hidup sehemat mungkin agar bisa menyisihkan uang untuk biaya menyusul Sarah. Begitu inginnya menjumpai sang istri. Dia akan mengajaknya pulang ke tanah air. Membangun kembali mahligai rumah tangga dengan penuh cinta.
Hingga tak terasa tujuh tahun berlalu. Dia menepis semua anggapan bahwa dia tak mampu setia. Sarah harus melihat kesetiaannya. Satrio bisa buktikan cinta jarak jauh bisa dia lalui, jika itu adalah maksudnya. Mungkin dua tahun dahulu tidak cukup sebagai bukti, hingga dia butuh tujuh tahun lagi untuk mengetes cintanya. Apalagi setelah penyatuan mereka, apakah semuanya tidak berarti untuknya...
Semua kata-kata itu bermain di otak Satrio.
Sekarang kesempatan itu ada di depan matanya, dia berhasil mendapat beasiswa itu dan Taiwan adalah negara tujuannya. "Aku datang untukmu Sarah.." kata satrio di balik kaca mobil sedan Mercedes yang membawanya.
Agensi yang menjemputnya langsung mengantarkannya ke asramanya. Dia mendaftarkan diri di bagian receptionis. Kepala asrama membawanya ke kamarnya yang berada di lantai empat.
Satrio bisa melihat pemandangan kota yang kering. Debu sisa musim panas masih menghiasi dedaunan. Daun-daun yang berguguran mulai memenuhi jalanan.
Satrio punya waktu beberapa hari Sebelum kuliah di mulai.
*****
" Ada beberapa tenaga laborat yang berasal dari indo tuan. Jika tuan mau bisa sebutkan nama. Saya akan coba cari." kata gadis receptionis itu.
"Sarah Utomo" Jawab Satrio lancar.
Kemudian gadis itu mengetik nama di komputernya.
" Sarah Utomo tidak ada tuan. yang ada Sarah Kusumastuti tuan."
" Itu betul. Sarah kusumastuti. Apakah saya boleh mengunjunginya?. Saya kerabatnya dari Indonesia." Kata Satrio.
Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia suaminya Sarah. Toh pernikahan mereka belum di daftarkan ke kantor urusan agama. Jadi pernikahan mereka belum resmi. Dan ini adalah permintaan Sarah sendiri. Mengingat dulu saat menikah siri dia masih terikat kontrak, dan tidak ingin terbebani dengan status menikah.
Pandangan gadis itu meneliti wajah Satrio. Tidak ada senyum atau expresi apapun di wajah itu. Datarrr...
Tatapan mata itu membuat Satrio sedikit bergidik. Jika bertemu wajah begini di dekat kamar mayat pasti Satrio akan lari. Bau-bau alam lain. .. Pikiran Satrio kemana-mana.
__ADS_1
" Laborat ada di gedung seberang jalan ini Tuan. Anda bisa mencarinya di sana." Kata Gadis
"Bangunan berwarna putih dan list biru. Ada di basemant. Tulisan Laborat ada di depan pintu masuk." Tambah gadis itu. Name tag nya bertuliskan " kou ce" yang belum Satrio mengerti, jadi dia tidak tahu nama gadis itu. Tidak mungkin pula kan Satrio mengajak kenalan, nanti dikira dia ganjen, suka tebar pesona.
Tatapan Mata gadis itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Pandangannya menghujam sampai ulu hati Satrio. Seperti mau melucuti kumis dan jambangnya.
Tampang gondrongnya mungkin yang membuat gadis itu bermuka aneh. Secara cowok Taiwan kan klimis-klimis tidak suka pelihara jenggot, apalagi kumis setebal miliknya.
Setelah mengucapkan terima kasih dengan bahasa mandarin yang masih kaku, Satrio menuju gedung di seberang seperti arahan gadis tadi.
" Maaf Tuan.. nona Sarah dalam masa Cuti. Dua hari lagi baru beliau masuk." kata Wanita muda itu.
Dia seorang perawat yang bertugas menerima tamu yang datang berkunjung. Dilihat dari seragamnya, mungkin hanya seorang mahasiswa praktek.
" Maaf, apakah saya boleh tahu alamat tempat tinggalnya..? Saya kerabatnya dari Indonesia datang berkunjung." Kata Satrio.
--- Kreabat nona Sarah..? bukankah nina bilang tidak punya saudara laki-laki ya... Hanya nona Sinta yang sering video call, atau kang telepon ke kantor.--- pikir perawat itu.
" Maaf Tuan. Informasi pribadi dari pegawai tidak bisa sembarangan kami berikan kepada orang luar." katanya.
" Saya bisa mencatat pesan jika tuan mau."
" oh begitu. Yidak usah. Saya akan datang dua hari lagi. Yakin dia sudah berangkat jika dua hari lagi saya datang..?"
" Jika sesuai jadwal begitu Tuan. Nona Sarah ambil cuti seminggu dan tersisa waktu dua hari lagi."
"Baiklah. Terima kasih informasinya nona. Saya permisi.." kata Satrio yang berlalu dari ruangan tunggu laborat tersebut. Kecewa hati Satrio terlihat di wajahnya.
"hhhh.. paling tidak aku sudah menemukanya. menemukan tempatmu bekerja Dik. aku akan mengunjungimu lagi. Tentu saja. Dua hari lagi aku datang lagi Dik." Tekat hati Satrio.
Satrio melambai pada taxi yang parkir di samping halaman Rumah Sakit tersebut. Dia langsung menuju asramanya. Penat tubuhnya memaksanya untuk berbaring dan memejamkan mata. Lebih baik menyimpan energi untuk besok. katanya dalam hati.
Hari ini ada jadwal pertemuan di kampus, tapi waktunya sore. Jadi masih ada beberapa jam untuknya mengeluk pinggang.
Sisa penerbangan kemarin masih terasa penatnya.Satrio masuk ke mode sleep, dan terbuai mimpi.
" kok sekelebat bayangan anak berwajah tampan muncul di visionnya secara tiba-tiba ya. seperti Foto masa kacilku." pikir Satrio sambil mengucek matanya yang memerah.
...😴😴😴😴...
__ADS_1
Dream dream dream...
Kadang mimpi lebih indah dari kenyataan.