MERANGKUL CINTA

MERANGKUL CINTA
Khansya


__ADS_3

Musim gugur kali ini berbeda dengan musim-musim yang sudah berlalu. Kelahiran baby girl yang diberi nama memberi makna yang berbeda dalam hidup Sarah san Satrio. Rujuknya mereka, menikah secara resmi di kantor bantuan di kota Taipei, menghadirkan keharmonisan yang indah di antara mereka. Keluarga yang semula dikira tidak mungkin untuk Sarah ternyata menjadi kenyataan yang indah.


Dari waktu ke waktu baby Sya tumbuh menjadi gadis manis nan imut. Tingkahnya menggemaskan. Satrio yang mendapat undangan untuk kemvali ke Semarang pun ditolak karena Sarah tidak mau ikut. Satrio pun mengalah dan tetap berkarir di Taipei.


Setelah kelahiran baby Sya sudah dua kali mereka mengunjungi kampung halaman. Kunjungan pertama saat baby sya berumur tiga tahun. Dan kunjungan kedua baru-baru ini, ketika anak-anak sudah mulai remaja.


Summer pun sangat suka berada di kampung ibunya, baik keluarga bapak maupun keluarga ibunya sangat menyayanginya.


Neneknya , ibu dari ibunya, sudah tua tapi masih enerjik. Summer dan Sya sangat suka diajak ke kios. Mereka bahkan berinteraksi dengan pekerja di sana. Ada Hasbi dan Husna, anak dari tante Sinta yang menemani mereka dan membuat mereka sangat betah. Sementara kakek mereka sangat bersemangat membawa mereka ke kebon untuk mencari tangkapan binatang liar.


*****


15 tahun kemudian


.


.


Summer tumbuh menjadi pria tampan yang kharismatik. Keahliannya sebagai dokter bedah membuatnya sangat sibuk. Waktunya hampir dihabiskan untuk mengabdikan diri di Rumah sakit.



Saat pulang ke rumah orang tuanya pasti dalam keadaan lelah. Dedikasinya sangat tinggi. Bahkan dia tidak sempat memikirkan kehidupan asmaranya.


" Masa, dokter hebat dan seganteng kamu tidak punya pacar sih kakak..?" Ejek bapaknya.


" Pak Satrio sendiri menikah drngan bu Sarah saat usia berapa..?" Balas Summer. Satrio mengedutksn matanya menatap sang istri.


" Sudahlah mas... biarkan putramu menikmati masa muda dulu. Dia gila kerja seperti siapa..?" Sarah juga menyudutkannya .


"loh.. Ibuk malah membela putramu yang jomblo."


"Bukan jomblo, Mas cari istilah yang lebih berkah lah. Belum berjodoh. Kamu ingat Jimmy..? Dia berjodoh dengan gadis Indo dalam usia yang hampir empat puluh, sementara istrinya baru dua puluh lebih. freesh graduate. Tapi dia bahagia, mereka punya putri-putri yang cantik." kata Sarah.


" Setidaknya biarkan dia membangun kariernya dulu. jika dia merasa perlu dia akan minta dicariksn jodoh."


" Ibuk.. anak-anak sudah besar, dan rumah ini terasa sepi karena mereka jarang pulang. jika kita punya mantu terus bisa kasih kita cucu untuk meramaikan rumah ini lagi."

__ADS_1


Sarah tersenyum dan mengelus janggut Satrio suaminya, Satrio balas mengecup bibir Sarah dalam dan lama seolah tidak ingin dilepas.


Summer sudah terbiasa melihat kebucinan kedua orang tuanya, bahkan sampai usia setua ini juga masih bucin dan suka pamer.


Summer kadang dibuat illfeel dengan sikap ibu bapaknya.


" Enggak usah lihat kami seperti itu. Makanya cepat cari jodoh supaya bisa niru kemesraan kami dan segera kasih kami cucu." kata Satrio.


" Buk. ibuk masak apa..? Summer belum makan. Lapar pingin makan masakan ibu." kata Summer berusaha mrngalihkan pembicaraan sang ayah.


" Bapak sekalian buk, biar boboknya nyenyak." Summer meledek sang bapak.


" Ngece kamu Le. Bapakmu sudah makan. nanti perutnya tambah buncit jika disuruh makan terus." Kata Satrio.


" Tidak apa-apa to Pak. malah bisa untuk duduk bayi, jika nanti Summer punya anak." kata Summer.


" Heelah iki wong loro nek ketemu kok ora tau akur to.. anane saling ngejek, saling membuli." Sarah datang dan menyajikan makanan yang tadi sudah sempat masuk kulkas, dia panaskan sebentar di microwive.


"Orapopo yo. kalau tidak begini tidak seru yo kak.." kata Satrio menepuk bahu Putranya, kemudian meninggalkan putranya untuk menuju ke ruang kerjanya.


" Bapak ada naskah baru untuk artikel majalah. Kamu makan yang bener. malam ini nginep saja, ibumu kangen banget. Tiap hari ngomongin kamu terus. kancani ibumu sik, ora usah bali apartemen. " kata Satrio sevelum benar-benar meninggalkan ruang makan tersebut.


****


Khansya


Anak kedua Satrio dan Sarah, beda sepuluh tahun dengan Summer kakaknya, lahir saat musim gugur, dia mulai menjalani kehidupan di kampus. Dia mendapat beasiswa di Nasional University Singapura. Gadis cantik nan lembut, memiliki pemikiran yang jauh maju ke depan. Kesukaannya dibidang Alam membawanya untuk menekuni sains. Orang tuanya melepas anak gadis yang mandiri itu untuk pergi dan mengejar masa depannya.


Sementara Satrio dan Sarah memilih untuk tetap tinggal di Taipei. Rasanya sudah menjadi kampung halamannya sendiri. Sudah kadung nyaman. dan lagi tunjangan hari tua di negeri ini cukup baik dengan jasa mereka sebagai tenaga kesehatan dan Satrio di bidang pendidikan, ada pensiun yang mereka terima dengan segala fasilitasnya.


Satrio masih sering dipanggil untuk mengisi kelas sebagai dosen tamu di beberapa universitas di negeri Formosa ini.


Bahkan dari ujung negeri di Kaosiung University juga menjadikannya salah satu dosen di sana.


Dalam bindang tulis menulis Satrio juga menjadi salah satu senio. Royalty dari menulis buku cukup untuk membawa Sarah berjalan-jalan ke luar negeri tiap tahunnya.


********

__ADS_1


Khansya pov.


^^ Kau ini.... hati-hati kalau jalan. Kau menginjak sepatuku. ^^ Kata Khansya. Pagi ini dia begitu tergesa-gesa untuk menghadiri kelas barunya. Setelah masa orientasi selesai, hari ini hari pertamanya masuk kelas. Belum ada teman istimewa, semua masih bersikap wajar. dari Taiwan dia tidak ada barengan. Bahkan Asrama juga dia kebetulan tidak ada roommate. ^^Lumayan.^^ pikirnya. toh sebenarnya dia lebih suka tinggal sendiri.


Khansya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang singglenya. Ya apa yang bisa dikeluhkan. dapat tempat tidur saja sudah cukup. Dia bukan gadis ysng lahir di keluarga sultan, yang bisa sedikit-sedikit mengeluh. Dia harus bisa bertahan dalam setiap keadaan. Meskipun kedua irang tuanya begitu memanjakannya, namun tidak berarti dia bisa seenaknya meminta ini itu tanpa mempertimnangkan keuangan kedua orang tuanya.


Beruntung Khansya memiliki otak yang cerdas, sehingga untuk biaya belajar dan tempat tinggal dua free, bahkan untuk uang makan selama kuliah juga dijatah oleh pemerintah Sing'pore.


" Buk....kabar ibuk baik..?" tanya Khansya saat panggilannya tersambung dengan ibunya.


" Alhamdulillah sehat Dik.. Adik sehat kah? bagaimana tempat barunya..?" tanya ibunya yang selalu menghawatirkannya.


" Adik sehat buk. Tempat di sini nyaman sekali buk. Para penghuninya juga ramah-ramah."


" iya. bagaimanapun harus selalu waspada. tidak boleh percaya pada orang asing. Hindari orang baru yang sok akrab. Di sana negara yang begitu open. tidak tahu orang baik atau jahat campur dalam satu negara itu. harus aelalu hati-hati ya.simpan nomor-nomor penting seperti milik dosen atau ibu asrama. jika ada apa-apa segera hubungi mereka." kata Sarah tanpa jeda.


"ibuuuk.."


" pokoknya harus diingat kui. ojo lali..!!!" Tegas Sarah.


"Inggih kanjeng Ibu.. sendiko dawuh.." kata Khansya .


" Ini ada kakak di samping ibuk. Mau ngomong sama kamu."


" Hallo kak.." sapa Khansya


" Hallo Dik. sehat to kamu..?"


" Ya sehat lah, kalu sakit kan ga mungkin telpon kakak. " jawab khansya.


" eh Baby Sya, jangan kurang ajar sama kakak, kalau ngomong yang sopan ya..!"


" Iihh si Kakak sensi, PMS ya. lagian adik bukan baby lagi yo.." ejek Khansya.


" Bagi kami, kau ini tetep bayi kami yang lucu, jadi kau haris benar-benar menjaga diridan kwhormatanmu unyukmu dan juga untuk kam. " Khansya tertegun, jika dirasa benar juga ucapan sang Kakak.


...******...

__ADS_1


...Bersambung ya...


...×+×+×+×+×+×+×+×+×+×+×+×+×+×...


__ADS_2