MERANGKUL CINTA

MERANGKUL CINTA
Badai pasti berlalu


__ADS_3

...Badai pasti berlalu...


...Berganti langit cerah...


...Angin berhembus sepoi...


...membelai dedaunan yang melambai...


...----------Satrio---------...


Prakiraan cuaca mengatakah jika hari ini akan datang badai desertai hujan besar. Udara jadi sangat dingin, gerimis kecil diikuti tiupan angin yang meliuk-liuk, menyambar-nyambar. Disaat seperti ini tidak ada guna memakai payung. Pepatah yang mengatakan sedia payung sebelum hujan serasa kurang tepat. Akan lebih baik jika mengatakan sedia.mantol saja karena badai bisa merusam payungmu.


Benar saja. Bisa dilihat beberapa wanita yang melintasi jalan depan Rumah sakit ini, mereka tampak kewalahan menjinakkan payung yang dipaksa oleh angin, sekencang angin yang berriup begitu pula payung berlari bahkan terbang.


Mengapa mereka tidak berteduh saja ya? Menunggu hujan dan badai reda, barulah melakukan perjalanan. Sangat berbahaya jika ada pohon pinggir.jalan yang tumbang. ditambah lagi petir dan kilat yang menyambar. Sungguh benar-benar cuaca yang extrim. Siang hari yang gelap dengan mendung yang menggulung-gulung.


Sarah setengah berlari menuju mobilnya, sambil memegang perut buncitnya seolah ingin melindungi bayi dalam kandungannya supaya tidak kedinginan.


Hari ini jam kerjanya selesai jam dua siang ini. Namun saat keluar ruangan ternyata cuaca sangat buruk, dia terpaksa harus menunggu hingga badai mereda. Summer tentu sudah lama menunggu untuk dijemput. Mana Hpnya lowbatt karena tadi tidak sempat mengecargenya. Mau telpon suaminya juga tidak bisa. Satrio sendiri kini sudah mulai sibuk di kampus, sejak dia diterima sebagai salah satu dosen dikampus swasta milik pengusaha asal Indonesia.


Kesibukannya dan suaminya membuat dia terpaksa berbagi waktu. Sebenarnya sudah dijadwal, siapa yang bertugas jamput Summer sesuai dengan jadwal kerja masing-masing. Dan Sarah masih melibatkan Ayi Tika untuk membantu menjemput, jika bertepatan dengan jadwal mereka yang tidak bisa digantikan.


" Ibuk... !!!" Teriak Summer dari dalam Lobi Elementery School.


" Maaf ya kakak Ibu terlambat. Ibuk nunggu badai reda baru bisa jalan jemput Kakak." Jelas Sarah sambil menolwh kearah security yang menemani Summer.


"Maafkan saya ibunya Summer. membuat anda harus menemani putra saya. Saya terjebak badai dan tidak berani menerobosnya." Kata Sarah pada sekurity tersebut.


" Tidak apa-apa nyonya. toh salaj satu tugas saya memang menjaga gerbang dan menunggu jika ada anak yang balum dijemput. Putra anda sangat pintar dia bercerita banyak tentang hasil bwlajarnya hari ini." Kata sekurity sambil memperlihatkan senyum tulusnya. Mereka mengabdikan diri dengan tulus sesuai tugas dan kewajiban yang dibebankan pada mereka.


Perkataan sekurity itu membuat Sarah bangga. Putranya memang tergolong memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Meskipun di sekolah asing, berbaur dengan orang-orang asing tidak membuat Summer minder. Dia bahkan bisa menyingkirkan tiga puluh dua temannya. Dan berhasil menjadi terbaik dikelasnya. Prestasi yang membanggakan untuk pemula seperti putranya.


Mereka meninggalkan halaman sekolah. Sarah sekalian mau menjemput Satrio. Hari ini suaminya tidak membawa motor, karena tahu kemungkinan badai akan datang. Satrio sebenarnya sudah melarang Sarah untuk menjemput. Tapi Sarah juga tidak tega jika suaminya harus naik kendaraan umum dalam cuaca seburuk ini. Cepat sampai rumah dan bisa berkupul dengan keluarga, itu yang terbaik.


" Assalamualaikum sayang..." Satrio mencium pucuk kepala istrinya dan gantian mencium rambut Summer yang kini sudah mulai menjulang tinggi.


Sarah menggeser posisi duduknya yang tadinya di belakang kemudi, membiarkan Satrio mengambil alih kemudi mobilnya.


" Waalaikumussalam Bapak.."mereka berdua membalas salam Satrio bersamaan.


" Kita langsung pulang Buk..?" tanya Satrio pada Sarah.

__ADS_1


"Iya. Lebih baik sampai dirumah dan cepat beristirahat. Rasanya udara sedikit menusuk tulang." Kata Sarah sambil mengencangkan jaketnya.


" Ya ya ya. nanti sampai rumah ibu hamil bisa langsung berendam air hangat ya.."kata Satrio sambil mengemudikan mobilnya menyusuri jalan kota yang basah.Tidak banyak mobil yang lewat. mungkin mereka yang tidak memiliki urusan penting malas untuk keluar.


Summer terlihat sudah ngantuk di jok belakang.


" Dik.. Rambut anakku sudah gondrong. Kapan mau mengantarnya cukur?"tanya Satrio melirik putranya dari kaca spion.


" Iya. terserah mas lah, bisa kapanpun kamu senggang." Jawabnya.


" Bagaimana kalau akhir pekan ini kita jalan-jalan di Mall. mengantar Kakak Summer cukur, sekalian dedek bayi belanja. kan sudah menjelang hari persalinan. " kata Satrio."


" Ok.. memangnya kampus free ya. Biasanya ada saja kegiatan di akhir pekan." kata Sarah memanyunkan bibirnya.


"Akhir pekan ini khusus untuk kita berempat. Kita bisa nikmati waktu bersama." Kata Satrio mengambil jari-jari sarah untuk dikecupnya lembut.


*******


Sesampainya di apartemen mereka, Sarah langsung menyiapkan maskan untuk mereka makan malam. Sementara Summer dan bapaknya membersihkan diri dan sholat jamaah magrib.


Mereka makan bersama setelah menunggu Sarah selesai membersihkan diri dan sholat magrib juga. Menu sederhana yang tidak membutuhkan waktu lama untyk penyajian.


Selesai makan Satrio membantu Istrinya membereskan dapur. Sarah membereskan kompor beserta teman-temannya, sementara satrio mencuci piring beserta jajarannya.


"Dik. Hari ini ada Email masu dari kampus Semarang. " Kata Satrio.


"Hmm.. terus?"


" Mereka menawarkan Mas untuk kembali bergabung. Tenaga Mas dibutuhkan di sana." Kata Satrio.


" Terus apa rencana Mas..?"


" Mas belum kasih jawaban Dik. Mas nunggu pertibangan Adik dulu." Kata Satrio sambil mengelap tanggannya setelah selesai mencuci piring dan menaruhnya di rak pemanas. dia menekan tombol On, dan rak itu memulai memanaskan mangkuk dan piring di dalamnya.


" Kalau menurut Adik mas harus gimana..?"Tanya Satrio.


" Ya sesuai hati nurani mas saja. mau tetap tinggal di sini bersama keluarga kecilmu ini. Atau kembali ke Indo tanpa kami. karena Adik masih sayang pekerjaa adik. Dan lagian Summer masih beberapa tahun lagi tamat Elementary School. Rasanya akan lebih baik jika pindahnya pas sekolah menengah." Kata Sarah. Diaduknya coklat hangat kesukaan putranya juga susu hamil untunya sendiri, sementara ubtyk Satrio dia biasa minum kopi pahit untuk mengantarnya menyelesaikan pekerjaannya.


" Dik...kira-kira adik ijinkan apa tidak jika Mas memenuhi panggilan dari kampus yang di Semarang?" Tanya Satrio hati-hati.


" Boleh saja jika memurut mas itu yang terbaik." Kata Sarah.

__ADS_1


Satrio membawa nampan berisi minuman hangat dan seporsi buah yang sudah dicuci oleh Sarah. mereka duduk di depan Tv. Summer mengenakan kaos Hoddi free fire yang sedang in di kalangan anak-anak.


" Summer, mau nengok mbah uty sama mbah Kakong di Jawa enggak..?" Tanya Satrio pada putranya.


" Mau.. Kapan kita mau pulang kampung Pak?" Summer menganggukkan kepala dan tampak sedikit tertarik dengan pembahasan tentang Mbah Uty dan mbah Kakung. Selama ini Summer mengenal mereka hanya melalui percakapan via video call. Baik Summer maupun keluarga di Jawa belum ada yang saling kunjung. Hingga kini usia.Summer sudah menjelang sebelas tahun.


Bahkan saat Sinta menikah pun Sarah hanya mengirimkan kado.


" Mbak kebangetan. masa adik sendiri dan satu-satunya nikah tetep tidak pulang barang sebentar..?" kata adiknya beberapa tahun lalu.


Ya waktu itu Sarah masih sendiri, Satrio belum nyusul. Hati Sarah masih terbalut luka dan amarah. walaupun ternyata hanya salah paham. Ternyata Satrio tidak pernah mendua seperti yang disangkakan. Hanya sebuah kesalahpahaman dan menyia-nyiakan waktu bertahun-tahun, yang seharusnya bisa dihabiskan bersama tetepi harus terpisah karena tembok tebal yang Sarah bangun untuknya dan Satrio waktu itu.


Yang sekarang terjadi ialah, Satrio mendapat panggilan untuk kembali bergabung di kampusnya dulu mengajar. Sedangkan di sini Satrio juga sudah memdapatkan posisi yang baik. setelah bekerja hampir setahun , Pihak Kampus mempertimbangkan kinerjanya dan memberikan posisi sekarang untuk Satrio.


Secara Financial Satrio sudah settle. Selain ngantor dan ngajar di kampus sebagai dosen. Satrio juga tetap aktif di blog nya. Juga masih bermain tradding.Jika memang Sarah memilih untyk ikut pulang dan tidak usah bekerja pun Satrio sanggup untuk membiayai hidup mereka. Bahkan Summer tetap bis sekolah di International School jika Sarah mau.


Tapi Satrio tahu istrinya sangat keras kepala. Bahkan dia harus terpisah dwngan istri dan anaknya, juga karena istrinya yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan penjelasan apapun darinya.


Jika dipaksauntuk turut, malah akan menimbulkan masalah baru diantara mereka. Baru juga hidup bersama, masak sudah harus terpisah llagi..? Satrio juga memikirkan hal itu.


Dia juga melihat kenyamanan Summer selama hidup.di Taipei, belum lagi fasilitas yang diberikan oleh kakek angkatnya yaitu Professor Liu. Semua membuat Sarah bahkan susah berpaling. Belum lagi teman kerjanya yang sudah seperti keluarga.


" Dampak buruknya sudah terlihat jika.dia.meneruskam percakapan ini. Untuk pulang ke Indoneaia sendiri rasanya berat. Hidup bersama mereka sudah menjadi gaya hidup yang sangat disukainya. Berat jika harus memisahkan diri dari keluarganya.


Memikirkan swmua itu mbuat Satrio galau.


...************...


...Bersambung...


...\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=÷\=...


Maaf...


lama tidak up sibuk di dunia nyata.


selamat menikamati cerita ringan ini.


boleh kasih Like dan votenya..


Salam sayang dari mamak Author. love you much much much..

__ADS_1


__ADS_2