MERANGKUL CINTA

MERANGKUL CINTA
Ketemu Juga...


__ADS_3

" Ibuuuuuk..." Bocah imut bermata besar itu berlari menghampiri ibunya.


"My sweet Summer..." Sarah menangkap tubuh putranya, lalu menghujaninya dengan ciuman.


"Anak ibuk jadi good boy kan hari ini..?"


" Tentu ibuk... your sweet Summer always bea good one." Jawab Summer.


" cup cup cup.."


" Ai ni hentuo-hentuo-hentuo..." Sarah tak pernah bosan untuk mencium pipi putranya yang cubby.


Anaknya sangat mirip dengan Satrio, mata dan alis itu duplikat dari bapaknya.


"yuk kita ke rumah Tika ayi ya.. karena ibuk masih harus bekerja. Nanti malam baru ibuk traktir kita makan malam di KFC. gimana...?" Summer mengiyakan tawaran ibunnya.


" bye-bye miss Nicole.." Kata Summer sambil melambai kepada gurunya yang sedang berjada di pintu keluar.


" See you again Sweet Summer.." Jawab miss Nicole.


Sarah menggandeng tangan Putranya. Mereka berjalan menyusuri trotoar.


"The wheel on the bus go round and round. round and round..." Summer tampak sangat girang. sambil mengayunkan tangannya yang berada di dalam genggaman ibunya. Sarah pun ikut menyanyikan lagu yang sama. Mereka saling memandang bahagia. Senyum bocah ini begitu tulus dan ringan, tak ada beban yang dia tanggung.


Masa kecil memang begitu indah.


Seandainya waktu tudak perlu merubah seseorang.


Seandainya hati bisa terus setia..."


Mengulang kembali pelajaran yang gurunya berikan. Mengajukan pertanyaan untuk hal baru yang belum pernah ditemuinya. Summer memang sweet. Dambaan semua ibu yang menginginkan seorang putra. Sarah sungguh beruntung, dan dia sangat bersyukur memiliki Summer.


" here we are.. kamu ketuk pintu suaige.." kata Sarah.


Summer memencet tombol nomor empat pada intercome.


" Wo lai le Ayii..." Summer mener iakkan namanya saat orang di dalam bertanya. Lalu pintu gerbang apartemen itupun terbuka. Summer langsung menuju lift yang kebetulan pas berada di lantai satu.


" Tunggu sweety, kamu tidak boleh langsung pencet tombol. Tunggu orang dewasa yang lakukan. sangat berbahaya jika lift belum siap dan kau sudah buka pintu. ni mingpai ma..?" Tanya Sarah. Summer mengangguk tanda mengerti.


Pintu lift terbuka, Sarah mempersilahkan putranya masuk. Sarah masih memegang tombol buka. baru setelahn ya dia masuk dan menekan tombol angka 8 dimana Tika tinggal.


Dari kecil diasuh oke Tika, sampai kanak-kanakpun mereka tidak terpisahkan. Keberadaan Tikaseperti nenek bagi Summer, bdgitupun Tika menganggap Summer seperti cucunya sendiri. Dia sendiri memang belum memiliki cucu. Maklum karena anak-anaknya sibuk mengejar jabatan dalam karier mereka. Orang muda tempo sekarang susah disuruh nikah. Mereka tidak mau berkomitmen. Tika menyadari semua itu dan tidak berani menuntut banyak dari putra-putrinya. Lagi-lagi kedatangan bocah itu menjadi penghangat di apartemen milik Tika. Ba hkan duaminya pun menyukai keberadaan Summer di unit mereka, hangat dan lucu.


" Nanti saya agak telat jemputnyabya Ayi..." kata Sarah sebe lum pamit untuk kembali ke tempat kerja.


" Baik mbak.." Jawab Tika. Tika menutup pintu apsrtemen sepeninggal Sarah yang menghilang ke dalam lift.


...******...


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah berkali-kali Satrio mengunjungi tempat kerja Sarah. Namun belum beruntung terus, karena selalu berselisihan waktunya.


Kalau dia berkunjung pasti kelewat, Sarah sudah pulang, atau Sarah tidak di tempat. Dia menyadari sesuatu, sepertinya Sarah seperti sengaja menghindar darinya. Jangan---- jangan dia tahu keberadaanku di sini--- pikir Satrio.


Sarah sudah tahu dari dari Sinta, adiknya. Dia mengatakan kalau Satrio meneruskan pendidikan S3 di Taiwan, karena sengaja ingin mencarinya.

__ADS_1


Sarah sedikit resah, tak mau ketenangannya terusik. Baginya Summer saja sudah cukup. dia sudah nyaman hidup begini. Sarah sengaja member itahukan teman-temanya, kalau ada yang mencarinya tolong bilang Sarah tidak di tempat.


Sore ini, Satrio free tidak ada jam kuliah. Sebagai Mahasiswa S3 memang cara belajarnya beda. Dia bebas memilih jam belajar. Yang penting bisa study kasus, melaporkan hasil penelitian seperti yang diminta dosennya.


Satrio sengaja duduk di kedai fast food yang ada di seberang Rumah Sakit tempat Sarah bekerja. Tidak ada niatan untuk menemui Sarah di tempat kerjanya, cukup berada di dekatnya, merasakan keberadaannya, bernafas dengan udara yang sama dengannya.


Satrio menyadari ketidak hadiran Sarah seperti disengaja. mungkin Sarah sudah tahu jika dia mencarinya dan sengaja menghindar. Makanya Satrio membiarkan suasana tenang, Dia tidak akan mengejar Sarah terlalu dekat. cukup mengamati dari kejauhan.


Waktu menunjukkak pukul 16.15. Waktunya pergantian jam kerja, biasanya akan banyak perawat yang akan melewati tempatnya duduk. Jika Sarah piket pagi juga sudah waktunya dia ganti sift dan pulang. Apakah dia akan beruntung melihat istri yang dirindukannya..? Apakah Sarah akan melintasi area ini, atau dia lewat jalan lain..?


Satrio memesan minuman dan sepotong ayam goreng beserta seporsi kuetiau goreng.


Sambil menunggu pesananya jadi dia melihat majalah yang berjejer rapi di atas rak di dekatnya.


Suara pintu terbuka dengan aroma wangi bunga yang dia kenal.


" Hua in kuang ling..." Sapa pelayan menyambut setiap pengunjung outlet mereka.


Spontan Satrio menoleh ke arah pintu masuk. Tenggorokannya tercekat, serasa ada yang mengganjal dan tiba-tiba mulutnya terasa kering. Pucuk dicinta ulamp pun tiba.


Betul rupanya petuah orang dahulu. Semakin kau kejar, dia a kan semakin jauh berlari, tapi biarkan dia tenang, dan dia sendiri yang akan menghampiri. Sekarang dia ada di sini.


wanita di seberangnya juga termangu, tidak menyangka akan pertemuan ini. Menghindar rasanya sudah tidak mungkin. Tangannya semakin erat menggenggam tangan bocah di genggamannya. Mata mereka bertemu, Sarah mengalihkan tatapannya ke sebelahnya di mana Summer berdiri dan tidak mengerti suasana apa yang sedang terjadi.


" Ibuuukkk ayoo. aku sudah lapar..." Kata-kata Summer menyadarkan mereka berdua.


" eeh iya.. yuk kita pesan. Kamu mau pesan apa..?" Tanya Sarah kepada Summer masih dengan suara yang bergetar.


Satrio mendekati mereka. Tunggu dulu...


Tadi dia mendengar bocah itu memanggil Sarah dengan sebutan ibuk...? batinnya.


Tidak salah lagi. bocah ini replikanya waktu kecil. hanya kulit bocah ini sangat putih.


Celotehannya saat memesan makanan yang disukainya menggetarkan hati Satrio. Satrio sangat menyukai suara itu. Setelah selesai memesan mereka mencari tempat yang kosong, menjauh dari Satrio. Namun Satrio tidak mau melewatkan momen ini. Dia mendekat ke arah dua muanusia yang selalu dicarinya.


" Dik....." Sapanya.


" Boleh mas bergabung dan duduk di sini..?"


" Bapak... apakah ini Bapak aku buk...?" Tanya Summer saat menyadari keberadaan Satrio.


Sarah masih membisu, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tangannya tergetar, antara rindu dan benci.


Bayangan penghianatan yang Satrio lakukan masih terbayang Foto kiriman dari temannya yang memperlihatkan kedekatan Satrio dengan wanita lain di dalam mall, membuatnya masih menyimpan kemarahan itu. Mengubur kenangan manis diantara mereka adalah solusi yang dia pilih untuk menghapus bayangan buruk itu.


Sekarang laki-la ki itu ada di depan matanya, dan supernya lagi Summer langsung mengenali siapa sosok itu baginya. Tentu saja. Bukankah pria itu yang sudah menabur benih dan berbuah Summer yang indah..?


" Betul Buk... ini adalah Bapak aku. Wajahnya sama dengan wajah Bapak yang ada di kamar ibuk..." Summer berkata cukup keras sambil mengguncang tangan Sarah yang membeku di atas meja makan.


Satrio mendekat ke arah putranya lalu jongkok mensejajarkan dirinya agar tingginya menyamai bocah kecil itu.


"Betul. ini Bapak. Ini Bapak yang sangat merindukanmu..." Satrio merengkuh Summer ke dalam pelukannya. Dada nya menghangat. kekosongan di hatinya serasa dialiri daya yang begitu kuat sehingga mrnggetarkan seluruh tubuhnya. Dadanya terguncang menahannisak tangis. Diciumnya ber kali-kali rambut gondrong putranya. aroma wangi shampoo bayi memenuhi hidungnya.


" maafkan Bapak melewatkan keberadaanmu.."

__ADS_1


" jadi benar kan kau ini bapak aku..?" tanya Summer setengah tidak percaya.


Satrio menganggukkan kepalanya dan mencium punggung tangan putranya.


Sarah terpaku melihat dua generasi manusia gondrong di depannya berinteraksi. Dia meyadari bahwa kedekatan hubungan darah tidak bisa dibohongi. Summer dan Satrio saling mengenali masing-masing hanga melalui tatapan mata.


Ikatan batin diantara mereka ternyata begitu kuat.


Sarah tidak berhak merusak suasana ini. Sarah memilih diam, membiarka mereka melepas rindu.


Selama ini Summer tidak pernah menanyakan secara detail tentang siapa bapak, kenapa ada fotonya tapi orangnya tidak pernah datang. Kenapa ada bapak jika dia sudah punya papi Jimmy? paling pertanyaan itu, tapi selama ini bisa dialihkan dan Summer segera melupakan rasa penasarannya.


Sebenarnya hati Sarah merasa tersentuh, dan menghangat. melihat dua lelaki yang begitu mirip. baik muka maupu perangai mereka. lihat cara mereka menyibakkan rambut gondrongnya. lihat cara mereka makan dan mengulum jari menyesap sisa makanan yang tersisa di jari mereka.


Bibir Summer sangat menggemaskan.



Satrio yang terpesona melihat duplikatnya. Matanya tak bisa lepas memandang mahluk kecil di depannya.



.


" dik... sungguh kau tega membuat putra kita tidak mengenal Bapaknya..?"


" kau lalui semua sendiri, tidak mau berbagi denganku?"


"Mengapa Dik.. Aku menunggumu pulang. Bukankah kau bilang cukup dua tahun lagi. tapi mengapa kau tak pulang juga?. malah menyembunyikan kehamilanmu?.."


" Aku tidak menye.bunyikan apapun." Jawab Sarah.


" Aku tidak tahu jika saat itu aku hamil. ba hkan sampai usia kandungan enam bulan. dia sangat baik, tidak pernah menyusahkanku."


" Aku melewatkan banyak wa ktu berharga kita, Seandainya aku tahu. pasti sudah dari dulu aku mencari kalian dik...." Sesal Satrio.


" Mana mungkin, bukankah ada Wanita itu dalam hi dupmu..?" tanya hati Sarah.


" Makan yang banyak sayang.." kata Satrio sambil mengelap sudut bibir Summer yang belepotan karena sous tomat.


" Apakah aku bisa pesan eskrim lagi buk.." tanya bocah itu pada ibunya.


" Cukup satu saja Summer.." Jawab Sarah.


" kali ini saja buk.. paido ni..?" Summer memanfaatkan keadaan untuk membujuk ibunya.


" Mau giginya ompong..?"


" oh no... nanti Summer s ikat gigi setelah sampai rumah.." Jawab Summer lebih lihai bersikeras.


" Boleh, hari ini Bapak traktir Kamu makan es krim. jangan lupa pesan juga untuk ibuk yang rasa Vanila ya...?" kata Satrio mendukung putranya.


" Tuh kan buk... Bapak saja tahu kesukaan ibu..." ledek Summer. lalu dia menuju outlet untuk pesan tiga gelas es.


" Bocah itu.." Decap Sarah.

__ADS_1


"Jadi namanya Summer..?" Tanya Satrio. dan di jawab anggukan kepala oleh Sarah.


...*****...


__ADS_2