MERANGKUL CINTA

MERANGKUL CINTA
Cicak Saksinya


__ADS_3

Satrio berada di dalam kamarnya. Berdiri di dekat jendela, burung kesayangan bertengger di jari telunjukkya. Kecintaannya pada unggas itu tidak pernah berubah sejak kecil.


Dengan gamis selutut, ditambah rompi hitam, membuat penampilan pria tampan itu tambah mempesona. Rambutnya disisir mlenis, dengan pomit licin.


Hatinya berbunga-bunga tidak sabar menunggu untuk mempersunting kekasih hati.


" kamu ojo guyon Sat. Nikah bukan untuk main-main." Kata mas Juno. Mas tertuanya.


Mereka berkumpul di ruang keluarga semalam sepulang dari kota dan Satrio mengemukakan pendapat untuk nikah siri sesuai usul Sarah.


"Memangnya Sarah tidak keberatan po Dik. Enak di kamu ga enak di Sarah kan..?". Tanya mbak Wulan.


Wanita cantik yang begitu setia mendampingi mas keduanya. Mas Bimo menikahi mbak Wulan dalam keadaan belum punya apa-apa.


Mas Bimo masih jadi tenaga honorer di salah satu sekolah Swasta. Sampai sekarang jabatan kepala Sekolah diampu mas Bimo, dan anak-anak mereka sudah selesai kuliah dan mereka masih rukun.


"Malah Sarah yang kasih ide mbak. Katanya biar kita jauh dosa. Dia punya waktu dua minggu. Takut khilaf."


"Hah... itu Ante Sarah sudah kepincut setengah modar sama kamu Om.." komentar Jelita, anak gadis semata wayang mas Juna.


"Hus.. anak gadis kok ngomongnya elek ngono. Diajari sopo?" Ibunya Jelita menjentik telinganya. Mbak Astuti, wanita lembut dan selalu berhijab besar yang sudah sembilan belas tahun menikahi mas Juna. Walaupun istri ke dua. Karena istri pertama mas juna meninggal karena miningitis.


" Tapi tidak ada salahnya mas. Tinimbang tunangan tok. Itu ga ada artinya dik. Tunangan itu hanya ikatan yang lebih mendekatkan pada dosa. Kalau mbak lebih setuju nikah siri." Mbak Astuti memberi pendapat.


.


.


.


Akhirnya waktu yang dinanti tiba.


Setelah berbagai persiapan yang melibatkan seluruh handai taulan.


"Sudah kaya mantu beneran" celetuk bude Sri di sela waktunya menyiapkan berbagai hidangan.


Keluarga Satrio adalah keluarga besar. Dia membawa seluruh anggota keluarga dari kakak pertama sampai kakak ke lima Karena dia bontot. Yaitu anak ke enam.


Perhelatan sederhana hari itu diakhiri dengan kata sepakat bahwa selama masa cuti sarah belum habis maka Sarah berkewajiban mendampingi Satrio kemanapun dan dimanapun. Satrio sungguh kepelet sama Sarah..


****


"Apa yang membuatmu bersikeras Dik..?" Tanýa Satrio. Mereka berada di kontrakan Satrio. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum acara cutinya.


Satrio mengajukan cuti dadakan selama satu minggu.


Temannya tidak tahu jika dia sudah betstatus suami. Tidak ada yang tahu juga jika masa cutinya mau pergi untuk bulan madu ke NTB dan Lombok.

__ADS_1


"Kan Mas sudah tahu jika adik hanya dapat cuti dua minggu to..? Adik masih harus selesaikan kontrak Mas. Mas ga boleh egois dong." Sanggah Sara


" jika boleh mas memohon adik tidak usah berangkat lagi. Insyaalloh penghasilan mas cukup untuk kita hidup Dik.."


Satrio berbicara dengan nada memohon.


"Kita bicarakan lain kali ya. Kita nikmati waktu bersama ini. " jawah Sarah enteng. Dia tidak mau berdebat sementara hubungan baru terjalin.


Satria punya hak untuk menuntut. Dua tahun menunggu. Dengan harapan Sarah segera pulang untuk membangun keluarga.


.


.


.


Dia menyetujui perjodohan yang ditawarkan mbakyunya.


Dua tahun yang lalu. Mbak Sri Katon datang ke rumah membawa foto gadis.


Entah mengapa dari sekian banyak wanita, belum ada yang cocok di hati. Tapi begitu melihat foro Sarah hatinya langsung bergetar.


" Anaknya juragan Sapto, dari desa sebelah. Anaknya manut orang tua. Jika memang kamu tertarik ini nomor telpone. Kamu hubungi sendiri. Coba jalin silaturahim. Siapa tahu berjodoh." Kata Sri Katon., kakak keempat Satrio, dua tahun lalu.


Diantara sekian saudaranya, Sri Katon yang paling kuatir melihat nya masih jomblo. Bahkan pacar saja tidak punya, sementara umur hampir setengah abad.


Satrio seorang Dosen ilmu pendidikan di beberapa Universitas yang ada di Semarang juga merangkap dosen tamu di beberapa kota lain. Salah satunya di Universitas .... Sidoarjo tempat Sri juga mengajar di sana.


Sebenarnya tidak sulit baginya menemukan gadis yang mau dipersunting. Tapi entah mengapa tidak ada satupun yang memenuhi kehendak hatinya. Sampai mbakyunya membawa foto Sarah.


Dia menginginkan gadis itu. Dia mau keluarga utuh. Ada banyak anak yang akan meramaikan hidupnya. Seperti orang tuanya yang dikaruniai banyak anak


****


" Adik tahu..? Kali pertama Mas dikenalkan sama Adik hanya lewat Foto. Tapi hati mas langsung tertaut. Mas langsung yakin bahwa adik jodoh mas. Calon ibu untuk anak-anak mas." Kata Susanto sambil menggenggam tangan Sarah.


" Waktu itu. Bahkan kau langsung melamarku. Menanyakan apakah aku mau jadi istrimu. Aku pikir kau laki-laki gila. Masak baru kenalan langsung melamar.


Lewat telpon pula." Sarah tersenyum mengulang kisah mereka


"Itu bukti kalau mas serius sedari awal Dik". Jawab Satrio


Diputar- putarnya cincin di jari kekasihnya. Cincin mungil bertahta berlian. Iya mengumpulkan uang dengan berhemat banyak hal hanya untuk membeli berlian sekecil itu.


Ia ingin memberikan yang terbaik untuk calon istrinya.


Mereka duduk di sofa ruang tamu di Rumah kontrakan mungil milik Satrio yang ada di pinggir kota Semarang. Pernikahan siri yang diusulkan Sarah akhirnya disetujui kedua belah pihak.

__ADS_1


Genggaman tangan Satrio lebih erat. Seperti takut kehilangan, takut ditinggalkan.


" Mas..." Satrio menoleh ke arah gadisnya


" Apakah mas benar-benar cinta pada Adik..? Atau hanya butuh adik sebagai calon istri..?" Tanya Sarah. Dan itu membuat wajah Satrio berubah.


Ditatapnya wajah ayu kekasih yang sudah dua tahun ditunggunya itu.


" Adik meragukan ketulusan mas..?" Akhirnya pertanyaan itu muncul.


" Bukan begitu mas. Kita kan belum pernah bèrtemu sebelumnya. Bahkan untuk komunikasi lewat telpon saja jarang. Sementara di lingkungan kerja mas begitu banyak wanita cantik..."


"Apakah ini pertanda cemburu...?" Satrio mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah.


Mata tajamnya mencari sesuatu di wajah halus kekasihnya.


" Ih.. apaan sih mas, jangan dekat-dekat. Nanti ada setan lewat lo.." pernyataan Sarah tidak diindahkan oleh Satrio.


Dia malah semakin mengikis jarak diantara mereka.


Dua manusia yang sudah dewasa. Dengan rindu terpendam di hati masing-masing.


" Haah.. Mas melihatnya" kata Susanto tiba-tiba.


" Apa mas. Mas lihat apa..?"


" Mas lihat cinta dan cemburu di dalam sana."


Tubuh dan hati mereka bagai memuliki mahnet yang saling tarik menarik. menempel. Menguasai yang seharusnya jadi miliknya.


Suara-suara aneh itu sudah berpindah ke kamar Satria. ******* halus kadang pekikan dari mulut Sarah terdengar sampai ruang tamu.


Harusnya siang pagi itu Satrio ke kampus, bersama Sarah membuatnya lupa, terlalu indah dan tak ingin menjauh. harum rambut dan tubuh Sarah sudah memabukkannya.


Semalam belum sempat *** ***. kardna di rumah Sarah masih banyak saudara menginap.


Sementara di sini, di kontrakan sederhana, di ruangan yang sama. Sepasang manusia itu akhirnya menyempurnakan hubungan dan memiliki satu sama lain. Tidak ada yang menghalangi karena hubungan mereka bukan dosa. Cicak di dinding jadi saksi.


****


Bagaimana kisah ini anak-anak...


Semoga Author endut dari desa ini bisa membuat kalian.menyukai Dik Sarah dan Mas Satrio.


*B**agi likenya ya nak*...


*k**omen yang baik dan enak dibaca biar Author endut lebih semangat berkarya*.

__ADS_1


Yang sudah kasih vote terima kasih ya....


Apalah Author tanpa pembaca semua..


__ADS_2