
Waktu cuti Honeymoon tinggal beberapa hari lagi, Satrio semakin posesif tak ingin kedekatan mereka terpisah begitu cepat.
Kamar hotel biasa di Pulau Dewata menjadi saksi kedekatan mereka.
Benar kata orang cinta akan datang setelah having **** dengan pasangan.
Sarah memejamkan mata, dihirupnya aroma tubuh lelaki yang sudah mengambil kegadisannya. Membayangkan tubuh kekar itu berada di atasnya. Bibir coklat lembut dan kenyal, jambang lebat yang tumbuh di area dagu hingga leher suaminya menyentuh tiap inci dari tubuhnya...
Membayangkannya saja membuat Sarah pingin lagi. Dasar tak tahu malu.
Apakah aku semesum itu.. batin Sarah.
Sentuhan suaminya serasa sudah menjadi candu.
Tapi tak mungkin dia bilang jika menginginkan suaminya memenuhi dirinya lagi.. pipinya bersemu merah.
Disembunyikannya mukanya kedalam dada bidang suami yang ditumbuhi bulu lebat. Salah satu area favorit Sarah dari tubuh suaminya.
" Semoga segera jadi Satrio junior di sini" kata Satrio lembut sambil mengelus perut datar istrinya.
Aroma tubuh Sarah selalu memabukkan. Walaupun masih pagi dan bekas keringat panas semalam. Tak bosan-bosan Satrio mencium pipi dan rambut istrinya itu.
"Begini rasanya jadi suami.." Bisik Satrio mesra. Didekapnya erat tubuh istrinya. Satrio kembali masuk ke dalam selimut mengulang kegiatan yang hampir sampai pagi mereka lakukan.
Keringat kembali membasahi tubuh mereka. Mereka saling kecanduan satu sama lain.
Kegiatan pengantin baru yang pembaca boleh bayangkan sendiri sesuai tingkat kebolehan pasangan masing-masing.
" Mas, mandi dulu sana. Kita sudah kesiangan." Kata Sarah sambil mendorong lembut tubuh suaminya.
"Baik permaisuri. Tapi mas ga mau mandi sendiri.." Kata Satrio sambil mengangkat tubuh Sarah.
Mereka masuk kamar mandi. Dimasukkannya tubuh Sarah ke dalam buthtube perlahan.
"Apaan sih mas.." kata Sarah malu-malu saat suaminya menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi tanpa balutan benang sehelaipun.
Akhirnya terjadi kegiatan mandi bersama dengan saling menggosok punggung. Satrio dengan telaten menggosok seluruh tubuh Sarah dengan sponge busa, aroma Sabun menguar memenuhi kamar mandi.
Sesekali terdengar lenguhan dari mulut Sarah saat dengan sengaja Satrio menggosok area sensitif milik Sarah.
" Mas.. biarkan aku mandi sendiri. Keburu habis subuh kita." Akhirnya Sarah menuju shower dan membilas badan telanjangnya.
__ADS_1
Satrio pun menyerah dan menyelesaikan mandinya. Kemudian mereka jamaah sholat subuh walaupun terbilang telat.
"Barokalloh... semoga selalu jadi istri sholekha ya Dik. Meskipun nantinya kau jauh dari mas. Terima kasih sudah menjaga mahkota berhargamu hanya untuk mas. Kau jadikan mas sebagai lelaki paling bahagia.." Kata Satrio mengusap ubun-ubun Sarah lalu mengecupnya.
Sarah mencium tangan imamnya dan mengaminkan doa Satrio.
" Semoga mas selalu sehat, bisa menjaga hati, menundukkan pandangan hanya untuk Adik." Balas Sarah. Aamiin.. mereka berbarengan mengamini doa masing-masing.
*****
"Istriku mau ditemani kemana, sebelum kita pulang ke Jawa." Tanya Satria datar.
Sarah sedang memasukkan baju kotor mereka ke dalam kantong plastik. Beberapa baju yang lain sudah dilondri.
" Kita ke pasar tradisional yuk mas. Di dekat pintu keluar hotel ini." Jawab Sarah antusias.
"Boleh. Kita jalan kaki atau mau sewa motor"
"Jalan saja lebih santai".
*****
"Hati-hati kalian.." Teriak Satrio saat sebuah sepeda motor hampir menyerempet Sarah. Sementara dua pemuda yang mengendarai motor malah melarikan diri tanpa satu itikat baik.
"Ada yang kena ga Dik.."
Sarah menggeleng, tapi telapak tangannya sangat dingin. Tampak sekali kecemasan dalam dirinya. Satrio menuntun Sarah menuju bahu jalan yang teduh.
"Harusnya tak kubiarkan mereka lolos. Biar kupatahkan kedua kaki mereka." Gerutu Satria.
"Dik. Mas beli minum dulu ya.."
Sarah mengangguk. Satrio mendekati Meimart yang ada di perempatan jalan tak jauh dari tempat mereka berhenti.
Sarah memeluk dirinya, bayangan masa lalu muncul. Membuat tubuhnya kembali bergetar, keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Sewaktu SMP, saat sama teman-teman sekolahnya berjalan menuju pulang, pernah hampir keseret motor yang ngebut.
Gesekan aspal sempat membuat lengannya lecet parah. Bahkan bekas luka itu masih tersisa. Tapi yang lebih dalam adalah sisa trauma di dalam jiwa Sarah.
***
__ADS_1
Satrio mengulurkan botol air mineral itu, dan Sarah meminumnya beberapa teguk.
" Sudah lebih baik..?" Tanya Satrio
"Baik aku sudah lebih baik mas."
" Harusnya kita sewa motor atau mobil. Lebih aman Dik. Untung tidak terjadi apa-apa denganmu. Jika sampai sesuatu terjadi aku tidak bisa memaafkan diriku dik." Satrio menggerutu.
"Sudah.. Adik kan tidak apa-apa. Hanya kaget kok..." Jawab Sarah. Disentuhnya hidung mancung suaminya.
" Tenan, Adik ga apa-apa..?" Diambilnya tangan mungil istrinya lalu dikecupnya .
" Yuk, kita jalan lagi.." Kata Sarah.
Baru saja berdiri Satrio malah jongkok di depan Sarah.
"Eh mas mau apa, kok malah jongkok. Ayok kita jalan.."
" Takkan kubiarkan kaki permaisuriku menyentuh aspal ini. "
Sarah melonggo tak paham maksud Satrio
"Ayuk dik. Cepet naik ke punggung Mas. Biar mas gendong kemana-mana." Kata Satrio.
"Malu mas..."
Sarah melihat berbagai arah.
"Siapa yang peduli dik.. di sini bebas. Apalagi kita suami istri. Ga ada yang menghalangi. Ayo buruan."
Sarahpun membiarkan tubuhnya digendong lelaki yang mulai dia cinta ini.
Mereka menuju pasar tradisional untuk membeli beberapa cindera mata. Sebelum acara bulan madu usai.
******
Kadar halu mamak Author kurang greget ya...
Butuh banyak dukungan dan motifasi. yuk kasih like, komen dan vote juga boleh..
Salam sayang Author endut untuk pembaca semua
__ADS_1
Semoga beserta keluarga sehat selalu ya...