
" Jadi namanya Summer..? kanapa Dik..?" tanya Satrio.
" Tidak tahu. Prof. liu yang kasih nama. katanya biar sekuat matahari, karena memang sejak dari kandungam dia kuat, sekuat singa. kan Summer ?" Sarah sengaja melibatkan Summer dalam percakapan mereka.
" Tentu ibu. Namaku Summer Satrio Utomo, ibuk memanggilku Sweet Summer, aku yang dicetak di pinggir pantai Ubud, di Bali?"
" ibu selalu tidur sambil memelukku dan berbisik Sweet Summerku, kau dicetak di pinggir pantai ubud yang indah di Bali. suatu hari ibu akan membawaku ke sana. Betul kan ibuk..?" kata-kata jujur dari mulut malaikat kecil itu membuat merah pipi Sarah.
Hati Satrio mencelos. Sarah yang dia ragukan ternyata mengingat semuanya. Wanita ini mengandung putranya sendiri, bahkan memberikan namanya untuk putra mereka. Sarah sama sekali tidak berpaling darinya.
" Kau manis sekali dik... sungguh mas tidak menyangka kau mengingat semuanya. kenangan indah kita. Tapi kenapa kau tidak mau berbagi denganku..? mengapa kau mengabaikanku..?" kata Satrio.
Ingin rasanya dia memeluk wanita yang telah rela mengandung putranya ini.
" karena Aku tak suka berbagi. Ada wanita lain yang bisa memberimu kebahagiaan lebih kan?." jawab hati Sarah.
Namun hanya kebisuan yang menemani mereka.
" Bapak.. mengapa baru sekarang bapak mencari kami..? Tanya bocah umur lima tahun lebih. sebentar lagi usianya genap enam tahun.
" Tentu Bapak bakal menyusul segera jika tahu kau ada. Tapi ibuk menyembunyikanmu dan tidak ijinkan bapak menemuimu." kata Satrio.
"Jadi hanya karena Summer kau berada di sini..?"
" Tentu bukan. Bahkan mas tidak tahu ada putra kita. mas datang hanya karena mas merasa sudah waktunya mas mencarimu. Sudah terlampau lama kau diamkan suamimu ini.."
" Kau tidak merindukan saudara kecilmu..?" bisik Satrio di telinga Sarah.
" Mas....?" Sarah menatap tajam mata Satrio.
" Jangan kau racuni putraku dengan pernyataan seperti itu." Kata Sarah.
"Ini kentataan dik. saudara kecilmu ini begitu ingin jumpa dengan pemilik sesungguhnya. Kau selalu menghindar dan menyembunyikan keveradaan Summer dariku."
" Aku tidak pernah bersembunyi. kau saja yang kurang cara untuk menemukan kami." Kata Sarah terang-terangan menuntut perhatian prianya.
---- saudara kecil.--- Sarah masih belum begitu nggeh dengan maksud Satrio.
__ADS_1
" Ayo Summer, kita sudah selesai dan waktunya untuk pulang. Sarah segera berdiri dan menarik Summer untuk meninggalkan tempat itu.
" Bapak pulang bersama kita kan buk..?" Tanya Summer.
"Bapak punya rumah sendiri Nang.." kata Sarah. Sementara Satrio juga berdiri dan mengikuti mereka dari belakang.
" Dik.. tolong ijinkan mas untuk mengantar kalian. Mas juga pingin tahu kediaman kalian. mas janji tidak akan ganggu kalian.." kata Satrio memelas.
" lain kali saja mas. Saya belum siap untuk berada lama-lama di dekatmu. udara serasa tidak cukup untuk bernafas jika ada kamu." Kara Sarah ketus.
" Nanti biar mas kasih nafas buatan untuk Adik. Supaya adik tidak sesak nafas, tolong ya..."
Ngopo wong iki, malah nggombal.....
Tanpa sepertujuan Sarah, Satrio langsung mengambil dan mengangkat Summer ke panggulannya, membuat Summer memekik bahagia. Sarah tidak berkutik. dia takut jika dicegah malah satrio nekat dan bawa lari Summer.
Mungkin Sarah memang harus memberi kesempatan pada hubungan ini. Toh sudah begitu lama mereka memendam rasa.
Mereka berjalan beriringan. jarak yang ditempuh untuk sampai ke apartemen milik Sarah cukup panjang. Tapi tak terasa karena kebahagiaan menyelimuti hati mereka.
...*****...
Summer tertidur di atas gendongan Satrio. Bocah imut itu tampak kelelahan dan begitu damai dalam rengkuhan Bapaknya.
Sarah ingin meminta gantian menggendong putranya namun ditolak oleh Satrio. " Biarkan mas saja." katanya.
" Selama ini adik menikmati susah senang berdua. bahkan mas tidak tahu apa-apa. Apa Adik tahu, sesungguhnya mas begitu ingin punya anak darimu. ternyata Alloh kabulkan dengan begitu cepat, meskipun mas tidak menyadari nikmat dan karunia ini. mas selalu menyalahkan takdir."
" Harusnya mas berusaha keras untuk menyusul kalian. Selama ini mas habiskan waktu mas untuk bekerja dan memikirkan adik. sungguh mas tidak punya waktu untuk hal lain. mas berusaha mengumpulkan uang supaya cukup untuk menyusulmu dan mengajakmu pulang. mas berharap jika tabungan mas sudah cukup, mas bisa memintamu pulang tanpa takut tidak bisa memberimu makan.."
Sarah merasa tersindir, kupingnya memerah.
Dari dulu memang dia yang keras kepala dan bersikukuh untuk meninggalkan Satrio, meminta waktu untuk lebih leluasa berkarier, sebelum akhirnya nanti mengabdi sepenuhnya pada suami.
Mereka duduk di sofa depan tv, Setelah meletakkan tubuh Summer di kamarnya. Sebuah singgle bed yang rapi, kamar nuansa biru dongker dan putih bergambar nahkoda, senada dengan gorden dan spreinya.
Sarah wanita mandiri dan kuat, dilihat dari betapa rapi apartemen ini, ditengah kesibukannya bekerja dan mengasuh putra mereka, dia masih sempat untuk mengurus rumah.
__ADS_1
" Dik..."
Sarah menoleh. mata mereka bertemu, mata yang penuh dengan kerinduan.
" Mas kangen...." Tenggorokan Satrio tercekat. Butuh keberanian untuk menyatakan perasaannya.
Toh wanita di depannya ini masih sah istrinya, tidak pernah ada kata talaq keluar dari mulutnya. Jadi apapun yang akan terjadi diantara mereka itu masih wajar dan tidak melanggar norma apapun.
Satrio menghapus jarak diantara mereka. Dia beranikan diri untuk mendekat. Bau tubuh Sarah yang bercampur dengan wangi bunga dari parfum semakin menambah kehaluan Satrio tentang Wanita di depannya ini.
Tangan Satrio masih berada di pundak Sarah berusaha untuk memeluk wanitanya. Sementara Sarah masih membatu di depannya.
Hatinya bergetar, bagaimanapu sentuhan tangan ini sangat dia rindukan. Bau tubuh pria ini masih begitu familiar meskipun sudah berlalu begitu lama. Debaran jantung mereka begitu kuat.
Satrio meraih tangan Sarah. dituntunnya lalu diletakkannya di dadanya. Sarah merasakan detakan yang sama kencang dengan dadanya sendiri. Suara hati yang penuh kerinduan seperti juga miliknya.
Apakah pria ini jujur mangatakan kalau dia rindu padaku?
Apakah tidak cukup wanita itu mengisi hidupnya hingga dia masih mencariku.
Sarah kembali ke mode waspada, jangan sampai dia kembali terlena dan menerima luka yang sama.
Laki-laki ini punya wanita lain. Kau hanya akan mendapat luka yang sama Sarah..kata hatinya beeusaha untuk menetralkan perasaannya.
Belum juga nafas Sarah berganti tiba-tiba bibir Satrio sudah menyatu dengan bibirnya. Lembut, kenyal dan basah. Sarah mendorong dada Satrio untuk menjauh darinya. Satrio melepaskan pagutannya, melihat ke mata Sarah sekilas. kemudian menyatukan bibir mereka lagi. kali ini lebih menuntut. Sarah yang tadinya berontak pun kini menikmati permainan Satrio. tubuhnya bersorak menyambut pemiliknya. hatinya berdebar. kakinya lemas tak mampu menahan tubuhnya yang gemetar..
Tanpa melepas bibir mereka, Satrio menggendong tubuh sarah dan meletakkannya diatas sofa. mata mereka kembali bertatapan. Ada keraguan di hati Sarah, namun kemudian dia menyerah pada hasrat yang menggelora minta dipuaskan.
Tangan Satrio menyusup masuk ke dalam kemeja Sarah mencari sesuatu untuk pegangan. Sesuatu yang sangat dia rindukan. Daging kembar nan mulus. Wangi yang sama.
Lenguhan keluar dari mulut Sarah saat satrio memainkan pucuk gunung kembarnya.
" Ada yang beda Dik... Sammer kau susui dengan benar ya.." kata Satrio, di pandanginya keindahan bidadari di depannya. Sarah nenutup mukanya dengan kedua tangan.
" Jangan pandangi aku seperti itu mas. aku malu.."
...****** ...
__ADS_1