MERANGKUL CINTA

MERANGKUL CINTA
Ada Rasa Yang Hilang


__ADS_3

Ada rasa Yang Hilang


Sarah mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak yang dia bawa, hanya tas ransel kecil. Sisa baju yang tertinggal dia biarkan tersimpan di lemari milik Satrio.


Kemarin saat berada di tengah-tengah keluarga Satrio, kakak ipar me.bawakannya beberapa kotak makanan kering.


" Untuk setok beberapa hari dik..." kata mbak Wulan sambil menyodorkan kotak isi rendang daging sapi.


"Wah harum sekali mbak. Makasih yo.." kata Sarah


" ibune Jelita bikin tempe kering Dik. Sama sambel terasi, Sarah suka pedes kan..?" Astuti juga menyerahkan dua kotak bening berisi makanan khas mereka.


Dengan senyum bahagia Sarah mengemas kotak-kotak tersebut dan memasukkannya ke dalam tas khusus yang ia siapkan.


Perhatian manis dari keluarga Satrio membuatnya serasa berat untuk pergi.


"Aku pasti akan sangat merindukan kalian.." kata Sarah.


Satrio duduk di kursi tak jauh dari mereka berinteraksi.


Hatinya mengharu, tak terasa airmata menetes dari sudut matanya.


" Rasanya sesak, kenapa dadaku sakit sekali." Gumamnya dalam hati.



Wanita cantik itu akan meninggalkannya lagi.


Tiga tahun waktu yang cukup lama


"Tak bisakah adik mengalah dan tinggal untuk menetap..." kata Satrio pada Sarah beberapa hari yang lalu


" Mas mohon. Mas butuh adik sebagai pendamping dik. Mas takut dengan tidak adanya dirimu mas bakal lemah.." Permohonan Satrio hanya dibalas dengan gelengan kepala.


Keputusan Sarah bukan tentang dirinya sendiri.


Tenaganya sebagai Analsis di laborat Rumah Sakit sangat dibutuhkan.


Kontraknya baru saja diperbaharui, akan sangat rugi jika harus diputuskan. Tak mudah mendapatkan pekerjaan dengan posisi sebaik itu, juga rekan kerja yang sudah seperti keluarga.


*****

__ADS_1


Mereka sedang berada di Bandara Ahmad Yani. Masih beberapa menit lagi. Sarah masih celingukan menoleh ke pintu keberangkatan. Tidak ada Satrio dari beberapa pengantarnya.


Flashback on


" Mas tidak bisa mengantar dik. Ada rapat dadakan di kampus." Kata Satrio semalam. Dan pagi-pagi sekali Satrio sudah berangkat. Hanya pelukan dan kecupan mengakhiri. Tidak ada pelukan selamat tinggal.


"Iya mas."


Sarah mengeratkan pelukannya. Dibenamkan wajahnya di dada suaminya yang bidang. Hatinya juga terasa sesak. Rasa cinta yang sudah tumbuh harus layu karena sebuah perpisahan.


" Simpan adik di sini mas.." Kata Sarah sambil mengusap dada Suaminya.


Satrio mengecup pucuk kepala wanita yang sudah memberikan kebahagiaan kepada nya.


" Jika hati mas goyah, segera telpon adik ya. Kita jaga hati kita bareng-bareng." Kata Sarah.


"Kita akan bertahan mas. kita pasti bisa.."


Satrio enggan menjawab. Sebenarnya ada kemarahan pada istrinya, tapi mau bagaimana lagi, wanita ini begitu kekeh mempertahankan dan memilih kariernya.


Sebersit rasa tumbuh dihatinya, rasa tidak dihargai, tidak dianggap.


Flashback off


Satrio membolak balik berkas yang ada dihadapannya. Hatinya gelisah serasa ada yang hilang. Pikirannya berada di tempat lain. Sampai meeting usai dia tetap belum bisa menguasai kegelisahannya.


"Pak Satrio mungkin ada ide untuk acara yang akan kita adakan..?" Tanya Retno, ketua bagian Humas. Dia juga anak dari rektor kampus ini.


Retno sudah lama menaruh perhatian pada Satrio. Sebagai sesama Dosen yang masih lajang, Satrio termasuk Dosen favorite baik dikalangan mahasiswa maupun dikalangan rekan kerjanya.


Tak ada yang bisa menolak pesona Satrio, terutama pandangan matanya yang tajam.


Masa lalu Satrio yang berpetualang dari gadis satu ke gadis lainnya, tersesat ke dalam pergaulan bebas, melupakan ajaran agama.


Bekerja di perusahaan swasta, mendapatkan gaji fantastis, teman-teman yang siap kapan saja menemaninya bersenang-senang.


Satrio yang brengsek, hampir tiap akhir pekan menghamburkan uangnya untuk kesenangan dan wanita.


Sampai sebuah insiden menyadarkannya dan mengembalikannya ke jalan yang benar. Dua tahun waktunya sia-sia mengabdi pada nafsu.


Seorang kiyai membawanya masuk kedalam pesantren malam itu.

__ADS_1


Saat itu dia mabok berat, teman-temannya meninggalkannya.


Beruntung suasana pesantren dan didikan sang kiyai membawanya kembali ke jalan yang benar.


Dia bergidik jika mengingat kelakuannya sendiri di masa lalu.


Orangtuanya menyuruhnya resain dan kembali ke kota kelahiran. Karier yang baguspun dia tinggalkan.


Mulai lagi dari nol, melanjutka kuliah S2 dan melamar sebagai dosen di salah satu Universitas lokal. Beruntung lagi ternyata dengan mudah dia diterima.


Sekarang dia di sini, menjadi bagian poros penting dari perputaran roda kampus. Hampir seluruh kegiatan membutuhkan rekomendasinya.


" Bu Retno..." sedikit kaget Satrio mengangkat kepalanya. Wanita cantik itu masih menunggu jawabannya.


"Kali ini saya ikut keputusan suara terbanyak Bu. Semua rencana terlihat bagus." Kata Satrio


"Maaf Bu jika saya boleh segera meninggalkan ruangan. Ada sezuatu yang harus saya kejar." Retno tampak kecewa dengan keputusan Satrio. Maksudnya untuk bisa lebih berlama-lama dengannya.


Satrio mengemasi berkasnya. Mengambil tasnya dan segera berlalu. Masih ada 15 menit sebelum keberangkatan Sarah. Semoga masih bisa menyusulnya.


🤎🤎🤎🤎


Hati yang dipenuhi cinta


Takk rela untuk berpisah.


Raga yang haus akan belaian


Jiwa yang rindu dengan rayuan


Mata dan hatiku tertuju padamu


Hanya padamu satu


Ingin kuraih tanganmu


Ku genggam erat tak ku lepas lagi.


🤎🤎🤎🤎


To be bersambung

__ADS_1


__ADS_2