
...Hati yang di selimuti gengsi, tak akan pernah mau mengakui jika sebenarnya saling merindui....
..._________..__________..__________...
Sarah membuka kunci pintu apartemennya. dobel pintu, bagian luar pintu besi yang dirangkap dengan jaring anti nyamuk, baru pintu kedua yaitu pintu aluminium. Di sini kebanyakan apartemen tidak menggunakan kayu untuk pintu utama. Lebih aman menggunakan bahan aluminium atau stainlees, karena lebih kuat.
krieet..
Tidak ada siapa-siapa...?
Sweet Summer....
Nang... tole.....
Ga ada sahutan.. tidak ada jejak manusia. sarah masuk ke kamar Summer, juga tidak ada.
Kemana mereka..?
jangan-jangan masih di Rumah Sakit..?
Bukankah sudah ku suruh pulang dulu?
Sarah resah, belum pernah Sammer menghilang begini.
Mau tak mau Sarah meraih telponnya dan mendial nomor Satrio.
tuuuut tuuuut tuuuut...
Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan, silahkan lakukan panggilan beberapa saat lagi...
Suara operator begitu fasih menghafal setiap potongan kata. Mungkin karena tugas sehari-harinya begitu kan..?
kan... malah di luar jangkauan. Dimana mereka ya...
Sarah terus mencoba
" Kalian di mana..?" Tanya Sarah setelah panggilan ke nomor Satrio tersambung.
" Kami di taman samping apartemen. Tadi menunggumu lama , jadi kami putuskan untuk menghirup udara segar di bawah. Kau mau nyusul ke sini, atau kita naik ke atas..?" Tanya Satrio balik.
" Aku lelah, kalian naik saja." Jawab Sarah.
kemudian dia bergegas ke kamar mandi, berendam sebentar, menyelesaikan ritual mandi dan ganti baju santai, lalu berurusan dengan yang punya hidup.
Hari yang melelahkan tidak akan sanggup dilalui tanpa pertolongan -NYA.
Betul kan..?
Saat ayah dan anak itu masuk, Sarah masih menyelesaikan Zikir dan doanya.
" Ya Robb.. berikan kami kemudahan dalam segala urusan.. Berikan kami petunjuk untuk selalu di jalan yang lurus. Aamiin..."
" Ibuukkk.." Summer masuk kamar Sarah.
" Eh anak ibuk. sini..!" Kata Sarah sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
" Ibuk... Hari ini akusenang sekali..."
" Oh ya... Main apa Summer sama Bapak..?" Tanyanya.
" Bapak menemaniku bermain di taman. Tadi ketemu Stefan di taman bawah, dia bilang Bapakku cool, ganteng banget, sangat mirip sama aku." Kata Summer dengan mata berbinar terang.
Tampak sekali kebanggaan akan Bapaknya
" Dik. Besok mas ada kelas pagi...."
"Tentu saja. Mas harus pulang. Tidak ada nginep untuk malam ini. Terima kasih waktunya yang sudah mas luangkan untuk Summer.." Kata Sarah memotong ucapan Satrio.
" Kok gitu ngomongnya...?" Kata Satrio dengan nada kecewa yang tidak dibuat-buat. Hatinya sungguh kecewa dengan kata-kata Sarah. Padahal dia begitu ingin dekat dengan istri dan anaknya.
" Memang gitu kan..?" Sarah cuek saja melihat perubahan wajah Satrio.
" Mas kira Adik akan menahan Mas.."
" Yo tidak to mas... Mosok aku suruh nahan-nahan. Mas mau pulang ya sudah pulang saja. lagian jarak tempuh ke kampuse njenengan kan jauh dari sini." Kata Sarah lagi.
Satrio tidak ingin berdebat. Jika sudah muncul kepala batunya Sarah akan sangat sulit dilunakkan, jadi lebih baik menghindar.
" Yo wis. Mas pulang. Besok sore mas free. jadi biar mas lagi yang jemput Summer di Day care."
" Dik.. kapan adik punya waktu..?" Tanya Satrio sambil mengenakan jaket yang tadi sempat dilepasnya.
" Mau apa..?" Tanya Sarah.
" Mas rasa, mas butuh mobil untuk wira-wiri jemput Summer. Jika boleh mas mau minta ditemani cari mobil murah yang sesuai kantong mas. Mungkin adik atau teman kerja adik punya referensi mobil yang mas butuhkan." Kata Satrio.
" eeemmm, mungkin janis sedan saja. toh kita keluarga kecil. Atau aku beli motor saja ya.. lebih praktis..?" Satrio minta persetujuan Sarah.
Jika dipikir-pikir toh Sarah sudah punya mobil. Motor adalah solusi yang tepat untukmengatasi Satrio, jika perlu mobil Satrio bisa pakai punyanya.. pikir Sarah.
" Coba pikir-pikir dulu. Yang mana yang sesuai dengan kebutuhan mas saja." Jawab Sarah.
" Jika menurut Adik gimana..? Aman ga jika berkendara dengan Summer..?"
" Summer juga terbiasa naik motor kami punya satu unit, kami pakai saat cuaca bagus. Namun Saat aku tidak sempat jemput Summer kadang juga naik motornya Jimmy maupun Cindy. Mereka juga berkendara untuk menghindari macet juga karena parkir mahal di sini." Kata Sarah panjang lebar.
" Ok. Dengan kata lain Adik lebih setuju mas bawa motor..?" Tanya Satrio.
" Ya tidak juga.. semua terserah saja mana yang nyaman sih." kata Sarah.
Summer hanya terdiam mendengar percakapan kedua orang tuanya. Dia asik bermain game yang tersimpah di memori hp ibunya.
" Kalau menurut pangerannya Bapak, lebih enak mana, naik motor atau mobil...?" Tanya Satrio pada putranya.
" Aku lebih suka naik motor Bapak. ibuk sudah punya mobil kan? tidak usah beli mobil lagi, nanti Bapak susah cari parkiran." Kata Summer gamblang seperti orang dewasa.
" Gitu t o..? Summer tidak malu jika Bapak jemput Summer pakai motor..?" Tanya Satrio pada putranya. Summer hanya mengangguk.
"Baiklah. Manut pada saran kalian...??"
" Kenapa mesti manut...?
__ADS_1
(kau bisa punya pilihan sendiri.) batin sarah.
********
Satio mendengar Sarah menutup pintu apartemennya. Satrio pun pulang dengan taxi yang sudah dia pesan.
Hati yang di selimuti gengsi, tak akan pernah mau mengakui jika sebenarnya saling merindui.
Itulah kata-kata yang cocok untuk mereka berdua.
Mungkin perlu orang ke tiga sebagai perantara.
Sungguh, Sarah dan Satrio perlu waktu berjuang mencapa i titik temu untuk hati mereka.
" Mungkin aku harus meminta pertolongan nona Han. Dia salah satu teman baik Sarah d i kota ini." Pikir Satrio.
Satrio minta pengakuan, penjelasan. Satrio butuh untuk dimengerti, Bahkan tanpa malu harus dikatakan bahwa "Piton Buntung Kalimantan "nya butuh penyaluran.
Butuh kasihh sayang. Harusnya Sarah tahu, tujuh tahun belalai ini tidak ada yang mengagumi. Bukan tidak ada melainkan tidak dia ijinkan. Selama ini tidak boleh se orangpun menjadi selir untuk menina bobokkan Piton buntung Kalimantannya
Tanpa seseorang untuk menjinakkannya. Bayangan percintaan panas mereka di Ubud Bali, menjadi goresan memori yang tidak ingin dia lupakan. Buktinya ada Summer sebagai bukti kegagahannya.
Sebagai pria dewasa yang normal sungguh sulit mengesampingkan penampilan Sarah yang makin aduhai. Jika dulu pinggulnya belum terbentuk segitu indah.
Mata Satrio terpejam membayangkan tangannya berada di sana.
Sebenarnya dia sangat ingin bermalam. Bagaimana rasanya tidur sambil memeluk putra mereka.
"ting tong...ting tong.." Bel pintu berbunyi.
" Apa lagi sih.." Gumam Sarah..
Sarah mengamati bagian luar pintu dari lubang yang ada di pintu itu. Memastikan siapa yang datang, baru kemudian membuka pintu untuk Bapaknya Summer.
" Ada yang ketinggalan..?" Tanya Sarah.
" Iya Dik. Mas nunggu taxi lama banget, mau numpang ke toilet sebentar." Jawab Satrio sambil mengamati sekeliling. Sudah tidak ada jejak Summer di ruang tamu.
"Summer sudah tidur dik..?" Tanyanya.
"Sudah, Tadi langsung tidur setelah mas pamit."
" Maaf Dik.. Mas tidak tahan lagi"
...**********...
Yieee... akhirnya Satrio nekad.
Tapi kira-kira bisa goal enggak ya.
Gawang yang sudah dijaga selama delapan tahun kira-kira tetap bertahan atau ambrol disabet Piton Buntung Kalimantann ya....
Semoga pembaca suka cerita mas Satrio dan dik Sarah ya.
ssst baby Summer sudah bobok jangan berisik.. Kasih like yang banyak biar baby Summer bisa mimpi indah...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir di ceritaku yes...@ningsriw25