
Sarah membantu putranya menurunkan kantong-kantong berisi tanaman hias tersebut. Wajah ibu dari dua orang anak itu sangat bahagia. kebahagiaan tersendiri saat bisa mengumpulkan bunga baru di taman kecilnya itu.
"Buk.. Summer langaung pamit ya.. sore ini ada jadwal visit pasien.." kata putra bungsunya.
" Iyo.. sebentar. itu ada ubi sama sambel kacang. kamu bawa pulang." Sarah mencuci tangannya di keran yang ada di dekat kolam ikan.
" kapan ibu nyambel. kok semalam tidak di bikinke pecel buk...?"
"Ibuk lupa. nyambel pas hari Rabu itu. ibu sudah kemas rapi mau nyuruh kamu ambil malah lupa. tapi kamu tenang. insyaalloh sambel masih bisa di makan. paling tidak bertahan satu bulan." kata Sarah. Dia mengeluarkan box berisi sambal dan saru papar bag berisi ubi manis.
" sampai rumah kalau mau makan bisa langsung kamu panaskan."
Summer mangambil alih kedua bungkusan itu dari tangan ibunya.
" Siap kanjeng ibuk. " mereka berjalan menuju halaman tempat mobil Summer diparkirkan.
" kalau kerja ingat waktu. tubuhmu juga butuh istirahat. jiwamu juga butuh nutrusi. selalu kerjakan sholat. mulai pekerjaan dengan berdoa. karena tidak ada dokter kecuali Alloj ijinkan."
Summer mengangguk. Sarah ibunya selalu menasehatkan hal yang sama setiap kali dia pamit.
" Ibuk juga jaga kesehatan. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi Summer ya.
salam kangen untuk Khansya dan Bapak. " Sambil menjabat tangan ibunya dan memeluk wanita cantik yang sudah melahirkannya, Summer masuk ke dalam mobilnya. Sekali lagi dia melambai kepada sang ibuk.
" Summer jalan buk..."
" Iya..." Semoga Alloh mudahkan urusanmu anakku... bisik Sarah lalu mengusapkan kedua telapak tangannya ke dada.
Sarah menutup kembali pintu gerbang rumahnya...
Dia lupa kalau niatnya tadi untuk menelpon putri bungsunya. pasti dia sudah bangun. pikir Sarah.
" Assalamualaikum Adik....." katanya saat panggilan Internasionalnya terhubung.
"Waalaikumsalam... Ibuk sehat...kok adek kangen.."
kata Khansya dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir deras."Kok ibuk baru telepon...?" tanya Khansya.
__ADS_1
" iya maaf ibu lupa. padahal tadi sudang ngomong sama mas-mu. Semalam masmu nginep di sini. terus tadi pagi ajak ibuk jalan-jalan beli bunga. tuh belum ibu rapikan. karena keingat mau telpon adek dulu." Sarang menceritakan situasinya.
" lah. masnya mana..?" tanya Khansy.." kangen sini kasih telponnya ke Mas buk.." Rengek Khansya.
" Baru saja pulang dek.. masmu ada jadwal visit pasien."
" oalah....Dasar dokter sok sibuk..!
lah Bapak belum pulang to Buk..?" tanya Khansya.
"Belum. kalau sesuai jadwal kampus sih besok baru bisa pulang. Tapi entah kalau mbah putrimu minta ditungguin bapakmu. pasti ditunda kepulangannya. Biarlah Bapakmu berbakti pada mbah Putrimu. mumpung masih bisa." kata Sarah
Mereka ngobrol banyak hal. Ibu dan anak itu memang sangat dekat dan jatah telpon seminggu sekali mereka gunakan dengan baik.
Khansya tingal di Asrama. maka semua hal tentangnya memiliki jadwal. Termasuk kapan harus terima atau membuat panggilan telephon. kacuali hal darurat. baru beda lagi urusannya.
Sarah membicarakan kepulangan mereka ke Tanah Air pada akhir Romadhan ini. Sarah menanyakan apakah Khansya bisa berlibur untuk waktu satu atau dua minggu.
Khansya mengatakan bisa. Karena pihak kampusnya juga memberi kelonggaran pada mahasiswa yang muslim untuk ikut merayakan dan menyambut idul Fitri.
" Syukurlah.... nanti saat waktunya tiba kita mampir tempat kamu dulu. Baru lanjut ke Semarang bersama-sama." kata Sarah.
" Ora.. dudu Ibuk. Semalam Mas kamu yang merencanakan dan dia yang akan membiayai semuanya. termasuk tiket kamu. Memang pernah ibuk setega itu membiarkan anak ibuk keluarin duit sendiri...?" jawab Sarah.
" Oooh.. semua ditanggung Mas Dokter. Alhamdulillah deh kalau begitu."
" Iya..
Mas mu nitip salam kangen. Minta adiknya yang cuma satu-satunya itu juga selalu jaga sholatnya. pilih teman yang baik dan bersungguh-sungguh saat belajar.." Sarah menasehati putrinya.
Khansya hanya mengangguk. tentu itu bukan jawaban yang ibunya mau. Mana bisa melihat anggukan kepala jika panggilan yang dia lakukan tidak menyediakan video.
Angin yang bertiup menghembuskan nafas pada setiap yang hidup.
" ibuk jaga kesehatan ya..Romadhon kali ini kita bisa sahur dan buka bersama akong dan nenek. Khansya sangat bahagia." Kata Kahansa ditengah kebisuan antara dia dan ibunya.
" Iya.. nunggu mas mu bisa ambil cuti. kita berangkat. Tapi ibu sanksi jika mas mu bisa lama-lama ambil cutinya. paling juga hanya seminggu dia langsung kabur lagi. Mana bisa dia nganggur lama- lama dan memikirkan pasiennya menunggu." kata Sarah. Dia yang paling tahu jika anak sulungnya itu memang gila kerja. Bahkan masa mudanya dia habiskan untuk belajar dan bekerja. Sempat dia khawatir tentang kehidupan percintaan putranya. masa sih dokter muda dan ganteng seperti putranya tidak ada yang mau..? pikir Sarah selama ini. Tapi ternyata memanng putranya tidak ingin menjalin pacaran.
__ADS_1
" Biarkan Summer kerja dulu buk. nanti jika sudah saatnya Summer akan langsung menikah saja. Jika ibuk punya calon yang ibuk pandang pantas boleh dikenalkan ke Summer dan Summer akan setuju dengan pilihan ibuk." kata putranya. disaat anak lain menolak perjodohan karena dianggap sudah ketinggalan jaman, Summer putranya malah meminta perjodohan dengan alasan tudak punya waktu untuk pacaran. Putranya memang berbeda.
Sarah tidak mungkin menjatuhkan pilihan pada sembarangan gadis. dia harus tahu sifat dan latar belakang gadis yang bakal dia sandingkan dengan putranya. Paling tidak dia harus gadis baik-baik dan seaqidah dengan Summer.
" Dasar Mas orangnya gila kerja. Aku harap nanti dia kecantol sama hati seorang gadis desa yang akan menawannya di Jawa." Kata Khansya menyadarkan Sarah dari lamunannya.
" Allo.. ibuk.. ibuk masih di Line kan..?" tanya Khansya saat ibunya tidak merespon perbincangannya.
" iya.. semoga saja. dan tentunya harus gadis baik-baik. Jika perlu harus lulusan pondok. Ibuk pingin punya menantu seorang Santri yang sholekha dan bisa mbekteni masmu sebagai suaminya.
" Aamiin.. semoga Alloh kabulkan doa ibuk." kata Khansya.
" kamu libur toh Dik..? pergi kemana saja..?" tanya ibunya.
" Libur buk. tapi di asrama saja. Malas mau keluar udara di sini panas banget buk. hampir tidak ada cuaca dingin." kata Khansya.
" iya.. kan negara Tropis. coba kalau dulu kau pilih yang beasiswa di New Zealand tentu kamu akan mengalami musim dingin." kata Sarah. Dia menghormati keputusan putrinya yang memilih meneruskan kuliah di Singapura ketimbang di New Zealand. alasannya Singapura lebih dekat dan lebih mudah untuk didatangi.
" Buk.. adik kangen makan masakan ibuk..terutama kare spesialnya Ibuk. " kata Khansya manja.
" mau ibuk kirimi Kare buatan ibu..?" Tanya Sarah antusias saat putrinya yang selalu menjadikan masakannya sebagai favorite.
" mau banget."
" daging ayam atau sapi..?"
" ayam dan sapi boleh...? kan ibuk ngirimnya sekalian. di asrama juga banyak anak rantau buk. mereka akan senang dapat kiriman lauk." Kata Khanaya memprovokasi ibunya. Sarah memang selalu bersengamangat berurusan dengan masakan. Wanita ini merasa kesepian setelah sia pensiun tidak ada yang memaninya. kegiatannya hanya mengurus rumah setelah apotiknya juga sudah ada yang jaga.
" iyo.. ibuk bakal bikinkan kamu kare ayam dan rendang daging sapi. tapi mesti habis swbelum kita berada di Indonesia ya.."
" asyiik... terima kasih ibuk.. sekarang aku mau mengganggu mas Summer."
Khansya minta ijin pada ibunya untuk menutup panggilan. dan Sarah mwnyetujuinya..
...********...
...bersambung...
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...