
...Penulis coba nulis bab kemarin dengan polesan iya-iya tapi ditolak....
...Di bab ini mau nulis yang kalem-kalem aja deh.....
...Kang Satrio jangan nakalin Dik Sarah ya.....
...janji lo.......
...Happy Reading......
# Sarah
Sarah mengambil ponselnya. disekrol ke bawah sampai mentok. tapi belum ada balasan dari sang suami.
kemarin terakhir Satrio menelpon dan posisinya masih di Kampus. Baru selesai kelas katanya.
Sarah melihat postingan suaminya kemarin. di sana terpampang nyata kalau mereka sedang meeting di auditorium kampus. Dan bayangan wanita dewasa dengan blouse merah darah yang memiliki cutting rendah di bagian dada, seolah ingin menggoda semua lawan jenis. Dan kabarnya wanita itu betah melajang.
Bukankan Satrio suaminya adalah laki-laki yang begitu dia cintai. Dan dia sangat terobsesi untuk memiliki Satrio.
'Jangan bilang kalau Satrio terjerat ranjau Wanita ular itu' Pikir Sarah.
Sarah menggelengkan mukanya. ia tidak mau dibayangi oleh pikiran buruk.
Suaminya tidak seburuk itu. Dia bisa menjaga kesetiaannya.
Buktinya juga sudah jelas. Mereka hidup damai selama ini. Bahkan kehadiran Khansya berhasil mengikat hati Satrio. Suaminya itu selalu pulang tepat waktu dan tidak betah untuk berlama-lama di luar kota.
Khansya kecil sangat berharga dan menjadi center kebahagiaan keluarga ini.
Ting tong Ting tong..
Suara intercom mengagetkan Sarah.
Sarah melihat wajah lelah suaminya di layar
Dia memencet tombol
ceklek
suara pintu besi dibuka. dan terdengar dari jauh dentuman pintu ditutup.
Kebiasaan Satrio kalau nutup pintu suka dibanting. gak tahu saja suaranya sangat keras dan menggaung sampai ke unitnya.
Treeet-treeet
kali ini bel pintu unitnya.
"Ga bawa kunci to mas..?" Tanya Sarah saat membukakan pintu untuk suaminya.
Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman dan mencium takdzim tangan suaminya itu.
Satrio membalas dengan mengecup dahi sang istri tercinta. Tidak lupa ciuman dan ******* bibir dia hadiahkan untuk wanita yang sudah dua puluh tahun lebih menemaninya. Sarah membalas dengan memberikan gigitan di bibir bawah suaminya yang tebal. jambangnya sudah menebal. Seminggu ga dirapihin kayaknya. Sarah mengelus rambut yang menjadi favoritnya tersebut.
Sarah melepaskan bibirnya dan ganti mengecup leher sang suami yang situmbuhi jambang lebat.
kemudian tatapan mereka bertemu. Satrio mengecup kelopak matanya dan membisikkan sesuatu.
Sarah memukul lengan suaminya dan pipinya merona merah.
hanya penulis yang tahu apa kata yang mampir di telinga Sarah dan membuat pipi wanita dua ibu itu marona.
" Mas bawa kunci depan kan..?" tanya Sarah mengulang pertanyaannya.
"Tidak lah. Kalau mas bawa kunci sendiri mana ada adik tunggu dan buka pintu untuk mas" jawab Satrio sambil melepas sepatunya.
Sarah mengambil sepatu suaminya. mengelap dengan tisue basah yang sudah tersedia di dalam rak sepatu. lalu dia masukkan sepatu suaminya ke dalam lemari sepatu yang langsung menjadi penyekat ruang tamu dengan ruang makan.
" Adik telepon ke hp mas..?" tanya Satrio saat dusuk di sofa dan mengecek ponselnya.
Sarah memberikan sebotol infuse woter isi belimbing potong kepada Satria, lalu duduk di sebelahnya.
" Iya. tapi tidak dapat respon." Jawab Sarah agak ketus.
__ADS_1
" Iya lah. Tidak ada sinyal, mana mungkin bisa nyambung."
" Mas dari Semarang, Transit di KL. malah. Jika saja transit di Changi pingin ketemu Khansa dulu. Dan kebetulan Hp mas lowbatt. jadi apa daya.." kata Satrio sambil menggidikkan bahunya.
Satrio merengkuh bahu istrinya dan mendekap erat tubuh mungil dari wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.
" Jangan bilang istriku cemburu pada sopir taksi?"
Satrio menjauhkan tubuh istrinya dan melihat ekspresi sang istri.
Dilihat seperti itu wajah Sarah langsung memerah.
" Bukan Sopir taksi yang aku kuatirkan. Tapi si baju merah di ruang auditorium kampus kamu mas. Dia pasti nempel kamu terus kan..?" tanya Sarah.
"Kenapa sih adik...Tahu tidak..kalau selama di sana itu ya hanya kamu yang mas pikirkan. Aku kangen kamu, ibunya Summer dan Khansya..?"
kata-kata mesra dibisikkan langsung di telinga sang istri
" Dia kan obsesi banget pingin dapetin kamu mas. meskipun sudah tuwir tapi kan kamu masih ok. mana sekarang karier bagus. Sementara dia masih singgel. Jangan-jangan dia betah ga kawin hanya untuk nubgguin kamu." kata Sarah."""
" Oooh ... gitu ternyata pandangan istriku. berani ngatain suami tuwir ya..."
Satrio mendekatkan wajahnya di atas wajah sang istri. Sarah terus mengelak dan menurunkan rubuhnya.
Alih-alih menjauh tapi malah membuat tubuhnya mendarat di atas sofa kulit. itu membuat bibir Satrio lebih mudah menyentuh bibirnya.
Sarah terdiam. dia menyemvunyikan bibirnya dan membuat Satrii hanya mendapatkan bagian keras dagunya.
"Awas saja kau tergoda nenek lampir itu!!
Atau mau balikan sama mantan...?
ha...?
Awas saja, sampai ada berita yang tidak seharusnya sampai di telibgaku, rasakan dan kamu bakal tahu. Sarah tidak mau dihianati apa lagi diduakan. kau akan kehilangan hak-hakmu padaku maupun anak-anak." kata Sarah sarkastik.
" tidak mungkin lah ibu Ratu... kau ini berprasangka buruk kan..? mas Kudu piye bisa bikin kamu percaya..?" Kata Satrio memelas. Raut mukanya menyiratkan kehawatiran. tidak ada yang bisa menganggu pikirannya selain ultimatum istrinya.
Sifat keras kepala istrinya membuat Satrio kadang harus lebih banyak mengalah meskipun usianya sudah mencapai usia dewasa tapi kadang sifat kekanakannya masih muncul dan sulit untuk ditaklukan.
" Sudahlah Dek....
kamu tidak bakal mendengar berita buruk apapun, karena Mas juga tidak melakukan kesalahan apapun.
Mas Hanya bekerja dan memenuhi panggilan tugas sehingga berada di Semarang dan lebih dari dua minggu. Bukan karena hal-hal lain yang kau curigai.." kata Satrio sambil mengusap lengan istrinya
"Mas harap Adik mau percaya ya dan menghentikan semua ini." Satrio menambahi
" Mas mandi dulu. Atau mau mandi bersama..?"
Satrio masih berusaha untuk merayu istrinya.
Dengan tatapan penuh cinta dia menoleh kearah istrinya dan mengusap anak rambut yang menjuntai di pelipis sang istri.
Akhirnya mereka berakhir di dalam bathtube yang sama saling menggosok punggung dan mandi tanpa aktifitas lebih.
Sarah kemudian menghangatkan makanan yang tadi sudah sempat masuk kulkas.
"Tadi Summer mampir. Aku masak khusus buat dia. karena tidak tahu kamu pulang hari ini mas."
" Tumben bocah itu mampir. Biasanya nunggu ibunya memohon-mohon."
Satrio menyendok potongan jamur tahu dan udang asam manis buatan Istrinya.
" Selalu number one!!" kata Satrio sambil mengacungkan jempol.
Sarah mengerlingkan mata dan membuang muka. malu.
" Ibunya anak-anakku masih selalu tersipu jika di puji"
" Kayak ABG Labil gitu..?" jawab Sarah.
" Enggak. kayak bidadari syurga. Entah kebaikan apa yang sudah aku lakukan hingga Alloh memberiku teman hidup seorang bidadari sebaik kamu"
__ADS_1
gombal Satrio.
Namun Sarah menyukai semua gombalan itu. Ada rasa hangat di hatinya setiap kali suaminya menghombalinya.
Mereka menghabiskan makan malam berdua dan mengakhiri dengan buah sawo yang dibawa Satrio dari Jawa.
*****
#Summer
Sabar Masih berkutat dengan alat-alat operasi yang ada di ruangan serba putih tersebut lampu masih menyala sangat terang tanda-tanda belum belum selesai.
Seorang pasien penyandang Megacolon, berselimut kain operasi warna hijau. khas dari rumah sakitnya.
Jarum dan benang jahit telah selesai di pasang.
dokter Han dan dokter Lim yang menjadi rekannya selama operasi dilakukan mulai membereskan peralatan yang ada di dekat pasien
" Operasi sudah selesai bu. kami akan pindahkan ibunke bankar ya. nanti suster akan bantu anda pindah ke ranjang pasien." kata dokter Lim. Dia dokter Anestesi senior di Rumah sakit ini.
Dia selalu bersikap lemah lembut pada semua pasiennya.
" Mereka kesakitan secara Fisik. kita harus bisa membuat hatinya tidak tersakiti juga." itu kata-kata yang sering Summer dengar dari beliau.
sebuah nasehat yang akan membekas di hati Summer. sebagai dokter bedah dalam dia memang harus banyak sabar dan ramah. pasien butuh kenyamanan.
" Doter Summer. masih ada jadwal operasi..?" Tanya Dokter Han.
" Tidak Dok. malam ini cuma satu kasus ini" Jawab Summer.
" Mau hang out..?"
" Tidak Dok. saya langsung pulang. Rumah ortu menunggu. hari ini Bapak pulang setelah dua minggu di Jawa. pingin dengar cerita tentang leluhur. dan ibu Ratu minta saya pulang." jawab Summer. Dia tidak ingin temannya tersinggung karena penolakannya.
Mereka bertiga kemuar dari ruang operasi dan menuju ruangan masing-masing.
Sampai di dalam ruangannya, dokter Summer menanggalkan jas putihnya dan menyampirkannya di bahu kursinya.
hampir dua jam di ruang operasi membuatnya merasa sangat tegang. terutama di bahu dan punggungnya.
proses penyambungan usus kali ke tiga.
pasien mengalami penyumbatan usus besar sehingga mengharuskan usus dipotong dan melakukan penyambungan kembali setelah beberapa waktu.
Banyak kasus itu terjadi di kalangan menengah. Summer melihat tampang mereka yang bukan golongan berduit banyak. makanya sedikit banyak Summer selalu berusaha membantu. semua itu tanpa sepengetahuan pasien terkait. Diam-diam Summer akan membayar beberapa persen dari biaya pengobatan. dan pasien hanya tahu jika mereka mendapat potongan harga dari pihak Rumah Sakit.
Apa yang Summer lakukan tidak seorangpun tahu selain admin Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Summer menuju wastafel dan mencuci mukanya, menghilangkan aura kelelahan dari wajah gantengnya.
keriiiiing kriiing
pada bunyi deribgan ke tiga Summer mengangkat telponnya.
" Assalamualikum buk. gimana? tadi Ibuk telpon pas aku di kelas sebelah."
"Summer kamu jadi ke rumah kan..?" tanyaIbu nya dari seberang
" Ini baru selesai ooerasi buk. sebentar lagi meluncur" jawab Summer.
" Ok. See you mommy.." tambah Summer.
" iya kanjeng Ibuuuuk. Saya mampir. mau dibeliin apa..?
ok. Berapa bungkus..?" Percakapan yang begitu akrab.
Jika tidak tahu siapa lawan bicaranya, mereka mengira Summer sedang bicara dengan kekasihnya.
Summer menutup telponnya, memberesi mejanya lalu menyambar tas kerjanya dannmeninggalkan ruangan dengan sedikit bersiul. kangen juga dengan Bapaknya ternyata.
******
#
__ADS_1