
Khansya berlarian di halaman kampus yang luas tersebut. Gadis bertubuh tinggi seratus enam puluh delapan berhidung mancung, rambut panjang sepinggang bermata bulat tajam menggujam siapapun yang bertatapan dengannya.
Dengan kemeja kotak berwarna merah membungkus tubuhnya, rambutnya dicepol ke atas dan anting hitam yang menghiasi telinganya, menambah kesan bahwa gadis ini penyuka kebebasan. Tidak ada kesan manja sedikitpun dalam dirinya. Berbalut kesederhanaan namun memancarkan classy. Aura pemimpin begitu kuat terpancar di wajahnya.
Semoga sesuai untuk tokoh Khansya. jika tidak boleh diabaikan dan sesuaikan dengan imaginasi masing-masing. Foto bersumber dari Pinterest.
" Hai Sya..." Sapa Nicole. teman seangkatannya yang baru beberapa minggu ini dikenalnya. Mereka sama-sama perantau. Nicole berasal dari Filiphina. ibunya Filiphin bapaknya Canada. sementara memang keluarganya menetap di Singapura karena Ayahnya seorang guru bahasa di sebuah SMA Internasional di sini.
Nicole seorang gadis periang yang sangat baik. Dia tulus dalam berteman, tidak memilih atau membandingkan orang lain. Sisaat orang lain memilih teman dari status ekonomi keluarga, maupin status Sosial mereka, namun bagi Nicole dan Khansya semua teman sama, asal bisa saling menghargai dalam setiap hubungan.
" Hello Nic. kau datang lebih awal..?" tanya Khansya.
" Iya. aku ingin membaca ulang materi yang kwmarin. rasanya sudah ku ulang-ulang tapi masih stag di otak. belum bisa cair. Mungkin kau bisa bantu jelaskan..?" Kata Nicole dwngan tatapan memohon.
" Ok. Bagian mana yang bisa aku bantu..?" tanya Khansya.
Nicole membaca ulang bab yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Khansa membantu untuk menjelaskan dengan sabar. Beberapa pertanyaan diajukan olwh Nicole dan dapat dijawab dengan gamblang oleh Khansa, mambuat Nicole tersenyum puas.
" Terima kasih Sya. aku bisa tenang sekarang. kalau ada pertanyaan dari pak dosen aku tidak gelagapan lagi." kata Nicole sambil membereskan buku yang tadi sempat berserakan di lantai sekitarnya duduk.
" Tentu dengan senang hati. Jika aku bisa bantu kenapa enggak. Kapan saja butuh bantuan. selagi aku bisa." kata Khansya dengan nada merendah.
"Hari gini masih ada orang baik macam kamu Sya.." Puji Nicole lagi.
" Sudahlah. Tidak usah terlalu memujiku. Nanti aku bisa takabur." Kata Khansya.
" Ok aku tutup mulut." kata Nicole akhirnya. Mereka menyusuri lorong untuk menuju ruangan kelasnya. Untung dosennya belum datang dan kelas belum mulai.
" Hai Khansya... kamu dicari Salim. Katanya mau pinjam artikel yang minggu lalu." kata Ameer. Pemuda keturunan India itu selalu ramah dan mudah sekali akrab dengan siapapun. Itu yang ia senangi dari Ameer. Selain otaknya yang Masyaalloh, dia memiliki paras yang rupawan dan hari yang baik.
" oh. kenapa tidak pinjam punyamu saja..?" tanya Khansa.
" Sudah kutawari punya aku, namun dia tidak mau punyamu lebih sesuai dengan temanya." kata Ameer.
" Ada-ada saja. Jelas-jelas kamu lebih jago. tema yang kamu usung juga lebih brilian. Salim saja yang beralasan." Kata khansya. Ketiga mahasiswa beda warga negara itu menjalin persahabatan yang baik. Khansya yang Indo-Taiwan, Ameer yang Pakistan-Melayu, dan Nicole yang keturunan Canada-Filiphine.
Di negara yang modern dengan tuntutan biaya hidup yang begitu mahal dan aturan yang begitu ketat. Bagi Khansya sangat penting menjalin hubungan yang baik antar teman. pasti suatu ketika akan berguna di dunia kerja. Networking.
" Paling itu cara Salim untuk mendekatimu. Aku pernah lihat dia begitu intens memperhatikanmu." Kata Nicole.
__ADS_1
" Benarkah...? Saya rasa dia cuek orangnya." kata Khansya.
" Menurutmu itu tidak mungkin...?" Tanya Ameer.
Dia mengenal Khansa dan Salim belum terlalu lama. Tapi sebagai sesama pria dia tahu jika memang Ameer menaruh perhatian lebih kepada khansya yang memang memiliki paras cantik dan tidak seperti kebanyakan mahasiswi yang manja dan overacting.
Khansya supel, bisa bergaul dengan siapapun. Tapi memiliki harga diri tinggi. Tidak suka lebay dan sangat mandiri.
Setiap tugas pasti diselesaikan dengan baik.
" Ya mungkin saja. Tapi aku tidak ingin hal itu terjadi dalam waktu dekat. Aku harus fokus ke kuliahku. Aku ingin mengajukan akselerasi dan bisa segera balik ke Taiwan. Aku tak mau pacaran, di dalam keluargaku tidak ada dan tidak boleh pacaran." kata Khansya .
Perkataannya membuat Nicole dan Ameer menatapnya.
" Apa... ? kalian pikir aku aneh..?" tanya Khansya pada kedua sahabatnya.
" tidak. tapi apa kamu yakin tidak igin menikmati masa mudamu.?" tanya Nicole.
" Tentu, masa harus dinikmati. Tapi harus dengan cara yang baik dan menguntungkan, terutama untuk masa depan kita. Bagiku begitu. Entah kalian setuju atau tidak." jawab Khansya.
" Kau ini berfikirnya kaya orang tua saja. kita ini punya banyak waktu untuk bersenang-senang Sya..
"iya lah.." kata Nicole
" Kalian punya pendapat yang berseberangan denganku. Sudahlah tidak usah kita bahas. kalian sahabatku. dan aku berharap kita selalu bersahabat dalam kebaikan." kata Khansya.
"ok lah. Yuk kita mau cari makan di kantin atau di luar..?" tanya Ameer.
" Jam kuliahku sudah habis. kita makan di luar boleh. Sesekali juga perlu makan angin ." jawab Khansya.
" Tidak takut terkena debu..?" tanya Nicole. pertanyaannya sengaja menjurus ke Khansya.
" awas kau ya... giliran aku nuruti kemauan kalian, aku malah kena ejekan. Dasar tak tahu di gajih." Kata Khansya, dia mengangkat gulungan kertas di tangannya untyk menimpuk Nicole. Tapi Nicole sudah lebih dulu kabur Kansa mengejarnya dan akhirnya dua remaja itu main kejar-kejaran. Ameer yang memperhatikan tingkah mereka hanya tersenyun dan berjalan menuju mobilnya
Ameer membunyikan klakson mobilnya, membuat Nicole dan Khansya menoleh dan berlari ke arahnya.
" Aku mau makan mie laksa saja.." kata Khansya.
" Aku Chicken Rice saja". kata Nicole.
" Memangnya tidak mau samaan..?" tanya Ameer. Ok kita cari kedai yang bisa menyajikan dua menu itu.
__ADS_1
"Terserah kamu mau makam apa.." kata Nicole.
" Baik. aku mau makan nasi goreng saja. " kata Ameer.
Mereka memasuki kedai melayu yang ada di pinggiran jalan. Jalanan ini biasa untuk jualan p ara pedagang makanan di waktu sore hingga malam hari. Mereka berkumpul di suatu kawasan. jika pagi hari tempat ini akan menjadi tempat para pedagabg sayur. Agak suangan akan menjadi kawasan pertokoan. Dan saat sore sampai malam akan menjadi kawasan kuliner.
Mereka tidak diusir, karena mereka tertib dan tidak nengganggu.
" Satu nasi goreng beef nanas, satu chicken Rice dan satu Mie Laksa." kata Ameer pada pelayan yang mendatangi meja mereka. pelayan itu mencatat pesanan mereka, juga mananyakan minuman yang ingin mereka pesan. mereka kompak menjawab teh tawar.
Sambil menunggu pesanan mereka terus bergurau. Membahas hal-hal yang tidak penting, yang ada dalam kehidupan mereka.
" Hai kawan... " Suara seseorang yang tidak asing. Khansya menoleh dan melihat Salim sudah menarik kursi yang tersisa di dekat Khansya.
" Hai broo..." jawab Ameer. Tatapan mata Khansya seolah menghujam hati ameer.
"ting.." notis WA di Hp milik Ameer.
" pasti kamu yang beri tahukan keberadaan kita padanya ka...?"
Rupanya WA dari Khansya. Ameer membaca dan mengetik balasan.
" Sungguh aku tidak tahu. suer. ✌✌." jawab Ameer.
" mungkin Nicole yang info.." tambah Ameer.
" Kalian pasti sengaja undang dia kemari." ketik Khansya lagi.
" tidak Sya.. sudahlah. toh kita teman baik. jika memang kamu belum bisa balas cinta dia. tidak apa. tapi kita tetap teman baik lah..." ketik Ameer.
Ameer mengerlingkan mata saat bersitatap dengan khansya.
Khansya tidak menjawab Wa maupun kerlingan mata Ameer. dia hanya sedikit kesal dan makan sorenya jadi tidak berselera. Sikap Khansya berubah saat mengetahui kalau Salim menyukainya dan ingin menjadikannya pacar. Ada sedikit illfeel.
Khansya masih tetap diam saat Salim berbincang dengan Nikole dan Ameer. Dia seperti berusaha menarik perhatian Khansya. Namun sia-sia karena Khansya sudah membangun benteng yang begitu tinggi dan tebal. dan hanya waktu yang bisa menembusnya.
...**********...
...bersambung...
...+++++++++++++++++++++...
__ADS_1