
" Ibuk sehat kan...? Tanya Sarah pada ibunya.
Pagi itu musim semi, udara sangat segar dan mentaripun bersinar sangat bersahabat. Sebagai manusia yang dilahirkan di negara dua musim, Sarah begitu menyukai udara musim semi. Bisa lepas dari baju tebal yang sangat mengganggu pergerakan.
Hari ini jatahnya dapat offday, dia bisa melakukan panggilan ke ibunya tanpa takut ditegur rekan kerja.
Semalam sudah ditelpon oleh Satrio, Suami jarak jauhnya itu ternyata pintar menggombal.
Berrbagai ungkapan rindu mereka curahkan. Mereka bertukar kata sampai Sarah terlelap.
.
.
Kini gilirannya untuk melepas kangen dengan ibunya, sengaja dia menggunakan waktu setelah subuh, sebelum ibunya berangkat ke kios. Biar tidak mengganggu jam kerja sang ibu.
" Ibuk sehat Nok. Bapakmu yo sehat, belum pulang dari mushola. Kabare cucu ibuk piye..? Nakal po ora..?"
Ibuk yang sudah tahu kabar kehamilan Sarah sempat khawatir. Bagaimanapun Sarah seorang wanita, kehamilan pertama dilalui sendiri di negeri orang, itu semua membuat sang ibuk ketar-ketir.
Untung Sarah dapat meyakinkan orang tuanya bahwa semua baik-baik saja. Teman dan rekan kerjanya banyak membantu. Mr. Liu dan miss Han sebagai atasan juga sangat baik.
Bahkan ga ada ngidam apa-apa. Makan, tidur, bahkan semua aktifitas normal, kecuali buku dan ngantuk.
" Syukurlah. Kamu kudu jaga kesehatan kamu lo nok. Ingat makan, dan cukup istirahat."
" Mas Satrio ga pernah berkunjung to buk..?"
" Sibuk paling. Sejak kowe mangkat hanya 1sekali datang. Pamit katanya mau ke Jakarta ngurus apaaa gitu, ibuk tidak paham. Dia mengembalikan jaket milik Sinta yang pas waktu itu dipakai kamu. Setelah itu ga pernah lagi." Jawab ibuk Riyati.
" oooo..."
Ada nada kecewa di hati Sarah. Harusnya Satrio menjaga silaturahim dengan keluarganya, meskipun Sarah tidak di rumah.
"Piye to... hubungan kalian baik-baik saja to..?" Tanya ibuk.
"Baik lah buk. Hubungan jarak jauh ya begini, adanya cuma ndopok sama nggombal, tanpa bukti.."
" Hush... ngomong opo kuwi. Eling bayimu nok. Ojo sok omomg jelek, bayimu kudu diajari omong sing baik. Banyak zikir dan baca alqur'an. Biar kalau sudah lahir bisa jadi anak yang bagus ahlaknya." Ibuk menasehati Sarah.
"Inggih Ibuk... Saya pasti ikuti nasehat ibuk." Jawab Sarah.
" Eh nok...kandunganmu ki berarti habis bulan ke enam masuk tujuh to..?"
"Iya buk."
"Yo. Berarti jum'at depan ibuk kudu bikin tingkep, sodaqohan seadanya. Ben diberikan keberkahan dan keselamatan untuk ibuknya dan si jabang bayi." Kata ibuk.
"Acara nopo to niku buk..?"
" Acara pitung sasi. Tiap bulan yo ibuk bakal bikin slametan. Manut wetonmu Nok." Jelas sang ibu.
"Ga usah ngrepoti buk.."
"Yo orak lah. Tradisi baik kudu diuri-uri nok. Kalau bukan kita siapa yang bakal jaga warisan adat budaya. Mosok wong Australi atau wong Korea yang kudu jaga adat kita..?" Ibuk agak semlenget.
Semangat banget. Kekeh dengan tradisi.
Sebagai wanita modern yaang tinggal lama di luar negeri Sarah lebih cuek. Tak peduli dengan semua ***** bengek adat.
Tapi beda sama ibunya...
Segitu cintanya ibuk dengan tradisi jawa ya...? Batin Sarah.
"Kita ini orang Jawa yo kudu ikut budaya Jawa Nok. Meskipun kamu tinggal di Taiwan, China atau Amerika sekalipun. Biar orang lain tahu kalau kamu punya budaya." Ibuk masih gigih memberi pengertian pada anak sulungnya.
" inggih buk... Sarah manut pituture ibuk.. monggo sing sae menggah ibuk mawon...." kata Sarah dengan bahasa jawa yang lebih halus.
"Satrio tidak dikabari po nok. Kandunganmu wis gedi lo. Dia juga berhak untuk tahu. Sudah ada keturunannya di dalam perutmu."
"Nanti saja buk. Takutnya mas Satrio maksa Sarah untuk pulang. Sarah wis kadung kerasan dan enak kerja di sini." Jawab Sarah.
" Terus sopo sing kon ngrawat bayimu nek kowe kerjo Nok... ojo sembarangan kowe. pokoknya ibuk juga pingin kamu pulang sebelum lahiran. kamu kudu lahiran nang indo Nok. "
" Ibuk ga tega kalau kamu lahiran sendiri di negeri orang, Sarah binti Subroto." kata ibuknya menegaskan.
"Sarah bisa buk... ibuk tidak usah kuatir..."
__ADS_1
" Tapi tugas istri itu yo disamping suami Nok. Apalagi sudah ada calon anak di perutmu.."
" Kamu yo kudu ngati-ati, Satrio itu lelaki normal, dewasa juga ganteng.
Dia punya kebutuhan biologis yang kudu dipenuhi. Ojo sampek bojomu ditikung wedok liyo nok.. blaik kamu. Banyak yang ngincer bojomu lo Nok.." Kata-kata ibunya masuk dan menusuk kekokohan hati Sarah.
Mak jlebbb...
opo lelakinya bisa setia. bagaimana jika digoda.. bagaimana jika ada wanita lain yang juga menginginkan suaminya...
Kembali terbayang wajah suaminya. Hidung mancung, kulit kuning, rambut ikal yang mulai gondrong membuatnya tampak sangat manly.
Suaminya ganteng, dan lingkungan kerjanya banyak wanita, mulai dari mahasiswi sampai. rekan kerja.
Dia jadi tambah kangen sama lelaki nya.
Tapi semua itu kalah dengan tekat Sarah untuk mandiri dan berkarier. Kebersamaannya drngan Satrio bisa ditunda. ...pikirnya.
Bahkan harapannya adalah untuk punya rumah dan mobil sendiri, hasil dari jerih payahnya sendiri.
Pengalaman temannya yang selalu terhina karena numpang di rumah mertua, atau sering mendapat julukan wanita benalu, hidup numpang, tidak mbawa apa-apa, modal tem*** tok....
Hiiii bayangan kehidupan temannya cukup mempengaruhi jiwa dan pikiran Sarah.
Curhatan temannya tentang olok-olok dari.keluarga suami bikin hati sarah ngilu.
Mindset wanita mandiri sudah melekat di hatinya.
Sekalipun suaminya mau dan mampu menanggung hidupnya, tapi Sarah tetap ingin punya pemasukan sendiri.
Harapan dan cita-citanya setelah pulang dari Taiwan dia pingin punya klinik sendiri.
******
"Pak Satrio...." panggil Retno. Wanita seumuran Satrio yang masih betah melajang. Dia berjalan mensejajarkan diri di samping Satrio.
" Iya bu Retno, ada apa buk.."
" Hari ini masih ada kelas atau tidak pak..?" Tanya Retno.
" Apakah pak Satrio tidak keberatan jika saya mengajak bapak ke suatu tempat..?"
" kemana bu..?"
" Bapak saya ulang tahun... saya ingin mencari kado untuk beliau. Rasanya pas sekali jika ada pak Satrio, saya bisa minta pendapat untuk kado yang cocok." Jawab Retno.
Satrio diam sef jenak. ---- Apa salahnya, sesekali juga butuh refresing. Mungkin jalan ke mall bisa membuat pikirannya lebih segar. --- batin Satrio.
" ok.. saya juga perlu untuk membeli kemeja baru. Kita sekalian jalan bu." Kata Satrio menyetujui permintaan Retno.
Wanita itu tersenyum bahagia. Harinya begitu berbunga-bunga. Lelaki pujaannya mau menemaninya, setelah sekian lama selalu menolaknya.
" Baik. Kita langsung berangkat..?" Kata Retno dengan pipi yang masih bersemu merah.
Fantasinya sebagai wanita dewasa dengan liarnya wira-wiri di dalam otaknya, dan hasilnya adalah pipinya yang memerah.
" Kita berangkat dengan mobil saya saja bu.. " kata Satrio.
Sarah setuju, dia menitipkan mobil kepada pengurus parkir. Bilang jika mungkin mobilnya nginap malam ini. Dan petugas parkirpun mengiyakan.
Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil yang sama. Membelah jalanan kota Semarang yang tidak begitu padat.
Udara kota yang sudah mulai memanas. Sudah masuk musin kemarau. Para*** mall begitu ramai, terutama pasangan muda yang tanpa malu saling bergandengan tangan. Bahkan beberapa pasangan tanpa rikuh berjalan sambil berangkulan.
Begitulah akhir jaman.
Retno sendiri merasa kebakaran saat tanpa sengaja tangannya bergesekan dengan tangan satrio.
Dugh...
Seorang anak berlari dan menyenggol Retno hingga dia terhuyung dan hampir terjatuh.
"E eh.. .."
Reflek Satrio menangkap tubuh Retno. Pelukan itu cukup lama dinikmati oleh kedua insan dewasa itu.
Retno pun tidak berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
" Maaf tante... " kata bocah tadi, lalu segera meninggalkan dua mahluk itu.
Mereka berdua tersadar. Satrio melepaskan pelukannya.
Apalah kau ini Satrio... barang raenak kok mau diulang lagi.... batinnya.
Dia sadar kalau masa lalunya yang buruk bisa saja kembali. Bisa saja pertahanannya runtuh, dengan godaan yang selalu mendekat, dan begitu mendambanya.
Retno wanita yang cantik. Badannya juga sangat nyaman untuk dipeluk.
Untuk apa wanita secantik dia melajang begitu lama...
--- Dia menungguku---- pikir Satrio
--- ingat dosa Sat.. namanya Satrio tapi jika setan menguasainya namanya akan auto berubah menjadi sat_tan atau bang_sat. Pikirannya berkecamuk.
Dia tahu hatinya berdebar saat memeluk Retno tadi. Niatnya cuma menolong, dia tidak mengira ed fe knya begini buruk terhadap hatinya.
Apakah aku sudah selingkuh...? Tanyanya pada hatinya sendiri.
Tidak, aku sudah insaf. Aku bukan bangsat lagi. Aku sudah memiliki Sarah yang harus aku jaga hatinya.
Sementara sisi yang lain ada setan berpihak. Enak to pelukane bu Retno. Dada nya itu hangat menempel pas di lengan Satrio...
Hii Satrio bergidig ngeri
****
" kita ke arah sana pak. Bagaimana jika saya juga membelikan kemeja untuk Bapak..? Tanya Retno.
Suara wanita itu menyadarkan Satrio dari lamunannya.
Dia kembali dari dunia halu
"Oh. Silahkan bu Retno duluan.." jawab Satrio.
Mereka memilih kemeja merek ****Armani.
Satrio memilih bebeŕapa untuk dirinya sendiri.
Sedangkan retno tidak jadi memilih kemeja.
Mereka pindah ke konter acsesoris kenamaan dan akhinya memilih jam tangan untuk hadiah ulang tahun bapaknya. Harga yang lumayan. Seratus juta hanya untuk jam tangan..
Bagi Satio itu terlalu mewah. Sebagai dosen penghasilannya tidak sebesar itu.
Dia harus menabung beberapa bulan tentunya, dan harus mau makan hanya lauk pecel jika dia mau jam semahal itu.
Wanita di sampingnya juga seorang dosen. Tapi dia bisa membeli hadiah ulang tahun mahal. Pikir Satrio.
Tanpa Satrio tahu, kalau keluarga Retno itu sugih dari keturunan. Perkebunan cengkeh, kopi dan kelapa di dataran Tinggi ungaran terhampar luas. Tidak usah jadi dosenpun Retno sudah memiliki aliran dana yang mengalir tiap kali penen. Karena dia pewaris tungga.
Belum lagi usaha yang didirikan ayahnya. Semua akan turun ke tangannya. Dan semua deviden mengalir cantik ke rekeningnya pada setiap akhir bulannya.
Jadi seratus juta untuk samg bapak tidak berarti apo-apo...
*****
To Be Continue
🤍🤍🤍🤍
Selamat datang di dunia halu mamak Author.
Yang suka kisah mas Satrio dan Mbak Sarah boleh tulis komentar ya...
bikin mamak Author tambah semangat dan kasih like nya ya...
love you
love you
love you
semua readerkuh..
🤍🤍🤍🤍
__ADS_1