
Dasar wanita keras kepala, mana mau dia menuruti kata orang lain. Satrio hanya bisa menghela nafas sambil memasukkan berkas yang sedang dia siapkan untuk pengajuan visanya ke China.
Satrio ingin mengajak serta Sarah untuk mengikuti workshop yang diadakan oleh kampusnya. Tapi jika dipikir lagi Sarah memang benar. Kehamilannya tentu akan membuatnya tidak nyaman, dan lagi ini bukan musim liburan, sayang jika Summer harus membolos sekolah.
" Mas. nanti sore jadwal periksa dokter. mau nemenin ga. sekalian Usg ke dua. pasti sudah kelihatan jenis kelamin baby." kata Sarah.
" iya. Mas hari ini bisa pulang lebih awal kok." Jawab Satrio. Berkas yang sudah tertata rapi dimasukkan ke dalam tas. Digigitnya sanwich yang disiapkan oleh Sarah.
" Mas mbok duduk. nikmati sarapan dengan tenang. Biar pencernaan sehat." kata Sarah melihat suaminya makan sarapannya dengan berdiri.
" Summer kamu duduk dekat ibuk. Sarapan yang kenyang, biar otak siap menerima beban pelajaran baru." kata Sarah sambil menuang susu segar ke gelas putranya.
" iya Buk." Sarah tersenyum melihat muka putranya yang bersinar. kebahagiannnya.. Sudah tumbuh menjadi remaja yang rupawan dan cerdas.
" Nanti Bapak yang jemput." kata Sarah. Satrio mengangguk sambil mengunyah sarapannya. Sarah mengaduk susu ibu hamil dan memakan sanwich isi tuna buatannya sendiri. Sepiring buah potong juga menemani sarapan mereka.
"Nanti siang Bapak makan di rumah buk. jadi tidak usah bawa bekal." Kata Satrio.
" Ok. Summer my boy. mau bawa bekal apa tidak..?" tanya Sarah pada putranya.
" Bawa buk. Nanti bu guru marah jika kami tidak bawa bekal." jawab Summer.
" Baik. ibu sudah siapkan nasi, brokoli mayo kesukaanmu dan ham goreng. Harus habis ya my sweet boy..!" kata Sarah sambil menyerahkan kotak bekal pada putranya.
" Tadi Opa vicall. bilang besok Saturday mau ngajak.Summer mancing." Kata Summer pada kedua orang tuanya.
" Loo.. kita sudah rencana mau ke mall kan..?" kata Sarah.
" Ibuk dan Bapak saja yang ke Mall. Summer mau pergi sama Opa. Sudah lama kami tidak pergi bersama." kata Summer sambil mengelap bibirnya dengan tisue. Lalu dia berdiri dan.memasukkan kotak makan ke dalam tas sekolahnya.
" Ya sudah. Kita bisa kencan berdua Bapak dosen..!" kata Sarah.
" Ibuk menjijikkan !" kata Summer membuang muka. Pipinya merona merah dengan candaan Sarah.
" Idiih.. putraku sudah remaja ya. Malu ibunya ngomong mesra sama bapaknya." ledek Sarah.
"Udah. Bapak ayok berangkat sekarang. Ruangan ini berubah panas. kata Summer.
" Benar katamu. Bisa-bisa bapak buka baju jika kelamaan seruang dengan ibumu. Panasss..!" Kata Sutrio sambil mengipasi mukanya dengan tangan. seolah sedang kegerahan.
Sarah tertawa sambil melempar sebiji anggur ke arah suaminya, tak menyadari kalau sedang diincar Sarah malah satrio menunduk untuk mengambil sepatu di lemari sepatu. alhasil biji anggur mengenai pipi kanan Summer.
__ADS_1
" iiih.. ibuk apaan. " Summer mengusap pipinya.
" ibu hamil rese.." gumam Satrio.
" Awas nanti ya." bisik satrio di telinga Sarah, saat sarah mendekat untuk salim dan mengantar mereka sampai pintu.
Sarah tersenyum penuh arti. Sumner sebel melihat tungkah bapak dan ibunya yang sedang kasmaran.
********
Sarah memegang tas tangannya menyusuri Ruang Dokter kandungan. jadwal ceknya maju satu jam lebih awal, tadi perawat yang jadi asisten dokter mengirim pesan lewat WA. Karena satu hal Dokter memajukan jadwal periksa. Kusus hari ini.
Sarah sudah memberitahu Satrio untuk menyusul saja langsung ke ruang ibu anak yang ada di rumah sakit tempatnya bekerja. Hari ini jadwal untuk USG ke dua. Dia tidak begitu mementingkan usg, tapi sudah menjadi program dari rumah sakit bahwa ibu hamil harus melakukan USG minimal dua kali selama hamil. Paling tidak untuk mengecek kondisi kesehatan dan posisi bayi.
Karena faktor usia juga yang membuat Sarah harus lebih hati-hati dan waspada. akan lebih baik untuknya mengetahui segala sesuatu lebih dahulu ketimbang nanti tahu sesuatu belakangan.
Sarang tidak mau di kehamilan keduanya ini diselimuti rasa was-was. Dia merasa beruntung karena suaminya ada untuk menemani dan merawatnya. Meskipun karena pekerjaan kadang cuaminya jadi cuek dan lupa kasih peehatian padanya. Dasar Dosen Gondrong itu suamiku. Rasanya baru beberapa hari bertemu dan semua yang dia tahu tentang sifat suaminya sangat minim. Dibalik wajahnya yang diselimuti berewok, memang sangat susah ditebak. Kadang sangat mesra, lembut dan penuh kasih sayang. Tapi lebih sering tak acuh, cuek dan tak tersentuh, bagai tiang listrik. Apalagi jika sedang banyak tugas yang dia bawa pulang. Untuk menyapa anak istri pun tidak sempat.
Sarah mengambil nomor antrian yang tersedia di mesin regristrasi. Kemudian dia duduk di kursi tunggu. Tidak jauh darinya duduk juga seorang wanita berwajah Arab, dia ditemani oleh suaminya yang juga berwajah arab. Di pangkuan sang suami duduk seorang bayi lelaki, kira-kira baru berumur satu setengah tahu.
Dari wajah mereka adalah pasangan muda. kandungan sang istri hampir sama dengan Sarah. sekitar tujuh atau delapan bulan. Sarah tidak mau kepo. Sarah juga tidak mau mengganggu interaksi suami istri dengan bayinya tersebut.
Sara membuka gawainya dan mulai berse lancar. Pertama dia melihat group di telegramnya. Group para penghuni ruang Laborat.
Biasa,... tentang kehamilan dan persalinan.
Dulu saat melahirkan Summer dia beruntung karena Summer keluar dengan cepat dan proses normal. Tidak ada komplikasi apapun. Bahkan dokter dan bidan pun sampai memberikan oplouse dengan ketegaran Sarah melalui semua.
Tapi pada kehamilan keduanya ini dokter sedikit memberi aba-aba. Untuk berjaga-jaga dengan segala kemungkinan, pun seandainya harus dengan operasi ceasar, karena jarak kehamilan satu dengan yang kedua cukup jauh, sementara usia juga sudah masuk usia beresiko.
Selain hati-hati, Sarah juga lebih banyak memasrshkan diri pada sang pencipta. Saat malam terbangun atau diwaktu senggang pas jam dinas, dia akan menyempatkan diri untuk sholat malam. Minta perlindungan dan pertolongan Alloh supaya dimudahkan selama hamil dan proses persalinannya kelak.
" Dik...." Suara suaminya. Sarah mengangkat kepalanya. Tampak sang suami sedikit terengah-engah.
" Mas belum telat kan..?" Tanyanya. Sarah tersenyum sambil menggrlengkan kepala.
" Masih tiga antrian lagi kok. Duduk sini. kata Sarah sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya. Satrio duduk, namun sebelumnya mengusap kapala sang istri.
Satrio menyodorkan kotak minuman kapada Sarah. " Kebetulan aku haus mas, tadi lupa bawa air minum. " Kata Sarah.
" Iya, mas Feeling saja, rasanya pingin minum, jangan-jangan istriku juga haus jadi sekalian kubeli dua." Jawab Satrio. Sarah menancapkan sedotan dan meminum jus buah tersebut sambil meñgacungkan jempol mengapresiasi kepekaan suaminya kali ini. Sampai tegukan terakhir.
__ADS_1
" Hausss bener ya..?" Tanya Satrio sambil mengusap perut buncit Sarah.
"Iya lah. Nunggu dari tadi, ditambah tadi jalan dari parkiran dan naik lantai dua ini kan..? pasti haus lah." Kata Sarah agak ketus.
Tuh Kan.. ketusnya kelihatan, gampang banget bad moodnya muncul sih. pikir Satrio."Summer Mas langsungbantar ke rumah Professor. Katanya nunggu di sana saja. kasihan jika nunggu di rumah sendiri. tadi ku ajak sini tidak mau. Malu katanya." kata Satrio.
" Oh. ya sudah. Emang prof Liu juga belum pulang.?"
" Belum. Prof masih ada kelas."
"oh, tapi mereka jadi mancing kan.. ? Di kali....? memangnya masih ada ikan jaman segini..?" tanya Sarah.
" Ya embuh. kan yang sering mancing si Summer sama Kakeknya." Jawab Satrio.
Aneh bojoku iki. masak nanyanya sama aku yang sama sekali tidak suka mancing. Batin Satrio.
" Sarah Siau Cie...!" Panggilan dari ruang periksa.
" Iya, Saya.." jawab Sarah. Sambil memberi kode pada Suaminya untuk mengikutinya ke ruang periksa.
" Kartu periksa dan buku hamilnya tolong." kata sang perawat. Sarah membuka tasnya dan mengambil buku kehamilannya dari da lam tas dan menyodorkan ke depan petugas itu.
"Ibu Sarah. Kehamilan ke dua. datang untuk cek USG ya?" Tanya sang petugas. Sarah mengiyskan dengan anggukan kepala.
Sang petugas mencatat informasi tentang tekanan darah, lingkar lengan, dan juga tinggi fundus atau perut sang ibu hamil. Kemudian sang petugas memberi secarik kertas dan menyuruh Sarah masuk ke ruang USG. Satrio mengekor Sarah menuju ruang Ultrasounoligi. Di sana sudah menunggu dokter cantik, berambut ikal dicat coklat tua, kulit putih bermata sipit. sangat sipit malah. Di dadanya ada nametag " Cornelia Chen". Sesuai namanya yang cantik. Dokter itu tersenyum ramah dan mempers ilahkan Sarah mengambil posisi di ranjang pasien yang tersedia.
Dokter Cornelia mengoleskan jel di perut Sarah. kemudian mulai memutar benda macam ulekan bumbu di atas perut Sarah.
Terdengar bunyi berisik, suara detak jantung bayi yang terrekam oleh alat tersebut. Dokter mulai menjelaskan posisi bayi dan jenis kelaminnya yang kebetulan pas terlihat. Sang dokter tersenyum melihatntingkah Satrio yang Sedikit aneh. " Anak pertama Ya Tuan..?" Tanya Dokter Cornelia.
" Ke dua Dokter. Tapi dulu yang pertama tidak sempat melihat proses ini." Jawab Satrio.
" Ooooh... " Dokter Cornelia ber ooh cukup lama, baru kembali ke layar monitor di depannya. Sementara Sarah dan Satrio mengamati pergerakan bayinya melalui monitor yang tergantung di dinding.
" Bayi kalian sehat dan aktif. di jaga beratnya agar tidak bertambah. mau lahiran normal atau operasi?"
???
...******...
...TBC...
__ADS_1
...""""""""""""""""...
"