
" Dik...." Satrio mendekat ke arah Sarah.
Pandangan matanya tertuju pada dua benda mungil yang ada di dada Sarah. Jakunnya turun naik menahan air liur yang mengalir lebih deras.
Jiwa lelakinya bergejolak sangat kuat,
" Mas mau ke toilet. pakai yang ada di kamarku saja mas. Toilet luar belum sempat dibersihkan." Kata Sarah dengan suara serak karena sudah ngantuk berat.
" iya. maaf. Mas pakai toilet dulu ya.."
Sarah menganggukkan kepalanya dan membiarkan Satrio masuk toilet tanpa berfikir hal lain.
Sampai beberapa saat kemudian. Sarah terduduk di sofa ruang tamu. Sebenarnya sudah sangat letih, tapi Satrio tidak kunjung keluar toilet. Sampai kantuk menguasai tubuhnya yang terkulai di sofa.
"Dik.. dik.." Satrio memanggil dan menggoyang bahu Sarah.
" hhhah.."
" Sudah ya mas..?" Tanyanya setengah sadar.
" Iya"
" Nanti tutup kembali pintunya ya mas. Aku ngantuk sekali." Kata Sarah lalu menyeret tubuhnya masuk ke kamar, menutup pintu sekenanya dan langsung merebahkan diri di atas kasur.
Satrio tidak menjawab apapun. Tidak bisa menjanjikan apapun.
Bagi Satrio lahar panas gunung Rinjani memang harus dimuntahkan. paling tidak agar terjadi regenerasi. Pembaharuan keturunan. Alam semesta butuh di refres juga kan. ibarat gunung merapi dia secara kodrat bertugas mengeluarkan abu vulkanik dan lahar panas, supaya tanah kembali subur, tersedia bahan bangunan, menjaga ekosistem alam.
Begitupun dengan Satrio. lahar panasnya siap dimuntahkan dan menaklukkan puncak gunung yang menegang.
Satrio tidak keluar dari apartemen Sarah seperti yang sarah bayangkan. Dia malah mengikuti Sarah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar.
Melepaskan jaket dari tubuh tingginya lalu menyusul Sarah masuk ke dalam selimut tebal itu. Menepis jarak diantara mereka. Sangat lama keinginannya untuk selalu memeluk wanita ini. Terhalang ego dan harga diri.
" Dik.. mas menginginkanmu..." kata Sstrio
Sarah sudah delapan puluh persen tidur. Otaknya enggan merespon pendengarannya. Dia menikmati apa yang Satrio berikan. Sarah merasakan tangan hangat menyusuri bagian-bagian tertentu di tubuhnya, "mimpi yang indah" batin Sarah.
Sementara Satrio semakin tak bisa menahan diri. Diangkatnya kaos oblong milik Sarah hingga menampakkan gunung kembar yang bulat dan berisi, " dulu belum sebesar ini dik.." Pikir Sstrio.
Lamaaaa dipandangi saja dua benda yang begitu putih dan mulus. meskipun menyusui Summer tapi pay***** milik Sarah tambah cantik, tidak ada stretcmark sama sekali. Tak puas memandang Satrio mulai mendekatkan diri, dihirupnya daging kenyal sebesar kelapa ìtu. Diremas-remas, lembuut.
Bibir Sarah menganga, mengeluarkan ******* dan lenguhan, tapi matanya masih terpejam.
__ADS_1
Satrio sampai di pucuk yang meruncing. meskipun yang punya tertidur lelap tapi barang miliknya siap untuk di ajak bermain. Dia menegang dalam cengkeraman tangan Satrio. remasa halus membuat Sarah mengeluarkan desahannya.
" Dik.. buka matamu. Mas akan mendataangimu." Bisik Satrio di tengah gelora hati dan jiwanya. Suhu tubuhnya pun meningkat, membakar setiap inci
Sarah enggan membuka mata. Dia merasa mimpi ini begitu nyata. Tangan ini begitu lihai memainkan miliknya, hangat kekar tapi lembut. enaaak meni. Bangsat apa yang menguasai pikiranya. Bagaimana mungkin dia berfantasi begitu liar.
Apakah dia begitu mrindukan Sstrio hingga dia bisa bermimpi merasakan Satrio meremasnya. Bahkan dia kini merasa kalau pu**ng nya dihisap. Basah dan hangat. Ada lidah bermain-main di sana.
uuhh... Sarah mencengkeram Seprei
"Aku harus membuka mata. Tak mungkin jika ini mimpi.." kata Sarah
" Mas..."
" Ssttt. Dik.. biarkan mas mengambil milik mas yang terbiar begitu lama. Mas sangat merindukanmu. Mas sudah tidak tahan."
Lelaki normal yang menahan hasrat bertahun-tahun.
kakak pembaca yang bersuami atau beristri tahu lah bagaimana rasanya.
Satrio menuntaskannya setelah melihat Sarah menganggukkan kepala tanda setuju.
Kuku-kuku Sarah mencakar punggung Satrio. Begitupun mulut Satrio tidak mau lepas dari gunung kembar nan indah dan wangi.
Laharpun akhirnya menyembur hingga membasahi lembah kautsar yang ada di dalam hutan. Rimbun dan lebat, tersembunyi goa untuk bermukim ular piton. ular piton buntung yang memuntahkan lahar nikmat, ****** ***** yang tiada taranya menyembur membasahi gua di dalam lembah berhutan lebat.
Saling membalas, saling memberi dan saling memuaskan. Tidak mungkin jika tidak ada cinta. Malam begitu panas dan membara. Lahar asmara berkali-kali disemburkan mengisi rahim yang kosong. Bak goa tempat yang lembab dan hangat sangat cocok untuk sembunyi dan berkembang biak Piton buntung.
Bibir kembali bertemu bibir, tidak peduli dengan bau dari semburan lahar piton buntung Kalimantan, tidak peduli dengan ketingat deras yang membuat badan terasa sangat lengket.
🤍🤍🤍
Mereka kelelahan, ter kulai lemas sambil bergenggaman tangan. Tersenyum memandang satu sama lain. Malam yang indah, lebih indah dari bulan madu mereka di pulau Bali dan Nusa Tenggara.
Sarah melupakan ganjalan di hatinya.
Dia hanya ingin memiliki malam ini. Memiliki laki-laki yang merupakan ayah dari putranya.
"Jika ada wanita lain harusnya dia mengalah padaku." Kata hati Sarah.
"Hanya kau satu-satunya, dari dulu sampai sekarang." Kata Satrio saat memandang ma nik hitam milik Sarah.
" Bagaimana dia tahu isi hatiku..?"
__ADS_1
Sudah pandai nggombal rupa-rupanya..?" kelakar Sarah.
" Bobok yuk... adik harus simpan tenaga untuk besok" Kata Satrio
" Besok aku jatah libur..." bisik Sarah
" Kalau begitu tunggu mas selesai kuliah, adik akan bekerja sangat keras." Ancam Satrio.
" Siapa bilang mas boleh masuk pintu rumahku..?"
" Mas bisa bikin duplikat kunci dan masuk anytime. Seperti aku memasukimu....mmmm piye..?"
" Mas tidak boleh sembarangan ya tidak sopan"
"Rumah Istriku berarti rumahku. Besok.sekalian mas ijin keluar asrama ya. mas tidak mau pisah lagi sama kalian. mas ijin untuk tinggal bersama kalian. Nanti sewa rumah mas yang tanggung." kata Satrio
" Tapi aku belum bilang setuju loh.."
" Kalau begitu sekarang saja adik bilang setuju. biar mas langsung packing nanti.."
" Mas.. Adik mau kita nikah sungguhan dulu, baru boleh tinggal bersama." kata Sarah.
" Siap. apa kita perlu pulang kampung dulu untuk merayakan pernikahan kita.. ?"
" Mas kan baru datang. memang bisa gitu ambil cuti..?"
" tentu tidak... tapi aku bisa pakai alasan darurat jika adik benar-benar ingin kita pulang." kata Satrio.
" Mas..."
" mmmm"
"Ada yang mau ku tanyakan..."
" Apa dik. ku beri kau tiga pertanyaan..."
"iiihh.. bercanda deh..!!" Sarah menepuk lengan Satrio yang masih melingkar diatas perutnya.
" Aku punya foto ini..." Sarah memperlihatkan Gambar WA yang tersimpan di memori hasilnya.
" Dari nama Adik punya foto ini...?
Siapa yang kirimi foto ini ke adik..? " Tanya Satrio.
__ADS_1
"kapan dek, kapan adik melihat semua ini. Ini foto sudah lama sekali sejak adik meninggalkan Mas dulu. Mas sangat frustrasi dan menerima ajakan Retno untuk jalan-jalan ke mall, saat dia sedang Limbung sepatunya patah dan dia terpelanting sehingga secara reflek Mas menangkap tubuhnya.
Terlihat seperti kami sedang berpelukan, sebenarnya tidak. Mas hanya menolong wanita itu dia teman kerja mas bernama Retno, dia dosen bahasa Indonesia kami hanya berteman."