MERANGKUL CINTA

MERANGKUL CINTA
Nikah Siri


__ADS_3

Keramaian yang ada di rumah orang tua Sarah rupanya bukan tanpa maksud. Para sanak saudara berkumpul atas undangan dari pak Sapto dan bu Riyati orang tua Sarah.


Mereka diminta untuk membantu mempersiapkan acara pertunangan yang akan digelar besok.


" Nok..( panggilan untuk anak perempuan) Sido njupuk kebaya ora..?" Tanya Ibu Riyati.


" Sios bu. Nunggu mase datang. Katanya mau nganter" jawab Sarah.


Semalam setelah menurunkan Sarah dan barang-barang bawaannya Satrio hanya duduk sebentar dan langsung pamit, karena memang sudah sangat larut.


Hari ini mereka berencana ke butik langganan ibu Riyati, untuk mencoba kebaya dan kemeja yang akan dipakai pas acara tunangan besok lusa.


****


Sarah sudah selesai bersiap-siap. Kemeja warna baby blue berlengan panjang dengan aksen sabuk kecil melilit pinggangnya. Celana kulot warna biru dongker melengkapi penampilannya. Tas selempang kecil warna senada menambah manis penampilannya.


Sementara ibunya masih di dapur ditemani Sitta. Mereka asik menyiapkan menu untuk makan siang.


Sarah hanya dua bersaudara dengam Sitta. Dan mereka dibedakan jarak umur tiga tahun.


Pak Broto seorang pedagang musiman. Apa saja yang dihasilkan oleh petani lokal ditampungnya. Dia memiliki kios di terminal untuk menampung dagangan dari para tengkulak.


Sementara ibu Riyati seorang yang sangat ulet juga. Beliau menyuplai jagung untuk para peternak ayam ras di daerahnya.


Termasuk obat-obatan untuk kebutuhan ternak.


Kiosnya ada di pinggiran kota kecil mereka. Dia memiliki beberapa karyawan, seorang operator dan beberapa buruh gudang. Gudangnya cukup besar. Bisa memuat beberapa puluh ton jagung.


Bu Riyati menerima jagung dari petani, menggilingnya kemudian didistribusikan ke peternak yang sudah menjadi mitranya.


Nama bu Riyati cukup kesohor di daerahnya.


*****


Satrio datang dengan Kijang kristanya. Mobil warna biru metalik yang pernah sangat populer pada masa jayanya.


Dengan setelan jean biru dan kaos pollo warna biru dongker. Terkesan manly banget. Rambut ikal agak gondrong disisir rapi. Wajah klimisnya dengan jambang halus baru selesai dicukur.


Kembali hati Sarah berdebar. Dia mengintip dari balik kaca jendela. Calon tunangannya masih berkutat di mobilnya. Entah apa yang sedang dia lakukan.


"Kak.. ngapain ngintip. Langsung samperin aja kak..." bisik Sinta di telinga Sarah.


"Apa sih dik... bikin kaget saja." Sarah meringis sambil memukul kepela Sinta lembut.


"Aduh. Kok malah dipukul sih kak...


Adik kan cuma kasih solusi untuk hati kakak yang tergetar. Sana keluar, sambut masnya biar seneng tu sang Arjuna." Kembali Sinta menggoda kakaknya.


"Kalian maching banget kak. Pasti dah sepakat pakai baju samaan ya..?" Tanya si adik.


"Tidak kok. Kakak cuma kebetulan pas pingin pakai baju ini." Jawab Sarah santai.


"Kak. Itu mas udah mau masuk. Aku kebelakang sik yo. Mau dibuatin minum ga..?"


"Ga usah dik. Kita mau langsung jalan." Jawab Sarah.


"AssalamualIaikum..." suara dari luar

__ADS_1


"Waalaikumsalam warohmatullohiwabatokatu" jawab Sarah


"Duduk dulu mas. Mau minum apa?" Tanya Sarah mempersilahkan calon tunangannya.


Sementara Satrio melihat jam tangan yang melingkarar di pergelangan tangannya. Tapi dia memilih duduk di sofa di ruang tamu tersebut.


" ibu mana dik.. kok sepi?" Tanya Satrio


" masih masak mas. Mas mau minum dulu..?"


" Sudah siang dik. Kayaknya adik juga sudah lama menunggu kan. Gimana kalau kita langsung jalan.?" Satrio menjawab sambil menatap lembut wajah kekasihnya.


" Dik. Kamu cantik sekali.." puji Satrio dan hanya dibalas senyum manis dari Sarah. Tapi hatinya berdegup kencang. Pipinya menampakkan warna kemerahan malu.


"Mas juga ganteng.." akhirnya Sarah juga berani mengeluarkan pendapatnya.


"Kita mau langsung jalan mas. Biar ku panggil ibu dulu. Kita pamitan." Satrio mengangguk. Sarah pun berlalu menuju dapur rumah mereka yang berada jauh di belakang.


" bu. Itu mas Satrio sudah datang. Kita langsung pamit ya bu. Takutnya keburu hujan." Sarah berdiri di pintu masuk dapur.


" ga dikasih minum dulu to masnya..?" Tanya bu Riyanti


" Ndak usah bu. .."


"Itu mas nya mau salim. Ibu keluar dulu po.." kata Sarah.


"Iyo sik. Ibu wijik dulu.." kata bu Riyanti kemudian berdiri dan mencuci tangannya.


Lalu mereka menuju ruang tamu untuk mememui calon mantunya.


" mbak Sarah cantik banget mbak.." kata bulek Dayah. Adik dari ibunya.


Jadi ibu tidak usah mengundang tukang masak kusus. Cukup saudara sendiri.


"Kami pamit ya bu.. saya bawa dik Sarah keluar. Nanti dari butik kita jalan untuk beli beberapa kebutuhan bu." Pamit Satrio pada calon mertuanya.


" Iya mas. Hati-hati ya..


Pulange ojo terlalu malam ya Mas.".. jawab bu Riyanti dan mengulurkan tangan menjawab salam dari anak dan calon menantunya.


" oh nggih bu. Kalau gitu kita langsung pamit nggih.."


Mereka pun menuju butik yang sudah menyiapkan sarimbit untuk mereka. Tak lupa juga untuk seluruh anggota keluarga.


Sarah duduk di samping kemudi saat mereka menuju mall yang ada di pusat kota Semarang.


" Kita sholat dulu ya dik. Waktu zuhur hampir lewat ini." Kata Satrio ditengah-tengah waktu nyetirnya.


" Iya mas. Kita cari masjid pinggir jalan saja. Kalau di moll lebih ramai. Jadi ga konsen." Jawab Sarah.


Mereka sholat sendiri-sendiri. Setelah selesai segera mereka menuju mall yang dituju.


Mereka memesa Ramen ala Thailand dan menikmati hidangan sambil sesekali bercengkerama.


Meskipun baru pertemuan kedua, namun kemistri diantara mereka telah terjalin. Mungkin pertemuan mereka karena perjodohan tapi mereka menerima dengan iklas. Toh diantara mereka berdua memang tidak memiliki pasangan sebelumnya.


" Bagai mana kerjaan Dik.." tanya Satrio

__ADS_1


" Baik mas. Di tempat kerjaku semua orang saling bekerja sama. Pimpinan defisi kami sangat care. Tidak boleh ada perdebatan dalam bentuk apapun. Semua masalah harus selesai di tempat kerja. Tidak boleh dibawa pulang. Marakke dendam jare.


"Kami team laborat sangat salid mas. Akhir-akhir ini dengan banyaknya kasus Coro membuat jadwal kerja kami penuh. Hampir susah bernafas."


"Untung saja virus mereda, sehingga aku bisa mengajukan cuti." Kata Sarah.


" Kalau tidak biar mas yang nyusul ke sana. Terlalu lama nunggu Adik, tak bisa nahan kangen." Sahut Satrio.


"Ternyata mas bisa nggombal yo.." jawab Sarah. Tak luput pipinya merona jugavkarena gugup. Tersanjung juga hatinya mendengar kata-kata dari Satrio.


"Benar lo dik. Mas ki sakbenere pingin banget kita langsung nikah. Mas juga sudah pingin segera punya anak." Sambil menyeruput kuah mie laksa yang ada di depannya.


"Mas kan sudah berumur dik.. " Kata Satrio lembut.


Suasana berubah syahdu. Ada rasa bersalah menyelimuti hati Sarah. Dia bersedia dijodohkan dan menjalin hubungan. Tapi dia juga yang bertahan untuk berlama-lama dengan hubungan jarak jauh.


"Mas.. kalau acara tunangan besok kita ganti dengan nikahan piye mas. Paling tidak kita bisa menghabiskan waktu bersama. Kangennya bisa terobati tanpa takut berbuat dosa." Jawab Sarah.


Satrio agak terkejut dengan pernyataan Sarah. Tidak mengira akan muncul ide nikah siri dari Sarah.


" Memangnya adik tidak keberatan menikah siri sama Mas..? Tidak takut terjadi sesuatu diantara kita dan Adik yang dirugikan?. Adik ga bisa nuntut apa-apa dari mas lo. Secara hukum adik tidak punya perlindungan.." Satrio berusaha menjelaskan kepada Sarah resiko nikah siri bagi wanita.


" Memangnya mas ga sungguh-sungguh dengan hubungan ini. Mas mau meninggalkan adik gitu..?" Sarah mulai tersulut emosi.


" umur manusia tiada yang tahu kan dik. Ada kodho dan kodarnya Alloh yang menentukan jalan hidup kita. Jika ternyata Alloh menentukan umur mas pendek, apa mau dikata.." Sarah menatap Satrio dan mata mereka kembali bertemu


" Mas... jika hanya karena umur Adik tidak takut. Kodho dan kodar Alloh itu pasti ada buntutnya. Entah baik atau buruk.


Tapi jika niat kita baik. Kita nikah siri untuk menghindari dosa. Saya yakin Alloh pasti meridhoi. " Sarah meyakinkan diri.


" Tapi jika mas tidak bersedia juga tidak apa-apa. " kembali Sarah berbicara.


" Dik.. nikah resmi saja yuk. Adik tidak usah kerja lagi." Kata Satrio.


" Bukankah kalau nikah resmi banyak sekali persiapannya ya mas..?" Tanya Sarah.


"Mas belum tahu. Mas kan belum pernah nikah Dik.." jawab Satrio.


" Paling surat-surat penting seperti kartu keluarga dan ktp dik."


" Wah. Ribet mas. Semua surat- surat punya adik masih di agensi. Sebagai jaminan bahwa adik ga akan membatalkan kontrak. " jawab Sarah. Dan Satrio hanya diam saja sampai beberapa detik.


******


Sampai jam 9.00 akhirnya mereka meninggalkan mall dengan belanjaan di tangan mereka berdua. Hampir penuh jok belakang dengan bahan belanjaan mereka. Terutama milik Sarah.


" Belanjaan banyak ya Dik.?" Tanya Satrio


" Iya mas. Untuk saudara mara mas. Kemarin ga sempat beli oleh- oleh. Malas bawanya ribet." Kata Sarah.


" Iya, di pasar kita jiga banyak tersedia produk import. Harganya juga selisih tidak banyak. Ada Mas yang siap antar Adik muter sampai puas. " Jawab Satrio.


Mobil yang mereka tumpangi melaju mesra bersalipan dengan mobil lain. Sarah rupanya kelelahan dan akhirnya terbuai mimpi di sebelah kemudi. Satrio melirik sekilas, hatinya menghangat, ada rasa bahagia melihat kekasih hari duduk di sebelahnya.


*******


Yuk berikan like dan ramaikan dengan komentarnya pada karya Author ndeso ini.

__ADS_1


Vote dan share akan sangat membantu lo......


__ADS_2