MERANGKUL CINTA

MERANGKUL CINTA
Oleh-oleh dari Jawa


__ADS_3

" Kalian selalu deh.." kata Summee begitu masuk unit orangtuanya dan mendapati mereka sedang bermesraan di sofa depan Televisi.


" Eh. mas sudah sampai..?" Tanya Sarah dengan kikuk. Seperti remaja labil yang ketahuan pacaran sama bapaknya. ini sebaliknya.


Dalam hati Summer tertawa cekikikan. Ibunya salah tingkah. Bapaknya cuek saja.


Beliau mangambil remot dan menyalakan TV.


" Duduk mas.."


kata Satrio sambil menepuk sofa di sebelahnya.


Summer menghampiri keduanya dan menyalami serta mencium tangan keduanya.


" Ini pesanan ibuk. Dimakan buk, masih hangat". dua cup sedang Touhoa Summer serahkan pada ibunya. Tadi dia terpaksa berdesak-desakan dengan pengunjung pasar malam hanya untuk mendapatkan dua cup makanan kesukaan sang ibu.


Sarah sangat menyukai Touhua. salah satu makanan khas pasar malam.


Teksturnya yang lembut dan aromanya yang harum begitu menenangkan. seperti puding. tapi ini berbahan dasar kedelai.


Rasa manis dari air perasan tebu dan rasa gurih dari taburan kacang tanah yang disangrai. sungguh Sarah tidak bisa menahan diri untuk segera menyantapnya.


" Makasih mas. kok cuma dua mas tidak mau makan ini..?" tanya Sarah sambil membawa bungkkusan itu ke meja makan.


Sarah menarik kursi dan duduk di sana. Satrio mengikuti jejak istrinya dan menikmati oleh-oleh yang dibawa putranya.


" Bapak kok pulang lebih cepat?"


Summer mendekati kedua orang tuanya


" Mana bisa Bapak lama-lama jauh dari ibumu. Bapak berusaha selesaikan tugas cepat biar bisa segera pulang." Jawab Satrio.


" Bapak..." sarah memgerling manja. Tatapan mereka begitu intens.


" Mulai lagi.." seru Summer


" Tunggu aku pulang. nanti baru dilanjut" lanjutnya.


kedua orang tuanya malah sengaja memamerkan kemesraan di depannya yang jelas-jelas jomblo.


" kenapa..?"


" Memang Bapak sama Ibuk ngapain kok Mas sewot?" Tanya Sarah sengaja menggoda putranya.


" Buk. kalau mau bermesraan lihat kondisi lah. masak di depan anak. kelakuan macam ABG" seru Summer.


" Biar Mas pingin dan segera dapat jodoh. Ibuk kan sudah pingin punya mantu. supaya ada yang temani bunda jika kalian sibuk kerja dan lupa pulang" jawab Sarah.


" Akan ada waktunya lah.." Jawab Summer.

__ADS_1


Dia menarik kursi dan duduk di dekat sang ibu.


" Di kampus Bapak ada dosen baru mas. Dia berasal dari kampung ibumu. orangnya cantik dan cukup ramah. saat Bapak di sana dia banyak membantu tugas Bapak." kata Satrio.


" Pantesan krasan.." Sarah memotong.


" Bukan buk. mana boleh dibilang bapak krasan. Kalau bapak krasan pasti belum pulang malah bakal tambah beberapa minggu. ini pulang lebih cepat dari jadwal dan terburu-buru kok. " jawab Satrio.


" Iya.. aku tahu. kemarin juga sempat terkejut saat tahu bapak pulang lebih cepat. Fikir ibuk sedang halusinasi karena rindu. tak tahunya beneran bapak." kata Sarah.


" Halah. kalian berdua ini orang tua bucin. " sahut Summer.


Sarah mendelik ke arah Summer dan memukul lebgan putranya.


"Gak boleh kurang acar ya mas..."


" Ibuk bukinin acar korea dong. nanti Summer bawa pulang."


" Sudahlah. kalian ini kalau bercanda ga habis-habis.


Ibuk ingat pak Purnomo. Sebelah rumahnya Bulek Fiqo, yang guru SMA satu..? nah itu putrinya. dia mengajar untuk mahasiswa S1 ilmu keguruan. Hebat kan..?" puji Satrio.


" Jangan-jangan bapak kepincut dosen muda itu..?" kata Summer.


" Tidak begitu mas.. Bapak memang suka gadis itu. Tapi sebagai anak. Jika boleh bapak berharap mas bisa tertarik menjalin hubungan dengan dia dan segera menikah.." kata Satrio.


Mereka bertiga diam


" Bapak menjodohkanku..?" Tanya Summer.


" Bukan. Bapak hanya ingin mas kenalan. siapa tahu berjodoh. Dia gadis yang baik, keturunan orang baik. keluarga Pak Purnomo punya hubungan yang baik dengan mbah Kakungmu juga ada ikatan kerabat karena masih keponakan bulek Fiqo dari suaminya di kampung.


Meskipun mereka orang berpendidikan, mereka tidak memandang rendah orang lain dan bisa akrab dengan siapa saja." kata Satrio.


" Bapak sempat ketemu beliau saat mampir ke rumah mbah Kakungmu."


" Kapan-kapan aku telpon bulek Fiqo. Biar bisa minta saran beliau.


Nanti pas kita pulang kampung, bisa kita rencanakan makan versama dan mengundang keluarga mereka." Sahut Sarah.


Satrio mangambil selembar kartu nama dan menyodorkannya ke depan Summer.


" Bapak bilang ke Niken. Dosen muda itu. kalau Bapak punya anak lajang yang sedang mencari calon istri" kata Satrio.


" Ah... Bapak. aku belum siap lah. kenapa memberi harapan padanya..?" bisik Summer.


" Dicoba dulu Mas... Bapak sama ibuk tidak memaksa. Ibuk rasa Bapakmu hanya memberi jalan." kata Sarah.


" kamu hubungi dia. katakan bapak kirim salam."

__ADS_1


" Nanti deh.."


Summer mengambil kartu nama itu


' Niken purwandari' bisik Summer. lalu dia masukkan kartu itu ke dalam dompetnya.


" Jangan ditunda-tunda mas. Nunggu apa lagi. Karier sudah bagus, usia sudah lebih, ekonomi terjamin, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan mas. begitu mas bilang iya ibuk dan bapak akan dukung dengan cara apapun." kata Satrio.


Sarah mengangguk dan mengelus punggung putranya.


"Jaman sekarang wanita cantik banyak, yang pinter juga banyak. Tetapi wanita cantik, pinter dan memiliki ahlak mulia itu yang langka mas. dua minggu Bapak berinteraksi dengannya, Bapak lihat dia selalu mendahulukan sholat dan sangat menghormati orang yang lebih tua." Kata Satrio lagi.


" Harus wanita ini ya Pak..?" tanya Summer.


"Tidak. Mas kenalan dulu. sambut uluran silaturahim ini. Jika mas cocok mas boleh lanjut. jika mas tidak suka ya cukup silaturahim biasa. ga ada yang dirugikan." jawab Satrio


" Baiklah. oleh-olehnya tidak ada yang lain Pak..?" tanya Summer pada bapaknya.


" Ada. itu sawo kesukaan kamu. titipan mbah putrimu." jawab Satrio.


" Bapak jauh-jauh dari Indo bawa Sawo..?" Tanya Summer.


" Apalah daya, istri dan putraku begitu menyukai buah asli jawa itu." kata Satrio.


Sarah berjalan ke dapur dan mengeluarkan sebungkus sawo dari kulkas.


" Makan di sini mas. malam ini nginep ya..?" tanya Sarah.


"Besok ada jadwal operasi pagi buk. lain kali Summer nginepnya ya.." jawab Summer.


Sarah mengerti kesibukan putranya dan tidak mungking memaksa untuk putranya tinggal.


Tidak lama Summer pamit untuk kembali ke apartemennya sendiri.


" ingat untuk hubungi Niken..!" Satrio mengingatkan.


" Iya nanti aku telpon." Jawab Summer sambil mengenakan sepatu di kursi depan pintu.


" Ibuk harap kali ini ada hasil.


harus ada yang kamu sukai dan segeralah menikah mas. ibadah dan menyempurnakan islam." kata Sarah. summer hanya mengangguk. dia tahu sedikit saja ada bantahan maka dia akan menerima ceramah panjang sang ibu.


"Mas kangen acar buatan ibuk." Kata Summer sambil mencium kedua pipi ayah ibunya.


" Iya.. besok ibuk ke pasar. Belanja Sayur dan cabai. kalau sudah jadi besok ibuk antar ke apartemen kamu." jawab Sarah.


Summer pamit mengatakan akan mengunjungi mereka jika ada waktu.


Sarah melihat putranya masuk ke pintu lift.

__ADS_1


****


---


__ADS_2