
Eaa... Eaa....
Bayi mungil dalam dekapan Amanda terus saja meronta dan menangis.
"Cup cup cup sayang... Kau kenapa?" pilu Amanda yang diliputi kepanikan sekaligus. Pasalnya, sejak beberapa menit yang lalu Gerald terus saja menangis, bayi mungil itu juga menolak saat ia memberikan ASI-nya.
Bukan hanya Amanda yang panik akan sikap rewel Gerald tapi juga Gio yang sedang mengemudikan mobilnya, bayi itu tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, ia selalu tenang apalagi jika sudah masuk ke mobil, dia akan langsung berjingkrak penuh suka cita dengan terus melihat pemandangan keluar jendela, ia baru akan menangis jika posisinya di ubah dan tak bisa melihat keluar. Tapi kali ini, bayi mungil itu bahkan terus meronta dan sulit sekali di kendalikan.
Sambil terus berkonsentrasi pada stir kemudi, Gio juga sibuk mengotak-atik ponselnya dan menghubungi siapa saja yang mungkin bisa memberinya solusi bagaimana cara mengatasi bayi mungil yang sedang rewel itu. Namun nihil, bu Harti tidak mengangkat panggilannya. Dia juga sudah menghubungi Salman—kakaknya itu dulu selalu bisa di andalkan saat Gisela sedang tidak baik-baik saja dulu.
"Sayang... Kita akan menjemput kak Gisela, kita beri kejutan kakak dengan kepulangan kita, jangan menangis lagi yah. Itu lihatlah, ada balon bergambar kau mau," Amanda masih terus berusaha menenangkan putranya, tapi bukannya tenang bayi mungil itu terus saja merosot dari gendongannya, Amanda berkali-kali menarik tubuh bayi mungil itu untuk mendekapnya kembali tetapi, putranya itu terus saja menolak, dan menggeliat kasar di gendongannya.
Gio menepikan mobilnya dan berhenti persis di samping penjual balon.
"Kita coba turun dan membeli balonnya, mungkin dia akan berhenti menangis jika punya mainan,"
__ADS_1
Amanda berpikir sejenak lalu mengangguk setuju.
Gio yang sudah melepas seatbelt nya keluar dari mobil lalu mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Amanda. Dia langsung mengambil alih Gerald dari pangkuan Amanda dan menggendongnya menuju penjual balon.
Gio bisa sedikit bernafas lega saat netra jernih Gerald mulai menangkap balon karakter, tangisnya sedikit berhenti. Tangan bayi mungil itu juga terulur dan mencoba meraih benang namun, segera Gio tepis karena takut benang tajam itu akan menggores kulit mulus bayi tersebut.
"Kau mau yang ini Daddy ambilkan yah," Gio menarik benang dan balon bergambar Doraemon yang menjadi pilihan bayi mungil itu.
"Ah kau ini, hanya ingin membeli balon seperti ini harus membuat Daddy panik. Daddy akan membangunkan pabrik balon seperti ini untukmu," Gemas Gio sambil menoel hidung mancung bayi yang sedang asik menatap mainan barunya.
Amanda yang berdiri di samping keduanya, dapat tersenyum lega saat melihat putranya sudah kembali tenang hanya dengan balon bergambar Doraemon yang terus di mainkan.
"Apa Gerald sedang merindukannya?" gumam Amanda. Dia membungkukkan sedikit badannya dan mensejajarkan tingginya dengan bayi mungil dalam gendongan Gio dan menatap lekat kedua bola mata jernih malaikat kecilnya. "Kau merindukan ayahmu,?" suara yang seolah mewakili tatapannya. Gerald semakin melebarkan senyumnya dan memukul balon itu hingga mengenai wajah Amanda.
Dengan sedikit cairan bening yang tertahan di pelupuk mata Amanda mengecup kening putranya.
__ADS_1
"Sayang, cuaca nya sangat terik , ayo kita kembali lagi masuk ke mobil" Gio mengelus rambut hitam Amanda dan menyeka peluh di dahi wanitanya .
Amanda menarik nafas dalam dan setelah menetralkan perasaannya ia menegakkan tubuhnya dan mengangguk setuju. Lalu mengambil alih Gerald dari gendongan Gio.
Setelah memastikan pujaan hatinya duduk dengan nyaman Gio menutup pintu mobilnya perlahan dan mengitari mobil , saat ia akan membuka pintu kemudi ia membalikkan badannya dan menatap seberang jalan dan sebuah kafe yang lumayan ramai pengunjung menjadi fokus pandangannya. "Itukan kafe kakak," ujarnya. Ia lalu membuka pintu pasti dan duduk di belakang kemudi dan menutup pintu mobilnya lagi dan tak lupa memasang seat belt.
"Sayang, kita ke kafe kakak saja bagaimana? Minta Ryan menjemput Gisela dan antar dia kemari,"
"Kafe?"
"Iya, itu di seberang sana adalah kafe kak Salman" jawab Gio sambil menunjuk ke luar jendela mobil yang sudah di buka kacanya.
Amanda mengikuti arah telunjuk Gio. "Jadi itu kafe kak Salman?"
"Iya. ayo kita sana! Ini pertama kalinya juga aku ke sana," tuturnya sambil menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan mobil setelah menutup rapat kaca jendelanya, ia memutar stir dan berputar jalur melawan arah.
__ADS_1
"Itu kafe kak Salman!." batin Amanda. Dia memindai pandangan pada bayi mungil di pangkuannya yang sudah tak rewel lagi, dan justru begitu antusias bermain dengan balon di depannya, ia juga sesekali melirik ke kursi belakang untuk melihat balon-balon yang lain, karena Gio membelikan begitu banyak balon dengan berbagai karakter.
"Inikah takdir cintaku, tidak bersama ayah dari bayiku, tapi bersama pria lain. Atau ini hanya keegoisanku, aku yang terlalu egois dan ingin memilikimu tapi aku juga tidak bisa jauh darinya karena tak bisa aku pungkiri hati ini terasa begitu nyaman bersamanya." batin Amanda menatap Gerald dan Gio bergantian.