
Tidak ada pembicaraan apapun selama sesi makan berlangsung. Baik Salman maupun Bella hanya diam menikmati makanan mereka masing-masing.
Di tengah sesi makan nya yang hampir selesai, ponsel Bella yang berada di dalam tas mewahnya terus saja berdering, seolah mengetahui siapa yang menghubunginya, gadis itu sengaja mengabaikannya begitu saja, ia malas jika harus mengangkat panggilan itu.
Salman yang mendengar ponsel Bella yang terus berdering, meminta gadis itu untuk mengangkat panggilan itu, yang mungkin saja penting.
Tak ingin kembali menganggu pendengaran Salman dengan suara deringan ponselnya yang pasti tidak akan berhenti sebelum ia mengangkatnya, akhirnya dengan berat hati Bella menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan yang masuk di ponselnya.
"Hallo," jawab Bella dengan suara lemah setelah ia menempelkan benda pipih itu di dekat telinganya dan sedikit menjaga jarak dari tempat duduk Salman.
"Aku sudah bilang aku tertarik untuk itu," sambungnya dengan nada yang terdengar kesal.
Saat Bella tengah berbincang lewat sambungan ponselnya. Ponsel Salman yang berada di atas meja kerja juga berdering, ia mengangkat tubuhnya dan melangkah untuk meraih benda pintar itu setelah melihat nama yang tertera di layar benda berukuran 7 inchi tersebut.
"Ada apa, Jack?" tanya nya setelah ia mengangkat panggilan yang masuk dari asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Hari ini adalah peletakan batu pertama proyek yang kita menangkan untuk perusahaan GW grup. Dan baru saja aku mendapat informasi bahwa mesin pesanan kita untuk proyek- mall di kota S sudah sampai, kita harus mengecek keadaan mesin itu. Jadi bisakah kau saja yang menghadiri acara itu dan aku yang akan ke kota S untuk mengecek semuanya." terang Jack dari seberang panggilan panjang lebar.
Salman terdiam sejenak untuk berpikir, ia memang berjanji untuk mengembalikan keadaan perusahaan yang hampir bangkrut itu, kucuran dana hingga milyaran telah ia keluarkan agar perusahaan keluarga Bella dapat mengikuti tender besar yang mungkin akan bisa membangkitkan kejayaan perusahaan itu, namun ia tidak bisa menjalankannya sendiri karena ia juga harus mengurus perusahaan yang di tinggalkan sang daddy, hingga ia membagi tugas dengan sahabat sekaligus asisten pribadi nya itu untuk membantu mengurus perusahaan itu hingga proyek yang di menangkannya rampung dan perusahaan itu kembali mendapat kepercayaan lagi dari para investor, dan mampu menstabilkan kondisi perusahaan.
"Maaf, Man. Karena ini kau harus membagi waktumu. Seharusnya mesin itu sudah datang seminggu yang lalu, tapi karena terjadi kesalahan pada dokumen yang di kirim akhirnya harus tertunda." kembali Jack menerangkan dengan sesalnya.
"Baiklah kau sudah bekerja keras untuk ini, kau bahkan lebih banyak membagi waktu mu untuk membantuku. Terima kasih." ucap Salman pada akhirnya.
"Aku benar-benar minta maaf untuk ini. Sorry, Man."
"It's ok. Kau sudah bersiap untuk ke kota S?" tanya nya menenangkan beban pikiran Jack.
__ADS_1
"Ya. Aku sudah memesan tiket dan sedang dalam perjalanan ke bandara. Jadwal penerbangan nya satu jam lagi."
"Baiklah. Kau hati-hati di jalan!" pesannya.
"Kau juga!"
Salman memutuskan sambungan teleponnya, dia juga melihat Bella telah selesai berbincang di telepon dan sedang membereskan kotak makan dan bersiap pamit.
"Makasih yah. Aku antar kau sampai ke lobbi." ucap Salman sambil membuka pintu ruangannya dan kembali mendorong kursi roda Bella keluar.
"Tidak usah kak. Aku sudah meminta supir untuk kembali menjemputku di sini." tolak Bella sambil menengok dan mendongak untuk menatap wajah tampan yang selalu mengisi hatinya.
"Selamat pagi, nona"
Bella beralih dan menjawab ramah sapaan Bimo yang sudah berdiri di depan pintu.
"Mari nona, saya antar Anda ke bawah" tawar Nita yang berdiri di belakang Bimo dan langsung beralih ke belakang Bella untuk menggantikan sang bos mendorong kursi roda Bella namun Bella menolaknya, bertepatan dengan itu supir pribadi keluarga An keluar dari lift untuk menjemput nona nya.
Adinda hanya menyaksikan semuanya dari balik meja sekertaris di sela aktifitas jarinya yang sibuk menari di atas keyboard.
"Mari, tuan" Bimo mengajak Salman setelah Bella menghilang di balik pintu lift.
"Maaf, Bim. Aku harus pergi sekarang. Jadi, kau saja yang memimpin rapat pagi ini." ujar Salman sambil menepuk bahu Bimo.
"Tapi,Tuan—"
"Aku percaya padamu!" sela Salman menepis keraguan Bimo. Pasalnya ia tidak pernah memimpin rapat sebelumnya tanpa kehadiran sang pemimpin perusahaan.
__ADS_1
"Kau letakkan saja hasil meeting nya di meja kerja ku. Aku akan memeriksanya nanti." sambungnya. Dan siap melangkah pergi.
"Tapi tuan, maaf. Bolehkah saya tahu kemana Anda akan pergi?" tanya Bimo yang membuat Salman mengurungkan langkahnya.
"Aku akan ke kota B. Jadi segala urusan perusahaan hari ini kau yang handle."
"Apa Anda akan menghadiri acara perusahaan GW grup?"
Salman mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Bimo.
"Saya akan menghubungi supir untuk mengantar Anda," ucap Bimo dengan merogoh saku jas untuk mengambil ponsel nya.
"Tidak perlu! Aku akan berangkat sendiri." cegah Salman.
"Tapi, tuan—"
"Aku lebih suka mengendara sendiri. Kau sudah di tunggu ruang meeting, pergilah!"
Salman yang sudah merotasikan tubuhnya dan bersiap pergi kembali terhenti.
"Nona Adinda," panggil Bimo lalu melangkah menuju meja sekertaris.
"Bagaimana jika nona Adinda yang menemani Anda?" tawar Bimo.
*
*
__ADS_1
Happy reading ❤️