
"Kamu yakin ga pa-pa? Kita ke rumah sakit sebentar untuk memeriksakan keadaanmu yah?"
Pertanyaan yang entah sudah ke berapa kali Salman lontarkan semenjak keluar dari mansion hingga kini mereka dalam perjalanan menuju puncak, dimana acara camping akan di adakan.
"Kalau kita harus ke rumah sakit , aku bisa terlambat sampai di sana. Lagipula jika kau sakit kenapa harus memaksa ikut?" keluh Gisela.
"Aku ga pa-pa. Kita langsung ke puncak aja." sahut Adinda dengan ekspresi wajah cerianya.
'Masa iya , aku harus mengaku , aku mimisan karena begitu terpesona dengannya.' batin Adinda dengan mencuri pandang pria di balik kemudi.
,
Setelah mendengar jawaban Adinda , ada sedikit kelegaan di hati Salman , ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Namun , tak dapat di pungkiri rasa cemas itu masih ada.
Untuk mencairkan suasana yang sedikit kaku di dalam mobil , Adinda mencoba berbagi cerita pengalamannya semasa SMP saat mengikuti perkemahan penggalang - sebuah organisasi ke-pramukaan yang di bentuk sekolah.
Dengan penuh antusias Gisela mendengar setiap detail pengalaman Adinda , dia menjadi bersemangat dan tidak sabar merasakan bagaimana rasanya camping.
Macet di perjalanan menjadikan waktu tempuh sedikit terlambat. Hingga menjelang siang mobil yang di tumpangi Gisela beserta bus rombongan yang lain baru sampai.
"Kamu lelah?" tanya Salman saat mereka turun dari mobil dan melihat Gisela sedang merenggangkan otot-otot leher.
Gisela menggelengkan kepala dengan senyum merekah. "Enggak." jawabnya. Salman pun ikut tersenyum melihat gadis kecilnya terlihat begitu bahagia.
Ia beralih pandang untuk mencari Adinda dan mendapati gadis itu tengah berdiri di antara pohon-pohon kecil sambil ber-selfi ria.
Adinda yang memang memiliki sikap periang dan mudah bergaul , langsung saja akrab dengan beberapa mommy muda dan teman Gisela.
"Gisela sini , kita selfi rame-rame!" teriaknya memanggil Gisela yang masih berdiri di samping mobil sambil melihat Salman yang sedang menurunkan tas dari bagasi.
Sebelum menjawab ajakan Adinda , Gisela lebih dulu menoleh menatap Salman. Sebuah anggukan Salman menjadi jawaban. Ia segera berlari menghampiri Adinda dan beberapa temannya serta ibu-ibunya dengan tak lupa menarik tangan kekar Salman bersamanya.
"Mommy Gisela mau foto bareng Daddynya dan Gisela juga?" tanya salah satu mommy teman Gisela.
"Sini biar saya saja yang foto-kan!" tawar salah satu yang lain. Sambil mengulurkan tangan untuk meminta ponsel Adinda.
"Boleh. Makasih ya mom" Tanpa pikir panjang Adinda menjawab sambil menyerahkan ponsel di tangannya.
Dengan menampilkan wajah penuh suka cita dalam berbagai ekspresi, Gisela dan Adinda terlihat begitu dekat bak ibu dan anak yang sesungguhnya tanpa mereka sadari hingga mengundang decak kagum para wali murid yang lain termasuk Almira yang juga ikut dalam camping tersebut bersama keluarga kecilnya.
Suara seruan guru pembimbing yang meminta berkumpul menghentikan aktifitas mereka.
"Terimakasih mom and dad yang telah meluangkan waktunya untuk bisa mengikuti kegiatan camping kali ini bersama putra - putri tercinta. Semoga kita selalu di berikan kesehatan..."
"Untuk selanjutnya kita akan bersama-sama memasang tenda . Kerja sama keluarga dan ke-kompokan kalian akan mendapat nilai tambah dari kami sebagai nilai awal kegiatan kita hari ini dan nantinya akan di akumulasi kan dengan kegiatan berikutnya..."
"Bagaimana , mom and dad siap untuk mengikuti kegiatan camping hari ini?"
"Siap!" seru para wali murid yang hadir dengan penuh semangat.
"Uncle aku sudah selesai menggabungkan yang ini , lalu bagaimana lagi?"
__ADS_1
Dengan penuh antusias Gisela membantu Salman memasang tenda.
"Gabungkan lagi dengan yang lain nya!" jawab Salman tanpa melirik pada Gisela.
Melihat Gisela yang kesulitan , Adinda berinisiatif menghampiri dan saling bekerja sama hingga tenda milik mereka terpasang sempurna.
"Yeay... selesai!" sorak Gisela dan Adinda bersamaan. Keduanya lalu ber-tos ria sebagai wujud keberhasilan mereka. Karena rasa suka cita nya , Adinda tanpa sengaja memeluk Salman yang sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
Salman yang tidak menduga akan sikap Adinda terdiam mematung di tempat dengan bola mata membulat sempurna.
"Ciye aunty peluk-peluk uncle , ciye" ledek Gisela sambil tersenyum penuh arti.
Adinda yang menyadari apa yang di lakukan nya , segera melepas pelukannya dan tertunduk dalam menutupi rasa malunya.
"Ma-maaf kak , aku ga sengaja. Tadi terlalu bahagia jadi,-"
"Ciye, aunty..." Melihat wajah Adinda yang semakin bersemu merah membuat Gisela semangat menggodanya.
Salman menatap gadis kecil di gendongan nya, tanda agar Gisela berhenti menggoda Adinda yang sudah mengalihkan wajah sambil menunduk.
Dengan menahan senyum Gisela mengangguk patuh. Dia memutar jari telunjuk dan ibu jarinya di depan mulut tanda gerakan mengunci mulut.
"Wah , ternyata keluarga Gisela yang paling cepat memasang tenda..." seru seorang guru yang sedang berkeliling memantau kegiatan awal camping .
"Sampai akhir kegiatan nanti harus tetap kompak dan saling bekerja sama seperti ini ya mom and dad , supaya memenangkan keluarga favorit camp kali ini." ujar seorang guru lainnya.
"Mereka uncle dan aunty ku bukan my mom and dad!" sanggah Gisela.
__ADS_1
Para guru yang berjumlah 4 orang itu saling pandang sambil menatap bergantian Salman dan Adinda yang juga saling bersitatap.
"Iya. Sebelumnya saya minta maaf karena tidak memberikan informasi ini terlebih dahulu. Kebetulan kedua orang tua Gisela sedang tidak bisa hadir untuk mengikuti acara camping ini karena ada sesuatu hal." ucap Salman menjelaskan
"Apa ada masalah ,jika bukan kedua orangtuanya yang hadir?" tanyanya dengan sedikit keraguan.
"Sebetulnya tidak ada , hanya saja..." jawab salah seorang guru.
"Apa kalian sudah menikah?” sela tanya seorang guru yang lain.
"Maksud kami apa kalian sepasang suami-istri?" kembali guru yang lain menyela.
Adinda yang sedari tadi menunduk , mengangkat wajahnya perlahan. Ia tercengang dengan pertanyaan guru Gisela.
Salman yang semula ramah , menjadi tak nyaman dengan pertanyaan guru-guru Gisela yang seolah sedang menginterogasi nya. ia hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Begini. Kami hanya menyediakan tenda sesuai jumlah peserta camping yang hadir. Dan kalian bukan sepasang suami-istri, jadi rasanya tidak pantas jika kalian harus berada dalam satu tenda , bukankah seperti itu?" Seorang guru yang usianya lebih dewasa ambil suara untuk menjelaskan.
"Jika hanya soal tenda , saya bisa meminta seseorang nanti untuk membawakan tenda. Apa ada yang lain?" jawab Salman dengan entengnya.
Para guru itu saling berpandangan lalu menggeleng pelan. "Tidak ada!"
"Maaf atas ketidak nyamanan nya , kami hanya berharap acara kami berjalan sesuai prosedur."
"Iyah. Saya mengerti"
\*\*\*\*\*
Happy reading ❤️
__ADS_1