Mommy Dara

Mommy Dara
PART 30


__ADS_3

Hingga hari keberangkatan Gio ke luar negeri, Gisela masih kekeh ingin ikut, bujukan dan rayuan dari seisi Mansion tak ada yang di indahkannya. Ia tetap pada pendiriannya yang akan selalu menemani sang daddy kemana pun.


Gio bukan tidak ingin mengajak serta Gisela bersama nya. Ia pun ingin bisa selalu bersama putri kecilnya tetapi kondisinya saat ini ia hendak menjalani pemulihan kaki bukan untuk berlibur apalagi berjalan-jalan.


"Sayang... Daddy hanya pergi sebentar, setelah daddy kembali nanti daddy akan bisa menggendongmu bermain sepeda dan berlari bersamamu lagi. Kau tunggu daddy kembali di mansion ada aunty dan grand ma yang menemani mu yah." Ujar Gio dengan membelai kasih kepala Gisela.


"Aku sudah besar, aku tidak ingin daddy gendong lagi, aku hanya ingin selalu bersama daddy dan mommy. Gerald ikut bersama kalian, kenapa aku tidak?" ucap Gisela sambil terisak dan menggenggam tangan mungil bayi tampan yang sedang terlelap dalam gendongan Amanda. Dan tak ingin melepas genggaman itu.


"Kenapa harus ikut, di sana akan sangat membosankan." suara bariton yang berjalan mendekat ke tengah landasan mengalihkan atensi semua pasang mata.


"Aku pikir dia sudah melupakan kita untuk wanita itu," gumam Gio. Dia menyimpan sedikit kekecewaan pada Salman yang hampir tak pernah mengunjungi nya selama di rumah sakit. Dia berpikir bahwa Salman telah bersama Bella dan melupakan keluarga nya.


"Lihat! Uncle mu sudah datang," tunjuk tuan Kaana dan memegang bahu Gisela untuk mengarah pada sosok yang kini sudah berada di hadapannya.


"Uncle sudah tidak menyayangiku," ucap Gisela dengan membuang pandangannya dan tak mau menatap uncle nya.


Salman membungkukkan badannya dan mengangkat tubuh mungil Gisela dalam dekapannya. Dengan ibu jarinya ia menghapus airmata yang mengalir membelah pipi princess nya.


"Siapa bilang, uncle selalu menyayangimu, sangat menyayangimu." ucapnya lalu meninggalkan kecupan sayang di kening gadis kecil itu.


"Bohong!" lirih Gisela.


"Apa Uncle pernah berbohong padamu? Hem" Tanya Salman di tengah aktifitas tangannya yang membelai surai hitam Gisela.


"Janji! Uncle tidak boleh meninggalkanku." Gisela mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajah Salman.

__ADS_1


Dengan pasti Salman menautkan jari kelingkingnya pada jari lentik itu. "Uncle janji!" ucapnya.


"Tapi kau juga harus berjanji, kau tidak boleh bersedih lagi." imbuhnya.


Gisela mengangguk di sertai sedikit lengkungan senyum di wajahnya.


"Masih mau ikut, hem?" tanya Salman dengan melirik ke arah Gio.


Gisela meminta turun dari gendongan Salman dan berdiri di hadapan sang daddy.


"Daddy bilang tidak akan lama, hanya sebentar daddy akan kembali dan bermain sepeda denganku lagi. Benarkan dad?"


Gio menegakkan punggungnya dari kursi roda dan menangkup kedua pipi putri kecilnya.


"Tentu saja. Daddy tidak bisa berlama-lama jauh dari putri cantik daddy. Daddy akan cepat sembuh dan segera kembali menemanimu." ucapnya lalu memeluk tubuh mungil sang putri.


"Kakak pasti akan sangat merindukanmu. Mom..." ucapnya dengan menengadahkan wajah menatap Amanda.


"Kita pasti akan sangat sering menghubungimu," ucap Amanda dengan sedikit membungkukkan badan lalu mencium pucuk kepala Gisela.


Suara mesin helikopter yang telah menyala dengan baling-baling yang telah berputar menjadi penanda alat transportasi udara itu telah siap membawa keluarga Kaana melakukan perjalan udara.


Cuaca pagi yang begitu cerah, langit biru dengan kumpulan awan putih telah menyambut kehadiran mereka dan akan menemani sepanjang perjalanan mereka di udara nantinya.


Tak lupa Tuan Kaana juga menitipkan perusahaan pada Salman. Ia ingin fokus menemani putranya menjalani terapi hingga sang putra akan bisa berjalan normal kembali. Waktu ini juga ia manfaatkan sebagai pembalasan waktu di masa lalunya yang begitu sibuk bekerja dan tak ada waktu untuk bersama putranya.

__ADS_1


Ada hikmah dalam setiap musibah yang di berikan Tuhan. Begitulah mungkin yang terjadi pada Tuan Kaana. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa sang putra membuatnya menyadari begitu berharga waktu saat bersama orang yang dia kasih. Dan kini ia ingin menebusnya. Ia akan mencurahkan seluruh sisa waktu nya untuk kebahagian keluarga bersama putra-putra nya dan calon penerusnya di masa depan.


"Ingat! Daddy juga harus menjaga kesehatan daddy di sana, jangan hanya memikirkan kesehatannya dan melupakan kesehatan daddy sendiri." tutur Salman mengingatkan sang daddy sambil melirik Gio yang terus menatap ke arahnya tanpa membuka mulut.


Ia bukan tidak tahu, ia jelas tahu kekecewaan yang Gio rasakan. Namun, ia juga memiliki tanggungjawab pada Bella karena walaupun bagaimanapun gadis itu telah menyelamatkan nyawanya. Dan ia berhutang budi untuk itu, hingga ia tak bisa mengabaikan gadis itu begitu saja.


"Kau mengingat kesehatan daddy mu, tapi kau sendiri selalu lupa kesehatanmu jika sudah bekerja," seloroh Shalimar dengan mengelus lengan Salman.


Tuan Kaana tak menanggapi, ia justru mengalihkan pandangan pada gadis muda yang di apit oleh dua wanita yang belum begitu tua di sisi kanan kiri itu.


"Adinda!" panggilnya.


"Daddy ingin meminta bantuan mu, apa kau mau membantu daddy?" imbuh tanyanya.


Adinda melirik pada sang ibu di samping kanannya sebelum akhirnya ikut mengangguk pelan seperti perintah sang ibu.


"Daddy mungkin akan butuh bantuan mu di perusahaan. Kau bisa membantu Salman di kantor selama Daddy dan kakak ipar mu pergi, bagaimana? Jam kerja mu akan menyesuaikan jadwal kuliah mu. Jadi, tidak akan mengurangi waktu kuliahmu."


Adinda kembali melirik pada sang ibu, seolah meminta pendapat dan persetujuan dari wanita yang telah melahirkannya.


"Ibu rasa itu bagus. Kau bisa belajar sambil bekerja, banyak waktu luang yang bisa kau manfaatkan. Tentu kamu harus pintar dalam membagi waktumu." ujar bu Harti memberikan pendapatnya. Tanpa ia mengetahui maksud yang sebenarnya dari tawaran tuan Kaana itu.


Setelah mendengar jawaban sang ibu, ia menatap pria tua di hadapannya.


"Baiklah. Tapi, Adinda tidak pernah bekerja sebelumnya, tidak tahu bagaimana cara bekerja di kantor," ucap Adinda apa adanya.

__ADS_1


"Tidak perlu terlalu serius bekerja, kamu hanya perlu belajar" Shalimar menyahut ucapan Adinda.


'Belajar menerima Salman yang pasti' lanjut Shalimar yang hanya dapat di ucapkan dalam batin.


__ADS_2