Mommy Dara

Mommy Dara
PART 18


__ADS_3

Pemakaman umum


Awan hitam yang menyelimuti langit mendung di kota J seolah turut menemani duka mendalam yang tengah dirasakan. Rintik hujan serta tangis airmata mengiringi bersatunya peti kayu mewah ke dalam liang lahat berukuran 2*1 meter yang akan menjadi tempat istirahat abadi. Lantunan doa dari para pe'taziah dan orang - orang terkasih yang di tinggalkan mengiringi bertemunya mahluk hidup menghadap Tuhan Nya.


"Mommy...! Hu hu hu... " Tangis histeris Gisela semakin meraung saat tanah liat basah mulai menimbun jenazah terakhir yang dimasukan ke dalam pahatan lubang keabadian. Bukan hanya tangis gadis kecil itu namun, suara tangis bayi mungil dalam kereta dorong yang tertutup payung hitam ikut pecah seolah mengetahui bahwa pemilik sumber kehidupannya akan tertutup sempurna oleh gundukan tanah merah yang tak dapat lagi di jangkau nya.


Atensi pasang mata yang mengharu mengingat kematian yang bisa menyerang kapan saja dimana saja, dan kepada siapa saja. Harta yang melimpah sekalipun tak mampu membeli harga sebuah kematian. Meninggalkan gundukan tanah dengan taburan warna-warni bunga segar seolah sulit mereka lepaskan, menyaksikan kedua malaikat kecil yang di tinggalkan kedua orang tuanya sekaligus dalam waktu bersamaan. Tangis iba serta empati merayapi setiap hati insan yang mengantar setiap prosesi pemakaman Tuan Muda Kaana beserta istri tercintanya.


Setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada penciptaNYA. Karena di sanalah kebahagiaan abadi yang sesungguhnya. Begitupun cinta yang mengukir kisah keduanya, hembusan cerita itu telah tiada meninggalkan kenangan indah yang tertinggal bersama tangis haru dari generasi cinta yang akan melanjutkan perjuangan cinta yang belum usai.


Taman makam itu mulai di tinggalkan pelayat yang mengantar dan menjadi saksi setiap prosesi haru tersebut. Namun, Gisela masih terus betah berada di tengah dua gundukan tanah merah itu. Hanya ukiran nama yang tertancap di atas pusara yang dapat di peluknya kini.

__ADS_1


"Princess... Ayo kita pulang!" Suara bariton yang terdengar lembut serta serak itu terdengar terus membujuk gadis kecil yang entah untuk ke berapa kali dan selalu di abaikan gadis kecil yang terus mengusap nisan kedua orangtuanya tersebut.


Salman bukan hanya satu-satunya yang merayu Gisela, hampir setiap pelayat yang hendak meninggalkan makam mengajak gadis kecil itu setelah mengucapkan rasa duka mendalam nya. Tapi, kedua bibir gadis kecil itu selalu mengatup dan hanya suara isakkan yang terdengar menyahut.


"Kenapa harus Sergio yang pergi lebih dulu, kenapa Tuhan tidak memanggilku saja yang sudah tua ini. Dia memiliki putri yang masih membutuhkannya." Tuan Kaana tidak bisa menahan tangisnya menyaksikan kesedihan cucu cantiknya. Baru saja dia melihat tawa ceria di wajah cantik itu kini, raut kesedihan yang kembali nampak.


Bukan hanya Tuan Kaana yang tak mampu menahan tangis tapi juga pak Har - pria tua yang telah mengabdikan hidupnya untuk keluarga Kaana, ia yang setiap waktu menemani nona kecilnya melewati hari-hari sulit di masa lalu itu lebih bersedih melihat keadaan nona nya kini. Jika ia bisa menukar kebahagiannya untuk nona kecil itu, ia pasti akan dengan sukarela memberikannya. Ia menatap putra dan menantunya yang sedang berusaha merayu gadis kecil itu namun nihil, Gisela masih tak bergeming dari tempatnya.


Melihat usaha sang ibu yang tidak membuahkan hasil Naomira, sebagai teman yang meski tak pernah di anggap sama oleh Gisela ikut berusaha mencoba menghibur, belum sempat mulutnya terbuka tatapan tajam sembab memerah menyala mengarah padanya. Dengan mengendorkan keberanian ia memundurkan langkahnya kembali di samping sang ayah.


Bimo menurunkan pandangannya untuk menatap sang putri lalu mengusap lembut kepala putrinya. Iapun masih tidak menyangka jika sepekan cuti Tuan Gio akan menjadi cuti selamanya Tuan mudanya itu. Selama 8 tahun bekerja bersama banyak suka dan duka yang di alami dan kehadiran nyonya Amanda telah memberikan warna baru bagi keluarga kecil Tuan mudanya setelah hanya warna gelap menyelimuti keluarga itu. Dan kini, kedua insan yang saling mencintai itu melanjutkan kebersamaan mereka dalam keabadian, meski menyisakan luka bagi keluarga terkasih yang di tinggalkan. Namun, doa terbaik selalu di panjatkan untuk kebahagian Tuan muda dan Nyonya muda di surga NYA. Serta ketabahan dan kelapangan hati bagi mereka yang di tinggalkan.

__ADS_1


Setelah berhasil menenangkan Gerald dalam gendongannya dengan sebotol susu formula dan mampu menghentikan tangis bayi mungil itu hingga perlahan rasa lelah membuat kedua netra malaikat kecil itu terpejam rapat dan terlelap dalam dekapan hangatnya. Melihat sang cucu yang telah tenang dan terlihat damai dalam tidurnya, bu Harti mengambil cucu tampannya itu dari Adinda. Tak ingin cucu nya terganggu dan kembali rewel, Shalimar mengajak besan serta cucunya yang telah terlelap itu untuk menunggu di mobil sembari Salman berhasil merayu Gisela yang masih enggan meninggalkan makam kedua orangtuanya.


Adinda yang sempat ingin menyusul bu Harti serta mommy Shalimar kembali ke mobil bersama Gerald mengurungkan niatnya dan berbalik menatap Gisela yang sejak awal prosesi pemakaman bahkan sejak di rumah sakit terlihat begitu memilukan. Dia mengingat saat kepergian sang ayah, ia merasakan betul kehilangan yang saat ini Gisela rasakan. Bahkan gadis kecil itu pasti lebih terluka darinya karena bukan hanya kehilangan sang daddy namun juga sang mommy yang juga merupakan kakak nya.


*


Maaf yah 🙏 Up ya lama terus dikit pula.


Lagi ga enak badan, morning sickness nya berlanjut sampe siang ke malam, kepala keleyengan, pengennya sih bisa rebahan tapi, tanggung jawab kerja sama ga mau ngecewain pelanggan jadi tetap maksa jualan. Tapi buat nulis, ga kuat mikirnya. 🙏


Happy reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2