Mommy Dara

Mommy Dara
PART 28


__ADS_3

Di Rumah Sakit.


Di sebuah ruangan dengan cat berwarna putih mendominasi, seorang wanita yang mengenakan pakaian pasien terlihat tengah membujuk pasien pria yang terduduk di atas ranjang sambil memangku benda layar lipat di atas paha untuk meminum obat yang ada di tangannya.


"Tuan, minum obat mu dulu. Lagi pula kau belum pulih tapi sudah bekerja."


Tidak ada sahutan, Gio masih bergeming dan fokus pada layar lipat nya hanya sesekali mata nya melirik dengan tatapan menyedihkan pada sang istri yang duduk di bibir ranjang nya.


"Huum... Hah" Amanda menarik dan membuang nafas berat entah untuk yang ke berapa kali.


Setelah menjalani perawatan hingga hampir satu bulan pasca kecelakaan yang menimpa keduanya, kondisi Gio maupun Amanda kini telah berangsur pulih. Bahkan Amanda telah di izinkan dokter untuk bisa pulang dan selanjutnya menjalani rawat jalan, namun tidak dengan Gio yang masih harus tetap tinggal di rumah sakit karena ia mengalami patah tulang ringan di bagian kaki kirinya. Sejak kedua nya mulai di pindahkan ke ruang perawatan, Tuan Kaana telah meminta untuk putra dan menantu nya itu di rawat di satu ruangan, seolah ia sangat mengerti itulah pasti yang di harapkan Gio, pria itu pasti ingin selalu dekat sang istri. Jadilah ruang itu tempat tinggal keluarga kecil putra nya, karena Gisela pun tak pernah beranjak dari ruangan itu.


Tapi pagi ini berbeda, Gio sengaja menyuruh perawat untuk membawa Gisela keluar dari ruangannya, karena ia memiliki rencana bersama sang istri yang hampir satu bulan susah sekali di dekapnya, karena kehadiran Gisela setiap malam di tengah keduanya. Namun, misi nya tak berjalan lancar karena Amanda menolaknya dengan sangat keras, bahkan ancamannya dengan tak mau minum obat masih belum mampu membuat Amanda menyetujui keinginannya.


"Baiklah aku tidak akan pulang hari ini. Aku baru akan pulang jika kau juga di izinkan pulang. Jadi sekarang kau minum obatmu yah, agar kau cepat sembuh dan segera pulang!" ucap Amanda yang berpikir Tuan suami mendiamkannya karena ia mengutarakan keinginannya untuk pulang lebih dulu karena telah sangat merindukan putranya.


Gio menutup layar lipat nya dan menatap wajah sang istri. Dia sebenarnya tidak benar-benar bekerja sejak tadi, hanya menghindari bujukan sang istri yang membuatnya kesal karena tidak peka dengan keinginannya.


"Bukan itu! Aku bisa pulang kapanpun aku mau." ucap Gio dengan menarik pergelangan tangan Amanda, membuat tubuh mungil itu berada dalam dekapannya.


"Aku merindukanmu, nyonya" lanjutnya dengan suara yang begitu lembut serta hasrat yang tertahan. Tangannya mulai bergerak aktif meneliti wajah Amanda dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Amanda mengulum senyum dan mengangkat tangannya untuk mengelus rahang Tuan suami.


Rasanya ia juga merindukan perlakuan hangat yang seperti itu. Satu tangannya bahkan semakin erat ia lingkarkan di belakang perut Gio. Gerak tangannya telah bebas karena tak ada lagi selang infus yang menusuk punggung tangannya seperti sebelumnya.


"Padahal waktu tiga minggu, kita hanya habiskan di ruangan ini bersama." ucapnya.


"Tapi kita tidak melakukan apapun dan hanya berbaring di ranjang yang bahkan terpisah" pungkas Gio dengan begitu sendu.


"Itu sebabnya kau harus minum obatmu lalu kita akan segera pulang dan kau bisa tidur di ranjang mu sendiri dengan lebih nyaman." ujar Amanda dan hendak bangkit untuk kembali mengambil obat yang telah terlepas entah kemana dari genggamannya.


Tak ingin melepas sang istri begitu saja dari dekapan nya, Gio mulai menarik tengkuk Amanda dan meraup bibir ranum itu dengan begitu rakus. Amanda sedikit terkejut dengan serangan ciuman dadakan yang Gio layangkan namum, hanya sesaat karena setelah rasa lembut benda kenyal itu menyapu bibirnya ia mulai membalas dengan membuka mulutnya perlahan, membiarkan Gio mengekspor lidah dan menyatu dengan lidahnya. Pertukaran saliva mulai keduanya lakukan dengan saling memagguut dan menarik lidah sambil terus menari di dalam rongga mulut dengan sesekali mengambil suplai oksigen ke dalam paru-paru agar tak kehilangan nafas.


"Kenapa, nyonya?" tanya Gio dengan suara yang memburu melihat Amanda semakin menarik diri darinya dan merapatkan tangan menutup pakaiannya asal.


"Tuan, kita masih di rumah sakit, tidak bisa lebih dari ini. Bagaimana jika ada perawat atau dokter yang tiba-tiba masuk, nanti." ujar Amanda dengan menunduk dalam mengingat apa yang pasti akan terjadi selanjutnya.


"Tapi aku sangat menginginkan mu sekarang, sayang" ucap Gio dengan mengangkat tubuhnya dan kembali meraih pinggang Amanda, saat ia akan memeluk tubuh mungil itu, Amanda menggelengkan kepala sambil mengelus lengan Gio mencoba melepas tangan Gio yang melingkar di pinggangnya lalu bangkit berdiri sambil mengancingkan kembali kancing pakaiannya satu-persatu.


"Kau belum pulih benar. Saat kita telah kembali ke Mansion dan kondisi mu lebih baik, baru kita akan melakukannya. Aku janji tidak akan mengecewakan mu lagi." tutur Amanda begitu lembut.


"Tapi nyonya,-" ucapan Gio ter sela dengan bibir Amanda yang mengecup dalam bibirnya.

__ADS_1


Bertepatan dengan kecupan singkat yang telah terurai, suara decitan di iringi pintu yang terbuka serta tubuh Gisela menyembul dengan suara sapaan lantang dan langkah kaki yang saling bersahutan menggema di ruangan tersebut.


"Mommy, lihatlah siapa yang datang bersamaku!"


Amanda yang telah selesai mengancingkan semua kancing pakaiannya menoleh pada pintu ruangan itu, tapi tidak dengan Gio yang langsung melemas dan berbaring sambil menarik selimut hingga menutupi perutnya, atau menutupi sesuatu yang telah berdiri tegak di balik celana berwarna birunya.


Dengan senyum mengembang Amanda menatap kedatangan Ibu, Adinda serta putranya dalam gendong sang adik. Sebelum melangkah menghampiri mereka Amanda terlebih dulu menoleh untuk menatap wajah Gio yang begitu sayu, rasa bersalah menyeruak dalam hatinya, namun ia sedikit bernafas lega, telah mengakhiri semuanya sebelum kedatangan keluarganya, meski kekecawaan begitu nampak di wajah Gio karena kembali pria itu harus menahan hasrat nya.


Sebuah senyuman kecil serta anggukan yang di berikan Tuan suami kembali mengembangkan senyum Amanda, ia segera melangkah untuk mengambil alih Gerald dan mendekap erat putra yang telah begitu ia rindukan. Meski setiap hari sang ibu tak pernah absen membawa sang putra untuk mengunjunginya tapi tetap saja setiap saat ia selalu merindukan putranya. Ibu mana yang sanggup berpisah lama dengan putranya.


"Eh, emang mba Anda udah di bolehin gendong Gerald?" Bukan sebuah pertanyaan melainkan larangan.


Tanpa menjawab sang adik Amanda langsung menarik tubuh sang putra dari gendongan Adinda.


"Mba mu emang ngeyel kalo udah mendem kangen sama anaknya."


Amanda menampilkan cengir kuda nya, sambil meraih punggung tangan sang ibu dan mengecup nya dengan takdzim. Sejak ia sadar setelah berhari-hari berjuang dalam kecelakaan itu, putranya lah yang selalu ia tunggu, meski dokter berulang kali mewanti-wanti untuk tidak menggendong sang putra terlalu lama, tapi rasa rindu selalu membuatnya melupakan semua nasehat sang dokter dan ingin selalu memeluk putra kandungnya itu.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Happy reading ❀️

__ADS_1


__ADS_2